3 Months (3/5)

10531208_888583794490487_1940201084_n

Author: Vivin

Judul: 3 Months part 3

Cast:   –    Jung Taekwon (Leo Vixx)

  • Shin Jiki
  • Cha Hakyeon
  • Other Member Vixx

Tada.. part 3 nie.. terima kasih yang sudah baca FF ini, semoga FF ini dapat menjadi hiburan buat kalian semua.. dan tak lelah juga saya meminta like ataupun coment untuk FF ini.. jangan jadi silent reader ya~~ oke gak usah banyak omong,, Cuss, happy reading^^

“Jiki-ssi” sapa Leo lemah, dengan jelas Jiki dapat mendengar suaranya, suara halus yang aneh bagi Jiki, tapi terdengar lembut ketika memasuki gendang telinga.

“Kenapa kau harus menangis setiap malam di halte?”

“Kalau kau membutuhkan pundakku untuk menangis, aku siap menemanimu, seperti saat ini dan ditempat ini”

Seketika kata-kata itu kembali terngiang dan terbersit dengan cepat saat Jiki kembali mendengar suara itu. “Leo? Taekwon? Kenapa harus begini? Kenapa?” Jiki hanya bisa terdiam dan memikirkan bagaimana caranya agar segera pergi dari tempat itu dan menyingkirkan sosok Leo dari hadapannya.

****

“Oh jadi kalian sudah mengenal satu sama lain?” suara N memecahkan kesunyian yang tercipta. Tapi pertanyaan itu tak membuat keduanya bergeming.

“Jiki-ya, bukankah kau ingin bertemu dengan Leo? Sekarang dia ada dihadapanmu” celetuk Jang hyuk oppa menimpali pertanyaan N. Celetukan itu membuat Jiki semakin tersudut, malu, dan mati kutu. “Aish, oppa, ini bukan waktu yang tepat kau mengatakan itu” runtuknya dalam hati. Susah payah Jiki menjaga image didepan Leo dan sekarang hancur lebur dengan celetukan itu, iya sih dia memang ingin bertemu dengan Leo, tapi Leo yang dia kira malah diluar dugaan. “Sudahlah nasi sudah menjadi bubur, waktunya berakting. Action!”

“Ah ne, Annyeong haseyo, jeoneun Jiki imnida, senang bertemu denganmu Leo-ssi” Jiki mendongakkan kepalanya, tersenyum singkat, membungkukkan badannya sejenak dan kembali berdiri tegak. Kedua matanya sempurna menatap tajam Leo yang berdiri tenang dibalik pintu. Tangannya mengepal sempurna, mengumpulkan kekuatan untuk berdiri tegak disana. Sedikit saja terbersit rasa takut diwajahnya Jiki akan menghukum dirinya sendiri. “Aku pasti bisa” seru Jiki menyemangati dirinya sendiri.

“Ne” jawab Leo singkat. Tidak mau kalah, diapun menatap tajam Jiki. Semua yang ada di tempat itu hanya tercengang dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun mereka menyadari ada yang ganjil dengan keduanya. Dalam keadaan awkward seperti ini, seorang N sangat dibutuhkan.

“Oh Leo-Ssi, Jiki ini adalah asisten manager Jang hyuk Hyung, dia akan menggantikan Hyung selama 2 minggu, benarkan?” N menoleh kearah Jiki dan tersenyum manis, kedua pipinya terangkat akibat bibirnya yang tersenyum lebar. “Tuhan, dia manis sekali” jantung Jiki berdegup tidak normal.

“Ah ne” akibat senyuman itu, sejenak konsentrasi Jiki tergoyah, suaranya sedikit tertahan ditenggorokan.

“Oh” jawaban singkat kedua Leo sebelum dia memalingkan muka dari Jiki.

“Oke perkenalan selesai. Hakyeon, hyung titip Jiki, buat dia sebetah mungkin bersamamu, awas saja kalau kau meminta yang aneh-aneh, akan kupastikan hidupmu tidak selamat, arasseo?”

