CHOOSE!!

11205993_822231531160106_783426982234664853_n

HAPPY VIXX 3rd ANNIVERSARY ^^..fufufu, berhubung sekarang anniversary VIXX nah author mau share FF baru hasil bersemedi bertahun-tahun *halah -_-…semoga FF ini ikut meramaikan perayaan 3 tahun VIXX yah,..harapannya semoga VIXX tambah sukses karirnya, dan tambah sayang sama Starlight, amien^^

thanks buat noranitas artwork (“Noranitas@rollerlollercoaster.wp.com”) buat cover FFnya yang super kece,

oke gak usah banyak ngemeng, langsung cus aje ye.. Happy reading and jangan lupa ye coment kritik saran seperti biase dont be a silent readers guys, gomawoo *cium mesra dari author *pai pai, see u next FF


Author: Vivin

Title    : Choose!!

Cast     :

  • Ken Vixx

  • Park Kyungri 9muses

  • Hani Exid

“Aku seorang model cantik yang memiliki segalanya. Badan semampai dengan tinggi dan berat badan yang proporsional, rambut panjang mengurai lurus, sorot mata tajam, senyum yang menawan dan wajah yang bersih. Bahkan tanpa make up-pun aku tetap terlihat cantik. Setiap wanita yang melihatku pasti akan iri” Kyungri terus mengamati dirinya di kaca. Mengagumi setiap lekuk keindahan yang terpaut sempurna diwajah dan badannya. “Ah geundae, kenapa para designer itu tidak memberikanku kesempatan memakai gaun mereka? Wae? Wae? Wae?” bibir Kyungri mencibir. Dia mendengus kesal kemudian berbalik meninggalkan kaca, menuju mie ramen yang ditinggalkan beberapa menit lalu. “Akan aku buktikan, Kyungri juga pantas mengikuti fashion show kalian” Kyungri melampiaskan emosi pada ramen dihadapannya. Dimakan dengan lahap dan penuh nafsu.

Baru beberapa suap Kyungri melahap mienya, suara deru mobil terdengar. Disusul dengan suara derekan pagar rumah sebelah. Kyungri terperanjat kaget mendengarnya.

“Dia datang” Kyungri tertawa bahagia. Dia bangun dari duduknya, menjijitkan kaki, mengintip dari balik jendela, disingkap tirai yang menghalangi pandangannya. Seorang turun dari mobil mengenakan kaos putih dan kacamata hitam. Senyum malu Kyungri tersungging. Dia adalah Ken, laki-laki yang menjadi tetangganya dari 2 bulan yang lalu. “Kau tampan sekali Ken-ssi” puji Kyungri saat Ken membuka kacamatanya. Kyungri mengigit bibir dan meremas tangannya sendiri, gemas ingin menyentuh laki-laki itu. Ia terkesima dengan pesona Ken sampai matanya tak berkedip sedikitpun. Badan Kyungri seakan meleleh seperti es krim mencair ketika mengagumi Ken. “Geundaee……” Kyungri menghela nafas berat dan panjang, wajahnya tertunduk. Selama ini Kyungri tidak punya keberanian untuk menyapa Ken walaupun mereka sudah bertetangga hampir 2 bulan. Mereka bertegur sapapun hanya satu kali yaitu ketika pertama kali bertemu di depan rumah Kyungri. Sejak pertemuan pertama itu, Kyungri menghindar dari Ken, dia malu bertemu dengan laki-laki berhidung mancung itu. Tapi sejak pertemuan pertama itu juga, Ken mulai mengusik pikiran Kyungri. Setiap ada kesempatan Kyungri sering mengintip dan memperhatikan Ken dari balik jendela kamarnya. Kyungri tersenyum kecut, kedua pipinya merona merah.

