Darkness

11748562_840304729388511_788817092_n

Hola hola caacaca hei… Annyeong author balik lagi bawa FFnya Rapi-ah.. hii, semoga pada suka yah^^.. disarankan baca FF ini sambil dengerin lagu memory (Ravi feat hyuk) deh, dijamin anda menangis darah *gak yakin sich.. oke cus, happy reading! jangan lupa coment, kritik sarannya, Love u all…!!

Cover FFnya yang kece badai dipersembahkan oleh ravienne artwork, gomawo^^

-Selamat Hari Raya Idul Fitri-


Author : LeoVivin

Title    : Darkness

Genre  : Marriage Life, Romance, Sad

Cast     :

  •    Ravi VIXX
  • Kim Na jung (Oc)

Gelap, sangat gelap dan menakutkan disini. Sebuah ruang gelap yang sempit dengan pasokan oksigen ala kadarnya. Na jung terpojok di sudut ruangan ini dengan bibir terkatup-katup akibat kedinginan mendera sekujur tubuhnya disertai dengan ketakutan yang mencekam. Na jung tidak tahu dimana dia berada dan tempat apa ini? Tempat ini terlihat asing dan gelap baginya. Tak habis pikir bagaimana cara Na jung bisa sampai di sini, padahal masih hangat diingatannya ia berbaring di kasur bersiap untuk tidur. Tapi ketika membuka mata dia sudah menjejakkan kaki di tempat ini. Apakah ada seseorang yang memindahkannya? Mungkin saja. Na jung tidak memiliki kebiasaan berjalan dalam tidur, jadi hipotesis di atas bisa masuk akal. Tapi siapa yang memindahkannya? Na jung tak menemukan satu namapun di otaknya yang bisa ia duga sebagai pelaku.

Satu detik, dua detik dan detik demi detik terus berganti. Waktu sudah berlalu jauh namun yeoja berdimple ini masih belum menemukan cara untuk keluar dari tempat yang penuh dengan keheningan dan kehampaan yang mencekam. Susah baginya untuk mencari celah keluar dengan keadaan gelap gulita. Bahkan untuk menggeser posisinya saat ini Na jung tidak memiliki keberanian. Bisa jadi di sekitarnya sekarang terdapat jurang atau perangkap yang bisa menyakitinya. Tidak ada yang tahu secara pasti spesifikasi tempat ini. Berteriak minta tolong juga percuma, ruangan ini seakan kedap suara, tidak akan ada orang yang mendengar. Mengingat semua keadaan tersebut membuat pikiran Na jung mati akal. Tapi tidak mungkin baginya terus berdiam diri seperti ini, Na jung harus keluar dari sini atau dia akan mati. Tentu saja Na jung tidak ingin mati konyol. Akhirnya ia memaksa bangun dengan kaki yang bergetar hebat di bawah sana. Tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya setelah berhasil berdiri tegak. Yang ia tahu dan dapat ia rasa dengan jelas adalah rongga dadanya meronta meminta ruang leluasa untuk pertukaran oksigen baru namun hanya karbondioksida yang dihirup dan didapat. Akankah ini akhir hidup seorang Na jung?

Seperti sebuah keajaiban datang di tengah keputusan seorang Na jung. Secepat kilat seberkas cahaya membias samar dari lubang kecil. Membelah kegelapan dalam satu sentuhan mesra. Na jung tersentak dengan kedatangan cahaya penolong yang memberikan secercah harapan hidup untuknya. Bias cahaya itu bertambah lebar dan berhasil mengusir kegelapan yang mengerikan ini. Dari balik berkas cahaya tersebut, Na jung dapat menangkap sesosok bayangan di retinanya. Pelan tapi pasti bayangan itu berubah menjadi sosok nyata yang memukau penglihatan Na jung. Dia berjalan dengan langkah tegap dan meyakinkan. Mungkinkah dia penolong Na jung? Diakah yang akan membawa Na jung keluar dari kegelapan ini?

