GHOST

received_853665811385736

Fiuh, akhirnya FF ini selesai juga.. ini baru pertama kali author bikin FF bergenre horor, jelas banyak kekurangan sana sini, maafkan daku.. cerita geje iya, ngawur iya, aneh iya,kata-kata jelek iya, ah campur aduk.. Maaf berkali-kali.. coba deh bacanya sambil dengerin lagu Ghost, siapa tahu berubah gak geje –“, ya semoga kalian yang baca gak kapok baca FF author,,Oh ya FF ini juga spesial menyambut debut sub unit VIXX LR, walau udah berlalu lama sich.. hehe, oke cuss aje ye.. Happy reading, dont be a silent readers..


Author : LeoVivin

Title    : GHOST

Genre  : Horor, Semi Yadong

Cast     : –    Ravi

  • Han Hye rim

Lets play it!!

And             

Welcome to my paradise

 

Hye rim berlari secepat mungkin untuk menjauh dari suara-suara yang dibencinya. Suara yang bersumber dari dua orang yang tak lain adalah orang tuanya sendiri. Hye rim tak habis pikir, bagaimana bisa sepanjang hari mereka hanya bertengkar, mengumpat satu sama lain bahkan sampai menghancurkan perabotan rumah tangga. Terdengar seperti anak kecil bukan? Hye rim bosan dan muak dengan drama rumah tangga ini. Bagaimanapun dia hanya seorang gadis berumur 20 tahun yang sedang beranjak dewasa. Tidakkah tersirat dalam benak mereka untuk memberikan sedikit kebahagian pada putri semata wayangnya sebelum dia menjadi menjadi seorang istri dan meninggalkan mereka untuk tinggal bersama sang suami?

Langkah lari kecil Hye rim terhenti di pekarangan belakang rumahnya. Hamparan rumput kering dengan bangku kosong di bawah pohon maple rimbun menyapanya dingin. Tidak ada penerangan di tempat terpencil ini, hanya bulan yang menebar cahayanya sebagai penerang kegelapan malam. Angin malam bertiup semilir, menerbangkan beberapa helai rambut Hye rim hingga menutupi sebagian wajahnya. Hye rim suka suasana sepi dan gelap, jadilah tempat ini tempat kesukaan baginya untuk menyendiri dan merenungi nasib. Tanpa takut dia melangkah santai menuju bangku kosong kemudian duduk dengan wajah tertunduk dan menjatuhkan beberapa bulir air mata. Tangisnya pecah di tengah heningnya malam dan senandung angin. Memori otaknya berputar tentang hidup yang ia jalani sebagai seorang gadis pemurung dan tidak memiliki teman satupun. Olokan demi olokan seakan menjadi makanan sehari-hari bagi Hye rim. Mereka menjuluki Hye rim dengan sebutan gadis gila. Julukan itu melekat pada Hye rim karena mereka sering melihat gadis tersebut bicara sendiri, padahal di hadapannya tak ada seorangpun.

.           INDIGO, kita bisa menyebut Hye rim sebagai seorang pengidap Indigo. Dia bisa melihat makhluk-makhluk abstrak yang tak dapat dilihat menggunakan mata telanjang. Hye rim sering sekali berinteraksi dengan mereka, bahkan menjadikan sebagian dari mereka sebagai teman sepermainan. Banyak diantara mereka datang sendiri menemui Hye rim ketika gadis ini mulai merasa kesepian atau bahkan Hye rim yang memanggil mereka menggunakan Papan Ouija. Pernahkah kalian mendengar tentang Papan Ouija? Papan Ouija adalah papan yang digunakan untuk memanggil arwah yang ada disekitar kita. Bagi sebagian orang permainan ini sangat menakutkan, tapi bagi Hye rim papan ini sangat menyenangkan karena dapat memanggil teman-temannya. Dalam papan Ouija terdapat huruf abjad mulai dari A hingga Z, kemudian penomeran mulai dari 0 sampai 9, terdapat juga kata-kata yes, no, home dan good bye.

Angin malam terus menganggu Hye rim tapi dia tidak peduli. Keterpurukan sudah mengubur keceriaan gadis ini. Dia butuh teman untuk menghiburnya kali ini. Dia harus memanggil salah satu atau beberapa temannya untuk bermain. Dengan santai Hye rim mengambil papan ouija yang ia selipkan di balik rongsokan meja tua. Seharusnya permainan papan ouija ini sedikitnya dimainkan oleh dua orang, untuk menghindari dari beberapa hal yang kurang diiginkan. Namun Hye rim tidak mengidahkan peraturan itu, yang terpenting baginya dia dapat memanggil teman-temannya, bercengkrama dengan mereka dan kesedihan Hye rim sirna. Toh selama ini tidak pernah terjadi apa-apa. Permainan selalu berjalan lancar dan baik-baik saja. Hye rim menghela nafas sebelum memulai permainan, tak lupa ia menyalakan lilin sebagai pertanda dimulainya permainan.

