She Is My Doraemon Girl [Part 3]

cover she is my doraemon girl

Author : Sevi Yoyoy
Cast :
– Kang Daesung BIGBANG
– Kwon Nara (OC)
– The Others
Point Of View : Kang Daesung
Lenght : Part


“Ah, kalau begitu sayang sekali. Sepertinya mereka harus dipisahkan.” Ucap pamanku dengan nada yang dipelankan.

Apa katanya barusan? Dipisahkan? Siapa yang dipisahkan? Aku baru menyadari perkataan pamanku itu. “Apa maksud paman?” tanya ku dengan wajah polos bodohku yang mencoba menggali informasi dari pamanku atas perkataan yang sudah membuat jantungku berdegup kencang.

Aku mengerti arti kata dipisahkan. Tapi bukan itu maksud dari pertanyaanku. Maksud ku adalah, apakah aku harus berpisah dengan Nara? Tapi kenapa? Bahkan pamanku belum terlalu mengenal Nara. Aigoo, kepalaku pusing dengan semua kejadian ini. Pusing akibat siksaan paman yang belum hilang, dan sekarang ditambah dengan perkataan paman bahwa aku dan Nara harus dipisahkan.

Kalian jangan banyak bertanya padaku dan tolong berhenti mendesakku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku bertambah pusing. Aku juga perlu jawaban yang pasti dari pamanku.

“Kau akan ku pindahkan ke restoran yang terletak di pulau Jeju.”


Pagi ini aku mengendarai mobilku menuju restoran dengan tidak bersemangat. Bagaimana aku bisa semangat jika hari ini adalah hari terakhirku bekerja di restoran itu. Yah, seperti yang sudah kalian ketahui. Aku dimutasi ke pulau Jeju, dan jabatanku dinaikkan menjadi manajer disana.

Aku tidak sedih harus meninggalkan restoran, tapi aku sedih harus meninggalkan Nara disini. Aku akan berpisah dengannya sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sungguh aku tak ingin dipindahkan ke pulau Jeju. Tapi eomma memaksaku, apa boleh buat, aku hanya bisa menuruti perkataan orang tuaku. Aish, aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Nara saat mengetahui aku akan dimutasi dan meninggalkannya.

Jalan menuju restorang sedikit terhambat karena jalanan sedang macet, tak bergerak satu jengkal pun. Aku keluar dari mobil untuk melihat apa yang sudah terjadi di depan sana. Sepertinya ada kecelakaan. Perasaanku tidak enak.

Aku masuk kembali ke mobilku, dan ketika ada celah, aku langsung memarkirkan mobilku di pinggir jalan. Aku turun kembali dari mobilku dan berjalan menuju kerumunan orang.

Aku melihat sebuah motor terparkir dengan kondisi yang sudah sangat hancur. “Ini seperti motor milik Nara.” gumamku dalam hati. Tapi mudah-mudahan saja dugaanku ini salah. Banyak orang di Korea yang memakai motor seperti itu, bukan? Pikirku positif. Aku mulai menerobos kerumunan orang yang dihalang oleh beberapa petugas kepolisian.

Saat aku sudah sampai dibarisan terdepan, aku mencoba mencari korban kecelakaan tersebut untuk memastikan bahwa dugaanku salah bahwa Nara yang mengalami kecelakaan itu.

Aku melihat petugas medis membawa tandu berisi seorang wanita berambut panjang yang diikat buntut kuda. Ku sipitkan mataku untuk melihat siapa wanita itu. Mataku membulat sempurna, jantungku seakan berhenti setelah mengetahui siapa yang berada diatas tandu itu.

“Nara-ya!” aku berteriak memanggil nama gadis yang sangat kucintai. Aku mencoba menerobos beberapa petugas polisi yang berjaga, “tolong biarkan saya ke sana pak polisi. Gadis itu, saya mengenali gadis itu. Tolong biarkan saya melihat keadaan gadis itu.” ucapku memohon agar di izinkan mendekati Nara.

“Kau anggota keluarga gadis itu?” tanya polisi yang ada di hadapanku. “Ya ya, aku kakak dari gadis itu.” jawabku cepat. “Baiklah, ikut aku!” polisi itu membawaku mendekati ambulance dimana Nara terbaring didalamnya. Sedangkan polisi yang bersamaku tadi nampak menemui polisi lain, mungkin menemui atasannya.