Sosok pria ini sangat rupawan. Dia berhasil memukau Na jung dengan segala yang ia miliki. Postur tubuh tinggi diatas 180cm, bahu tegap, dada bidang dan tangan dengan otot keras. Bisa dikatakan ia memiliki bentuk fisik yang proporsional dan menarik. Dia berdiri di hadapan Na jung sekarang, menyoroti perawakan Na jung dengan tatapan sayu yang mematikan. Na jung berhasil diraup dalam pesonanya, sedikitpun Na jung tak mengedipkan mata, terhipnotis dengan semua yang ada di laki-laki ini. Na jung meneliti detail lekuk wajahnya. Dagu lancip, bibir tipis merekah, hidung mancung, alis tebal dan helain rambutnya tampak halus menjuntai di dahi. Benar-benar laki-laki ini adalah salah satu contoh ciptaan Tuhan yang luar biasa karena mendekati kata sempurna sebagai seorang laki-laki. Badan tegapnya dibalut dengan setelan jas hitam dan kemeja putih yang licin. Melihat penampilannya yang klimis dan parlente, terlihat dia adalah seorang yang terhormat. Namun siapa dia sebenarnya? Na jung tak mengenali pria yang berjalan mendekatinya sekarang. Dia berhenti tepat ketika jarak keduanya hanya sekitar 2 kaki, sekilas dia melempar senyum pada Na jung. Seakan berusaha meluluhkan yeoja ini dalam sudut pesonanya yang lain. Tapi Na jung hanya terdiam menerima sodoran senyum tipis yang tergores manis di bibir merah mudanya. Dia tak tergoda sedikitpun. Tak berhenti disitu, pria ini menyodorkan tangannya pada Na jung, kemudian mengisyaratkan dengan gerakan bibir agar Na jung ikut dengannya.

“Kau” sebagai balasan dari perlakuan pria tersebut, Na jung hanya melempar sapaan kau, tidak lebih dari itu. Selebihnya ia membiarkan kedua tangannya diam di tempat, dan membeberkan ekpresi wajah datar. Sepertinya ia tidak tertarik dengan ajakan tersebut.

“Ikutlah!” berat dan seksi, begitu spesifikasi suara laki-laki ini yang dapat Na jung dengar. Jenis suara bariton yang sesuai dengan perawakannya yang gagah dan berwibawa.

“Kau” kembali kata-kata itu yang meluncur dari bibir Na jung dengan ekpresi wajah datarnya yang tidak berubah sedikitpun.

“Kau tidak ingin ikut denganku? Kau yakin?” suara dan kata-katanya menekan Na Jung. Binar matanya ikut menusuk dan menarik paksa Na jung. Namun sekali lagi Na jung tetap tak berkutik bahkan tidak peduli.

Masih dengan tangan yang terulur, laki-laki ini kembali melangkah mendekati Na jung. Mungkin dengan melihat wajahnya lebih intensif, Na jung dapat merubah pendiriannya. Ternyata apa yang didapat? Secuilpun Na jung tidak merubah posisi dan tatapannya. Masih sama seperti semula, tidak ada reaksi apapun dari Na jung kecuali matanya yang mengerjap beberapa kali. Ciut sudah nyali laki-laki ini, sia-sia usahanya. Percuma seluruh pesona yang ia miliki tak dapat menarik Na jung ikut bersamanya. Akhirnya dia pergi dengan muka yang tertunduk lesu. Tidak ada ucapan selamat tinggal dari Na jung, dia membiarkan laki-laki itu pergi dan kembali menghilang di telan kegelapan yang kembali datang menjerat Na jung.

“ANDWAEEEE” Na jung berteriak histeris sampai membangunkan suster jaga yang ada di sampingnya. Dia terbangun dari mimpi buruk yang terus membayanginya selama ini.

“Na jung-ssi, tenanglah!”

