April Mop (2/2)

11657425_830054477080203_1519310413_n

Ulalalaa… annyeong^^, author hadir lagi bawa part terakhir FF project ultahnya emak N-cha… udahlah gak usah banyak bacot lagi, happy reading!! jangan lupa coment, kritik, saran ye… oke~~~


Author : Vixme

Title    : April Mop (2/2)

Genre  : Sad Romance

Cast     :

  • Cha Hakyeon
  • Han Hyo Soo

Aku dapat melihatnya jelas

Aku dapat menyentuhnya

Aku dapat memeluknya

Aku dapat menciumnya

Tapi dapatkah aku mencintainya?

Dia~~~

Hakyeon kembali tidak menjawab. Dia memejamkan mata erat seperti sedang mengontrol kesakitannya, menarik nafas panjang seakan mengatur keluar masuk udara dalam paru-parunya. Terus begitu berulang-ulang sampai 5 menit . Hyo soo tidak tega melihat Hakyeon seperti ini. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain terus memperhatikan Hakyeon. Usaha Hakyeon nampaknya berhasil, dia membuka mata perlahan lalu memaksa tersenyum ke arah Hyo soo. Benarkah dia sudah membaik? Tentu saja tidak. Kedutan saraf di otak kecil masih ada, keseimbangan Hakyeon terganggu, bukan hal gampang bagi Hakyeon untuk menyatukan konsentrasi kembali. Hakyeon tahu Hyo soo sangat khawatir padanya, oleh karena itu sekuat tenaga Hakyeon mengukir senyum walau dia tidak yakin aktingnya meyakinkan.

“Lihat aku baik-baik saja! Uhuk!” Hakyeon terbatuk di tengah kepura-puraannya.

“Lebih baik kau istirahat Hakyeon-ah

“Aku baik-baik saja, aku hanya ingin memberikanmu ini” Hakyeon merogoh saku celana piyamanya. Mengambil barang yang ia persiapkan untuk Hyo soo. Sebuah barang yang sangat berarti bagi Hakyeon.

Seuntai kalung perak dengan liontin berbentuk bintang. Lima permata menghiasi setiap sudutnya. Sangat cantik dan memukau. Hyo soo takjum melihat benda yang berkilau diterpa cahaya lampu taman itu.

“Aku menamai kalung ini Starlight” seru Hakyeon lemah.

Starlight? Hakyeon-ah itu terlalu indah dan mahal, benar untukku?” Hakyeon mengangguk lemah. “Jinjja?

“Jadikan cahaya bintang ini untuk menuntunmu memasuki rumah sakit”

Mwo?”

“Apa kau tidak ingin mengatasi ketakutanmu sendiri tentang rumah sakit? Apa kau tidak ingin menemui dokter Kim seorang diri?”

Ye?” Hyo soo tidak mengerti dengan arah pembicaraan Hakyeon.

“Aku harus pergi Hyo soo” Hakyeon berbalik memunggungi Hyo soo.

“Hakyeon apa maksudmu?”

“Hyo soo, besok aku harus pergi, aku tidak bisa membantumu lagi, kau harus melakukan tugasmu seorang diri”

“Kau akan pergi kemana? Apa kau dipindah ke rumah sakit lain?” Hyo soo panik. Pupil matanya membesar. Hakyeon tak menjawab, Hyo soo membencinya. “Kemana kau akan pergi? jawab aku Hakyeon-ah!” paksa Hyo soo.

“Jaga dirimu baik-baik!” Dia malah tersenyum tenang. Bukan jawaban yang Hyo soo inginkan.

“Bagaimana dengan perjanjian kita?”

“Sudahlah lupakan, itu hanya perjanjian bodoh”

“Tapi aku serius menjalaninya”

“Aku tidak”

“Apa kau tidak ingin menikah denganku? Bukankah kau menawarkan tawaran menikah? Kenapa kau egois Hakyeon-ah?”