*Flashback

Kyungri keluar dari taksi dengan langkah yang berat. Berkali kali ia menghentakkan stiletto putih yang membalut telapak kaki jenjangnya. Agak tidak nyaman mengenakan sepatu yang baru ia beli, sedikit kebesaran. Sudah malam ketika dia sampai dirumah, sekitar jam 11 malam. Suasana rumahnya sudah sepi, sesekali terdengar bunyi gonggongan anjing. Kyungri bergidik, dia paling benci anjing. Secepat mungkin dia mencari kunci pagar, ingin bergegas masuk ke dalam rumah. Beberapa menit mencari hasilnya nihil, dia mendengus kesal.

“Aish, odiya?” Kyungri mengeluarkan semua isi tasnya satu persatu dan hasilnya tetap nihil. Kyungri berusaha mengingat terakhir kali dia meletakkan kunci tersebut, dan ingatannya tak mampu memberikan jawaban. “Ah ottocke? ” Kyungri mengacak rambut lurusnya. Malangnya lagi, dia juga tidak membawa kunci cadangan. Tidak ada pilihan lain selain loncat pagar.

Kyungri melepas stilettonya kemudian melemparnya memasuki pagar. Barang kedua yaitu tas ikut ia lemparkan ke dalam pagar. Seumur hidup Kyungri tidak percaya bisa masuk ke dalam rumahnya seperti pencuri. Kyungri menjinjing rok berbahan sifon yang ia kenakan. Menyesal ia mengenakan rok ini kalau tahu harus naik pagar rumahnya sendiri. Pagar rumah Kyungri tertutup pagar utama yang terbuat dari jeruji besi dengan tinggi 2 meter serta pagar tembok yang mengelilingi rumahnya dengan tinggi 1,5 meter. Karena tidak memungkinkan untuk menaiki pagar utama, maka Kyungri memutuskan untuk menaiki pagar tembok yang lebih aman untuk dinaiki. Di depan pagar tembok itu terdapat beberapa buah pot yang ditanami bunga mawar dan pot-pot itulah yang menjadi pijakan kaki Kyungri. Kyungri mengangkat kakinya, bersemangat untuk meloncati pagar rumah sendiri.

“Hei yaakk, kau pencuri?” tegur seseorang. Kyungri membatu mendengar seseorang menemukan tingkahnya.

Aniyo” Kyungri menurunkan kakinya yang sudah setengah jalan naik ke atas pagar. Ia memutar badan menoleh ke arah suara.

Ternyata seorang namja berperawakan tinggi, berhidung mancung dan berwajah manis yang menyangka Kyungri pencuri dirumahnya sendiri. Mata Kyungri mengerjap beberapa kali melihatnya. Antara malu, kaget dan bingung bercampur aduk dalam pikirannya. Dia mematung berdiri di antara bunga mawar dengan kaki telanjang menapaki pot yang terbuat dari batu bata tersebut.

“Apa yang kau lakukan? Kau pencuri?” tanya laki-laki itu. Kyungri masih mematung dalam diam. “Hei, aku sedang bertanya” Kyungri terhentak mendengar pertanyaan kedua.

Aniyo, ini rumahku. Kalau kau tidak percaya kau bisa bertanya pada tetangga yang lain. Aku kehilangan kunci pagarku” ketus Kyungri tidak terima dikatakan pencuri. “Ah jankkaman” sadar dengan posisinya yang tidak mengenakkan, Kyungri memutuskan untuk turun. Dia memutar badan terlebih dahulu, membelakangi laki-laki tersebut, kedua tangannya berpegangan pada pagar tembok, menumpu keseimbangan disana. Sayang nasibnya tidak mujur. Rok sifon yang ia kenakan tersangkut ranting bunga mawar, bukan hanya dari satu sisi tapi banyak sisi. Kyungri tidak sadar dan dia tetap santai turun dari pot yang ia pijak. Kraaakkkk, roknya sobek, sobek di banyak sisi. Paling parah adalah bagian belakang, hingga laki-laki di hadapan Kyungri dapat melihat celana dalam yang ia kenakan.