Angin nakal tiba-tiba berhenti berhembus, suasana menjadi lebih tenang sekarang. Hye rim berterima kasih pada alam yang mengerti keinginannya. Permainan ini memang membutuhkan suasana tenang dan damai. Mula-mula Hye rim membentangkan papan Ouija kemudian meletakkan jari telunjuk di atas planchette. Planchette merupakan benda yang terbuat dari kayu, berbentuk segitiga dengan lubang di bagian tengah permukaan. Planchette digunakan sebagai alat bagi arwah menunjuk jawaban dari pertanyaan yang di utarakan. “Spirit, spirit of the coin. Please come out and play with me!” (Roh, roh yang ada dalam koin. Roh, roh yang ada dalam koin. Keluarlah dan bermain bersamaku). Hye rim memutar mutar planchette secara perlahan menunggu kedatangan roh, gerak bibirnya terus berkomat kamit membacakan mantra sampai ia merasakan planchette terasa berat, itu pertanda dia sudah datang. Udara di sekitar Hye rim berubah semakin mencekam, temperatur udara ikut menurun, tapi Hye rim tidak merasa ketakutan sedikitpun. Ia sudah terbiasa dengan keadaan mencekam.

“Apa kau sudah datang?” tanya Hye rim santai. Seringai bahagia tersungging di garis bibirnya. Planchette itu bergerak sendiri menuju kata-kata yes. Seringai bahagia Hye rim semakin lebar.

Diangkat kepala Hye rim dan dia dapat melihat salah satu temannya berdiri tepat di ujung meja. Ia mengenakan gaun putih yang sobek dibagian rok dan lengan. Wajahnya pucat dengan beberapa tetesan darah di bagian dahi dan pipi. Rambutnya terurai acak-acakan dan menutupi sebagian wajah.

“Erika” sapa Hye rim lembut.

Erika, perempuan blasteran perancis korea yang meninggal tertabrak mobil beberapa tahun yang lalu. Pertama kali ia datang ke Hye rim dengan keadaan jauh lebih menakutkan dari sekarang. Dia datang tanpa tangan dan berlumuran darah di sekujur tubuhnya. Kala itu, Hye rim tak merasa takut sedikitpun, malah dia menyapa Erika dengan ramah hingga hantu ini merasa nyaman. Sejak saat itu ia selalu datang saat Hye rim memanggilya. Tidak hanya Erika tapi ada Ji eun, gadis muda yang mati bunuh diri setelah meloncat dari lantai 8 sebuah apartement. Mereka berdualah yang senantiasa menemani Hye rim.

“Erika aku ingin mengajakmu bermain, permainan apa yang ingin kau mainkan?” Hye rim kembali menunduk, berkonsentrasi pada planchette, dia menunggu jawaban Erika. Planchette mulai bergerak menuju huruf satu demi satu, mulai dari huruf M hingga membentuk sebuah jawaban yaitu M –E – M – B – U – N – U – H – M – U. Hye rim tersentak kaget mengetahui jawaban Erika.

“Erika, sekali lagi katakan padaku, permainan apa yang ingin kau mainkan?” Hye rim mencoba mengatur ketakutannya, mungkin Erika salah menjawab. Tapi lagi-lagi planchette tersebut bergerak menunjuk huruf yang sama. Sengaja Hye rim melirik Erika yang terdiam di hadapannya. Tak tampak semburat ekpresi disana, terdiam menatap Hye rim tajam dengan tetesan darah yang mengalir dari sudut matanya. Bulu kuduk Hye rim berdiri perlahan.

“Erika, apa yang kau inginkan?” tanya Hye rim sekali lagi, ingin meyakinkan jawaban mengagetkan itu hanyalah candaan. Erika tidak bercanda, planchette itu bergerak menunjuk huruf yang sama untuk kesekian kalinya. Baru kali ini Hye rim takut dengan jawaban makhluk halus. Tidak lucu kan kalau dia mati di tangan makhlus halus yang sudah dianggapnya sebagai teman. Apa alasan Erika ingin membunuh Hye rim? Bukankah hubungan mereka selama ini baik-baik saja? Bahkan terakhir kali mereka bertemu yaitu 1 minggu yang lalu, mereka menghabiskan waktu semalaman bermain kartu. Jadi apa alasan Erika ingin membunuh Hye rim? Apa mungkin Erika ingin menghapus batas dunia mereka? Kemudian membawa Hye rim kedunia Erika? Benarkah demikian?

Hye rim menggeleng-gelengkan kepala, membersihkan dugaan demi dugaan yang memenuhi otak kiri dan kanan. Pundak Hye rim terlihat naik turun yang disebabkan ketakutan luar biasa dalam dirinya, selain itu Jari jemari Hye rim tampak gemetar akibat mengigil ketakutan.

“Tenang Hye rim, tenanglah! Kau harus bisa menenangkan dirimu. Minta saja Erika pulang dan masalah ini akan selesai”

Masih saja berpikir postif kalau Hye rim bisa menyelesaikan keadaan ini dengan damai. Dieratkan kepalan jari jemari di pangkal pahanya, meremas rok hitam yang ia kenakan, debar jantungnya sudah tak terhitung berapa ketukan permili detik. Hye rim menarik nafas dalam-dalam, memaksa otaknya berpikir keras untuk menemukan kata-kata agar Erika mau pergi agar permainan papan ouija ini bisa selesai.

“Erika, aku ingin beristirahat, kita lanjutkan lagi esok hari. Pulanglah!” pinta Hye rim lembut. Dadanya kembang kempis mengatur pasokan udara yang tak normal.