Na jung berontak, dia meronta-ronta berteriak. Ia menangis diselingi dengan teriakan yang hebat. Suster jaga yang seorang diripun kewalahan memegangi Na jung yang tak terkendali. Syukurlah ada dokter dan dua orang perawat yang segera datang setelah mendengar kegaduhan dari kamar tempat Na jung dirawat.

Wae gurae?” tanya sang dokter yang diketahui bernama Lee Hon.

“Sepertinya dia bermimpi buruk, dia bangun dari tidur dan berteriak-teriak” sahut sang suster jaga.

“Berikan dia obat penenang dengan dosis dua kali lipat”

Ne

Dua suster yang bersama dokter ini bergerak cepat melakukan tugasnya. Satunya membantu suster jaga memegangi tangan Na jung, sementara suster lainnya menyuntikkan cairan penenang melewati selang infus. Erangan Na jungpun mulai melemah dan menghilang dalam hitungan detik. Reaksi obat yang bagus. Sekarang Na jung sudah tenang dan kembali terlelap dalam tidurnya yang damai.

“Dokter sampai kapan kita akan terus memberikannya obat penenang? Bukankah sekarang sudah 2 minggu perawatannya?” tanya sang suster jaga khawatir dengan keadaan Na jung.

“Entahlah, aku pikir kontrol jiwanya masih kacau. Aku tidak ingin mengambil resiko berlebih jika memaksa memulai teraphy, kita tunggu hingga 1 minggu kedepan, kalau dia sudah membaik kita akan memulai teraphynya”

Ne

Sang dokter dan dua orang perawat tadi pergi meninggalkan sang suster jaga dengan Na jung. Hening kembali menyapa keduanya, lebih tepatnya suster ini. Dia menatap nanar ke arah Na jung, jauh dilubuk hatinya dia ikut merasakan kesakitan Na jung. Kesakitan yang seolah-olah mengiris seluruh lini kehidupannya baik jiwa dan raga. Akibat kesakitan itu kejiwaan gadis berparas cantik ini terguncang hingga mencoba bunuh diri sebanyak 5 kali. Semua cara bunuh diri ia lakukan dari mengiris nadi, meminum cairan pembersih lantai, meminum obat dengan dosis berlebih, gantung diri dan yang terakhir menabrakkan diri ke kereta. Sayang bukan waktunya dia pergi, Tuhan masih menyayangi Na jung, dia masih selamat dari ambang kematian. Dampak percobaan bunuh diri yang terus dilakukan Na jung membuat keadaan kandungannya melemah dan akhirnya tak terselamatkan. Pertama kali masuk ke rumah sakit, keadaannya sangat memprihatinkan. Secara terus menerus ia mengigil ketakutan. Bola matanya berputar mengawasi sekeliling, seakan ada seseorang yang mengawasi dan mengancamnya. Keadaannya saat ini memang tidak mengalami perubahan yang signifikan, tapi setidaknya dia sudah bisa tertidur walau dia terus bertutur bermimpi buruk seperti diajak oleh seorang laki-laki. Diagnosis awal dari dokter mengatakan Na jung menderita amnesia akibat guncangan emosional yang hebat. Dia mampu mengingat dirinya sendiri tapi tak mampu mengingat orang disekitarnya.

“Na jung-ssi, kuatlah! Kau pasti bisa sembuh. Aku yakin kau bisa melewati semua ini” Suter Hyun Ji hanya bisa meneteskan air mata.

*****

*flashback

1 bulan yang lalu….

Na jung berdiri manis di depan pintu rumahnya, menunggu Ravi yang sedang meminum teh tergesa gesa. Sesekali ia mengecek jam dan mendengus kesal setelahnya.

“Ravi-ya palliwa, kau bisa terlambat” Na jung beteriak dengan suara yang melengking.

Arasso, arasso” Ravi sedikit berlari untuk menemui Na jung di depan sana.