“KYAAAA” Kyungri berteriak histeris lalu buru-buru menutupi bagian pantat yang memamerkan celana dalamnya. Pipi Kyungri menyemu merah, ia menunduk malu. Suasana langsung menjadi awkward dan keduanya mendadak salah tingkah. Awalnya Ken terpana melihat pemandangan yang tidak disangka-sangka itu, tapi setelah menyadari itu bukan tontonan yang pantas ia memalingkan muka.

Jinjja? Omo, Kyungri kau bodoh sekali” gerutu Kyungri sendiri.

Gwaenchana?” tanya Ken sesaat setelah membalikkan lagi wajahnya. Kyungri masih menyembunyikan wajahnya. “Annyeong, namaku Ken, aku baru pindah tadi sore. Rumahku tepat di sebelah rumahmu. Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik” Ken mengulurkan tangannya. Kyungri dapat melihat uluran tangan tersebut dari balik tundukan wajahnya.

“Kyungri” ucap Kyungri singkat, tak ada balasan uluran tangan dari Kyungri, kedua tangannya terulur kebelakang punggung.

Ah jeongmal mianhae” Ken menarik uluran tangannya.

Gwaenchanayo” jawab Kyungri lemah, belum habis kadar malunya.

“Baiklah aku pergi, annyeong

**End

Kyungri menggelengkan kepalanya berkali kali, berusaha menghapus ingatan tentang kejadian memalukan tersebut. Tapi apa daya, ingatan itu kuat melekat di otak kecilnya. Pipi Kyungri memerah seketika, walau sudah 2 bulan berlalu dia masih mengingat detail kejadian malam itu.

“Kyungri kau sangat bodoh dan ceroboh. Kenapa kau tidak mengenakan hotpants waktu itu? Aish”

“Heh Kyungri-ah” gertak seseorang di hadapannya.

“Oh? Hei yak kau mengagetkanku” Kyungri mengelus dadanya, terperanjat kaget. Terlalu sibuk dengan lamunannya membuat Kyungri tak sadar seseorang datang.

“Apa yang kau lakukan? Sedang mengintip Ken lagi?” tebak Ji na, sang manager.

Aniyo

“Jangan berbohong, kau tidak bakat berbohong”

Ne” Jawab Kyungri malas.

“Sudahlah lupakan laki-laki itu! Dia sudah memiliki kekasih”

Jinjja?” mata Kyungri membulat tidak percaya.

“Ah seharusnya tidak aku katakan padamu. Lupakan dia! Sekarang cepat ganti baju, ada pekerjaan untumu”

“Ji na kau berbohong kan? Ken tidak mungkin punya kekasih?” desak kyungri memaksa.

“Jangan gila Kyungri, lupakan dia! Fokus pada pekerjaanmu! Kapan kau bisa menjadi model terkenal kalau kau tidak fokus seperti ini. Lihat penampilanmu! Mana ada seorang model mengenakan celana training dan kaos lusuh seperti ini. Lihat rambutmu sudah kusut dan bau, berapa hari kau tidak keramas? Sudah berkali-kali juga aku melarangmu makan mie ramen, kalori yang terkandung di dalamnya sangatlah tinggi, tidak baik untukmu”

“Para designer saja yang tidak percaya aku membawakan gaun mereka, padahal aku sangat bersinar ketika berjalan di atas catwalk” sombong Kyungri. Ia mengibaskan rambut berkali-kali.

“Kau ingat terakhir kali ikut fashion show kau merobek gaun mereka di atas catwalk

“Aku tidak merobeknya, terjadi begitu saja”

“Sudahlah, kau tetap saja ceroboh! Kali ini kau dapat panggilan sebagai bintang iklan lagi”

Jinjja? Iklan apa? Kosmetik? Sabun? Oh atau alat elektronik?” Kyungri bersemangat.

“Iklan cairan pembersih toilet”

Mwo? Aku tidak mau, reputasiku sebagai model cantik bisa semakin turun. Cukup kemarin aku membintangi iklan obat diare” Kyungri melengos.

