3 Months (4/5)

10531208_888583794490487_1940201084_n

Author: Vivin
Judul: 3 Months part 4
Cast: – Jung Taekwon (Leo Vixx)
– Shin Jiki
– Cha Hakyeon
– Other Member Vixx

Yuhuuu..FF ini sudah mendekati final.. gomawo buat readers yang sampai part ini masih setia baca, oh ya jangan lupa tinggalin jejak yah.. comentnya jebbbaallllll,.. happy reading~~~ ^_^

“Kau manis sekali Leo-ssi” lirihku seraya mengambil bunga itu, menciumnya, harum khas bunga mawar memenuhi rongga hidungku.
“Leo-ssi gomawo” ucapku sekali lagi sambil terus mencium bunga itu berkali kali dan Leo masih dalam posisinya, tidak menatapku.
“Apakah kau sangat malu leo-ssi setelah memberi bunga padaku?” jiki terkekeh sendiri dari balik bunga yang diciumnya.


casAntonio merupakan salah satu dari 5 restoran italia terbesar di Seoul. Terletak di Gangnam street dengan alamat 124-6, Jang do, Gangnam street. Restoran italia dengan gaya Mediterania ini memiliki dinding fresco berwarna pastel, untuk mengurangi dominansi warna pastel yang terkesan soft dan membosankan, maka desain interior restoran diberi gabungan warna biru yang mengadaptasi biru laut. Komposisi warna itu membuat restoran yang sudah berdiri sejak tahun 2000 ini menjadi hangat dan nyaman. Restoran ini juga dihiasi oleh rak kayu dengan unsur-unsur alam budaya Mediterania, ditambah dengan gambar di dinding yang dibingkai putih tampak kontras dengan dinding bercat biru, selain itu ada juga dinding berlubang dengan dasar biru membuat ilusi gambaran cakrawala sebagai latar belakang tempat duduk. Restoran casAntonio menyediakan makanan khas italia yang terkenal seperti pizza, chicken parmigiana, bruschetta, panna cotta dan lain lain. Jiki hanya bisa melongo melihat restoran mewah ini, gajinya tidak akan cukup untuk membayar makanan di tempat ini.
Sebuah makanan pembuka bernama bruschetta sekarang terhidang di meja makan. Bruschetta adalah makanan yang sangat terkenal dari italia. Makanan ini biasanya digunakan sebagai cemilan atau makanan pembuka, terdiri dari roti panggang yang dimasak dengan bawang putih dan atasnya diberi taburan minyak zaitun, potongan tomat, garam dan merica. Dilihat dari penampilannya, Jiki sudah bisa membayangkan rasanya pasti akan aneh. Ini memang baru pertama kali dia makan makanan italia. Semoga dia akan baik-baik saja ketika memakannya. Hasilnya adalah, sudah tiga kali Jiki bolak balik ke kamar mandi sejak memakan makanan pembuka khas italia tersebut.
“Are you okay?” tanya Leo cemas melihat wajah pucat Jiki.
“Bisa kita pesan menu yang lain?” pinta Jiki memohon. Perutnya sudah berontak sejak gigitan pertama dia memakan camilan itu.
Menu selanjutnya adalah Risotto. Menu ini merupakan makanan khas dari daerah Italia bagian utara. Risotto merupakan hidangan nasi kepal khas italia yang diberi kuah kaldu dan parutan keju parmesan, diatasnya disirami pasta tomat. Dari baunya saja sudah meningkatkan selera makan, tapi tidak bagi Jiki. Baru saja makanan itu diletakkan di atas meja, dia sudah berlari ke kamar mandi tidak kuat dengan baunya yang menyengat. Leo terlihat pasrah melihat Jiki. “Sepertinya aku salah mengajaknya makan makanan Italia” sesal Leo dalam hati. 15 menit Leo menunggu, Jiki tak kunjung kembali dari toilet. Sesekali ia menengok ke arah lorong yang merupakan jalan menuju ke toilet tapi sosok Jiki masih belum terlihat. Ponsel Leo berdering dan 1 pesan diterima.
Cha Haekyon
Leo-ssi aku menjemput Jiki pulang, dia tidak enak badan saat kutelfon, tadi aku tidak sengaja menjemputnya lewat pintu belakang, jadi setelah makan kau bisa langsung pulang.
Praaakkk, Leo membanting ponselnya dengan keras sampai hancur berkeping-keping. Meluapkan amarahnya pada benda mati itu. Tangannya mengepal kesal, tekanan darahnya meninggi, pikirannya tak normal, badannya memanas, giginya menggeram keras, nafasnya memburu.
“Aish” kaki jenjangnya menendang kaki meja di hadapannya dengan keras membuat makanan yang belum disentuhnya itu tumpah. Seluruh tamu dalam restoran itu seketika menjadikan Leo sebagai pusat perhatian. Leo tidak peduli itu, yang dia pikirkan hanya emosi dan amarahnya yang meluap-luap.