“Yes Sir” Jawab N diiringi senyumnya lagi dan untuk kedua kalinya senyuman itu membuat jantung Jiki berdegup tidak normal.“Apa aku menyukainya??”.

****

Hari ini jadwal Vixx comeback stage di MCoutdown, sudah sejak 1 jam yang lau Vixx bersiap di backstage. Semua kru Vixx sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ada yang sibuk membenahi rambut, baju, make up dan banyak lagi. Jiki sedari tadi sibuk mengamati pekerjaan stylist rambut N,terkadang dia ikut berkomentar dan menata rambutnya. Dia tidak mau dihari pertamanya kerja, dia akan melakukan kesalahan dan menyebabkan N tidak terlihat perfect. Selain itu setiap detil baju N dan semua accecoriesnya dia perhatikan betul, tak lupa juga ulasan make up tak lepas dari pengamatannya. Berkali kali ia mengamati setiap detil penampilan N hari ini, satu kesalahanpun tak ingin ia perbuat. Jiki sudah bertekad dalam hatinya, dia tidak ingin mengecewakan Jang hyuk oppa yang sudah memberikannya pekerjaan berharga ini, “jadi bekerjalah dengan baik, Jiki” kembali Jiki menyemangati dirinya sendiri.

“Jamkkanman, N-ssi, sepertinya jasmu kurang rapi, sebentar akan aku perbaiki” dengan telaten Jiki menarik lembut salah satu lengan jas tersebut, membuatnya sejajar dan rapi.

“Oh kau berkeringat, sebentar” segera Jiki mengambil tissue dalam tasnya, mengelap keringat dipelipis N.

“Gomawo, kau perhatian sekali. Hyung tidak pernah memperlakukanku seperti ini, senangnya aku mendapatkan asisten sepertimu, sekali lagi gomawo” bisik N tepat di telinga Jiki saat mereka berhadapan, dan baru Jiki sadari jarak mereka hanya sekitar 10 cm. “Hei kenapa dekat sekali, Jiki kenapa kau genit sekali? Bagaimana kalau N menyukainya? Pabbo” Jiki meruntuk diri sendiri, dan degup jantung itu datang lagi, ini yang ketiga kali.

“Yaaakkk, Hyung kau jangan ambil kesempatan” celetuk Ravi, Jiki meliriknya sejenak, wajah cutenya tersenyum centil melihat Jiki dan N dalam posisi yang menguntungkan bagi mereka berdua.

“Ah, Jiki apa kau sudah selesai membantu N? bisakah kau membantu Leo merapikan baju dan make upnya, mendadak aku harus pulang, adikku masuk rumah sakit” seorang wanita berparas lebih tua dari Jiki sekitar 3 tahun memohon bantuannya, sepertinya dia manager Leo, ah entahlah. Wajah wanita itu penuh harap, berharap Jiki mau menolongnya, tidak tega melihatnya Jiki mengiyakan permintaannya. “Kenapa harus Leo?” Jiki merutuk dalam hatinya.

“Ah ne” jawab Jiki ragu, diliriknya seseorang yang berada tidak jauh dari posisinya sekarang dan didapatinya Leo berdiri menyenderkan tubuhnya ke tembok seraya menatapnya tajam.“Tuhan kenapa dia melihatku begitu? Apa dia melihatku dari tadi? Melihatku bersama N? aigo, sudahlah”.

“Gomawo Jiki, N-ssi Mianhae” wanita yang mengenakan mini dress berwarna pink tersebut bergegas mengambil tasnya dan pergi.

“N-ssi, apa kau butuh sesuatu?” tanya Jiki ramah, matanya dibulatkan mengharapkan N memintanya sesuatu agar menghambatnya menemui Leo kali ini.

“Aniya, aku rasa cukup, lebih baik kau membantu Leo, Palli, sebentar lagi waktunya Vixx perform” N itu memang sangat murah senyum, terbukti dari setiap perkataannya selalu diiringi dengan senyum yang membuat degup jantung Jiki tidak normal.