Planchette bergerak cepat dan menunjuk NO. Sontak Hye rim terperanjat kaget, tidak pernah Erika seperti ini. Sekali lagi Hye rim mengulang kata-katanya, alunan suaranya kali ini terdengar lebih lembut. Tidak ada jawaban dari Erika, Hye rim masih sabar menunggu walau degup jantungnya sudah terdengar memecah kesunyian malam. Lama menunggu, akhirnya Hye rim mengulang lagi permintaannya, dan tetap tidak ada respon.

“Erika, kau disana?” masih tidak ada jawaban. Hye rim tak berani melirik lagi pada Erika. Dia terus berusaha berkonsentrasi untuk tetap fokus pada papan ouija dan planchette. Lengah sedikit maka nyawa taruhannya.

Planchette masih terasa berat tapi tak bergerak. Pertanda Erika masih ada dan dia belum beranjak pergi. Hye rim harus bertindak cepat, kalau dibiarkan seperti ini maka permainan tidak akan berakhir. Fajar pagi juga masih lama. Hye rim melirik lilin yang menyala terang pertanda permainan sedang berjalan. Mematikan cahaya lilin adalah satu-satunya cara untuk mengusir Erika dan mengakhiri permainan dengan paksa. Tanpa pikir panjang lagi, digerakkan kepala Hye rim dengan sangat hati-hati, dia mengambil beberapa udara disekitarnya, bersiap untuk meniup api kecil tersebut.Tapi apa yang terjadi? Hembusan angin keras datang kemudian menubruk Hye rim hingga menjatuhkan papan ouija dan dirinya secara bersamaan. Cahaya lilin mati seketika dan disekeliling Hye rim gelap gulita. Tidak ada cahaya bulan, langit hitam menutupi sang ratu malam dengan sempurna. Hye rim jatuh tidak jauh dari bangku yang ia duduki. Dia merasa kesakitan pada tulang ekornya yang menghujam bebatuan kecil. Hye rim meringis kesakitan sebelum akhirnya ia mencoba untuk bangun, tapi tak ada guna. Kesakitan seakan membalut semua titik di tubuh Hye rim secara menyeluruh.

“Argghhh”

Hye rim memekik keras ketika sebuah tangan dingin tiba-tiba mencekik lehernya kemudian mengangkat tubuhnya ke atas hingga melayang dan tak menapak tanah. Seketika itu nafas Hye rim tersengal. Oksigen tak lancar masuk dalam paru-parunya, terhalang oleh cengkraman kuat. Hye rim mengerang kesakitan. Tangannya berusaha mencari pegangan tapi tak ada apapun. Samar Hye rim dapat mengetahui sang pelaku, dia adalah Erika. Dia terlihat menakutkan dengan perawakan wajah dingin dan obsesi yang memanas di dalam manik matanya. Erika tidak bercanda, dia benar-benar ingin membunuh Hye rim malam ini dan membawanya pergi bersama. Satu detik, dua detik Hye rim masih bertahan tapi masuk ke detik 30 dia mulai kekurangan nafas. Mulutnya mengatup-ngatup mencari udara segar. Pancar mata Hye rim serasa berkunang-kunang serta denyut kepala yang luar biasa menghujam. Entah cara apa yang bisa Hye rim lakukan untuk keluar dari gerbang kematian ini. Untuk menyingkirkan tangan Erika saja, Hye rim tak mampu. Perlahan tapi pasti dari ujung kaki hingga pangkal paha seperti mati rasa. Hye rim tidak bisa menggerakkan kakinya lagi. Terkulai lemas begitu saja. Ah, mungkin benar malam ini Hye rim harus ikut bersama Erika. Sejalan itu pula helaan nafas Hye rim memelan. Tidak ada pilihan lagi selain pasrah akan maut yang siap menjemput.

Namun, tanpa disangka ditengah lirihan nafas yang terpotong helah demi helah, tiba-tiba Erika menghempas Hye rim jauh, hingga tubuh kurus itu menubruk pohon maple yang kokoh. Tentu saja tubuh kecil itu meringkuk setelah menghantam benda keras, tersungkur mencium tanah. Dadanya tertohok bebatuan kecil yang tersebar rata di antara akar pohon yang berumur ribuan tahun ini. Darah segar keluar deras dari sudut bibir Hye rim. Dia tak sanggup untuk bangun kembali, ujung kaki hingga pangkal paha mati rasa, hanya tangan yang mampu digerakkan. Sinar sayu mata Hye rim dapat melihat Erika berdiri tidak jauh dari tempatnya. Kaki Erika tampak mengambang. Pelan Hye rim merasa nafasnya kembali tersengal dan di ikuti dengan sorot mata yang meredup. Seiring dengan itu semua, kelopak mata Hye rim perlahan tertutup dan dia kehilangan cahaya hidupnya.


