180 degree

11124256_827041670714817_1416103200_n

Syalalala Yeorobunn annyeong (bener gak tulisannya??)…. loha loha, ketemu lagi sama author^^, kali ini author ganti nick jadi Leovivin loh, gak ada bedanya sich hanya nambahin nama Leo doang XD.. *abaikan author~~

maacih banyak buat Ravienne artwork buat cover FFnya yang kece, gomawo sudah mau saya repotkan.. salam chuuu :-*
oke hari pertama puasa author mau share FF yang amat sangat disarankan untuk dibaca habis berbuka puasa, tapi bagi yang tidak puasa sok atuh^^…
jangan lupa saran dan comentnya ye..oke gak usah lama2 rempongisasi, cuss… happy reading guys^^

~SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA~~
*bagi yang menjalankan^^


Author: LeoVivin

Title    : 180 degree

Genre  : Romance, kekerasan, Semi NC 19

Cast     :

  • Leo

  • Park Jin hee

Laki-laki itu datang lagi. Aku menatapnya lekat dari balik meja bar. Sebotol wishki menjadi pesanan kesukaannya. Jonathan yang kali ini bertugas mengantarkan pesanannya. Setelah meletakkan pesanan di meja, Jonathan membungkukkan badan lalu pergi. Sesungguhnya aku sangat ingin mengantarkan pesanannya. Aku ingin melihatnya dari dekat. Selama ini aku hanya melihatnya dari kejauhan. Tapi walaupun demikian, aku dapat melihat dia sebagai sesosok laki-laki yang tampan dan berkelas. Kursi sofa di pojok ruangan menjadi tempat favoritnya. Dia duduk menyindiri disana. Di bawah naungan lampu remang dan minim pencahayaan dia terlihat asik meneguk wishki itu seorang diri. Selama 1 bulan aku menjadi pelayan bar disini, aku tidak pernah melihatnya duduk bersama wanita penggoda di bar ini. Memang ada beberapa yang datang dan menggodanya namun mereka tidak lama disana dan memilih untuk pergi. Laki-laki itu sangat dingin dan tidak menggubris wanita penggoda yang merayunya. Hati kecilku bertanya-tanya siapa dia sebenarnya? Kenapa dia terlihat sangat bersinar dibanding pengunjung yang lain? Terbersit keinginan untuk mengenalnya lebih jauh. Ah tapi selalu ku urungkan keinginan itu, tidak pantas seorang pelayan sepertiku mengenal laki-laki terhormat sepertinya. Dia mengenakan jas hitam dengan kancing terbuka. Kemeja putihnya terlihat bersih, rambutnya disisir rapi. Sungguh dia terlihat sangat tampan.

Dia meneguk wishki berulang-ulang kali dengan cepat. Sesekali dia mengacak rambutnya yang tertata rapi. Bibirnya sedikit terbuka dan aku tergoda melihatnya, dia terlihat seksi sekarang, aku menelan air liurku, bertahan dari godaan. Jonathan menepuk bahuku dan membuyarkan pandanganku.

“Jin Hee-ya antarkan wine ini ke kamar 215!” Jonathan menyodorkan nampan berisi satu botol wine dengan satu gelas red wine. Aku mengangguk mengerti, kuambil nampan dari tangan Jonathan dan berlalu pergi. Saat aku membalikkan badan, aku sudah tidak mendapati laki-laki itu di tempatnya. Mungkin dia sudah pergi, aku menunduk lemas.