Keesokan harinya saat bertemu dengan keduanya, Leo berharap amarahnya sudah bisa terkontrol. Dari kejauhan, Leo sudah dapat melihat Jiki duduk bersama N, dari banyaknya kertas yang dibawa Jiki ditambah dengan wajahnya yang serius sepertinya mereka membicarakan pekerjaan, tapi kejadian semalam kembali terbersit di benak Leo dan membuatnya memalingkan mukanya, menjauhkan pandangan dari keduanya. Sudah jam 12 dan waktunya latihan dance, Leo bergegas menuju ruang dance tapi langkahnya terhenti.
“N-ssi apa kau percaya takdir?” begitulah pertanyaan Jiki pada N. Leo tidak sengaja mendengarnya. Mereka berdua berdiri berhadapan tepat di depan pintu masuk ruang kerja Jiki. Mereka tidak menyadari Leo berdiri disamping tangga yang terletak di samping ruang kerja Jiki. Tangga yang digunakan untuk naik ke lantai 2 yaitu ruang dance dan studio rekaman. Leo menutup mulutnya rapat, membuka pendengarannya, menguping, mendengarkan dengan seksama percakapan mereka yang terdengar jelas dan memperhatikan gerak gerik mereka.
“Tentu saja, kenapa?” jawab N ringan.
“N-ssi, 2 bulan yang lalu aku bertemu dengan seorang namja. Kata temanku, namja itu melihatku dengan tatapan yang tidak normal tapi aku tidak sempat melihat wajahnya saat itu. Dari penuturan temanku, aku merasa dia adalah orang yang aku cari, orang yang dapat mencintaiku dan menerimaku dengan segala kekuranganku. Tapi sayang karena kebodohanku, aku kehilangannya. Seorang wanita paruh baya mengatakan padaku kalau dia sudah pergi mencari cintanya yang lain” Jiki membuka semua kenangannya, semua yang ia simpan selama ini.
“Apa kau ingin bertemu dengannya? Laki-laki yang tidak kau ketahui fisiknya?” tanya N lembut.
“Iya, aku ingin bertemu dengannya. Oh ya, temanku juga bilang dia mirip dengan Leo Vixx, maka dari itu aku ingin bertemu dengan Leo-ssi, Jadi aku bisa membayangkan wajah laki-laki yang melihatku. Tapi setelah melihat Leo-ssi, aku pikir temanku salah lihat. Leo-ssi, dia sangat tampan, tidak mungkinlah orang yang mirip dengannya bisa suka padaku” Jiki semakin merendahkan suaranya.
“Hei, kau bicara apa? Jiki kau cantik, kau baik, kau lucu, sangat perhatian, lugu dan polos. Hanya lelaki bodoh yang tidak akan menyukaimu, lagipula dia masih mirip Leo? Kw berapa? Kau juga belum tahu” N mencoba menghibur. Tangannya yang lembut mengusap lembut bahu Jiki.
“Gomawo N-ssi. Dulu aku sangat ingin bertemu dengannya, tapi sekarang aku sudah melupakan laki-laki yang mirip dengan Leo itu, dan bodohnya aku, sekarang aku menyukai Leo yang sebenarnya, menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya, sejak pertama kali aku menatapnya, pertama kali aku menjatuhkan kepalaku di pundaknya dan menangis di hadapannya. N-ssi kau harus membantuku untuk menyadarkanku, dia siapa dan aku siapa? Kita berbeda” suara parau Jiki terdengar jelas oleh Leo. Titik saraf otak dan hatinya tertekan betul mendengar pernyataan Jiki.
“Jiki, tidak ada salahnya menyukai seseorang, tapi Leo? Sudahlah lupakan, dia sangat suka dengan wanita yang feminim, cerdas dan bijaksana. Aku rasa… maaf kau bukan tipenya. Dia sangat pemilih, dan tidak sembarangan memilih pasangan. Lebih baik sekarang kau belajar mencintai laki-laki lain. Tapi malam itu ketika melihat dia menyeretmu, aku juga tidak mengerti, aku takut dia hanya mempermainkanmu” N menggenggam tangan Jiki, menyalurkan energinya, menenangkannya. Jiki memang mudah menangis, sudah lama dia tidak menangis dan menumpahkan semua emosinya. Dihadapan N, dia tidak bisa menyimpan buncahan emosinya, dia menangis, tertunduk.
“Jangan menangis, ada aku disini” N menarik Jiki dalam pelukannya. Memberikan ketenangan pada yeoja yang mulai disayangnya.
Melihat N memeluk Jiki, Leo tidak bisa tinggal diam, dia keluar dari tempat persembunyiannya dengan emosi yang mulai tersulut kembali, cukup untuk semalam dan tidak untuk kali ini. Leo menarik tangan Jiki, menariknya keluar dari kungkungan tangan N. Keduanya tersentak kaget, tapi Leo tak peduli, setelah berhasil membuka pelukan N, Leo menarik Jiki dalam pelukannya. Seakan ingin membuktikan pada Jiki bahwa semua perkataan N salah. Tangis Jiki semakin pecah saat Leo memeluknya. N hanya melihatnya sinis dan pergi. Hangat tubuh Leo dapat dirasakan Jiki dengan jelas, bau parfum yang diciumnya saat membenarkan bajunya masih tercium dengan wangi yang sama. Tangan Leo merengkuh Jiki erat, membenamkan kepalanya pada dadanya yang bidang, tapi Jiki tak membalas pelukan itu.
“Lepaskan aku” Jiki mulai berontak dalam rengkuhan Leo.
“Tidak akan” Leo semakin erat memeluk yeoja berambut sebahu itu.
“Lepaskan” sekali lagi Jiki memberontak, dan akhirnya Leo membukanya.
Plaaak. Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Leo, pipinya langsung memerah. “Hei, ada apa dengannya? Kenapa dia menamparku?” batin Leo dengan tatapan heran pada Jiki.
“Yaakkk, Jung Taekwon kau kira aku wanita murahan yang bisa kau peluk seenaknya? Dan asal kau tahu gara-gara makanan yang kau berikan semalam, perutku masih tidak enak, kau harus tanggung jawab” gertak Jiki, mukanya melengos.
“Baiklah aku akan tanggung jawab, lusa di namsan tower jam 8 malam” Leo mengangkat alisnya dan mengerucutkan matanya.
“Oh ya satu lagi, seharusnya kau tahu caranya berterima kasih pada orang yang sudah mengajakmu makan malam dan kau tidak perlu marah-marah apalagi sampai menamparku kalau hanya untuk menutupi rasa malumu karena aku memelukmu?” ucap Leo menimpali kata-kata yang baru ia katakan. Tangannya diangkat dan menyentuh daerah sensitif Jiki, pipi. Pipi yang dari awal sudah memerah kini semakin memerah ketika Leo hanya menyentuhnya dengan satu usapan. “Jiki, ternyata kau tidak pintar berakting” batin Jiki bergemuruh hebat.
“Hei yaakk, jangan sembarang, yaakk, Jung Taekwon, yaakkk” Leo tidak memperdulikan teriakan Jiki saat dia melepaskan tangannya dan meninggalkannya dengan senyum kemenangan. “Skakmat, kena kau Jiki” Leo tersenyum simpul.