Seperti terdengar sebuah suara membisikkan nama Hye rim. Sangat lirih tapi jelas ditengah kehampaan alam. Merasa namanya terpanggil, saraf Hye rim memerintahkan kelopak mata untuk membuka penglihatan sang gadis. Aneh tapi nyata, begitulah yang terjadi. Hye rim pikir dia sudah mati, nyatanya dia masih bisa membuka mata dan berada di tempat terakhir kali ia tersungkur. Lebih anehnya lagi, Hye rim tidak lagi merasakan sakit disekujur tubuhnya dan dia dapat menggerakkan kakinya seperti biasa. Bukankah tadi mati rasa? Hye rim juga bisa bernafas dengan leluasa, tidak tersengal lagi. Berulang kali Hye rim mengerjapkan mata tak percaya.

“Apa yang terjadi?” tanya Hye rim pada dirinya sendiri. Dipaksa badannya untuk bangun, layaknya seorang yang baru bangun tidur setelah tidur selama 10 jam. Sangat segar dan bertenaga.

Hye rim berdiri kokoh di bawah pohon maple tempat Erika menghempasnya beberapa saat yang lalu. Memandang jauh ke depan yang sekarang sudah tak terlihat lagi seonggok bangku yang ia gunakan bermain papan ouija. Sudah berganti dengan hamparan karpet merah yang tak berujung. Hanya kabut hitam yang menutup ujung karpet.

“Apa ini?” bisik Hye rim penasaran.

Rasa penasaran Hye rim menguat setelah melihat pemandangan aneh yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Sejak kapan halaman belakang rumahnya disulap bak penyambutan tamu besar. Ada dorongan batin yang membuat kaki Hye rim berjalan sendiri di atas hamparan karpet merah tersebut. Awalnya langkah Hye rim ragu namun semakin ia jauh berjalan, keraguan itu hilang dengan sendirinya. Kabut hitam inipun seakan menjawab rasa penasaran Hye rim, kabut hitam menguap ke atas hingga membuka tabir penutup ujung karpet merah. Memang tak semua kabut lenyap, ada beberapa kabut kelabu yang masih menghalangi pandangan. Samar Hye rim melihat kursi singgasana yang berlapis emak dan perak. Ukirannya terlalu rumit untuk dimengerti, yang jelas kursi itu sangat besar dan megah. Sama seperti kursi para raja di zaman joseon. Kabut hitam yang lebih pekat datang mengerubungi kursi singgasana itu hinga Hye rim kesulitan kembali untuk mendeskrispikan lebih detail bentuk dan rupa kursi tersebut. Sekali lagi Hye rim menilik batinnya, bertanya dimana dia berada sekarang, tapi dewi batinnya tak memberi jawaban malah memaksanya untuk terus mendekat untuk menemukan titik terang.

Hye rim tak peduli seberapa cepat debaran jantungnya saat ini, yang ia pedulikan adalah mendekati kursi itu dan menemukan jawaban dimana dia berada. Masih dengan langkah mantap, Hye rim terus menjajal kakinya untuk menuntaskan rasa penasaran. Ia terperanjat kaget hingga menghentikan derap langkah saat mendapati seseorang berdiri membelakangi di depan kursi singgasana yang memiliki ukiran singa di bagian atas kursi. Dia mengenakan jas putih, celana putih dan sepatu putih. Warna rambutpun senada dengan pakaiannya.

“Apakah dia hantu?” bisik Hye rim sendiri. Diperhatikan kakinya ternyata menapak tanah. Itu pertanda dia bukan hantu.

Belum tuntas rasa penasaran tentang keberadaannya saat ini, malah sekarang ditambah dengan rasa penasaran Hye rim akan rupa sosok yang berdiri tegak dan gagah. Tak sempat ia melangkah lebih dekat, sebuah tangan memegangi kaki Hye rim erat. Spontan, Hye rim menjerit dan menoleh ke bawah sana. Itu Erika, dia memegangi kaki Hye rim kuat. Tubuh Erika sekarang berlumuran darah dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia memamerkan wajahnya yang tampak mengerikan.

“Kyaaaaa” Hye rim berteriak histeris. Sontak ia menghempaskan Erika dari pergelangan kakinya tapi tak berhasil. Erika malah lebih kuat memegangi kaki Hye rim.

“Erika pergilah! Aku mohon” Pinta Hye rim hampir menangis.

“PERGI!!”

Sebuah suara menggelegar memecah ketakutan Hye rim. Tidak mudah dipercaya, setelah mendengar suara itu Erika terhempas dengan sendirinya dan lenyap menjadi kabut gelap kemudian bersatu dengan kabut yang lain. Mata Hye rim membulat melihatnya, bibirnya menganga sendiri tidak percaya. Pandangan Hye rim langsung berputar mencari sumber suara yang menakjubkan tersebut. Hye rim pikir suara itu dari arah jam 12 atau di hadapannya saat ini Dengan takut-takut Hye rim mengangkat wajah, memberanikan diri melihat ke depan dan sesosok pria berparas tampan yang ia lihat. Laki-laki bertubuh tegap dibalut dengan setelan jas putih dan tatanan rambut yang terlihat sangat serasi. Wajahnya pucat dengan lingkar mata yang memerah. Sorot matanya kosong tapi menuntut Hye rim untuk terus menatapnya. Hye rim sadar betul laki-laki ini mempesona dan jauh lebih mempesona ketika ia mulai berjalan mendekati Hye rim. Derap langkahnya yang terdengar berwibawa di setiap tapakan membuat Hye rim terhenyak dan terpaku di tempat.