“Bodoh! Aku hanya asal bicara” Hakyeon melengos malas.

“Yakin? Matamu tidak bisa berbohong Hakyeon-ah” Hyo soo terus menuntut, tidak terima atas pelakuan Hakyeon.

“Tahu apa kau tentang mataku? Pria penyakitan sepertiku tidak pantas menyukaimu, aku hanya pasien berbau obat yang kau benci, apa kau mengerti?”akhirnya Hakyeon buka suara.

“Jangan bicara seperti itu!” Hyo soo berlari ke Hakyeon, menjatuhkan dirinya ke badan Hakyeon.

“Hyo soo kau…..” ragu Hakyeon mengangkat tangannya, tapi perlahan ia mulai mendekap gadis itu dalam pelukannya.

“Jangan bodoh! Kau pasti sembuh” Hyo soo memukul pelan dada Hakyeon.

“Gadis bodoh”

Ne aku memang bodoh karena sudah mencintai pria penyakitan sepertimu” akhirnya pengakuan itu rilis juga dari Hyo soo. Dia tidak bisa menyembunyikan lagi perasaannya. Dibalik perjanjian bodoh yang mereka lakukan, taburan benih cinta itu bersemi indah, sayang semak keegoisan menutupinya. Hingga hari ini tiba, hari dimana benih itu mencuat dan mengembangkan bunga blossom yang tumbuh di tengah semak belukar itu. Hakyeon tersentak mendengar pengakuan Hyo soo. Pelan yeoja ini membuka pelukannya, menatap Hakyeon dengan tatapan nanar. Berharap Hakyeon akan mengatakan kepergiannya hanya april mop.

“Bodoh, kau memang bodoh! Sudahlah! Mulai besok bawa kalung ini untuk menjagamu masuk ke dalam rumah sakit, percayalah pada cahaya bintang dari kalung ini, mereka pasti membantumu, arasso?” Hyo soo tidak menjawab. Tak rela berpisah membuatnya pelik menatap tiap lekuk wajah Hakyeon. Wajah tirus dengan tulang pipi bulat ini sudah menawan sejak pertama kali mereka bertemu.

“Hakyeon-ah, jujur padaku kenapa kau mengatakan ingin menikah denganku?” Hyo soo meremas kerah piyama Hakyeon. Meremas dengan penuh ketidak pastian. Benarkah ia akan pergi?

“Karena kau bodoh” itukah alasan yang dijadikan Hakyeon mengucapkan permintaan gila itu? Tentu saja Hyo soo tidak tahu kebenaran jawabannya. Ia tak mampu berpikir karena Hakyeon tiba-tiba menarik Hyo soo lalu mengecup bibir manisnya. Akhirnya Hyo soo dapat merasakan bibir kering Hakyeon mengecup bibirnya. Walau ini bukan ciuman yang menggairahkan tapi terasa manis bagi Hyo soo.

“Jika ini mimpi, jangan biarkan aku bangun!” lirih Hyo soo dalam hatinya. Terlupakan sudah semua rencana yang ia susun rapi untuk mencuri skor dari perjanjian april mop.

*****

            Hyo soo duduk terdiam di meja riasnya, memandang kaku pada kalung pemberian Hakyeon. Benarkah kalung ini bisa membantu Hyo soo mengatasi traumaticnya? sekelebat bayangan Hakyeon bermain dalam pikirannya. Membuka ingatan kecupan manis yang masih terasa hangat di bibir Hyo soo. Kesedihan itu ada tapi sekuat tenaga Hyo soo menepisnya. Ini hanya skenario Hakyeon, begitulah Hyo soo menegaskan pada hati kecilnya.