“Arasseo” wajahnya langsung tertunduk lesu, kecewa dengan jawaban N. “Sudahlah lakukan saja agar semuanya bisa selesai, berpura-pura tidak tahu dan bayangkan dia adalah N” begitulah cara Jiki menghibur hatinya dan mengusir kekhawatirannya. Seakan sebuah batu dengan berat 10kg mengikat kakinya dan membuat Jiki berat untuk melangkah. 1 langkah, 2 langkah, 3 langkah dan pintu kembali terbuka.

“Annyeong haseyo, kami dari E-Seoul Magazine, bisakah kami meminta waktu untuk mewancarai kalian?” seseorang namja berkacamata dan memegang kamera berdiri di balik pintu. Sebuah tanda pengenal tergantung di lehernya. Kedatangannya berhasil menghentikan langkah Jiki.

“Oh tentu saja, disini?” Jawab N ramah.

“Bisakah kalian keluar sejenak?” pinta wartawan.

“Tentu saja”

“Tapi, Leo Hyung, dia…” si magnae Hyuk mengeluarkan suaranya.

“Gweanchana, aku bisa menyusul sebentar lagi, lagipula aku belum siap” suara falsetonya yang seksi itu terdengar oleh Jiki dan seakan member perintah untuk memutar memori Jiki.

“Baiklah”

Semuanya pergi dan tinggal Jiki dan Leo didalam, “Kenapa harus wawancara sekarang? Kenapa wanita itu harus pulang? Kenapa harus Leo? Kenapa harus Jiki? Kenapa? Kenapa?” batin Jiki berkutat dengan semua pertanyaan itu, tapi semuanya sudah terjadi, dia harus tetap bersikap professional, tangan Jiki mulai gemetar, suhu tubuhnya seakan turun dratis dari suhu normal, kakinya gemetar, dia grogi, jelas itu. Perlahan dia melangkahkan kakinya dan rasanya semakin berat. Leo ada dihadapannya, tapi Jiki masih belum berani menatap matanya, dia masih tertunduk. Tuhan demi apapun, tangan Jiki gemetar hebat, tapi kalau dia tidak segera menyelesaikan pekerjaan ini maka Vixx akan terlambat perform dan dia akan disalahkan. Sekuat tenaga Jiki mengatur nafasnya, mengatur emosinya, perlahan kepalanya yang tertunduk diangkatnya, sejauh ini tidak terjadi apa-apa, jadi Jiki melanjutkan ke langkah berikutnya. Jiki mengangkat tangannya untuk merapikan rantai yang dipasang melintang dari bahu kiri ke perut bagian kanan. Pengerjaannya masih setengah jalan. Menyentuh bahu Leo membuat tubuhnya tersengat sesuatu yang tidak tahu dari mana asalnya. Nafas Jiki yang sudah diaturnya kembali memburu.

“Leo-ssi siapa kau?” mulut Jiki tergelitik untuk bertanya itu, pertanyaan yang ia simpan sejak malam itu. Tak ada jawaban dari Leo, dia hanya diam. Ah, Jiki membencinya.

“Baiklah, kau boleh tidak menjawabnya, tapi aku hanya ingin tahu kenapa kau bisa tahu aku menangis tiap malam di halte? Apa kau bersungguh sungguh saat mengatakan ingin menemaniku?” Jiki menghentikan gerak tangannya, lalu menghempaskannya menjauh dari bahu Leo.

“Sepertinya kau tidak bisa menjawab pertanyaanku? Leo-ssi?” Kini Jiki diam tak berdaya di depan Leo, dia hanya menantikan jawaban namja itu, walau itu hanya satu kata. Wajahnya tidak tertunduk hanya saja tatapan matanya kosong.

“Sudah kerjakan saja pekerjaanmu, kau tidak mau aku terlambat naik ke atas panggung kan?” Leo menangkap tangan Jiki, meletakkannya di bahunya.

“Taekwon?” suara Jiki terdengar serak, yeoja ini menahan tangisnya. Jiki menyebut nama Taekwon, nama yang disebut Leo saat mereka bertemu malam itu.