“Jangan bodoh! Masih syukur ada iklan yang mau memakaimu sebagai bintang iklan setelah kasus kecerobohan merobek gaun itu. Ayo cepat berangkat atau aku akan memukulmu”

“Ah jinjja arasso” Kyungri bangun dengan muka uring-uringan.

******

            “Sungguh memalukan memerankan iklan itu” Kyungri bergidik mengingat adegan membersihkan toilet. “Aku tidak akan membiarkan Ji na menerima iklan seperti itu lagi, mukaku terlalu cantik untuk menjadi seorang office girl yang membersihkan kamar mandi terutama WC, kyaaaa” gerutu Kyungri sambil terus mencari kunci pagar. Belum sempat Kyungri menemukan kuncinya, lampu sorot mobil Ken tampak dari kejauhan.

Mwoya Ken? Ottocke?” Kyungri mendadak panik sendiri. Dia harus bersembunyi dari Ken. Bagaimanapun dia masih malu untuk bertemu dengan Ken. Setelah tengok kanan kiri, dia memutuskan untuk bersembunyi di belakang tempat sampah yang terletak antara rumahnya dan Ken.

Deru mobil Ken tepat berhenti di depan rumahnya. Ken turun dari mobil, dia mengenakan coat hitam, terlihat sangat tampan dan seperti biasa Kyungri meleleh melihatnya. Dia berjalan memutari mobil, tidak langsung masuk membuka pagar. Kyungri mengerutkan dahi, merasa ada yang beda, dia tetap konsentrasi menyimak. Ken membukakan pintu mobilnya yang lain dan turunlah seorang wanita dari mobil Ken. Kyungri tidak bisa jelas melihat wajahnya. Keduanya terlibat pembicaraan yang ringan, samar Kyungri dapat mendengar mereka tertawa satu sama lain. Jauh dari balik lubuk hatinya, Kyungri cemburu dan sakit hati.

“Apa benar kata Ji na? Ken sudah punya kekasih? Apa wanita itu adalah kekasihnya?” pertanyaan ini memenuhi batin Kyungri. Tatapan mata Kyungri masih belum lepas, tetap fokus mengamati gerak-gerik mereka. Lelah dengan posisinya, Kyungri menggeser posisi duduknya, dan tanpa ia sangka seekor tikus putih mulai mendekatinya. Perlahan tikus itu menjalari sepatu Kyungri, terus ke atas dan Kyungri mulai merasa geli di bagian betis. Penasaran dengan penyebab rasa geli, Kyungri menengok ke bawah. Mendapati tikus kecil putih menjalari betisnya, sontak Kyungri kaget dan berteriak histeris, dia bangun dari tempat persembunyiannya. Tubuh Kyungri menghantam tempat sampah yang ada di hadapannya. Tempat sampah yang lain jatuh menimpa tubuh Kyungri, sampah yang ada di dalamnya berserakan dan beberapa menimpa badan Kyungri.

Mwoya?Kyaaaaa” Kyungri berteriak histeris. Keributan Kyungri jelas menarik perhatian Ken dan temannya. Kyungri tersungkur di antara sampah-sampah, sulit untuk bangun.

“Kyungri-ssi” Ken berlari dan segera membantu Kyungri bangun.

“Kyaaaaaaa” Kyungri berteriak histeris lagi melihat Ken sedang memegangi bahunya.

“Kyungri-ssi, gwaenchana?” tanya Ken khawatir. Kyungri sangat malu sekarang, posisinya yang memalukan ditambah dengan bau badan yang tidak mengenakkan, bau sampah. Kyungri tertunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.

“Ken kau mengenalnya?” tanya wanita yang bersama Ken. Kyungri berusaha bangun dengan bantuan Ken.

Ne, dia tetanggaku”

“Wanita penguntit ini?” secara tidak sopan wanita ini menudingkan telunjuknya pada Kyungri. Tidak diterima dikatakan penguntit, Kyungri mengangkat wajah. Sekarang Kyungri dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas.