“Kau pasti bohong, kau kira aku bodoh bisa kau perdaya lagi. Besok tepat 1 april, hari april mop yang sebenarnya. Pasti ini hanya tipuanmu untuk memenangkan perjanjian ini, aku tidak akan percaya Hakyeon-ah, aku tidak akan tertipu lagi. Akan kubuktikan perkataanmu besok, aku akan memukulmu jika kau berbohong” Hyo soo bicara pada dirinya sendiri melalui kaca rias. Tekadnya dibulatkan untuk menghilangkan kekhawatiran kebenaran perkataan Hakyeon. “Hakyeon-ah kau pasti berbohong, kau tidak boleh pergi, jangan pergi! aku mohon!”sedetik kemudian Hyo soo meneteskan air mata, ketakutan akan kepergian Hakyeon menyeruak dan tak terkendali. Hyo soo harap malam ini waktu berjalan lambat agar sang fajar terlambat datang.

*****

            Ada tekanan batin saat Hyo soo berdiri sekitar 2 meter dari rumah sakit. Dari sini dia sudah membayangkan ketakutannya sendiri. Bau obat, ambulance, infus, ah semuanya terdengar menakutkan bagi Hyo soo. Tapi keterpaksaan membuatnya harus melakukan ini. Dia mengigit bibir berulang-ulang kali, mengatur naik turun tekanan darah dan pasokan udara di paru-parunya.

“Semua akan baik-baik saja Hyo soo” Hyo soo meredakan degupan jantungnya yang tak teratur. Sebelum mulai melangkah, Hyo soo mengelus kalung pemberian Hakyeon yang ia kenakan. Sihir apapun itu yang ada dalam kalung ini Hyo soo harap bisa memberikannya efek nyata dia bisa terbebas dari traumanya.

Berat ketika Hyo soo mengangkat kaki kanannya beranjak pergi dari tempatnya sekarang. Seperti terikat rantai dengan beban berkilo kilo, Hyo soo melangkah tertatih dan penuh kekhawatiran. Saat Hyo soo menampakkan kaki pertama kali masuk melewati pintu utama, tidak ada yang aneh, sejauh ini baik-baik saja. Hyo soo tertegun melihat pemandangan rumah sakit yang selama ini menakutkan baginya. Suster, pasien, pengunjung, semuanya tampak biasa saja. Masih belum yakin dengan penglihatannya, Hyo soo menutup mata. Dia hanya ingin meyakinkan apa yang ia lihat benar. Setelah beberapa saat, ia membuka mata kembali, masih sama, semuanya terlihat sama.

“Apa kalung ini sudah mulai memberikan efeknya?” sekali lagi Hyo soo mengelus liontin kalung itu. Memandanginya sejenak. Sinar permatanya tampak berkilau dan bersih. “Apa benar kau sudah menghapus ketakutanku selama ini? Apa yang Hakyeon letakkan didalam kalung ini? Sihir? Mantra? Katakanlah!” bisik Hyo soo seorang diri. Dilihatnya sekali lagi sekelilingnya. Benar ketakutannya tidak ada lagi. Perkataan Hakyeon benar, kalung ini menghilangkan ketakutan Hyo soo selama ini. “Sugesti yang baik sekali Hakyeon-ah” Hyo soo tersenyum kegirangan. Trauma yang menakutkan itu lenyap hanya karena sebuah kalung.

Hyo soo masih tahan berdiri di dekat pintu utama, mengamati aktivitas orang yang lalu lalang di hadapannya, dia menikmati dan menyukainya. Sampai nama dokter Kim mengusiknya. Hyo soo harus menemuinya untuk meminta lanjutan file yang ia perlukan. Agak kikuk saat Hyo soo beranjak menemui para resepsionist yang sibuk menunduk dengan banyak lembaran di sampingnya.

“Permisi, saya mencari dokter Kim. Bisakah saya bertemu dengannya” salah satu resepsionist yang memiliki dimple mengangkat wajahnya sembari tersenyum ramah.

“Ne mian, bisa saya bantu?”

“Saya mencari dokter Kim, dokter specialist saraf di rumah sakit ini, bisakah saya bertemu dengannya?”