“Kau tahu sekarang sudah jam delapan dan penerbanganmu jam 8.30, pilot macam apa kau tidak disiplin seperti ini? Seharusnya kau sudah ada di bandara 1 jam sebelum keberangkatan, berapa kali aku harus mengatakan padamu”

“Aku bisa tepat waktu sampai di bandara” bantah Ravi dengan santai.

“Kau kira jalanan Seoul akan bersahabat denganmu, kau ini selalu saja membantah kata-kataku”

Walau sambil mengoceh Na jung mulai berkonsentrasi membenarkan simpul dasi Ravi dan merapikan lipatan seragam yang membungkus tubuh suaminya dengan sempurna. Melihat kelakuan istrinya yang menggemaskan membuat Ravi tersenyum simpul sembari mengelus ubun Na jung.

“Berangkatlah!” Na jung menyodorkan koper milik Ravi yang ia letakkan tak jauh darinya.

“Baiklah, aku pergi. Besok aku kembali dan akan menagih janjimu” Ravi mengerlingkan mata nakal.

Ciuman manis Ravi mendarat di pipi Na jung. Bibirnya yang basah menyapa pipi kenyal milik sang istri. Na jung suka itu, jadilah wanita ini tersenyum tipis kemudian disambut dengan rona pipi menyemu kemerahan. Waktunya berangkat, segera Ravi pergi dengan melambaikan tangan seraya memamerkan senyum manis miliknya.

“Ah aku melupakan sesuatu?” Ravi menghentikan langkah lalu membalikkan badan, kembali berjalan ke arah Na jung.

“Apa? Ponsel? Dompet? Apa?” terka Na jung panik.

“Ini” Ravi kembali menghadap Na jung kemudian mencium dahi dan bibir sang istri. Meluapkan kasih sayangnya pada lipatan bibir Na jung yang terlihat menggoda dan sayang untuk diabaikan.

“Lebih baik kau berangkat sekarang atau para penumpang akan protes gara-gara sang pilot telat karena lebih memilih mencium istrinya” Ravi tersenyum malu mendengar celetukan Na jung dari balik tundukan wajah mereka yang memerah.

“Baiklah sekali lagi dan aku akan berangkat” sekali lagi Ravi mencium bibir sang istri, sekarang hanya sekilas berbeda dengan pertama yang ia lakukan.

Ravi menghilang masuk kedalam mobil sedan miliknya. Deru mobil khas sedan keluaran Jerman ini menghiasi perkarangan rumah mereka. Semenit kemudian Ravi meluncur keluar dari rumah dengan lambaian tangan perpisahan pada Na jung.

“Aku akan menunggu, hati-hati suamiku”

*****

Ravi, seorang pilot berumur 30 tahun. Salah satu lulusan terbaik militer Seoul. Mulai menerbang sejak 3 tahun yang lalu dengan catatan penerbangan yang memuaskan. Ravi berhasil menikahi kekasihnya sejak 5 tahun yang lalu. Kim Na jung begitulah nama sang kekasih yang Ravi lamar tepat setelah Ravi menyelesaikan penerbangan pertamanya sebagai pilot. Menikah dengan Ravi mejadi tantangan bagi Na jung. Suaminya ini memiliki badan atletis dan wajah yang menawan. Selain itu suaranya yang berat ikut menjadi point penting pesona seorang Ravi. Sudah banyak pramugari yang menjadi korbannya. Bukan Ravi yang menggoda tapi mereka yang mendekati Ravi terlebih dahulu. Bahkan status Ravi yang sudah menikah tidak mereka gubris. Syukurlah Ravi seorang pilot yang berpegang teguh pada kepercayaan istri walau banyak pramugari yang jauh lebih cantik dan menggoda dibanding Na jung.