“Beberapa kali aku melewati halte itu, aku selalu melihat seseorang menangis, aku tidak suka melihat wanita menangis, siapapun dia aku ingin bisa menghentikan air matanya, apakah itu jawaban yang cukup bagimu?” akhirnya Leo menjawab pertanyaan Jiki, jawaban yang simpel dan tidak seperti yang Jiki pikirkan selama ini.

“Jinjja? Syukurlah” jawab Jiki singkat, ada rasa lega mengisi rongga dadanya, dengan mudah dia percaya dengan perkataan Leo. Tatapan matanya yang kosong perlahan memudar. Tangan kanannya masih memegang bahu Leo, tidak bergeser sedikitpun dari posisi awal saat Leo meletakkannya.

“Dahiku berkeringat, apa kau tidak ingin menghapusnya? Sama seperti yang kau lakukan pada N” matanya yang tajam perlahan meneduh, Jiki dapat melihat itu, perlahan rasa takutnya meredup seiring teduhnya mata itu.

“Bolehkah aku mendekat?” tanya Jiki memberanikan diri, merasa jaraknya yang terlalu jauh dengan Leo, beda ketika bersama N.

“Tentu saja” Leo menarik tangan kiri Jiki sehingga mereka berdekatan, sangat dekat, lebih dekat dari N.

Dalam jarak seperti ini, Jiki dapat mencium bau parfum Leo sangat jelas, mendengar deru nafasnya, menyentuh kulitnya dan tentunya menatap matanya dekat. Matanya yang teduh membuat Jiki nyaman menatapnya berlama lama. Usapan demi usapan terasa sangat lambat ketika objek usapan tissue adalah orang yang membuatmu nyaman. Sudah hampir 5 menit Jiki mengusapkan tissuenya di pelipis Leo, tapi masih belum selesai juga. Padahal dia dapat menyelesaikan pekerjaan itu tidak sampai 1 menit ketika dengan N. “Melihatnya dari dekat seperti ini menyadarkanku, bahwa dia sangat tampan, lebih tampan dari video yang kulihat, bahkan lebih tampan dari pertama kali aku bertemu dengannya, dia membuatku nyaman, bahkan lebih nyaman ketika aku meminjam bahunya”

“Bisakah kau mengusap keringatku lebih lama lagi?” sontak Jiki tersentak kaget dari lamunannya mendengar suara Leo. Sebenarnya Leo sudah menyadari sejak tadi kalau Jiki memperhatikannya, tapi dibiarkannya.

“Oh mianhae” sahut Jiki malu.


“Aku pulang” teriak Jiki keras tatkala membuka pintu. Sekarang jam 10 malam dan Jiki baru sampai di rumahnya. Sebuah rumah kecil yang ia tinggali dengan sahabatnya, Nara. Seharian bekerja menjadi asisten manager itu ternyata melelahkan, lebih melelahkan dari seorang pelayan, tapi over all Jiki sangat menyukainya, apalagi mengingat kejadiannya dengan N dan Leo, ingin sekali ia mengulang kejadian itu, senyum malu membungkus kedua bibirnya. Lampu ruang tengah masih menyala, pertanda Nara belum tidur.

“Nara, eodiya?” Jiki menghempaskan badannya di sofa, membuka sepatunya dan membuka cardigannya. Bahunya terasa berat, dan tangannya terasa pegal, sekali lagi Jiki meneriakkan nama Nara tapi tak ada jawaban. Penasaran, akhirnya Jiki mencari Nara disetiap sudut rumah, belum sempat berputar lama, sebuah panci melayang dihadapannya.

“Awww” Jiki memekik kaget. Seiring dengan melayangnya panci itu Nara keluar dengan membawa panci ditangan kiri dan bantal ditangan kanan.

“Jiki, aku membencimu” teriaknya keras, Jiki tidak tahu menahu sedikitpun kenapa Nara bisa seperti ini, padahal terakhir kali mereka bertemu yaitu pagi tadi mereka biasa-biasa saja, apa kesalahan Jiki sehingga membuat Nara merengut seperti ini.