Bar ini menyediakan beberapa kamar yang disewakan untuk para tamu untuk bersenang senang, dan pasti kalian tahu maksud bersenang-senang di atas. Aku mengetuk pintu sekali dan pintu terbuka. Aku tak sempat melihat wajah sang pemilik kamar, dia sudah membalikkan badan sebelum aku menyapanya. Kuletakkan dengan pelan botol wine beserta gelasnya di atas meja oval. Aku menundukkan badan sebagai tanda sopan santun seorang pelayan. Badanku sekarang kembali tegak dan dapat jelas melihat tamu yang aku antarkan pesanannya. Betapa terkejutnya ketika melihat dia sedang duduk di ujung tempat tidur. Dia yang kuperhatikan lekat, dia yang ingin aku kenal dan dia yang terlihat menggoda bagiku beberapa saat lalu. Lidahku terasa kelu dan kakiku enggan beranjak dari kamar ini. Benar dugaanku, dari dekat dia terlihat sangat tampan, wajah putihnya terlihat bersinar, rambutnya basah, bibirnya ternyata tipis dan berwarna merah muda, sedikit terbuka dan aku ingin menelusupkan bibirku diantaranya. Aku menelan air liurku lagi, meremas ujung rokku berkali kali. “Jin hee kuatlah!” runtuk hatiku. Dia menatapku lekat dengan mata sipit yang mengintidasi dan menukik tajam. Mataku menelusuri kebawah bibirnya, lehernya jenjang. Pasti akan sangat menyenangkan jika mendaratkan kecupan manis disana. “Ahhhh” dengus hatiku kesal. Kancing atas kemejanya terbuka dan memamerkan sedikit dadanya yang bidang. “Shiitt” laki-laki ini semakin lama kupandangi terlihat semakin seksi dan menggoda. Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya pamit untuk pergi.

“Saya pamit, tuan” aku membungkukkan badan sekali lagi, rambutku yang panjang jatuh mengurai.

“Namaku Leo” suaranya terdengar lembut tapi mematikan. Aku terpaku dan segera mengembalikan badanku berdiri tegak. Sekarang dia berdiri dan berjalan mendekatiku. Kakiku gemetar, tanganku meremas ujung rok kembali, bibirku bergetar dan aku menundukkan pandangan, tidak sanggup melihatnya lebih dekat lagi. “Lalu siapa namamu?” laki-laki ini berdiri tidak jauh dariku, degup jantungku tidak normal. Nafasku memburu. Aroma parfurmnya sangat kuat membuatku hilang kendali. “Siapa namamu?” tanyanya sekali lagi. Aku dapat melihat tangannya terangkat kemudian membelai rambutku lembut. Aku panik sendiri, rambutku belum aku keramasi, tidak bau kan? Dia semakin mendekat. Telapak kakinya yang telanjang terlihat seksi.

“Oh shiit, kenapa semua yang aku lihat di dirinya terlihat seksi?” aku menutup mata, menghilangkan tentangnya.

“Kenapa kau tidak menjawab?” dia memegangi daguku dan menarik wajahku menatapnya. Mataku yang tertutup terbuka paksa. Mata sipit itu mengintimidasiku lebih kuat. Tatapannya sangat tajam layaknya virus yang mematikan, badanku lemas seketika dan sedetik kemudian dia membuang wajahku. “Ikut denganku!” dia menarik tanganku paksa, aku tidak berdaya dan hanya menurut, mengekor dibelakangnya. Dia mendudukkanku di ujung kasur, tempat ia duduk tadi. Dia duduk berlutut di hadapanku, membuka sepatuku satu persatu. Sontak aku kaget dan mencegah tangannya yang halus memegang sepatuku yang kotor.

“Kau diam saja!” suaranya halus tapi terdengar seperti perintah yang harus aku turuti. Badanku semakin membatu mendengar perkataannya. Aku tidak tahu apa yang dia akan lakukan setelah ini, yang aku tahu dadaku berdebar keras, otakku tak dapat berpikir jernih dan mataku kosong menatapnya yang sekarang perlahan berdiri dan sedikit membungkukkan badan ke arahku. Deru nafasnya menyeka wajahku, aroma wishki menamparku keras. “Ikutlah denganku dan kau bisa mendapatkanku malam ini” mataku membulat mendengar perkataan yang tidak aku mengerti secara pasti tujuannya. Wajahnya yang bersinar sekarang di hadapan mataku, aku benar-benar terpesona melihatnya. Jiwaku tak menolak saat tangannya meraih daguku, mendekatkan padanya.

“Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” tanganku kaku meremas sprei, membuang kegelisahan disana. “Jin hee kenapa kau begitu murah?” pekikku tertahan.