Na jung masih setia menatap jam yang berjalan lambat, bahkan lebih lambat dari seekor siput. Haruskah Na jung memutar jarumnya agar cepat berlalu dan segera pagi? Na jung tidak sabar untuk bertemu Ravi dan memberikan kejutan untuknya. Dia pasti sangat bahagia mendapatkan kejutan ini. Sekarang masih 30 menit berlalu sejak keberangkatan Ravi. Jarum jam tepat menunjuk jam 9, pasti sekarang Ravi sudah lepas landas. Sebenarnya ini bukan penerbangan jauh ke luar negeri, hanya penerbangan ke Jeju. Na jung beranjak dari tempat duduknya dan memilih menengadahkan kepala ke luar jendala. Menatap langit penuh dihiasi oleh awan putih yang terpatri ceria.

“Hei langit, bisakah kau menyampaikan salam untuk Raviku? Aku menunggunya, aku tidak sabar untuk memberikan kejutan ini, dia pasti sangat bahagia” Na jung menebar senyumnya ke udara. Alam seakan menjawab permintaannya, angin berhembus membawa pergi awan tadi pergi, sepertinya awan itu akan menemui Ravi.

“Katakan pada Ravi kalau dia adalah suami yang hebat!” bisik Na jung pada awan yang lain. Angin berhembus lagi menanggapi permintaan itu, Na jung terkekeh. Ini menyenangkan dibanding ia harus melihat jam.

Langit yang menggantungkan salam Na jung seakan membawanya masuk ke dalam memori indahnya bersama Ravi. Memori dimana mereka menuliskan kata cinta pada setiap bait dan untaian di palung sanubari yang terdalam. Sangat indah dan mengharukan. Dalam bayangan Na jung tergambar jelas bagaimana cara Ravi menggodanya. Kala itu ia sedang duduk bersender di sofa. Dia mengenakan kaos hitam berpotongan V di bagian dada. Baru kali ini dia mengenakan kaos tipis yang berhasil memamerkan setiap lekuk dadanya yang bidang. Na jung melirik sejenak lalu menelan air liur melihat liuk otot Ravi yang tercetak menggoda dari balik kaosnya. Ravi tahu cara menyiksa Na jung tanpa harus menyentuhnya. Ravi yakin sekarang Na jung tergoda tapi dia masih berpura-pura tidak peduli dan memilih menyibukkan diri dengan menyapu ruang tamu. Jadilah Ravi hanya diam sambil terus memperhatikan pergerakan sang istri.

“Kau akan tetap memilih sapu ketimbang suamimu?” tegur Ravi. Na jung menghentikan aktivitasnya, menoleh cepat pada Ravi yang menggelayutkan kedua tangan ke sofa. Dia duduk menyender dengan kaki yang sedikit terbuka, menunjukkan kewibawaan seorang Ravi. Sorot mata Ravi yang sayu menyeret Na jung untuk mendekat.

“Aku sibuk” tolak Na jung mentah-mentah.

“Kalau begitu, bisakah kau menyapu bagian sini?” Ravi menunjuk pada lantai tepat di depan kakinya. Sengaja dia menjatuhkan beberapa kertas disana.

“Kau ini” desis Na jung geram.

Terpaksa Na jung harus mengulangi menyapu bagian tersebut. Belum sempat Na jung menyelesaikan menyapu kertas-kertas itu, Ravi sudah meraih pinggangnya kemudian dijatuhkan tepat di pangkal paha Ravi. Setelah itu Ravi mendekap erat Na jung dari belakang, menumpahkan kehangatan dari balik sana.

“Ravi yak, jangan begini pekerjaanku masih banyak”

“Hei, aku baru pulang setelah 1 minggu bekerja, apa kau tidak merindukanku? Kau sangat tega tidak peduli padaku dan lebih memilih menyapu, duduklah disini, aku ingin memeluk istriku yang sudah aku rindukan selama 1 minggu”

“Kenapa kau tidak memeluk pramugari itu sebagai penggantiku?”

“Memeluk mereka tidak akan senikmat memeluk istriku, aroma tubuhmu menjadi magnet dan candu bagiku” Ravi membuang nafas di tekuk Na jung, membuat istrinya menggeliat geli.