Mian? Dokter Kim?” respsionist ini mengerutkan dahi, ada yang aneh baginya.

Ne, dokter Kim min jong?”

Mianhae, di rumah sakit ini tidak ada dokter specialist saraf bernama Kim min jong, sepertinya anda salah rumah sakit”

Geundae, teman saya mengatakan bahwa dia adalah dokter yang merawatnya”

“Mungkin teman anda salah”

Aniyo, dia salah satu pasien disini”

“Nona silahkan dicek kembali, rumah sakit kami hanya memiliki satu dokter specialist saraf dan itu bukan dokter Kim min jong, anda bisa mengecek berkas rumah sakit kami”

“Hakyeon tidak mungkin berbohong, dia sudah memberiku beberapa file mengenai dokter Kim”

Jankkaman Hakyeon?” resepsionist yang mengenakan seragam merah muda ini tergagap.

Ne Cha Hakyeon, dia pasien disini sekaligus orang yang memberikan informasi mengenai dokter Kim”

Mianhae nona, dokter specialist saraf disini memang bukan Kim min jong melainkan Cha Hakyeon. Dokter Hakyeon memang dirawat dirumah sakit ini sejak 3 bulan yang lalu, dia menderita kanker otak dan koma hampir 1 bulan” dengan hati-hati sang resepsionist memberikan penjelasan yang sesungguhnya sangat sulit untuk dinalar bagi Hyo soo.

“Penjelasan macam apa ini? Ada berapa nama Cha Hakyeon di Seoul sampai anda bisa menyimpulkan seperti itu? Anda juga mengatakan Hakyeon koma? Tidak mungkin? Baru semalam aku bertemu dengannya? Anda lihat kalung ini? ini pemberiannya. Anda pasti bohong” wajah Hyo soo ditekuk berlipat lipat mendengar penjelasan sang respsionist.

“Nona anda bisa mengecek berkas rumah sakit kami, saya akan membantu anda untuk menunjukkannya”

Aniyo, ini tidak benar. Hakyeon tidak mungkin berbohong mengenai dokter Kim. Aniyo. Hakyeon yang kukenal bukan pasien yang terbaring koma, Aniyo” Hyo soo menggelengkan kepala seraya melangkah mundur meninggalkan sang resepsionist yang ikut kebingungan. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tidak mungkin selama ini Hyo soo berkhayal tentang Hakyeon. Dia nyata, bahkan Hyo soo sangat yakin saat memeluk, menyentuh dan menciumnya semalam. “Dia pasti bohong, resepsionist itu pasti bohong, sekarang april mop, dia bohong, ya pasti, Hakyeon yang menyuruhnya” seperti gila dengan tebakannya sendiri, membuat Hyo soo menggigil ketakutan. Keadaan Hyo soo melemah. Keringat dingin mengucur deras di pelipis hingga jatuh di tulang rahangnya. Jari jemarinya mengatup di ujung bibir, desahan nafasnya memburu tak normal. Yeoja bermarga Han ini terduduk dengan sendirinya di kursi tunggu lobi rumah sakit. Duduk termenung seraya memburu ingatannya tentang Hakyeon. Wajah pucatnya, suara seksinya dan sentuhannya sangat nyata. “Jika Hakyeon benar dokter Kim, kenapa dia harus berbohong tentang identitasnya? Hakyeon-ah siapa kau sebenarnya? Hantu?” kekuatan yang Hyo soo dapatkan beberapa saat lalu sirna diterpa pemikiran tentang Hakyeon.