Andai saja Hye rim bisa kabur, maka dengan segera ia angkat kaki dari tempat ini, tapi kenyataannya dia semakin tertarik dengan laki-laki ini. Laki-laki yang tidak ia kenal tapi berhasil merenggut kesadaran diri seorang Hye rim. Kebiasaan Hye rim ketika berhadapan dengan hantu yaitu menyapa mereka dengan ramah tapi lain dengan laki-laki ini. Hye rim lebih suka memperhatikan lekuk wajahnya yang tampak terpaut sempurna. Auranya dingin dan penuh misteri tapi entah kenapa begitu memukau hingga membuat Hye rim tidak berkedip sedikitpun. Apakah kau hantu? Ingin rasanya Hye rim melontarkan pertanyaan itu. Apa daya bibirnya terlalu kelu untuk merangkai kata-kata. Tidak mungkin juga kan seorang hantu bisa menapakkan kakinya ke tanah. Namun untuk ukuran seorang manusia dia sangat dingin dan beraura gelap. Siapapun dia, dia sudah berhasil membuat Hye rim yang polos terpana hingga masuk ke dalam dunia laki-laki ini. Bahkan ketika laki-laki yang tidak diketahui identitasnya ini memulai serangan menggoda Hye rim, perempuan bermarga Han ini hanya pasrah dan terdiam. Dia tak merasa canggung saat menjajalkan jari jemarinya ke dalam sela jari Hye rim kemudian mempautkan jari mereka satu sama lain.

“Apa ini?” tanya Hye rim kaget melihat tangannya sudah berpaut dengan tangan laki-laki itu. Tanpa meminta persetujuan dia menarik Hye rim, mengikutinya.

Laki-laki ini mendudukkan Hye rim di kursi singgasana yang tadi dilihatnya. Tubuh dan jiwa Hye rim seakan tercerai berai. Dia merasakan ketegangan yang menjalar rata dari ujung kaki hingga ujung rambut, apalagi ketika laki-laki itu merapatkan jarak mereka dan menatap sayu ke dalam mata Hye rim. Merebut segala milik Hye rim.

“Sudah lama aku menunggumu, sayangku?” serunya lembut. Hembus nafasnya sangat dingin menyeka pori-pori Hye rim. Sengaja dia menurunkan bahu dan mensejajarkan posisi wajah mereka berhadapan. Sontak Hye rim tambah tak bisa mengendalikan diri.

“A..pa.. Mak..su..sud..mu?” suara Hye rim terdengar terbata-bata. Salivanya bahkan terhambat meluncur dalam tenggorokan.

“Panggil aku Ravi” senyum kecil nan licik tergores di bibir tipisnya. Lagi laki-laki yang mengaku bernama Ravi ini menyentuh bagian tubuh Hye rim tanpa persetujuan.

Kali ini ia menyentuh bagian leher. Hye rim menegang, sekujur tubuhnya seperti disengat listrik. Kulit dingin laki-laki tadi bertemu dengan hangat kulitnya. Sensasi luar biasa menjalar dalam diri Hye rim.

“Ah ini menyiksa” batin Hye rim menjerit. Tatapannya lurus ke depan dan tak memperdulikan Ravi.

Beberapa detik kemudian Hye rim merasa perih di bagin leher kemudian bersambut dengan bau anyir darah. Dilirik cepat Ravi yang ada di hadapannya, ia mengigit bibir seraya memandang penuh nafsu pada leher Hye rim. “Apa yang terjadi?” pikir Hye rim. Terpaksa ia melirik lebih kebawah untuk melihat apa yang terjadi dengan lehernya, samar dia melihat darah mengalir menuruni leher hingga ke dada.

“Kenapa aku berdarah? Apa yang terjadi” dewi batin Hye rim menjerit keras. Tapi tak banyak yang bisa ia lakukan. Tubuhnya mematung tak berdaya.

Rasa perih itu berjalan ke pundak sampai lengan dan tangan. Bahkan dengan jelas Hye rim mendengar sobekan kaos yang ia kenakan. Hye rim rasa seperti ada benda tajam mengoyak kulit arinya. Ditambah lagi suhu tubuh Hye rim memanas akibat menahan sakit. Tidak kuat, akhirnya Hye rim memberanikan diri menggeser posisi tubuh, mengangkat tangannya dan menjauhkan diri dari Ravi. Hye rim mendelik mendapati tangan kirinya berlumuran darah.

“Apa yang kau lakukan?” bentak Hye rim tak percaya. Ravi hanya terdiam, memandang seduktif ke arah Hye rim, kemudian memamerkan jari-jemarinya yang berlumuran darah dengan kuku runcing disana. Hye rim tercengang. Seketika itu juga, Hye rim berontak untuk melarikan diri. Namun, sia-sia saja karena Ravi kembali menahannya bahkan menindihnya.

“DIAM! Atau aku akan menyuruh mereka memakanmu” Ravi menunjuk ke arah kanan, dan disana banyak sekali hantu berwajah mengerikan yang tidak bisa Hye rim deskripsikan keadaannya. Hye rim bergidik ngeri sampai ia melengos dan kembali melihat Ravi.

Wajah Ravi memang tidak semenakutkan mereka, dia terlihat tampan walau dibalut dengan wajah pucat.