“Aku tahu kau tertarik padaku dan aku menginginkanmu malam ini” dia tersenyum penuh kemenangan. Aku terbelalak saat laki-laki yang mengaku bernama Leo ini tanpa ragu mulai membuka kemejaku. Bodohnya aku tidak menahan tangannya yang dengan mudah membuka satu persatu kancing kemejaku. “Melawanlah Jin hee, tahan dia! Jangan biarkan dia menelanjangimu lebih jauh” hatiku berontak tapi badanku tidak dapat mengikutinya. Badanku sudah kaku dan pasrah saat dia mulai membuka braku, menariknya. Sekarang dia dapat melihat buah dadaku yang berukuran 34. Dia memperhatikannya sejenak, memiringkan kepala seolah memikirkan sesuatu. Kepalaku tertunduk malu, bagaimana mungkin laki-laki yang baru aku kenal beberapa menit lalu berhasil menelanjangiku dan menikmati buah dadaku dengan leluasa tanpa perlawanan dariku. Jin hee kau benar-benar gadis murahan. Tangannya mulai bergerak kembali, berjalan pada rok sepan hitamku. Dengan mudahnya dia menurunkannya melewati lutut, betis dan kakiku. Tak lupa juga dia menarik celana dalamku mengikuti alur keluar rok sepan dari badanku. Sekarang aku topples, puas? Aku malu sudah ditelanjangi oleh pria tampan ini. Air mataku jatuh, menangis karena tidak kuat menahan malu. Tapi pria ini malah menertawaiku dengan tawa yang penuh ambisi. Aku mengapitkan kaki dan menyilangkan tangan menutupi dadaku. Aku malu.

“Seperti yang kuduga, kau pilihan tepat untukku malam ini” aku mendongakkan kepala, tertawanya semakin keras.

“Kau pikir kau siapa sudah berani menelanjangiku seperti ini? Aku harus pergi!” akhirnya aku berani membuka suara, mataku masih disesaki oleh air mata. Aku berani melawan sekarang, aku menemukan kekuatan setelah disihir olehnya beberapa menit yang lalu. Tangan kekarnya menangkap tanganku kemudian menahanku lagi.

“Aku milikmu malam ini, apa kau mengerti? Diam dan lakukan semua perintahku” sorot matanya penuh dengan ambisi, aku takut melihatnya.

Aniya, aku tidak mengenalmu” tolakku.

“Tapi aku tahu kau tertarik padaku” tidak ada waktu lagi untukku membuka suara kembali karena dia mendorongku hingga terjatuh ke kasur, menindihku dengan keras. Aku merintih tertahan. Dia menindihku lebih keras, meraba pinggangku yang tak terbalut sehelaipun pakaian. Tangannya terus berjalan menyusuri badanku, merayapi pahaku dan aku merasakan dia menemukan titik rangsangku. SHIITT. Aku menutup mulut, menahan rintihan saat dia mulai mencium pangkal dalam pahaku. Kupejamkan mataku mencoba menjernihkan pikiranku, aku tidak boleh terlalu jauh dengannya, aku harus pergi dari tempat ini. Namun batinku menolak, aku ingin terus merasakan dia menyentuh setiap inchi badanku, menyentuhnya dengan kecupan dan deru nafas hangat.

“Aku wanita yang bodoh, sangat bodoh” aku menghina diriku sendiri.

“Aku menyukai aroma tubuhmu, aku ingin terus merasakannya” seolah ucapan tadi menjadi pujian yang memabukkan sekaligus menyihirku untuk tetap diam dalam permainannya. Aku menurut tapi dia malah bangun dari tindihannya, aku kecewa. Dia membalikkan badan, membuka laci, dia mengulur sebuah tali yang aku tidak tahu akan dipergunakan untuk apa. Dia mengikatkan kedua tanganku ke ujung tempat tidur. Memperhatikan badanku yang merengsek kesana kemari karena nafsuku yang sudah di ubun-ubun terhenti mendadak. Dia membuka botol wine dengan sekali gigitan dan membuang tutupnya.