Sekarang aku berada dalam ambulance, disisi Nara. Selang oksigen terpasang dihidungnya, terdapat banyak luka hampir disekujur tubuhnya dan lebam diwajahnya. Air mataku meluncur seketika melihat keadaan gadis ku yang sedang tak sadarkan diri.

“Anda mengenal gadis itu?” tanya seseorang padaku. Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata seorang polisi. Ia terlihat lebih tua dari polisi yang pertama tadi. “Ne, aku mengenalnya.” Jawabku pelan dan kembali menatap Nara sambil mengusap air mata yang tak henti-hentinya membasahi pipiku.

“Saya harus berbicara dengan anda, tuan.” Kata polisi itu. Aku mengangguk pelan menyetujui. Lalu polisi itu pergi meninggalkanku yang bersama Nara. “Nara-ya, bisa kau tunggu aku? Aku harus berbicara pada polisi itu sebentar.” Ucapku menahan tangis pada Nara yang mungkin saja dapat mendengar ucapanku. Aku membelai wajahnya sebentar dengan lembut sebelum aku pergi menemui polisi itu.


“Daesung-i, apa yang terjadi?” tanya ibu Nara saat menghampiriku yang tengah berdiri didepan ruang ICU. Aku menoleh sebentar pada keluarga Nara yang datang. Lalu aku hanya bisa tertunduk lesu mengingat keadaan Nara yang sedang kritis akibat kecelakaan yang dialaminya.

“Daesung-ah, ceritakan apa yang terjadi pada Nara!” Jiyong hyung menyentuh bahuku. Dengan susah payah aku menceritakan apa yang dialami oleh Nara sesuai dengan apa yang polisi tadi ceritakan padaku.

Ibu Nara menutup mulutnya menahan tangis. Dami nuna terduduk lesu dibangku rumah sakit, ayah Nara hanya terdiam, sedangkan Jiyong hyung tertunduk lesu. Ku lihat anggota keluarga Nara mengalami kesedihan yang sangat mendalam atas kejadian yang sudah menimpa anak bungsu mereka. Mereka semua meneteskan air mata dengan deras, kecuali Jiyong hyung dan ayah Nara yang mencoba tegar.

Flashback

“Nara-ya, bisa kau tunggu aku? Aku harus berbicara pada polisi itu sebentar.” Aku meninggalkan Nara yang tergolek tak sadarkan diri dalam ambulance untuk menemui petugas polisi yang mungkin saja akan menjelaskan kronologis kecelakaan itu.

Kini aku dan polisi yang bernama Kim Namgil itu berada tak jauh dari ambulance sehingga aku dapat memantau keadaan Nara. “Jadi, bagaimana inspektur? Bagaimana kronologis kejadiannya?” aku bertanya dengan nada lemah.

“Jadi begini, saya sudah bertanya dengan beberapa saksi mata yang melihat kejadian tersebut. Menurut penuturan mereka, adik anda membawa kendaraannya dengan kecepatan kurang lebih 40 km/jam. Namun dari arah yang berlawanan, sebuah mobil melaju tak terkendali hingga akhirnya menabrak adik anda.

Tabrakan yang terjadi cukup keras dan membuat adik anda terpental hingga sepuluh meter jauhnya. Sedangkan mobil yang menabrak adik anda, menabrak pohon akibat mencoba menghindar dari kendaraan yang lain. Namun pengendara mobil tersebut tidak mendapat luka yang parah, hanya mendapat luka kecil akibat terkena pecahan kaca.” Jelas Inspektur Kim.

Membayangkan apa yang dialami oleh Nara membuat dadaku terasa sesak. Sungguh aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Nara tak dapat bertahan dari kecelakaan itu dan meninggalkanku untuk selamanya. Aku kembali menghela nafas berat.

Flaskback End

Saat ini dokter sedang memeriksa seberapa parah luka yang dialami oleh Nara. sudah hampir setengah jam, dokter tak kunjung keluar dari ruangan dimana Nara sedang terbaring tak sadarkan diri.