“Kyungri, namaku Kyungri, Park Kyungri, bukan wanita penguntit” balas Kyungri sinis.

“Kau tidak terima dikatakan penguntit? Terus apa yang kau lakukan di balik tempat sampah itu kalau bukan menguntitku dan Ken?”

“Aku hanya.. em…” tidak mungkin Kyungri mengatakan alasan sebenarnya kalau dia bersembunyi dari Ken, dia memutar bola mata, mencari alasan.

“Apa?” sindir wanita ini.

“Aku mengejar cicak” Shit! Alasan macam apa itu? Kyungri mengutuk dirinya sendiri sudah mengatakan alasan tidak bermutu.

Mwo?” dia tertegun, sedangkan Ken tertawa tertahan.

“Sudahlah Hani hentikan introgasimu!” lerai Ken.

“Kau membelanya?”

“Sudahlah Hani!”

Wait, bukankah kau yang membintangi iklan obat diare dan pembersih toilet? Iya kan?” Mampus, Kyungri mati kutu. Dari awal dia sudah yakin kalau membintangi iklan itu adalah pilihan yang tidak tepat. Kyungri menunduk malu. “Benarkan? Hei yak kenapa kau tidak menjawab? Malu? Iya? Ah kau juga kan yang merobek gaun termahal designer Jang? Wah, kau benar-benar tidak tahu malu. Pantas para designer itu tidak mempercayaimu mengenakan gaun mereka, kau sangat ceroboh dan tidak tahu malu” Hani terus mencerca tanpa ampun.

“Hani sudah hentikan!” gertak Ken.

“Ken-ssi, lebih baik aku masuk kerumah terlebih dahulu, gomawo” Kyungri membungkukkan badan.

Jinjja? Gwaenchana? Geundae kakimu terluka” Ken memegangi tangan Kyungri menahan dia pergi. Kyungri menunduk memperhatikan kakinya, benar lututnya berdarah akibat benturan dengan aspal.

Gwaenchana, aku bisa mengobatinya sendiri” sebisa mungkin Kyungri tersenyum, walau sebenarnya dia membenci keadaan ini. Sepintas dia melirik wanita yang diketahui bernama Hani.

“Hani kita batalkan saja meeting kita malam ini” Ken menggenggam lengan Kyungri kuat.

Mwo? Ken aku sudah disini dan kau membatalkan meeting kita?”

“Kau bisa pulang sendiri kan? Aku tidak bisa mengantarmu?” Ken tersenyum sinis.

Mwo? hish” Kyungri tersenyum bahagia melihat Hani pergi dengan muka yang terlipat emosi.

*****

            Kyungri tidak dapat menahan sakit saat Ken mengulas obat merah di lututnya. Sesekali ia mengigit bibir bawahnya untuk menahan sakit. Ken mendongakkan kepala, menatap sendu pada Kyungri yang meringis kesakitan. Pria ini menyunggingkan senyum dan Kyungri terpaku.

Mianhae atas kata-kata Hani tadi”

“Oh aniyo, gwaenchana. Apa dia kekasihmu?” Kyungri memberanikan diri bertanya. Genderang bertabuh keras di dadanya. Tidak ada jawaban, Ken hanya tersenyum lalu bangun dari duduk bersimpuh. Membuka coat dan mengenakannya pada Kyungri.

“Aku akan mengantarkanmu pulang”

Ye?” Kyungri tertegun. Pipinya menyemu merah.

Kajja!” Ken mengulurkan tangan, dengan senang hati Kyungri menerima uluran tangan tersebut. Ken menuntunnya sampai di depan pagar dan selama itu mereka tidak terlibat pembicaraan.

Gomawo” Kyungri membungkukkan badan.

Ne, baiklah aku pulang, jalja” Ken berbalik dan kebahagiaan Kyungri menghilang.

“Ken, Jankkaman!”

Ye?”