“Siapa kau? Apa yang kau mau?”

“Ini”

Ravi mengangkat tangan Hye rim yang berlumuran darah dan menjilati semua darah disana hingga bersih. Bibir Ravi yang dingin menyeka semua darah disana dan menjilati kulit Hye rim dengan lembut. Hye rim hanya bisa menggeliat manja, mengernyitkan dahi dan bergidik jijik. Tak lama Ravi mengangkat wajah tampannya dan memamerkan ekspresi puas seraya menjilati beberapa tetes darah di jarinya.

“Siapa kau? Lepaskan aku!” Hye rim berusaha menarik tangannya, dia ketakutan sekarang dengan Ravi, sirna sudah rasa takjub akan ketampanan dan pesonanya.

“Sudah aku duga darahmu sangat manis” bisik Ravi lembut dengan suara berat yang mendesah.

Dalam satu tarikan saja, Ravi berhasil mendekatkan Hye rim padanya, membiarkan buah dada Hye rim membentur dada bidang Ravi. Diselami mata Hye rim yang terbiasa melihat hantu.

“Kau tidak takut denganku?” Hye rim tak menjawab saat Ravi melontarkan pertanyaan padanya. Dia hanya bisa mengiba pada Ravi. Pancaran mata Hye rim tak dapat berbohong, ia ketakutan setelah melihat Ravi menggores kulitnya dan meminum darahnya tadi.

“Jangan takut sayang”

Ravi kembali beraksi, tangan kanannya menggelayut manja di pinggang Hye rim, melengkung dan merengkuh gadis polos ini agar diam. Sedangkan tangannya yang lain merobek kulit tangan kanan Hye rim. Tentu saja Hye rim mengerang kesakitan saat kuku tajam Ravi mulai menggores kulitnya perlahan. Sensasi yang sangat menyakitkan, diiris dengan benda tajam dan sang pengiris sedang memeluk korban, seakan memberikan tameng kesakitan yang terbalut kehangatan pelukan seorang berbadan tegap seperti Ravi. Darah segar kembali mengucur dan dengan cepatnya Ravi kembali menjilati darah itu seperti seorang yang kehausan.

“Jadilah milikku” bisik Ravi ditengah sesapan terakhirnya.

Hye rim tak menjawab, dia tetap saja mengiba dengan sorot mata yang ketakutan. Ravi sangat suka keadaan ini, memperdaya seorang yang sudah lama ia tunggu dari balik dunia hitamnya.

“Kau tidak ingin menjadi milikku?”

Suara berat Ravi benar-benar mempermainkan gejolak emosi dan nafsu Hye rim. Sebentar bentar Hye rim merasa gejolak tubuhnya meningkat saat Ravi mengeluarkan desahan nafas dan suara secara bersamaan. Tapi ketakutan kembali menyelimuti dan mengusir nafsunya saat Ravi mulai merobek kulit gadis ini dan meminum tetesan darahnya. Sejatinya Hye rim juga belum menemukan jawaban siapa Ravi sebenarnya? Hantu? Siluman? Manusia? Vampire? Hye rim tidak tahu. Namun harus diakui magnet Ravi sangat kuat hingga menghipnotis Hye rim dan ia dapat berbuat sesukanya.

“Siapa kau?”

“Aku?”

“Milikmu”

“Siapa Kau?”

“Milikmu, apa kau tidak mendengarku”

Tatapan gila. Hye rim ingin mengumpat ketika Ravi menyoroti dan menghujani Hye rim dengan tatapan tajam dan menukik masuk ke dalam retinanya. Matilah Kau Hye rim jika tidak menghindar dari serangan maut seperti ini. Nyatanya Hye rim kembali mematung tak berdaya. Bahkan dia tidak menyadari saat Ravi mulai menggores dagu dan menjajalkan lidahnya disana, menjilat dengan sepenuh hati. Hye rim terdiam dan membiarkan Ravi melakukan sesuka hati.

“Bagus, sayang. Kau cukup diam dan aku akan memberikan hadiah untukmu”

Suara menyiksa itu lagi yang masuk dalam gendang pendengaran Hye rim. Jadilah gadis ini, terkulai lemas dalam dekapan Ravi.

“Bersiaplah” bisik Ravi lembut tepat di daun telinga Hye rim. Tentu saja gadis ini mengerang geli tapi tak sanggup menggeliat karena Ravi tiba-tiba mendekap tubuhnya lebih erat.

Sepanjang kontak tubuh mereka yang hanya berjarak sentimeter, Hye rim tak dapat mencium aroma tubuh Ravi sebagai seorang mayat hidup atau sejenis hantu. Untuk dikatakan seorang hantu hangat nafas Ravi mendekati suhu 36 derajat, suhu normal seorang manusia bukan? Tapi tubuhnya sedingin es. Jadi siapa dia sebenarnya? Tak ada waktu untuk Hye rim berpikir karena Ravi sekarang mengigit telinganya. Mengigit dan menjilati layaknya permen gula yang manis.

“Aromamu sangat manis” goda Ravi lagi.