“Aku tak menyangka ini akan terjadi pada anak kita, anak bungsu kita.” Terdengar sayu-sayu yang diucapkan oleh ibu Nara. Ibu Nara kembali mengalirkan air matanya. Aku benar-benar tak sanggup melihat keadaan ini. Jiyong hyung menghampiri ibunya dan berjongkok seraya mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi sang ibu.

“Eomma, jangan menangis lagi ne. Nara akan baik-baik saja. Eomma tahu benar bahwa Nara tidak seperti gadis lainnya, ketahanan tubuhnya sangat luar biasa.” Jiyong hyung mencoba menghibur ibunya. Sang ibu mengangguk pelan mendengar ucapan putranya.

“Kau benar, Jiyong-ah.” Nyonya Kwon mengusap air matanya kembali. “Kau benar, dia bukan gadis biasa. Eomma yakin, tak akan terjadi apa-apa pada Nara.” nyonya Kwon meyakinkan dirinya sendiri.

Melihat keyakinan itu, Jiyong hyung memeluk ibunya sembari mengusap punggung sang ibu pelan. Dami nuna dan tuan Kwon pun tersenyum melihat itu. Mungkin dalam hati mereka masing-masing, mereka sangat berharap memang tak terjadi apa-apa pada Nara.

Dalam suasana haru itu, dokter pun keluar dari ruang ICU. Seketika saja keluarga Kwon bangkit dari duduknya dan menghampiri sang dokter yang baru saja keluar itu. Dokter itu menyambut keluarga Nara dengan senyuman yang terkembang di wajahnya.

Aku sedikit heran dengan kelakuan dokter itu, bagaimana bisa ia tersenyum disaat keluarga Nara sedang bersedih sepert ini. “Apa kalian keluarga dari gadis itu?” tanya pria dengan pakaian dokter itu.

“Ne, kami keluarganya. Bagaimana keadaan anak kami?” sahut tuan Kwon cepat. Aku dan keluarga Kwon itu menunggu jawaban dengan cemas. Senyum itu kembali terlihat di wajah dokter yang bernama Park Hyun Ki itu.

“Keadaan anak gadis anda sangat baik, tuan. Bahkan beberapa saat ia sampai diruangan ini, ia sudah sadarkan diri dan berceloteh panjang lebar. Awalnya saya pun heran dibuatnya, tapi setelah memeriksa kondisi tubuhnya saya baru mengerti kenapa anak gadis anda dapat cepat sembuh.

Namun mungkin bukan kabar itu yang anda tunggu. Tapi sungguh nyonya dan tuan, gadis anda dalam kondisi yang sangat baik walau banyak luka yang ia dapati.” Jelas sang dokter dengan ekspresi wajah kagum akan kondisi kesehatan Nara.

“Lalu, apakah kami sudah bisa melihatnya?” tanya nyonya Kwon cepat. “Tentu saja nyonya, kalian boleh menemuinya sekarang.” Jawab dokter Park dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya.

Keluarga Nara pun satu persatu memasuki ruang ICU. Namun aku masih berdiri disini, diluar ruangan dimana Nara terbaring sehat menurut dokter Park.

“Permisi, seonsaengnim. Apakah Nara benar-benar dalam kondisi baik?”tanyaku ragu saat dokter Park akan meninggalkan ruangan itu. Dokter Park berbalik dan melihatku, “anda meragukanku, tuan?”

“Tidak, tidak. Bukan begitu maksudku.” Dengan cepat aku menjawab pertanyaan dokter Park agar tak menimbulkan kesalahpahaman. “Hanya saja saat melihat kondisi Nara di lokasi kecelakaan, sangat tak mungkin jika Nara dalam keadaan baik-baik saja.” Timpalku kemudian.

“Begini saja tuan. Jika anda tak mempercayai perkataanku, silahkan anda lihat sendiri kondisi gadis itu.” ucap dokter Park ramah lalu pergi meninggalkanku yang masih dalam situasi kebingungan.

“Daesung-ah, kau tak ingin masuk?” tanya Jiyong hyung yang sudah berada diambang pintu ruang ICU. Aku mengangguk cepat untuk menjawab pertanyaan Jiyong hyung.