“Hei, salahku apa?” tanya Jiki meminta penjelasan. Dahiya merengut.

“Kau, Kau sudah mengambil N ku, kau kira aku tidak tahu, kau kau bekerja menjadi asisten manager N kan? Iya kan? Kau jahat” buukkkk, Nara melemparkan bantalnya dan tepat sasaran mengenai bahu Jiki, sekali lagi yeoja ini memekik.

“Yaakkk, bukannya kau suka Leo, kenapa sekarang N?” Jiki memberikan pembelaan.

“Kapan aku pernah bilang suka Leo, aku suka N, suka suka suka sangat suka, titik” Nara mengangkat tangan kirinya, hendak melempar barang kedua di tangannya.

“Jakkaman, kau tahu darimana kalau aku bekerja menjadi asisten manager N? siapa tahu berita itu bohong” pembelaan kedua kalinya berhasil menahan tangan Nara.

“Kang Daesung” Nara berteriak keras, sedikit memekikkan telinga mendengar suara altonya memekik, seorang namja keluar dari balik kamar Nara, nyengir dan menggaruk garuk kepalanya.

“Aishhhhh” Jiki menghentakkan kakinya, kecewa. Memang tadi pagi Jiki tidak sengaja memberitahukan pada Daesung kalau dia sekarang bekerja menjadi asisten manager N, dan bodohnya kenapa dia percaya begitu saja, sedangkan Daesung tipe orang yang tidak bisa bohong dan tidak dapat menolak permintaan Nara.

“Kau akan tamat malam ini Jiki~~” tangan kiri Nara kembali terangkat, mukanya sudah dipenuhi rasa kecewa dan Jiki pasrah.

“Nara-ya, aku berjanji akan membawakanmu tanda tangan N dan kau bisa berfoto bersamanya” sebuah penawaran yang terpikir dengan cepat oleh Jiki. Kebanyakan setiap fans pasti menginginkan tanda tangan idolanya ataupun berfoto bersama. Pemikiran yang sangat cemerlang, dan berhasil membuat Nara menurunkan tangannya, matanya membulat mendengarkan perkaataan sahabatnya.

“Jinjja? Jeongmal? Kau tidak bohong kan?”

“Tentu saja” sekuat tenaga Jiki memberikan ekpresi muka meyakinkan agar Nara percaya padanya.

“Baiklah, makan malam ada di atas meja makan, jangan lupa cuci piringmu, ada jeruk dilemari es, kau bisa memakannya dan satu lagi bajumu sudah aku angkat dari jemuran” Nara berlalu begitu saja, sahabat Jiki ini memang selalu perhatian dan selalu mudah meredamkan amarahnya. “Nara, mianhae”.


Hari-hari selanjutnya, Jiki sudah sangat terbiasa dan cekatan menjalani profesi barunya, asisten manager, keren kan? Setiap malam dia sudah tidak menangis di halte, dia sudah lebih banyak tersenyum. Tidak ada lagi yang menghinanya seperti dulu, hanya ada orang-orang yang selalu membuatnya tertawa. Pagi ini, Jiki melangkahkan kakinya santai di lorong gedung Jelly fish. Masih sepi karena masih jam 8 pagi. Krekkk, Jiki membuka pintu ruang kerjanya dan segelas susu menyambutnya, masih mengepul asap diatasnya,ia sudah menanti di atas meja kerjanya, senyumnya tersungging.

*Flashback

“N-ssi gomawo” N menyodorkan susu hangat pada Jiki, pagi ini memang cuaca sangat dingin, suhunya dibawah 15 derajat, padahal sekarang musim panas, entah kenapa pagi itu cuaca tidak bersahabat. Jiki dan kru yang lainnya baru menyelesaikan syuting comeback stage Vixx di SBS.

“Minumlah selagi hangat, kau sudah bekerja keras hari ini, gomawo asistenku” N itu memang sangat baik, ramah dan murah senyum. Bekerja seperti ini membuat Jiki ingin berlama lama dan tidak ingin melepas 2 minggu dengan cepat.