Kepala Hyo soo mulai pening akibat dipaksa berpikir. Mungkin sarafnya sudah lelah berpilin satu sama lain untuk mengantarkan perintah sensoris berupa ingatan tentang Hakyeon. Terpaksa Hyo soo memejamkan mata, merileksasikan sejenak pikiran dan psikisnya. Di alam bawah sadar tempat Hyo soo beristirahat tersirat cepat gambaran kecelakaan yang menimpanya sehingga menyebabkan ia koma. Hyo soo memang koma, tapi sesungguhnya dia dapat mendengar suara dan melihat orang di sekitarnya, akan tetapi ia tidak dapat mengeluarkan suara ataupun menggerakan anggota tubuhnya. Kala itu, Hyo soo yakin dia sering sekali mendengar seseorang berbisik padanya. Raut wajah orang itu tampak samar di bawah alam sadarnya, tertutup kabut putih nan tebal. Hyo soo menepis kabut itu, masih tak terlihat, ditepisnya sekali lagi, buram, belum jelas sosok orang itu. Lagi Hyo soo menepis kabut itu, kabut itu menguap dan memudar. Berganti dengan pemandangan seorang pria berperawakan tinggi mengenakan jas putih dan kemeja abu-abu. Auranya menunjukkan dia seorang dokter dengan tangan yang diselipkan dalam saku. Tak butuh waktu lama bagi Hyo soo dapat mengenalinya. “Hakyeon-ah” lirih Hyo soo.

*Beberapa bulan yang lalu….

Seorang korban kecelakaan berjenis kelamin wanita dilarikan ke rumah sakit Daehanjong. Dia terluka parah pada bagian kepala dan dada. Kepala mengalami gegar otak berat serta tulang rusuk patah akibat terhantam kemudi. Beberapa ruas tulang rusuk menekuk kedalam hingga menghimpit paru-paru dan jantung. Selain itu sang pasien juga menderita pendarahan hebat pada bagian kepala dan hidung. Hakyeon selaku dokter specialist saraf turun tangan menangani pasien kritis ini. Operasi dilakukan dengan cepat, pengembalian bentuk tulang rusuk, operasi gegar otak serta penghentian pendarahan. Operasi berhasil walau keadaan pasien harus koma. Semua pihak medis sudah bekerja secara maksimal, ini adalah kerja terbaik yang mereka hasilkan.

“Kuatlah! Kau pasti bisa melewatinya!” digenggam lembut tangan sang pasien oleh dokter yang baru bekerja dirumah sakit ini selama 3 bulan. Pendarahan di otaknya memang parah. Otak kanan dan kirinya tergores menyebabkan kinerja saraf simpatik dan sensoris terganggu. Keadaan tersebut menyebabkan ia tidak bisa menggerakkan pita suara serta anggota tubuhnya.

Sejak turun sebagai dokter yang menangani pasien ini, Hakyeon memberikan perhatian lebih padanya. Dari mulai cek keadaan pasien setiap 1 jam sekali sampai pemberian teraphy. Awalnya hubungan mereka berjalan seperti dosen dan pasien pada umumnya, tidak pernah diantara mereka melakukan interaksi privasi tapi kontak batin diantara mereka tidak dapat terelakkan. Sejak Hakyeon sering memberikannya teraphy kejiwaan keadaan pasien yang diketahui bernama Hyo soo ini membaik. Kemajuan yang dia tunjukkan bermula dari pergerakan menutup dan membukanya kelopak mata kemudian denyut jantung yang menguat. Teraphy yang Hakyeon berikan cukup ringan, setiap hari ia menyempatkan diri untuk mengajaknya bicara ataupun tertawa. Sering juga Hakyeon menggodanya dengan mencubit pipi atau hidungnya. Memang tidak ada respon dari Hyo soo, tapi inilah terapy kejiwaan.

Suatu malam yang dingin, Hakyeon uring-uringan di ruangannya. Pekerjaan terlalu menumpuk dengan tumpukan kertas analisis pasien tersebar di sekitarnya. Bosan menghampirinya, diputuskan untuk mengusir rasa itu dengan mengunjungi Hyo soo di ruang ICU. Saat memasuki ruangan Hakyeon memelankan hentakan dari sepatu hitam yang ia kenakan. Tak ingin menganggu ketenangan Hyo soo. Yeoja ini tertidur rupanya, Hakyeon suka sekali melihatnya tertidur. Dia suka memperhatikan wajah damainya.