“Sekarang aku ingin minum wine dari badanmu” dia menuangkan wine diatas badanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dingin menyentuh kulitku, aku menggeliat kesana kemari. Berusaha keluar dari siksaan nafsu, tapi apa daya, dia kembali menindihku. “Aku ingin menyentuhmu tanpa mencium bibirmu yang menggoda itu” dia datang dan menciumi leherku, memberikan sensasi kenikmatan yang seharusnya tidak aku dapatkan. Aku terdiam, merasakan setiap kecupan yang dia berikan, mulutku terbuka membuang udara saat dia menuruni leherku dan mulai menangkup buah dadaku. Aku semakin tidak bisa menahan diri saat dia mulai mengecup setiap lekuk badanku yang dipenuhi dengan wine. “Minum dengan cara seperti ini ternyata lebih nikmat” gumamnya, aku tidak menggubrisnya karena dia terus membuatku kehilangan kendali. Aku merasa payudaraku membesar. Kulirik dia sedang menjilati perutku. Geli saat dia menjalarkan lidah disana. Tanganku terikat keras, aku tidak bisa memegangi tubuhnya untuk membuang rasa gemas di tanganku, aku hanya bisa menggeliat serta meregangkan kakiku.

“Kapan siksaan ini berakhir?” hatiku meracau. Dia membuka kemeja putihnya, aku dapat melihat dadanya yang bidang. Lebih indah dari yang aku bayangkan. Rambutnya basah dengan keringatnya sendiri, dia sangat seksi. Sudahlah dalam keadaan libido yang memuncak aku tidak mungkin menolaknya untuk terus menyentuhku. Aku menginginkan tangannya yang halus untuk terus meraba dan menggerayangiku lebih, lebih dan lebih. Keinginanku terkabul, dia ada di atasku lagi. Nafasku terengah engah saat dia mulai menjilati sisa wine yang ada di pangkal pahaku. Mengangkat pahaku dan menyelusurkan lidah disana. SHIITT, dadaku membusung ke atas menahan buncahan nafsu yang meletup letup.

“Tetaplah seperti ini!” lirihnya. Aku sudah tidak kuat, desahan lolos dari mulutku. Padahal sedari tadi aku menahannya agar dia tidak mendengarkan desahanku yang seolah membutuhkan dia lebih. “Akhirnya kau basah” pekiknya kesenangan, entahlah aku tidak tahu kapan cairan itu keluar dari lubang kemaluanku. Aku menjerit tertahan saat dia memasukkan miliknya, aku tidak memanggilkan namanya, aku hanya mengigit bibir dan meremas sprei. “Damn, dengan mudahnya aku memberikan pada orang yang baru aku kenal” hatiku meruntuk kecewa. Air mataku menetes. Sudahlah aku tidak peduli! Goncangan nafsu semakin menguat, menggebu, badanku menjadi panas seiring dengan gerakannya yang semakin cepat. Apakah seks harus senikmat ini? Aku menutup mata merasakan tiap sensasi sodokan di dalam rahimku yang penuh. “Teruskanlah!” batinku menjerit di tengah racauan desahanku sendiri. Sekali lagi suaraku tak sanggup memanggil namanya. Hingga pada akhirnya aku merasakan sesuatu ingin keluar, begitu sakit dan harus aku keluarkan. Kutarik nafas dalam-dalam, kuhempaskan dengan keras, diapun begitu. Dia terlihat menghembuskan cairan hangat kedalam rahimku. Aku lemas dan dia jatuh dalam pelukanku. Sekali lagi batinku menjerit “Apa yang aku lakukan tadi?”

*****

Dia duduk di kursi dekat kasur sedang memperhatikanku yang duduk ketakutan. Nafas hangatnya yang menyapa kulitku beberapa saat lalu masih terasa. Badanku juga masih panas akibat sentuhan dan perbuatannya. Selangkanganku masih sakit dan disana aku melihat darah segar mengotori sprei putih kamar ini. Aku terdiam kemudian merapatkan selimut tebal kamar ini. Dia mendekatiku, membelai lembut pipiku.