N tersenyum simpul ke arah Leo. Sementara sahabatnya itu hanya menunduk, sibuk memainkan ponselnya. Sudah sejam yang lalu sejak insiden di depan ruang Jiki dia tidak menyapa N. Sebenarnya sudah biasa dia bersikap dingin dan irit bicara tapi sekarang semuanya jadi tidak biasa.
“Leo-ssi mianhae, kau pasti marah denganku? aku bisa menjelaskan semuanya, malam itu aku tidak sengaja menjemput Jiki lewat pintu belakang karena jarak dari parkir belakang dan toilet lebih dekat, dan masalah perkataanku tadi, bukankah benar? Kau orang yang pemilih dan tipemu…” N menghentikan suaranya karena Leo meliriknya tajam.
“Aku tidak pernah marah, aku hanya kecewa pada diriku karena tidak bisa berbuat yang terbaik untuknya” N masih termangu dengan perkataan Leo yang sekarang memilih diam dan memainkan ponselnya kembali.
“Kau menyukainya? Jiki?” tanya N penasaran, jiwa hebohnya bergejolak. Leo tak menjawab, dia bangun dari duduknya dan pergi.
“Dasar lemari es berjalan, tidak kusangka seorang Jiki yang menaklukkan si lemari es. Aigooo” N menggeleng gelengkan kepalanya, menghela nafas lega.