“Ravi, kau…”

“Tetaplah seperti ini, atau aku akan mencumbumu tidak henti”

“Kau yakin?” Na jung membalikkan badannya, memutar posisi menghadap Ravi dengan duduk bersimpuh di pangkal Ravi.

“Tentu saja” Ravi mengangguk ringan. Rambutnya yang cokelat mengikuti gerakan kepalanya.

“Kau dalam masalah sekarang” Na jung mengerling nakal sebelum menangkup wajah Ravi untuk melancarkan ciumannya.

Ravi tak tinggal diam, dia mengkungkung Na jung lebih dekat dengannya. Ciuman yang awalnya hanya di permukaan sekarang bertambah dalam sampai decakan terdengar dari keduanya. Mungkin ini pelampiasan setelah satu minggu mereka tak bersua.

PRANGG!!!

Na jung terperanjat kaget, lamunannya buyar seketika mendengar suara pecahan kaca yang terdengar dari ruang utama. Dihampirinya sumber suara tersebut dan dia mendapati foto pernikahannya dengan Ravi jatuh berserakan. Pecahan kacanya menghambur mengotori lantai.

“Apa yang terjadi? Kenapa foto ini bisa jatuh?” seketika tangan Na jung gemetar, dia melirik jam masih 1 jam berlalu, penerbangan Ravi masih 30 menit lagi untuk sampai di pulau Jeju. “Ravi kau baik-baik saja kan?”

KRINGG!! Suara telfon mengagetkan Na jung untuk kedua kalinya. Suara telfon itu terdengar nyaring sekali ditengah kesunyian dan kekatutan Na jung. Berat rasanya harus menghampiri dan mengangkat telfon tersebut.

Yaebboseyo” suara Na jung terdengar gemetar di ujung telfon.

“Yak Na jung-ah kau lupa mengirimkan kimchi buatanmu? Aku sudah kelaparan” ternyata bukan telfon yang menakutkan, hanya ocehan So yi dari balik telfon, Na jung bernafas lega mendengar ocehan sahabatnya itu. Na jung pikir itu telfon dari bandara yang akan mengabarkan kabar buruk tentang Ravi. Pikirannya sudah menimbulkan banyak prasangka buruk akibat fotonya yang pecah.

Arasso, aku akan mengirimkan untukmu”

Telfon putus sepihak, Na jung menekan tombol end. Belum satu menit telfon ditutup telfon berdering kembali, So yi pasti marah Na jung menutup telfonnya secara sepihak.

Ye, wae??” nada suara Na jung tidak santai.

PRANGG! Gagang telfon yang Na jung pegang jatuh dan menimpa vas bunga kaca. Kabar buruk yang ia dapat dari telfon kedua, sehingga dia shock dan akhirnya ambruk kehilangan kesadaran.

*****

Kecelakan pesawat airbus VT-01 di titik 15 derajat lintang selatan Seoul tidak dapat terelakkan. Baru saja 15 menit lepas landas pesawat ini harus menerima kebocoran bahan bakar yang menyebabkan ekor pesawat terbakar, dalam sekejap api membesar dan melahap semua body pesawat. Akibat kebakaran tersebut, pesawat berputar putar di udara selama 1 menit sampai akhirnya meledak di udara. Tidak ada yang selamat, semua meninggal dengan keadaan yang mengenaskan. Bahkan banyak dari mereka yang diketemukan jasadnya termasuk sang pilot, Ravi.

Na jung terbujur lemas di kamarnya, dia bagai mayat hidup sekarang. Lenyap sudah semangatnya untuk hidup. Suami sekaligus satu-satunya orang terdekatnya saat ini pergi untuk selamanya. Bahkan untuk melihat Ravi terakhir kalinya tidak bisa Na jung lakukan. Jasad Ravi sudah hancur bersama serpihan pesawat. Sangat miris dan menyakitkan menerima kenyataan tersebut. Tidak terbayang di benak Na jung, sakit yang dirasakan Ravi tatkala malaikat maut mencabut nyawanya. Mengingat itu membuat Na jung ingin menyusul Ravi dan menemaninya disana. Na jung tidak menyangka pagi itu adalah terakhir baginya membenarkan dasi Ravi, mendapatkan kecupan manis darinya sekaligus hari terakhir bersama Ravi.