“Bisakah malam ini kau menyanyikan lagu pengantar tidur untukku?” Ken mengernyitkan dahi mendengar permintaan Kyungri. “Aku sering mendengarmu bernyanyi setiap malam, dan aku selalu tertidur pulas setelah mendengarkannya, bolehkah aku memintamu menyanyikan satu lagu kesukaanku?”

“Apa lagu kesukaanmu?” Ken memasukkan kedua tangan di saku celananya, dia terlihat lebih keren sekarang.

“Sam Smith-iam not the only one, aku sangat menyukai lagu itu” Kyungri menyunggingkan senyum malu.

“Baiklah, dengarkan baik-baik dari kamarmu” Ken mengangkat tangannya, mengusap lembut pipi Kyungri. Wanita bermata tajam ini sontak kaget.

Ne” Kyungri mengangguk bahagia.

Kyungri duduk bersandar di bawah jendela kamarnya, menikmati alunan suara Ken dengan mata terpejam. Seketika ia merasakan kedamaian dan ketentraman memenuhi rongga jiwanya. Memang jarak rumah mereka memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 3 meter. Itu yang membuat Kyungri dapat mendengar jelas suara Ken. Mata Kyungri berkaca-kaca di akhir lagu seraya membisikkan ucapan terima kasih untuk Ken.

Gomawo” Kyungri menelungkupkan wajah di antara kedua lutut, menumpahkan air mata yang sudah menggenang memaksa keluar.

*****

            Pagi yang cerah, sangat cerah untuk dilewatkan. Kyungri bangun lebih segar dari biasanya. Dia merangkak turun dari kasur, mengambil celana training abu-abu dan kaos berwarna pink. Rambut Kyungri di ikat ekor kuda, sedikit senyum menyapa kaca dan siap untuk jogging. Senyum ceria terkembang merekah menyambut hangat sinar matahari. Tapi keceriaan pagi hari itu tak berlanjut lama, betapa kagetnya Kyungri melihat barang-barang Ken di keluarkan dari rumahnya. Beberapa orang kurir sibuk menata barang tersebut di mobil pengangkut.

“Ah mianhae, kenapa barang-barang Ken dikeluarkan dari rumahnya? Ada masalah?” Kyungri bertanya pada salah satu kurir.

“Si pemilik rumah hari ini pindah. Kami diperintahkan untuk mengambil barang-barangnya”

Mwo? Pindah? Kalau boleh tahu, dia pindah kemana?” Kyungri tersentak.

Molla

“Apa Ken ada di dalam? Dimana dia sekarang?” desak Kyungri.

Molla, rumahnya sudah kosong”

“Apa anda tahu alasan dia pindah?” paksa Kyungri.

“Nona, kami hanya disuruh untuk mengambil barang”

“Kemana barang ini akan diantarkan?”

“Maaf nona saya kurang tahu, permisi” kurir itu pergi meninggalkan Kyungri yang terdiam dalam kesedihan. Baru semalam Kyungri merasakan kebahagian, sekarang kisah kebahagiaannya harus terhenti sampai disini. Wajah Kyungri tertunduk, jangan ditanya berapa banyak air mata yang ia keluarkan. Senandung lagu yg Ken nyanyikan semalam, kembali terngiang dan mengalun di memori Kyungri.

******

1 Minggu kemudian…..

Ji na menyodorkan pamflet pameran lukisan pada wanita yang menelungkupkan wajahnya di meja. Wanita ini mendongakkan kepala, matanya merah, mukanya kusut dan rambutnya acak-acakkan.

“Datanglah ke pameran lukisan ini, bukankah kau suka lukisan? Siapa tahu kau bisa terhibur disana, aku benci melihatmu 1 minggu hanya menangis dan kehilangan gairah hidup seperti ini..”

“Aku tidak mau” Kyungri melengos.

“Kyungri sudahlah, tidak ada gunanya kau terus menangis. Ken bukan siapa-siapamu, ingat itu! Dia belum menjadi kekasihmu saja kau sudah seperti orang gila ditinggal olehnya, bagaimana kalau dia menjadi kekasihmu terus dia meninggalkanmu?”