Mata Jiki menyipit, menjelaskan pandangannya. Ya dia yakin, sangat yakin. Dia memang lambat berpikir dan sering lupa, tapi kali ini dia ingat dengan jelas. Benar, tidak salah lagi, dia adalah ahjumma yang dilihatnya di halte. Jiki mempercepat langkahnya, membuntutinya dari belakang. Dia menenteng beberapa kantong plastik di tangan kanannya. Semakin lama dia berjalan, semakin curiga akan jalan yang dia pilih. Hello, Jiki kenal jalan ini, jalan yang ia lewati selama hampir 1 minggu. Jalan ke gedung Jellyfish, dan ahjumma itu memasuki gedung Jellyfish. Firasat Jiki sudah tidak enak, geram dan tidak sabar, dia berlari mengejar ahjumma itu.
“Ahjumma jamkkanman” jiki menghentikan langkahnya dengan menghadang jalannya, sontak ahjumma ini kaget.
“Mianhae, nuguseyo?” tanyanya heran melihat Jiki berdiri dihadapannya.
“Ahjumma, apa kau mengingatku? Kita pernah bertemu di halte, dan dan dan ahjumma pernah mengatakan tentang laki-laki yang kau katakan akan melamarku 3 bulan kemudian tapi sekarang dia sudah pergi mencari cinta lain, apa kau ingat ahjumma?” segera Jiki mencercanya.
“Aniya, aku tidak mengenalmu” jawabnya singkat lalu mencoba menghindari Jiki.
“Kau pasti mengenalku, perhatikan mukaku baik-baik, ahjumma coba kau ingat lagi, aku mohon” sesekali ahjumma ini memperhatikan wajah Jiki lekat, memiringkan kepalanya seakan mencoba mengingat.
“Ahjumma” suara N terdengar memanggil dari kejauhan. Tangannya melambai pada ahjumma yang berdiri di hadapan Jiki.
“Ahjumma, kau kemana saja? Kami sudah menunggumu? Hei Jiki kenapa kau bersama ahjumma?” tanya N tanpa titik koma sedikitpun.
“Dia siapa N-ssi?” tanya Jiki takut.
“Oh, dia adalah ahjumma pemilik restoran nasi ikan teri yang terletak tak jauh dari sini. Ahjumma memang sering datang ke sini untuk mengantarkan makanan untuk kami” jelas N singkat.
“Ahjumma apa kau tidak mengingatku? Aku yakin kau mengingatku, aku mohon” desak Jiki penuh harap. Ia sangat yakin ada sesuatu yang dirahasiakan oleh ahjumma ini.
“Sebenarnya ada apa?” tanya N bingung.
“Iya aku mengingatmu, dan malam itu sebenarnya……” ahjumma menghentikan suaranya, melirik N yang berdiri di sampingnya kemudian menatap Jiki dengan tatapan penuh rasa bersalah dan sesal sudah membohonginya.