“Ravi-ya, haruskah kau pergi dengan cara seperti ini? Apakah kau tidak ingin melihat kejutan dariku? Aku hamil Ravi, aku hamil. Bukankah kehamilan ini yang kita tunggu selama 5 tahun? Sekarang setelah aku mendapatkannya kau malah pergi? Pergi tanpa mengizinkanku mencium jasadmu? Apakah ini adil bagiku? Tidak” Na jung memegangi erat pisau di tangannya, siap menghunus perut dan mati saat ini juga.

“Na jung-ah andwaee” So yi beteriak dari balik pintu dapur. Berlari sekuat mungkin untuk menahan tangan Na jung.

“So yi tolong jangan tahan aku, aku ingin mati. Bunuh saja aku dan anak ini. So yi aku mohon” Na Jung menarik tangannya yang dicengkram dari So yi.

“Na jung jangan gila!”

“Aku tidak gila, aku hanya ingin mati menyusul Ravi, aku hanya ingin memberitahukan kalau aku hamil”

“Na jung-ah ikhlaskan Ravi pergi”

“Ravi-ya aku hamil, apa kau mendengarku? Apa kau kesepian disana? Aku akan segera menemuimu, tunggu aku” badan Na jung merengsek jatuh ke bawah hingga mencium lantai. Dia sesenggukan disana.

*End

****

Na jung membuka mata dengan semburat ketakutan masih mewarnai wajahnya. Di setiap ia menutup mata, mesti bayangan sosok laki-laki itu membayanginya. Sudah hampir 3 minggu dia dirawat di rumah sakit dan akhirnya ia dapat mengingat semua ingatannya yang terhapus. Laki-laki yang ada di mimpinya adalah Ravi, suaminya sendiri.

“Ravi hentikan, aku tidak bisa mengikutimu, ini bukan waktuku” bisik Na jung sendiri. Air matanya jatuh mengingat mimpi yang terus menerus menghantuinya sejak kematian Ravi. Permintaan Ravi saat mereka menikah menghantui Na jung dan membenarkan semua mimpi hitam pekat yang mendatanginya selama ini.

“Na jung-ah kau harus berjanji untuk menemaniku selamanya”

“Wae?”

“Karena aku takut kesepian”

“Kenapa harus aku?”

“Karena aku mencintaimu”

“Haruskah aku melakukannya?”

“Aku akan menarikmu paksa kalau kau tidak mau menemaniku”

 

“Jika kau kesepian disana, maka bersabarlah sedikit lagi hingga waktuku tiba, aku tidak bisa menyakiti tubuhku lagi. Tuhan tidak mengizinkanku untuk menemanimu saat ini. Suamiku aku mohon bersabarlah! Bukankah anak kita sudah menemanimu disana? Jadi aku mohon bersabarlah sedikit lagi” derai air mata Na jung mengiringi pesan batinnya pada Ravi. Hembusan angin menyela dari balik tirai, seakan ingin menyampaikan pesan tersebut pada Ravi yang sedang terdiam menatap sendu Na jung dari dunia Fana.

Mungkin waktu tidak mengizinkan kita bersama…

Mereka lebih suka kita menjauh..

Kegelapanlah yang menjadi sekat dunia kita…

Jika kegelapan tidak mengizinkanku mengikuti terangmu..

Maka aku tidak akan beranjak dari sini..

Izinkanlah aku keluar dari kegelapan ini dengan semestinya..

Suamiku aku mohon!!!          

                                                                                    Kim Na jung.

The End