CUKUP! Rasanya batin Hye rim ingin berteriak sekencang itu tepat di telinga Ravi. Dia tidak bisa digoda dan disiksa seperti ini. Jari jemarinya yang sedari tadi diam akhirnya berjalan dan menggenggam jas Ravi. Jurus maut Ravi yang berikutnya selain desahan dan bisikan adalah tatapan maut yang menjurus. Manik mata keduanya bertemu dan seolah memberikan isyarat satu sama lain. Ravi yang tak sabar segera menjatuhkan pandangannya pada lipatan bibir Hye rim yang mengigil ketakutan. Sesungguhnya Hye rim ikut tergoda pada bibir Ravi yang tipis. Sayang Ravi terlalu pintar untuk memberikan aset berharganya dengan mudah. Namun sebagai rasa terima kasihnya pada Hye rim yang sudah memberikan sedikit darahnya, akhirnya Ravi mengecup sejenak bibir gadis itu kemudian menarik badannya kembali. Tak disangka, Hye rim mengejar bibir Ravi bahkan ia menarik kerah Ravi agar laki-laki itu memberikan lebih dari sekedar kecupan kilat. Ravi menyeringai bahagia berhasil memancing nafsu si korban.

“Kau ingin aku menciummu? Kenapa kau mengejar bibirku? Apa kau mulai tertarik padaku? Kau ingin lebih dari ini” sorot mata Ravi mulai menyerang.

Malu sudah Hye rim, dia tak mampu menjawab selain menundukkan wajah, menahan malu.

“Jadilah milikku maka kau akan mendapatkan bibirku, tubuhku dan semua yang ada padaku”

“Milikmu?” Hye rim tertegun.

“Satukan darah kita, maka kita akan menyatu dengan sendirinya”

“Siapa kau?”

“Aku? Aku?” tawa Ravi meledak mendengar pertanyaan polos Hye rim.

“Kau belum mengenalku?” Hye rim menggeleng ragu.

“Aku adalah pemimpin mereka” kembali Ravi menuding para kumpulan hantu yang mengerikan tadi. Salah satu diantaranya ada Erika. Mata mereka terlihat kelaparan.

“Lihatlah mereka, mereka sangat kelaparan sekarang. Mereka semua menyukai aroma dan darahmu. Oleh karena itu mereka sangat suka datang kepadamu saat kau memanggilnya, terutama Erika. Dia adalah hantu yang sangat menginginkan darahmu, tapi tentu saja tidak aku biarkan dia mengambil milikku. Aku sudah mengincarmu sejak kau lahir, aku menunggumu lama sekali dan akhirnya kau datang padaku dan berdiri di hadapanku. Penantian lamaku tidak sia-sia, darahmu sangat lezat”

“Apa yang kau katakan?”

“Aku membutuhkan darahmu agar bisa terus menjadi makhluk setengah hantu dan manusia”

“Apa? Makhluk setengah manusia dan hantu? Pantas saja tubuhmu dingin tapi nafasmu hangat. Kenapa bisa begini?”

“Kita ada karena manusia yang menjadikan seperti ini. Mereka yang membiasakan kita meminum darah”

“Apa yang kau katakan? Aku semakin tidak mengerti”

“Kau akan mengerti setelah kau menjadi bagian dari kami dan tentunya menjadi ratuku. Kami membutuhkan seorang indigo sepertimu agar kekuatanku menjadi lebih kuat.

“Aku? Kenapa aku?”

“Karena aroma dan darahmu sangat manis bagi makhluk hitam seperti kita”

“Apa untungnya bagi para hantu itu meminum darahku?”

“Karena mereka bisa menjadi makhluk setengah manusia dan hantu sepertiku”

“Apa untungnya menjadi makhluk sepertimu?”

“Tentu saja kehidupan yang abadi dan kekuatan untuk balas dendam”

“Balas dendam?”

“Pernahkah dalam hidupmu membenci seseoarang? Pernahkah seseorang mengucilkanmu? Menghukummu tanpa sebab? Mempermalukanmu di depan umum? Pernahkah kau merasa tidak dihargai dan tak dianggap? Pernahkah kau merasa bahagia dengan kehidupanmu?” perkataan Ravi menjadi tamparan keras bagi Hye rim. Hidupnya selama ini jauh dari kata bahagia. Dia terdiam sementara waktu untuk merenungkan perkataan Ravi. Beberapa detik kemudian Hye rim kembali melontarkan pertanyaan lain.

“Apa untungnya bagiku memberikan darahku padamu?”

“Kau akan mendapatkan kehidupan yang abadi sepertiku, kau bisa memerintahkan para hantu lemah itu untuk menuntaskan dendammu, dan tentunya mendapatkanku serta tidak akan ada lagi orang-orang yang menyakitimu”

Hye rim kembali berpikir keras dengan perkataan Ravi yang tidak masuk di akal. Menjadi seorang ratu dari para hantu, berarti dia bisa memerintah seenaknya untuk balas dendam. Terdengar menyenangkan bukan? Bayangan orang-orang yang menyakiti Hye rim mulai bermain dan hatinya tergelitik untuk balas dendam pada mereka.

“Ikutlah denganku dan kau akan bahagia” Ravi mengulurkan tangannya.