@namsan tower, 8 pm.
Agak berlebihan memang memakai gaun malam. Nara yang menyuruhnya, sejujurnya Jiki tidak nyaman dengan gaun yang memiliki potongan asimetris dan terbuka pada bagian leher dan bahu ini. “Its not my style” pekik Jiki dalam hatinya. Seumur hidup dia tidak pernah mengulas wajahnya dengan make up setebal ini, dan highheels ini benar-benar menyiksa, tadinya dia memakai higheels dengan hak 12 cm tapi karena Jiki jatuh berkali kali jadi cukup 5 cm saja. Sudah lewat 10 menit dari jam 8 malam tapi Leo belum muncul juga. 30 menit kemudian masih belum ada tanda-tanda dari Leo, dan finally 1 jam Jiki menunggu Leo. Tentunya jangan ditanya bagaimana keadaan Jiki sekarang, rasanya dia ingin membunuh Leo karena sudah membuatnya menunggu lama.
“Apa-apan ini? Yaaakkkk” Jiki membuang highheelsnya. Susah payah dia berdandan malam ini dan menuruti semua kemauan Nara, memakai gaun, make up, dan memakai highheels. Tapi hasilnya? Jiki bersungut sungut dan pergi dengan perasaan kesal dan kecewa. Jiki merasa dipermainkan dan dikerjai oleh Leo. Benar kata N, dia bukan type Leo, tidak mungkin Leo menyukainya, memang kapan Leo pernah mengatakan dia menyukai Jiki, dia hanya mengatakan ingin bertanggung jawab atas kejadian di restoran Italia.
“Leo-ssi kau jahat” air mata itu keluar, Jiki menangis. Ia menghentikan langkahnya, berhenti untuk menangis, kakinya sudah mulai terasa dingin karena kakinya sudah telanjang, angin malam mulai menusuk tulang-tulangnya. Dia tersiksa malam ini.
“Mianhae” Leo tertunduk membungkuk dihadapan Jiki sembari memegang lutunya, nafasnya tersengal, dia habis berlari.
“Yaaakkk” Jiki membentak Leo, emosinya sudah tak terbendung lagi.
“Jeongmal mianhae, aku terlambat. Ada wawancara mendadak dengan pihak E.seoul Magazine” Leo memberikan pembelaan. Jiki masih tidak terima, emosinya masih tersulut dan Leo harus bertanggung jawab mendinginkannya.
“Kau tahu aku sudah menunggumu 1 jam, aku pikir malam ini akan menjadi malam terbaikku, tapi ternyata? Kau jahat leo-ssi” Jiki terisak di tengah tangisnya.
“Mianhae, jeongmal mianhae. Bisakah kau menghentikan tangismu? Kau tahu aku paling tidak suka melihat wanita menangis dan aku juga bukan laki-laki yang pintar menghentikan tangisan wanita?” Leo-ssi menundukkan kepalanya, memajukan jarak diantara mereka, mensejajarkan kepalanya dengan muka Jiki yang terisak. Spontan, Jiki menjauhkan wajahnya ketika Leo mendekatkan wajahnya seperti itu.
“Baiklah” seru Jiki dari balik palingan mukanya.
“Ini untukmu” leo menyodorkan sebuah kaktus kecil berjenis Gymnocalycium yang sudah berbunga sangat cantik dengan warna pink soft. Kaktus berjenis Gymnocalycium berasal dari Amerika Selatan yang memiliki ciri khas mempunyai bunga yang sangat cantik dan kelopak bunga tanpa duri sedikitpun.
“Kau…” Suara Jiki tertahan. Pita suaranya tak menggetarkan gelombang suara, ia tertegun sekaligus terharu melihat kaktus yang digenggam Leo. Amarahnya langsung padam seketika.
“Semoga kau bisa merawat kaktus kecil ini. Kau harus merawat dan menyayanginya agar dia tumbuh besar dan menghasilkan bunga yang lebih cantik lagi. Aku tidak tahu tanaman yang cocok untukmu, jadi kupilihkan saja kaktus yang penuh dengan duri dan tak menarik ini” Leo merendahkan diri.
“Gomawo Leo-ssi” Jiki mengambil pot yang berisikan kaktus dari genggaman tangan Leo. Sekali lagi ia memperhatikan kaktus kecil itu, senyumnya tersungging memperhatikan kaktus tersebut.
“Baiklah, sekarang ayo kita makan” Leo membalikkan badannya.
“Leo-ssi, laki-laki yang kutemui 2 bulan yang lalu itu kau kan? Kau yang melihatku di seberang jalan?” Leo membulatkan matanya mendengar pertanyaan Jiki. Ia membalikkan badannya kembali, menghadap Jiki.
“Apa yang kau katakan?” dahinya mengerut? Matanya yang sipit mengerucut, menatap Jiki tajam.
“Ahjumma yang memberitahuku, semua perkataan ahjumma di halte juga karangan ahjumma belaka karena dia tidak menyukaiku, dia mengatakan kalau waktu itu aku menoleh ketika kau melihaku diseberang jalan, kita akan berkenalan dan 3 bulan kemudian kau akan melamarku, tapi sayang waktu itu aku tidak menoleh jadi kau pergi dan mencari cinta yang lain”


*flashback
“Ahjumma, yeoja itu yang aku suka, memang dia bukan tipeku, tapi aku menyukai wajahnya yang polos itu, pertama kali aku melihatnya saat aku mengunjungi restoran Jepang di jalan Gongzo” Leo menunjuk seorang wanita yang sedang duduk sendiri di halte, tertunduk, sedih dan menangis.
“Aigo, kenapa kau suka dengan wanita itu? Aku tidak menyukainya” Ahjumma melengos.
“Ahjumma, dengarkan aku! Dia punya wajah polos dengan senyum yang tulus” Desak Leo.
*flashback end.