“Oppa sekali lagi terima kasih, kau tahu saja aku sangat menyukai susu hangat seperti ini” susu itu masih mengepulkan asapnya, Jiki meniup bagian atasnya, mendinginkannya.

*Flashback end

Sejak itu, setiap pagi di atas meja kerja Jiki kini sudah tersedia susu hangat. Tentu saja itu membuat Jiki senang bukan kepalang, “N Oppa perhatian sekali” bisiknya.


Rapat ditutup dengan keputusan Vixx resmi menambah kota yang akan disinggahi untuk Hex Sign konser. Jiki bernafas lega, melihat jam masih menunjukkan jam 7, oke akan ada waktu dia beristirahat lebih banyak. Sejak jam 7 pagi tadi dia sudah menemani N mondar mandir, fiting baju untuk konser Hex sign, rapat dengan kru utuk persiapan konser Hex Sign dan menemani Vixx latihan, aigo itu sangat melelahkan. Jiki merentangkan kedua tangannya ke atas, memutar badannya ke kanan dan ke kiri, ia melakukan peregangan ototnya yang kaku, setidaknya ada kelegaan untuk sendi-sendinya yang tak henti bekerja hari ini. Di atas meja kerja Jiki masih banyak kertas yang berserakan disana sini, banyak diantaranya berisi jadwal Vixx, jadwal N, dan masih banyak lagi. Satu persatu Jiki merapikannya, menumpuknya menjadi satu tumpukan. Belum selesai ia membereskan semuanya, pintu terbuka.

“Jiki-ssi, makan malam denganku ya?” bukan seseorang yang asing yang mengajaknya makan malam, seseorang yang hampir 1 minggu ini berada disampingnya. Senyumnya yang manis selalu menghiasi wajahnya. Kalau sudah melihat senyumnya, siapa yang bisa menolaknya. Jiki mengangguk mengiyakan.

Jalanan kota Seoul terlihat ramai lancar, dari balik jendela Jiki mengamati setiap pejalan kaki, mobil yang lalu lalang, bahkan sesekali ia tersenyum melihat para pejalan kaki yang bertingkah lucu sebut saja anak kecil yang merajuk ingin dibelikan mainan sampai baju ibunya ditarik tarik. Matanya berhenti menatap pemandangan diluar jendela, pandangannya kali ini berpindah pada namja yang ada di balik kemudi setir, seorang yang mempunyai peran mengubah hidup dan dirinya. Mobil bercat putih itu berhenti disebuah restoran Sushi.

“Kita sampai” keduanya membuka seat belt, bergegas keluar mobil. Restoran ini tidak terlalu ramai pengunjung, tempat yang tepat untuk seorang idol seperti N.

Tidak ada yang istimewa dari restoran ini, sama seperti restoran pada biasanya. Dekorasinya juga sangat biasa. Keduanya duduk di meja yang berhadapan dengan kaca. Dari sini, terlihat jelas jalanan seoul yang merebut perhatian Jiki beberapa waktu lalu.

“Ah N-ssi, mianhae aku ke kamar mandi dulu”

“Baiklah”

“Jamkkanman”

Jiki meraih tasnya dan bergegas pergi ke kamar mandi, selang beberapa meja ia berjalan, langkahnya terhenti, sebuah tangan memegangnya, sontak dia kaget, syukur saja dia tidak berteriak, hanya memekik sesaat.

“Kau, kenapa tidak duduk disini bersamaku?” suara yang tidak asing bagi Jiki, namja ini mengenakan topi berwarna hitam, dia menunduk, sehingga Jiki tidak dapat melihatnya dengan jelas tapi ketika terdengar suaranya, dia tahu.

“Leo-ssi” lirih Jiki. Genggaman tangannya ikut menguat seiring wajahnya ditangkat untuk menatap Jiki.