“Hyung, apakah Nara benar-benar dalam kondisi yang baik?” tanyaku berbisik pada Jiyong hyung. “Kau lihat saja sendiri.” Jawab Jiyong hyung sama berbisiknya dengan ku sembari menyunggingkan senyum misterius di wajahnya.

Perlahan aku mendekati tempat tidur Nara. Aku hanya bisa berharap bahwa perkataan dokter Park dan kemisteriusan Jiyong hyung membuktikan keraguanku. Tuan dan nyonya Kwon serta Dami nuna mengelilingi Nara yang sedang beristirahat ditempat tidurnya. Kulihat nyonya Kwon menggenggam erat tangan Nara, namun lihat ekspresi wajahnya, nyonya Kwon terlihat lega melihat kondisi anak bungsunya.

Kini aku sudah berada dipinggir tempat tidur, dibagian kaki tepatnya. Kulihat kondisi gadisku yang sedang terbaring itu dengan seksama walau tak berada didekatnya. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh dokter Park. Luka lebam yang ada diwajah gadis itu kini sudah hampir tak terlihat. Hanya tertinggal luka gores yang sudah mengering.

“Nara-ya, siapa sebenarnya dirimu? Tak mungkin seorang manusia dapat sembuh dengan cepat seperti itu.” batin ku bergejolak mempertanyakan kebenaran yang ada. “Tapi, aku sungguh sangat bersyukur kau dapat melewati ini semua. Kau memang gadisku yang hebat.” Ucapku kagum dalam hati dan tersenyum melihat gadisku yang sedang tertidur dengan lelap.

Sepertinya aku harus berpamitan pada keluarga Kwon. Nara sudah banyak yang menemani saat ini. Mungkin besok aku akan kembali untuk melihat perkembangannya.

“Maaf mengganggu, aku izin pamit dulu. Aku harus kembali ke restoran dan mengabarkan pada semua pegawai apa yang sudah dialami oleh Nara.” aku membungkukkan badan sekaligus berpamitan pada mereka dan mereka menanggapinya dengan singkat serta memberikan senyuman ramahnya padaku.

Akupun mulai beranjak dari tempatku berdiri. Belum sempat aku mencapai pintu, Jiyong hyung memanggil dan menghampiriku. “Ne?” jawabku.

“Terima kasih sudah menjaga Nara selama kami dalam perjalanan menuju rumah sakit. Nara sungguh beruntung memiliki teman seperti mu. Aku berharap kalian tidak hanya berteman, tetapi juga menjadi sepasang kekasih. Aku sungguh menginginkan itu.” Jiyong hyung mengerlipkan sebelah matanya padaku. Sedangkan aku, hanya melongo bodoh atas perkataannya barusan.

“Yaa hyung, masih sempat kau berkata seperti itu disaat seperti ini?” protesku. Namun Jiyong hyung hanya terkekek geli mendengarnya. “Haha, hati-hatilah dijalan. Mungkin beberapa hari ini, Nara tidak akan masuk kerja dulu.”

“Arraseo, aku bisa mengerti itu.” rengutku. “Keureom, aku pergi dulu. Sampaikan salam ku pada Nara saat dia sudah tersadar nanti.” Aku langsung keluar ruangan begitu mendapat anggukan dari Jiyong hyung.

Begitu keluar rumah sakit, aku baru tersadar akan keberadaan mobilku. “Dimana ku taruh mobilku?” aku menepuk jidatku. Ku edarkan pandanganku pada area parkir rumah sakit. Namun tak kutemukan mobilku. Aish jinjja. Bodoh sekali aku ini. aku kembali menepukkan jidatku.

Astaga!! Aku baru ingat kalau mobilku masih terparkir tak jauh dari tempat dimana Nara kecelakaan. Pasti saat ini mobilku sudah diderek oleh petugas kepolisian. Aigoo, sepertinya aku harus keluar uang untuk membayar denda atas kelalaianku. Bodoh kau Kang Daesung. Doraemoonnnn, tolong akuuuuu 😥

Doraemon      :

Yaaa!!! Disaat susah saja kah kau membutuhkan ku?? Aish jinjja!! Pergi saja sendiri, aku tidak akan membantumu!!

 

Hisshhhh, jahat sekali kau padaku L

Doraemon      :

Itu karena kau telah menduakan ku dengan Kwon Nara!!