“Hei yak, Ji na jaga omonganmu”

“Kalau kau tidak ingin aku mengoceh lebih kejam lagi sekarang bangun dan mandi! Cepat berangkat! Palli!!

“Aku benar-benar tidak mood pergi ke pameran lukisan”

“Berangkat atau aku akan…” Ji na mengangkat tangannya, siap memukul Kyungri.

“Hii arasso” akhirnya Kyungri bangun. Langkahnya terseok-seok munuju kamar mandi.

“Kyungri-ah, apa kau sangat menyukai Ken?” Ji na menahan langkah Kyungri.

“Tentu saja, wae?”

Aniyo” Ji na tersenyum penuh arti.

Sudah 1 minggu berlalu dan selama itu juga Kyungri tidak keluar rumah. Dia merasa tidak ada gairah untuk bersenang-senang di luar sana. Tepat jam 10 pagi Kyungri sampai di tempat pameran. Pameran yang bertajuk colour of love ini adalah pameran terbesar para pelukis ternama di Korea. Bau cat tercium dari luar ruangan dan Kyungri merasakan sihir lukisan menghipnotisnya. Hasrat memburu lukisan kembali menggebu setelah sekian lama terpendam. Anehnya, ketika Kyungri memasuki arena pameran semua orang melihatnya dengan tatapan yang takjup, ada beberapa diantaranya yang kaget bahkan sampai berbisik satu sama lain serta ada pula yang tersenyum bahagia. Kyungri bingung dan tidak mengerti dengan keadaan yang baru ia alami.

“Apa iklan pembersih toilet dan obat diare itu menjadi populer? Kenapa semua orang melihatku dengan tatapan aneh? Apa sekarang aku sudah menjadi artis populer? Benarkah?” Kyungri bertanya-tanya sendiri.

Mencoba terus tidak peduli dan tidak menggubris, Kyungri tetap melangkah masuk ke dalam ruangan. Banyak lukisan yang menarik perhatian Kyungri tapi rasa risih mengalahkannya.

Ige mwoya? Kenapa dengan mereka? Apa ada yang salah dengan wajahku? Aku tahu aku cantik dan mempesona, tapi apa harus mereka semua seperti ini?” Kyungri mengangkat bahu.

Pertanyaan Kyungri terjawab setelah ia masuk ke dalam ruang utama di pameran lukisan ini. Terlihat sebuah lukisan dengan ukuran besar, paling besar diantara lukisan lainnya. Lukisan itu mengambarkan potret dirinya. Ekspresi wajah Kyungri yang tersipu malu tergambar sempurna dengan rona pipi memerah dilukis dengan tegas dan jelas. Dengan latar belakang merah marun serta coretan gambar yang halus dan lembut membuat wajah Kyungri terlihat sangat cantik dan anggun. Kyungri mematung tak percaya, matanya berkaca-kaca dan kakinya seakan tak berpijak melihat wajahnya menjadi objek lukisan yang mempesona. Beberapa orang yang ada di ruang tersebut, terpukau takjup melihat sang model lukisan sekarang sedang berdiri di hadapan mereka.

“Wah, apa wanita itu yang ada dilukisan? Dia terlihat sangat cantik seperti di lukisannya” begitulah salah satu percakapan yang dapat Kyungri dengar dari beberapa pengunjung yang berbisik di tempat tersebut.

Kyungri perlahan mendekati lukisan itu, dia penasaran dengan lukisannya sendiri jika dilihat dari dekat. Kyungri benar-benar tidak bisa berkomentar melihat keindahan lukisan yang diberi nama “Love” oleh sang pelukis. Sekarang Kyungri penasaran siapa yang melukisnya, tidak ada nama pelukis hanya sebuah tanda tangan yang Kyungri tidak kenali.