“Kenapa kau tidak menyebut namaku tadi? Apa aku kasar melakukannya? Apa kau tidak menyukaiku?” dia mencodongkan badannya, aku tersudut.

“Apa yang kau inginkan? Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini? Ini pertama kali bagiku” aku yang bodoh hanya bisa menangis.

“Jangan menangis!” dia menghapus air mataku, aku tersentak menatapnya memohon iba. Dia tidak terlihat ambisius lagi, tapi terlihat meneduhkan. “Jangan menangis lagi! Air mata itu menutupi wajah cantikmu” dia menarikku dalam pelukannya. Hangat menyapaku saat menidurkan kepala di dadanya yang bidang.

“Haruskah aku melepaskan pelukan ini dan pergi dari sini? Bukankah dia menjadi milikku malam ini?” batinku menerka nerka tak tentu arah.

“Ikutlah denganku dan jadilah milikku!” ajaknya seraya melempar tatapan sihirnya yang tidak bisa aku tolak.

*****

 

Mungkinkah aku menyukaimu?

Haruskah aku mempercayaimu?

Haruskah aku ikut denganmu?

Tapi siapa kau?

Aku baru mengenalmu..

Mengenalmu di tengah nafsuku..

 

Leo menyuruhku untuk ikut dengan supirnya. Sepertinya dia ingin memberiku beberapa kejutan, mungkin! Aku tidak bisa memutar otakku untuk menemukan logika dan jalan pikirannya. Aku juga tidak mengerti mengapa mempercayai orang yang baru aku tahu namanya, dan mengambil keperawananku malam ini. Dia memang terlihat menarik sejak 1 bulan yang lalu dan sepertinya aku mulai menyukai laki-laki yang sudah merengkuh milikku itu beberapa menit yang lalu. Aku duduk terdiam di bangku belakang, jari jemariku terpaut satu sama lain. Pemandangan jalanan kota Seoul yang ramai tidak menarik perhatianku sama sekali. Aku mengigit bibir sesekali mengingat perbuatan Leo tadi, masih segar dalam ingatanku saat bibirnya yang lembut menciumi leher dan badanku. Aku hanyalah seorang pelayan yang buruk rupa, mengapa ia mau mencumbuiku? Mungkinkah dia juga tertarik padaku dan menyukaiku? Atau dia hanya melampiaskan nafsu dan kepenatannya belaka? Mengapa harus aku? Mengapa bukan wanita penggoda itu? Ah sudahlah. Aku tersenyum nakal. Mobil berhenti disebuah rumah yang memiliki pekarangan yang luas. Ada beberapa banyak tanaman obat disana dan sebuah kolam kecil yang kering. Apakah ini rumah Leo? Tidak ada kecurigaan dalam benakku.

“Kita akan kemana?” tanyaku memberanikan diri pada supir yang membawaku ke tempat ini.

“Bertemu dengan tuan Leo” jawabnya datar. Bertemu Leo lagi? Sungguh? Hatiku melonjak bahagia mendengar nama Leo. Ketika turun dari mobil, dua orang laki-laki mengenakan jas hitam dan kaca hitam menyambutku. Perawakannya tinggi besar dan misterius. Keduanya langsung memegangi tanganku, menyeretku kasar dan paksa.

“Hei yakk, apa yang kalian lakukan? Lepaskan!” berontakku. Cengkraman keduanya sangat kuat, aku tak mampu menyaingi kekuatan keduanya. Akhirnya aku pasrah saat mereka terus menyeretku masuk ke dalam rumah. Aku tercengang mendapati kenyataan di dalam rumah. Rumah ini adalah bar mini. Ada banyak asap rokok, bau alkohol tercium kental, banyak laki-laki hidung belang dan wanita penggoda sana sini. “Dimana ini? Kemana kalian akan membawaku? Lepaskan!” aku berontak sekali lagi saat cengkraman itu mulai melonggar. Sia-sia usahaku karena mereka mulai menguatkan cengkramannya lagi kemudian menyeretku kembali. Batinku meneriakkan nama Leo, dimana dia sekarang? Kenapa supirnya membawaku ke tempat ini? Kenapa dua laki-laki ini menyeretku seperti ini?