 

Yaaa!! Kau ini!! aku kan tidak mungkin menikah denganmu!!

Jamkkanman. Kenapa aku malah mengobrol dengan musang gendut ini? aku harus segera menebus mobilku dan menuju restoran.

Doraemon      :

AKU INI KUCING, BUKAN MUSANG!! SUDAH BERAPA KALI AKU KATAKAN PADAMU? AKU ADALAH KUCING!! AARRRGGGGHHHHH!! ngamuk


Setelah melalui proses penebusan mobilku dikantor kepolisian, akhirnya aku kembali ke restoran dengan isi dompet yang terkuras. Ppfftttt!! Aku harus giat bekerja untuk menutupi pengeluaran yang berlebihan ini.

Dengan langkah lesu aku memasuki restoran. Ah, beberapa hari ini pasti akan sangat membosankan jika tidak ada Nara disini. Nara-ya, cepatlah sembuh agar kau bisa kembali mewarnai hari-hariku.

“Daesung-ssi!!” aku dikagetkan oleh pegawai restoran yang berteriak memanggilku saat aku baru saja membuka pintu ruang ganti.

“Aish!! Kalian mengagetkan ku saja. Kenapa kalian masih disini? Kenapa kalian tidak membuka restorannya? Bukankah ini sudah masuk jam kerja?” serentetan pertanyaan ku keluarkan ketika melihat hampir seluruh pegawai yang bekerja pada shift pertama masih berada diruang ganti.

“Apakah kau belum tahu jika Nara mengalami kecelakaan?” tanya Jiki, salah satu pegawai restoran yang juga sahabat Nara. “Aku tahu.” Jawabku singkat. “Lalu?” tanya Jiki lagi.

“Dia baik-baik saja. Walau saat ini ia masih dirawat dirumah sakit, tapi dia baik-baik saja. Aku sudah kesana sebelum aku ke restoran. Jadi kau dan kalian tenang saja. Tidak ada luka serius yang dialami Nara. Oke? Bisakah kita memulai pekerjaan hari ini.”

Setelah mendengar penjelasanku, semua pegawai mulai keluar dari ruang ganti kecuali Jiki. Ia masih terdiam melihatku dengan mata yang disipitkan. Tatapan matanya seolah mengatakan, “apakah kau berkata benar, Kang Daesung-ssi?”

Aku memutar mataku, “aku sungguh-sungguh, Jiki-ssi. Aku tidak berbohong padamu dan yang lainnya. Jika kau tidak percaya dengan perkataan ku, kau bisa mengeceknya sekarang dirumah sakit.” Aku menjawab tatapan mata curiga Jiki walau gadis itu belum sempat mengutarakannya padaku. Ah, aku seperti tertular keahlian Nara yang bisa membaca pikiran dan isi hati orang lain.

“Baiklah, sepulang dari sini aku akan melihat keadaan sahabatku itu. Jika kau berbohong, Daesung-ssi, aku akan menggembosi ban mobilmu!” ancamnya lalu melenggang keluar ruangan. Dan aku hanya menggelengkan kepala atas kelakuan sahabat Nara itu.

Hari ini benar-benar berat bagiku. Bagaimana tidak, aku berniat untuk melihat senyum dan tawa riang Nara untuk yang terakhir sebelum akhirnya aku pindah ke Jeju. Namun aku malah melihat kejadian yang begitu menyesakkan hatiku. Aku terduduk dibangku panjang ruang ganti dengan lemas, aku ragu dapat melewati hari ini dengan baik.

Tuhan, kenapa hari terkahirku disini begitu berat? Apakah Kau sengaja mengujiku? Untuk apa? Kau tahu bahwa aku ini adalah hamba-Mu yang rapuh. Tolong ringankan bebanku hari ini, Tuhan. Aku mohon. Aku hanya ingin melihatnya, melihat senyumnya, melihat tawanya, bercanda ria bersamanya. Tapi, tapi kenapa Kau begitu jahat padaku?

Air mataku kembali menetes. Pikiranku melayang kembali pada kejadian dimana aku melihat keadaan Nara saat di ambulance dilokasi kecelakaan. Saat itu aku benar-benar merasa akan kehilangan sosok gadis yang aku cintai. Aku merasa sangat pesimis Nara akan selamat dari bahaya yang menimpa dirinya. Mengingat itu benar-benar membuatku sesak.