Leo hanya diam mengingat semuanya. Sementara itu, Jiki menatapnya lekat, menunggu Leo menjawab pertanyaannya.
“Sudahlah kita bahas nanti, kau lapar kan? Ayo makan!” Leo membalikkan badannya dan mulai melangkah pergi.
“Yaakkk, Leo-ssi jamkkanman” teriak Jiki.
“Apa lagi Shin Jiki?” geram Leo, dia mulai tidak sabar, perutnya juga sudah memberi peringatan gejala lapar.
“Kau kau, tidak tahu caranya memperlakukan wanita dengan romantis? Kau lihat bajuku? Terbuka seperti ini! apa kau tidak akan memberikanku jaket agar aku tidak kedinginan, selain itu lihat kakiku, aku membuang highheelsku dan sekarang aku bertelanjang kaki, kau tidak mau mengorbankan sepatumu untuk kupakai? Biasanya di drama-drama yang aku tonton para namja akan melakukan itu pada yeoja yang menderita sepertiku” Jiki merengek, sesekali menghentakkan kakinya, meyakinkan Leo dia memang kedinginan dan membutuhkan perhatiannya.
“Siapa yang menyuruhmu memakai baju seperti ini dan siapa yang menyuruhmu untuk membuang highheels-mu?” jawab Leo dingin. “Dasar laki-laki berhati batu, tidak bisakkah dia romantis? Tanya Jiki dongkol”.
“Yaakkk, Jung Taekwon tidak bisakah kau sedikit romantis? Aku membencimu” Jiki kembali berteriak dan Leo tak memperdulikannya, dia membalikkan badannya dan mengacuhkan Jiki.
“Jung Taekwon, Leo-ssi aku benar-benar kedinginan” bisik Jiki lemah, tubuhnya perlahan merengsek kebawah, melemah.
“Kau ini” Leo membalikkan badannya kembali, dan tak jadi pergi, tapi dia mendekati Jiki lalu menggendongnya, tanpa banyak komentar dia menggendong wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
“Leo-ssi gomawo” bisik Jiki sungkan.
“Apa adegan seperti ini juga ada di drama-drama yang kau tonton?” balas Leo berbisik, Jiki hanya tersenyum mendengarnya, lalu mengalungkan tangannya di leher Leo, mendekatkan dirinya.


Kaktus bisa hidup dengan sedikit air, tapi tidak berarti dia bisa kuat hidup tanpa air…
kaktus bisa hidup dengan sedikit perhatian, tapi tidak berarti dia bisa kuat hidup tanpa perhatian…
“aku tidak ingin kau selalu memberikan perhatianmu pada N, berilah aku sedikit perhatianmu, tanpa perhatianmu aku tak berdaya dan membeku”

kaktus memang terlihat arogan dengan duri-duri yang mengelilingi tubuhnya, tapi itu hanya sebagai bentuk proteksi diri sekaligus caranya bertahan hidup dengan mengurangi penguapan…
“Aku memang dingin dan tidak seramah N, tapi ketahuilah bahwa itu hanya caraku agar aku tidak terlihat lemah di depan orang yang aku suka”

kaktus memang butuh waktu lama untuk mengeluarkan bunganya, sesungguhnya dia hanya sedang mencoba mengajarkan arti kesabaran bagi pemeliharanya….
“Bersabarlah, hingga nanti aku bisa membawamu di hadapan semua orang, bersabarlah dengan semua kekuranganku, bersabarlah dengan semua tingkahku, bersabarlah mencintaiku, karena aku juga belajar bersabar mencintaimu selama ini”

-Leo-
Jiki tercengang membaca surat yang ia temukan dibawah pot kaktus pemberian dari Leo, hatinya terguncang, sebuah sengatan listrik menyengat dirinya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bibirnya kelu, nafasnya seakan terhenti beberapa detik dan ia membisikkan nama itu, nama laki-laki yang ia suka dan ia cintai sejak pertama kali mereka bertemu, sejak pertama kali mereka bertatapan, sejak pertama kali Jiki melihat senyum Leo dan sejak Jiki menjatuhkan kepalanya tepat di bahu Leo.
“Leo-ssi, Leo-ssi” lirih Jiki lemah, tangannya perlahan meremas ujung kertas surat manis Leo. Bulir air matanya yang tertahan di pelupuk matanya jatuh mengalir di pipinya yang memerah. Ia terduduk lemah di sudut kamarnya, bayangan Leo bermain di pikirannya membuat dadanya terasa sesak dan semakin sesak.


To be continued

Iklan