Hye rim tidak langsung mengambil tangan itu, dia masih berpikir berulang ulang kali. Hye rim kembali menilik kehidupannya yang tak tertata bahkan hancur di usia muda. Waktu itu sempat berulang ulang kali ingin bunuh diri tapi Hye rim menepis pikiran itu jauh. Namun ketika melihat Ravi, Hye rim seakan menemukan kebahagian kecil dalam hatinya. Jujur, walau Ravi adalah makhluk aneh tapi Hye rim menyukainya. Dia suka saat Ravi menggodanya dengan desahan, tatapan dan sentuhan nakal yang tak terduga. Jika dia menjadi pendamping Ravi tentu saja dia bisa mendapatkan lebih bukan? Dan tentu saja Hye rim bisa balas dendam pada mereka yang sudah menyakitinya.

“Ikutlah sayang, kajja!” sekali lagi Ravi menegaskan uluran tangannya. Hye rim mendongakkan kepala, menatap Ravi meminta keyakinan darinya.

“Jangan takut! Ada aku yang akan menjadi milikmu”

“Benarkah aku akan bahagia jika menjadi milikmu?”

“Tentu saja”

“Apa yang bisa aku lakukan untuk menjadi milikmu?” BIG JACKPOT! Hye rim masuk perangkap, dia mengiyakan untuk menjadi milik Ravi dan ikut dengannya.

“Tak banyak sayang, kau cukup berjalan sebanyak tujuh langkah ke kiri dan kita akan bertemu di kehidupan selanjutnya” seringai bahagia Ravi terukir.

“Begitu sajakah?” tantang Hye rim datar. Ravi mengangguk mantap. Kali ini Hye rim sudah tak berpikir jernih. Dia lelah dengan kehidupannya, dia ingin kebahagiaan.

“Lakukanlah segera!!” pinta Ravi agak memaksa.

Mantap Hye rim memutar badan ke kiri. Pancaran matanya kosong dengan bibir yang tertutup rapat. Dalam otaknya sudah tidak ada lagi orang tua dan dunia nyata, yang ada hanya Ravi dan dunia hitam yang menjanjikan kebahagian. Langkah gontai Hye rim mengiringi senyum getir dari bibir tipisnya.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lima langkah, enam langkah dan finally langkah ketujuh. Pada langkah terakhir, Hye rim masuk ke dalam kabut hitam yang gelap dan dipenuhi dengan karbondioksida. Sesak langsung menyerang pernafasan Hye rim, tak berapa lama setelah itu dia merasa tubuhnya dihujam benda keras, Hye rim merasa sakit teramat sakit tanpa bisa mengerang kesakitan. Beberapa saat kemudian, dia merasa tubuhnya ringan, seringan kapas, melayang kesana kemari, angin sepoi-sepoi datang membelai rambut dan wajahnya sampai akhirnya Hye rim menutup mata dan tak tampak apapun, gelap bersambut.

“Gadis pintar, welcome to my paradise honey” bisik Ravi melihat Hye rim masuk ke dalam kabut hitam. Dia tahu kabut hitam itu yang akan mengubah Hye rim.


Seorang gadis ditemukan jatuh ke dalam jurang yang curam. Dimana jurang tersebut terletak bersisian dengan halaman belakang rumahnya. Sang ibu histeris melihat mayat sang putri yang terbujur kaku di bawah jurang yang begitu curam. Tidak disangka dia meninggal setelah memainkan papan ouija seorang diri. Polisi segera memasang police line pada tempat perkara. Beberapa dari mereka yang melihat kejadian itu berbisik satu sama lain. Beberapa dari pembicarakan mereka yaitu “Hye rim-ah, kasihan sekali hidupmu, kau begitu menderita tidak memiliki teman, sekarang kau mati mengenaskan seperti ini”, “Dia masih muda tapi sudah meninggal dengan cara seperti ini”, “Papan ouija benar-benar membawa kematian” dan masih banyak lagi pembicaraan dari para pengunjung yang datang melihat kejadian tersebut.

Hye rim hanya bisa terdiam saat melihat mayatnya yang terbujur kaku bersimbah darah diangkat oleh pihak kepolisian. Tangis ibunya pecah lebih keras tapi dia tidak peduli. Ini adalah pilihannya, mengakhiri kehidupan nyata dan memilih hidup dengan kehidupan hitam bersama Ravi.

“Jangan kau sesali” Ravi mengenggam tangan Hye rim kuat kemudian tersenyum sangat indah. Hye rim tak bisa berbuat banyak selain membalas dengan senyuman manis. Setidaknya Hye rim merasa bahagia mengetahui ada orang yang bisa menerima dan menyayanginya walaupun dia bukan manusia.

Bisakah kebahagian dibayar dengan nyawa?

            Bisakah kehidupan gelap memberi ganti rugi akan kehidupan dunia nyata?

            Entahlah…

            Hanya saja kebahagian kehidupan dunia nyata terlalu mahal

            untuk orang-orang terpuruk yang tidak dihargai dan tidak dianggap keberadaannya

            Oleh karena itu bahagialah dengan caramu..

            Bahagia bukan berarti kau mendapatkan banyak teman dan materi..

            Tapi bahagia adalah caramu untuk mensyukuri hidup

            Bagaimanapun jalan hidupmu, itu adalah takdir Tuhan yang terindah..

            Terimalah dan jalani dengan ikhlas..

            Maka dengan sendirinya, kebahagian akan datang menghampirimu..

~THE END~

Iklan