Aku akan pergi tanpa melihat semua yang kuinginkan. Namun begitu, aku bersyukur Tuhan sudah menyelamatkan nyawanya dan memberi keajaiban yang tak terduga. Memberikan kesehatan yang begitu cepat pada hambanya yang begitu cerewet, periang, aktif, tak mau kalah, dan tomboy. Pada gadis yang sangat aku cintai.

Aku mengusap air mata yang jatuh ke pipiku dan berusaha tegar menghadapi semua ini. Aku harap tak ada yang menyadari kesedihanku ini. Aku bangkit dari dudukku dan menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paru ku tadi yang sangat sesak ku rasakan.

Baiklah Kang Daesung, jalani hari terakhirmu di restoran dengan baik. Jalani seolah tak ada kejadian serius hari ini. Anggap semua kejadian yang sudah kau lewati sebagai perpisahan untukmu. Hwaiting, Kang Daesung!!

Aku keluar ruang ganti dengan langkah mantap, dan siap menjalani hari terakhirku di restoran ini.


Sudah waktunya jam pulang kerja. Bangku-bangku sudah dirapihkan, peralatan masak didapur juga sudah dibersihkan. Para pegawai juga sudah mengganti pakaiannya dan bersiap pulang. Sedangkan aku masih terdiam diatas panggung kecil yang terletak disudut restoran, duduk disebuah bangku yang cukup tinggi dengan memegang sebuah gitar. Memetik senarnya dengan pelan. Pikiranku kembali melayang pada saat-saat pertama kali aku bekerja disini dan mendapat banyak teman yang baik hati.

Hingga akhirnya aku bertemu dengan Kwon Nara sekitar satu tahun yang lalu. Ku pejamkan mataku dan mengingat kembali kebersamaan ku dengan gadis berusia 22 tahun itu. Gadis yang sanggup membuat jantungku berolahraga setiap waktu. Gadis yang sudah berani mencuri hatiku.

Dengan perlahan dan dengan mata yang masih terpejam, ku petik senar gitar yang sedari tadi ku mainkan tanpa nada yang jelas. Dan aku mulai menyanyi dengan air mata yang mengalir.

Tteonaga

I finally realize, that I’m nothing without you
I was so wrong, forgive me

Padocheoreom buswojin nae mam
Baramcheoreom heundeullineun nae mam
Yeongicheoreom sarajin nae sarang
Munsincheoreom jiwojiji ghana
Hansumman ttangi kkeojira swijyo
Nae gaseumsoge meonjiman ssahijyo (say goodbye)

Yeah
Nega eobsineun dan harudo mot sal geotman gatatdeon na
Saenggakgwaneun dareugedo geureokjeoreok honja jal sara
Bogo sipdago bulleo bwado neon amu daedab eobjanha
Heotdoen gidae georeo bwado ijen soyongeobjanha

Ne yeope inneun geu sarami mwonji hoksi neol ullijin anhneunji
Geudae naega boigin haneunji beolsseo ssak da ijeonneunji
Geokjeongdwae dagagagijocha mareul geol sujocha eobseo aetaeugo
Na hollo bameul jisaeujyo subaek beon jiwonaejyo

Doraboji malgo tteonagara
Tto nareul chatji malgo saragara
Neoreul saranghaetgie huhoe eopgie
Johatdeon gieongman gajyeogara
Geureokjeoreok chama bolman hae
Geureokjeoreok gyeondyeo naelman hae
Neon geureolsurok haengbokhaeya dwae
Haruharu mudyeojyeo ga eh eh eh eh

Oh my girl, I cry, cry
You’re my all, say goodbye, bye
Oh, my love, don’t lie, lie
You’re my heart, say goodbye…

Haru Haru Acoustic Version, BIGBANG

Ku hela nafas dengan keras setelah menyanyikan lagu itu dan ku sapu air mata yang sedari tadi tak henti-hentinya membasahi pipiku. Saat ku membuka mata, betapa terkejutnya aku saat melihat apa yang ada dihadapanku.

~ TBC ~

Iklan