“Ikut denganku” Leo bangun dari duduknya dan menarik Jiki sekuatnya, Jiki yang kecil hanya bisa mengekor dibelakangnya, tertunduk dan pasrah. Dari kejauhan N yang melihat Jiki ditarik oleh Leo segera bangkit dari duduknya dengan pertanyaan yang siap meluncur dari mulutnya.

“Yaakk, Leo-ssi apa yang kau lakukan?”

“Kau makan saja sendirian, aku ada perlu dengannya” sudah, cukup, itu saja yang dikatakan oleh Leo, kemudian dia berlalu dari hadapan N yang melongo karena tidak mengerti apa yang sudah terjadi.


*Leo Pov

Namanya Jiki, gadis yang kulihat cuek dengan penampilannya. Bukan tipeku, jauh sekali dari tipeku. Aku sangat menyukai gadis feminim, cerdas dan bijaksana sedangkan Jiki, seorang gadis yang sedikit tomboy, lola, suka menangis dan kekanak kanakan. Banyak rasa yang aku rasakan ketika melihatnya, banyak hal yang ku simpen tentangnya, banyak hal yang tidak orang ketahui tentang perasanku dan banyak hal tentang dia yang tidak aku ketahui.

Kubelokkan mobilku dijalanan gangnam, yeoja dideketku masih diam dengan wajah tertunduk. Tak mengucapkan sepatah katapun. Mobilku berhenti di salah satu restoran italia. “Kita sampai” seruku, kubuka seat beltku dan dia mengikutinya. Kubukakan pintu untuknya, dia keluar dengan wajah yang murung dan mulut terkunci rapat. “Hei, Jiki kenapa diam seperti ini?” tanyaku dalam hati, aneh. Tanganku menariknya kembali, masuk kedalam restoran. Kita duduk diruang VIP, hanya ada aku dan Jiki, tapi tak ada raut kebahagian di wajahnya, dia hanya bisa mempertahankan posisinya, diam dan menundukkan wajah. Ketika melihat dia seperti ini sangat berbanding terbalik ketika dia bersama N. ketika bersamanya dia bisa tersenyum bahkan tertawa lepas. Apakah aku sangat menakutkan baginya? Karena dia selalu menundukkan kepalanya ketika bersamaku. Hampir 3 menit kita berdiam diri seperti ini, selama 3 menit berlalu dia bertahan dengan kepalanya yang tertunduk tanpa sepatah dua patah katapun dan akupun juga bertahan selama 3 menit menatapnya lekat.

“Ini untukmu” seikat mawar merah kusodorkan padanya. Kuletakkan begitu saja diatas meja. Seikat mawar merah yang sudah aku persiapkan sebelumnya, kuletakkan dibawah meja.

Akhirnya Jiki mendongakkan kepalanya, terdapat 10 ikat warna merah didepannya, terikat rapi dan masih segar. Jiki terpaku melihatnya, 1,2,3 detik dia masih melihatnya.

“Maaf, di toko bunga hanya ada bunga mawar merah, tak ada bunga lain, mungkin sudah laku dibeli orang lain” kupalingkan mukaku, mengalihkan pandanganku pada objek penglihatan lain. Aku tidak ingin Jiki melihat wajahku yang kurasa mulai memerah.


*Jiki pov

Alasan apa itu hanya di toko bunga hanya ada bunga mawar merah, tak ada bunga lain, mungkin sudah laku dibeli orang lainanak kecil umur 5 tahun juga tahu, selaku lakunya toko bunga gak akan menyediakan bunga mawar merah saja. Apalagi seteleh meletakkan bunga di meja, dia memalingkan mukanya. Dikira aku tidak dapat melihat rona pipinya yang memerah.

“Kau manis sekali Leo ssi” lirihku seraya mengambil bunga itu, menciumnya, harum khas bunga mawar memenuhi rongga hidungku.

“Leo-ssi gomawo” ucapku sekali lagi sambil terus mencium bunga itu berkali kali dan Leo masih dalam posisinya, tidak menatapku.

“Apakah kau sangat malu leo-ssi setelah memberi bunga padaku?” jiki terkekeh sendiri dari balik bunga yang diciumnya.

****

To be continued

Iklan