Aku masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup besar dengan beberapa perabotan mewah. Seseorang duduk membelakangi kami di balik kursi bossynya. Kedua pengawal ini menghempaskan aku ke lantai, aku terhuyung, merintih sesaat saat lututku membentur lantai.

“Tuan, kami sudah membawanya” salah satu pengawal itu membuka suara, aku menengadahkan kepala menatapnya penuh kebencian.

“Bangun kau!” salah dua dari mereka menarikku paksa untuk berdiri. Kakiku tertatih saat memaksa berdiri. Orang dibalik kursi bossy itu tak menjawab langsung perkataan pengawalnya. Aku dapat melihat asap rokok mengepul, dia sedang merokok rupanya. Aku penasaran dengan wajah laki-laki tersebut. Rasa penasaranku terjawab saat secepat kilat ia memutar kursi besarnya. Garis wajahnya tergambar jelas di retinaku dan aku benci melihat wajahnya.

“Leo” bisikku. Dia tersenyum sinis seraya menyeruput rokoknya lagi. Rambutnya sudah tidak basah dan acak-acakkan lagi, lebih rapi. Kemeja putih yang ia kenakan masih sama, bahkan satu kancingnya terbuka.

“Jin hee kau pasti terkejut melihatku disini?” sindirnya.

“Jin hee? Darimana kau tahu namaku?” aku mengernyitkan dahi.

“Jonathan yang memberi tahuku. Sebenarnya Jonathan sudah menjualmu padaku. Sengaja dia menyuruhmu mengantarkan minuman itu ke kamarku. Aku tidak menyangka kau begitu mudahnya memberikan keperawananmu untuk aku cicipi. Selama 1 bulan aku di bar itu aku tidak menemukan wanita yang tepat untuk aku cicipi, dan akhirnya kau adalah wanita yang membuatku tertarik untuk ku cicipi. Aku rasa pilihan Jonathan tidak buruk. Kau milikku Jin hee, kau milikku sepenuhnya. Kau sendiri juga mau dan menyetujui ikut denganku dan menjadi milikku” Leo menyeringai bangga, aku membuang muka.

“Jonathan? Dia menjualku? Kau berbohong kan? Aku pikir kau adalah laki-laki baik tapi ternyata kau bajingan. Salah aku sudah menyukaimu dan mempercayaimu?” isakku penuh kebencian. Mataku tercengang tak percaya.

“Lihatlah mukamu sekarang! Penuh dengan kekecewaan, kesedihan dan kebencian, berbeda terbalik saat aku mencicipi badanmu, penuh kebahagian dan kepuasan. Kau sangat menyedihkan Jin hee!” Leo menyeringai senang seraya berkata lagi “Kalian bawa dia keluar! Sudah saatnya dia dijual. Aku sudah mencicipi tubuhnya, aku pikir dia memiliki badan yang bagus untuk dijual dan dirasakan banyak orang, seleraku tidak pernah salah. Aku yakin dia akan laku dengan harga tinggi, cepat jual dia!” mataku terbelalak saat Leo berkata untuk menjualku. Laki-laki brengsek. Kedua orang pengawal tadi mencengkram tanganku kembali kemudian menyeretku kasar, aku berteriak histeris.

Andwaeee, Leo andwae. Dasar kau laki-laki bajingan” teriakku sebisanya untuk menyumpahi Leo. Dimana otaknya ketika berkata mencicipi badanku sebelum ia jual. Bahkan ketika aku berteriak histeris, dia hanya menyeringai di tempat duduknya seraya terus menikmati rokoknya dengan santai. Tidak berperasaan.

Jankkaman!” Leo menahan langkah sang pengawal. Ia bangun dari duduknya, mendekatiku perlahan. Mata ambisiusnya ada lagi sekarang, malah lebih menakutkan. “Apa yang kau katakan tadi? Aku laki-laki bajingan?” Leo menajamkan sorot matanya.