“Ini lukisan yang sangat menakjubkan, siapa yang melukis ini?” Kyungri bertanya sendiri. Degup jantungnya berdetak cepat.

“Kau menyukainya?” suara itu, Kyungri hafal suara itu. Kyungri membalikkan badan dan mendapati laki-laki yang sudah membuatnya menangis selama berhari-hari berdiri tidak jauh darinya. Dia mengenakan jas hitam, rambutnya masih basah dengan gel rambut, dia sangat tampan. Kyungri mengangguk lemah. “Akhirnya aku bisa membuat lukisan ini tidak lebih cantik dari modelnya” Ken tersenyum bangga, Kyungri menunduk malu.

“Ken-ssi, kau yang melukis ini?” Kyungri tergagap. Degup jantungnya semakin berdetak tak normal.

“Tentu saja. Hari ini adalah pameran lukisan yang sangat aku tunggu-tunggu, dan lukisan ini menjadi lukisan terbaik tahun ini, aku mendapatkan penghargaan berkatmu Kyungri-ssi. Gomawo sudah menjadi model terbaikku”

Ye?” Kyungri tertegun, dia tidak menyangka sudah menjadi model lukisan terbaik di Korea.

“Wanita dalam lukisan ini yang membuatku memilih untuk mencintai, dan aku menetapkannya sebagai cintaku, oleh karena itu aku memberi nama lukisan ini, Love” Ken tersenyum senang akan karyanya.

Mwo?” Kyungri tidak sanggup membuka suara, ekpresi wajahnya sudah mewakilkan keadaan hatinya saat ini.

“Beberapa bulan yang lalu aku melihat wanita ini di pameran lukisan, sejak saat itu aku menyukainya dan mengagumi kecantikannya. Berkali-kali aku mengikutinya di setiap pameran lukisan, dan disana pulalah aku semakin menyukainya, sampai akhirnya aku memutuskan untuk pindah sementara waktu disebelah rumahnya, hanya untuk melihatnya dari dekat. Dia memang cantik, dari jauh atau dekat aku melihatnya. Ekspresi wajah yang aku jadikan lukisan ini adalah disaat aku memergoki wanita ini naik pagar rumahnya sendiri, sangat lucu melihat wajahnya yang tersipu malu kala itu, tapi disaat itu pula aku menyadari satu hal yaitu aku sangat mencintainya. 1 minggu yang lalu aku terpaksa harus kembali kerumahku karena sibuk menyiapkan pameran ini dan akhirnya aku lega bisa memamerkan wanitaku yang sangat cantik lewat lukisan ini” sekali lagi Ken tersenyum bangga, sementara itu Kyungri terdiam layaknya patung lilin, tak dapat berbuat apa-apa, matanya yang dibalut air liner tebal mengerjap beberapa kali. Dia takjup dengan penjelasan Ken.

“Ken-ssi, kau….” Kyungri tak dapat meneruskan kata-katanya lagi, dia menangis sekarang.

“Sekarang seluruh orang di dunia ini tahu bahwa Kyungriku sangat cantik dan tidak alasan lagi bagi seorang designer menolakmu, Chukkae my love” Kyungri sudah tak sanggup lagi berdiri, dia berlari dalam pelukan Ken dan menangis disana.

Gomawo” bisik Kyungri.

Ne, jangan menangis lagi!” Ken mengelus lembut rambut Kyungri. “Ji na-ssi gomawo sudah berhasil membuat Kyungri datang ke pameran ini” Ken berbisik dalam hatinya.

Tidak perlu banyak kata untuk menunjukkan apa yang aku rasa…

Cukup dengan satu barang untuk menunjukkannya…

Sebenarnya lukisan ini tidak cukup bagiku untuk membingkai kecantikanmu…

Tapi setidaknya lukisan ini menjadi bukti keindahanmu..

Sejak hari pertama aku melihatmu, aku sudah memilihmu..

Hingga detik ini dan selanjutnya aku akan memilihmu…

                                                                                                -Ken-

Iklan