“Ne! Cuih!” Aku meludah tepat di wajah Leo. Aku muak melihat wajahnya yang sok malaikat, sangat menjijikkan bagiku. Leo tersenyum sinis kemudian mengelap ludahku dengan tangan yang sudah menyentuh badanku.

“Ini yang bisa kau lakukan wanita murahan?” Leo mengambil tanganku dengan paksa, menggenggamnya erat dan kasar. Matanya merah penuh amarah, aku ketakutan melihatnya.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku dengan suara ketakutan.

“Ini” tanpa segan Leo menyulut telapak tanganku dengan putung rokoknya. Aku memekik kesakitan. Tapi dia malah tertawa bahagia melihatku kesakitan. Ditekan lebih keras putung rokoknya secara terus menerus, tidak peduli aku berteriak kesakitan, dia semakin menekan putungnya hingga aku kehilangan kekuatan dan jatuh terkulai lemas. Luka bakar langsung membengkas di telapak tanganku, akan butuh waktu lebih dari 1 minggu untuk menghilangkan lukaku. “Bawa dia pergi!” Leo menghempaskanku pada pengawalnya. Dia menyeringai sadis kemudian menyeruput rokoknya lagi. Aku membencinya, aku sangat membencinya.

“Leo, mati saja kau” teriakku sebelum pengawal ini menyeretku keluar.

*****

Kedua pengawal ini mengikatkan tanganku dengan rantai yang kuat. Mengikatkan terangkat ke atas plafon ruangan ini. Kakiku gemetar dan keringat dingin menetes deras di pelipisku. Tidak ada gunanya aku menangis sekarang, tidak akan membuatku keluar dari tempat ini. Haruskah hidupku berakhir sekarang?

“Perhatian semua, kita punya barang baru untuk dilelang malam ini” teriak pengawal yang membawaku. Semua mata menoleh padaku, menatapku dengan tatapan yang menelanjangi. Aku menangis dan benci diperhatikan seperti ini. Ini lebih memalukan dan menyakitkan dari saat Leo menelanjangiku.

“Jangan menangis!” pengawal tadi menamparku keras, darah segar keluar dari sudut bibirku. Kutegakkan kepalaku, menatap orang-orang yang menjijikkan di hadapanku, diantara mereka aku melihat Leo berdiri mendekap kedua tangan. Dia tersenyum puas melihatku sedang tersiksa disini.

“Kau puas? Setelah kau meniduri dan mengambil keperawananku sekarang kau menjualku? Kau puas Leo? Laki-laki bajingan. Salah aku menilaimu sebagai seorang malaikat ternyata kau tidak lebih baik dari tikus jalanan” bisikku sebelum seorang laki-laki hidung belang datang membelai pipiku. Dia menyeringai nakal ke arahku.

“Pergi!” teriakku, aku jijik sekali melihatnya.

“Diam kau!” pengawal tadi menamparku lebih keras. Darah segar semakin deras keluar dari sudut bibirku. Aku menangis tersedu-sedu, hidupku berakhir sekarang, berakhir di tangan laki-laki yang aku anggap seorang malaikat. Bagaimana tidak? Dia adalah satu-satunya laki-laki yang menarik perhatianku walau aku hanya melihatnya dari kejauhan, dia adalah laki-laki yang merebut keperawananku dan dia juga laki-laki yang menjualku ke para hidung belang yang siap membeli badanku untuk dibuat pelampias nafsu belaka.

“Kau bajingan Leo!!” umpatku. Plak! Pengawal itu menamparku lagi lalu menjambak rambutku keras. Air mataku tak hentinya mengalir. “Bisakah air mata ini mengantarku ke kematian? Lebih baik aku mati sekarang” bisikku pasrah.

*****

Jangan pernah percayakan dirimu pada laki-laki itu..

Laki-laki yang memutar hidupmu 180 derajat dalam sekejap…

Sekarang hidupmu sudah berputar menghadap penderitaan..

Rasakan dan terimalah….

The End

Iklan