“Kau sangat cantik” puji Hakyeon tersipu malu. Kekagumannya terhadap Hyo soo datang dengan sendirinya, tidak direkayasa dan tidak direncanakan. “Ketika kau sadar nanti, pasti kau akan lebih cantik” Hakyeon menggoreskan senyum di bibir merah mudanya. Tak ayal seorang dokter muda seperti Hakyeon menjadi incaran banyak wanita cantik, tapi dia malah memilih seorang pasien koma yang Hakyeon tidak ketahui identitas pastinya.

Setelah sang suster menuliskan hasil pemeriksaan tekanan darah, denyut jantung, serta pemeriksaan organ tubuh, dia segera pergi meninggalkan Hakyeon seorang diri. Waktunya teraphy. “Kau dapat melihat ini?” Hakyeon memamerkan seuntai kalung perak berliontin bintang. Kilaunya menyilaukan bagi siapapun yang melihatnya. “Peganglah!” Hakyeon meraih tangan Hyo soo, meletakkan kalung tersebut dalam telapak tangannya. Jari jemari Hyo soo sengaja Hakyeon gerakkan untuk menggenggam kalung yang diberi nama Starlight. “Sekarang kalung itu akan menjagamu. Percayalah cahaya bintang dari kalung itu akan menjagamu setiap saat. Dia akan menuntunmu keluar dari masa komamu. Ketika kau sadar nanti, aku akan memberikan kalung ini padamu, sekarang genggamlah terlebih dahulu!” Hakyeon tersipu malu. Selalu seperti ini, tak ada respon dari Hyo soo, tak masalah bagi Hakyeon. Dokter muda ini menidurkan wajahnya di samping Hyo soo lalu mengelus punggung tangan Hyo soo yang lain. “Aku akan menunggu sampai kau sadar, sejak pertama melihatmu aku tidak dapat menolak perasaan ini. Kau mengerti maksudku? Aku bukan laki-laki yang pintar mengutarakan kata-kata, tapi aku berjanji ketika kau sadar nanti, aku akan mengatakan semua yang aku rasakan. Bahkan ketika penyakit yang aku derita mengantarkanku pada masa sepertimu, maka rohku yang akan menemuimu. Saat itu aku tidak akan memberitahukan identitas asliku, kau harus mencari dan menemukan siapa aku sebenarnya. Aku yakin Tuhan sudah menggariskan takdir untuk kita bersama. Lucu memang mengatakan kata-kata lancang di atas, aku tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi? Aku tidak mengenalmu, aku tidak pernah melihatmu dan berbicara denganmu sebelumnya, tapi hati kecilku mengatakan kau takdirku, kau yang selama ini aku cari. Matamu yang mengantarkanku pada pilihan ini. Cepatlah sadar! Aku menunggumu” Hakyeon mengangkat kepalanya, menatap Hyo soo sendu lalu mencium keningnya lekat. “Bangunlah, aku menunggumu! Aku akan terus menunggumu untuk kujadikan calon mempelaiku. Janji kau akan mencariku dan mencitaiku kelak?” Diraih kelingking Hyo soo kemudian dikaitkan dengan kelingking Hakyeon. Janji sudah disetujui oleh dua pihak. Tak ada respon dari Hyo soo, dia tetap menatap kosong ke depan.

Sayang pertemuan mereka tidak seperti yang Hakyeon inginkan. Sebelum Hyo soo sadar Hakyeon jatuh sakit. Kanker otak yang dideritanya ternyata sudah memasuki stadium 3. Berakhirlah laki-laki itu diranjang rumah sakit dengan keadaan koma. Pertama kali Hyo soo membuka mata, tak ada nama Hakyeon dalam pikirannya. Mungkin benar yang Hakyeon katakan, rohnya yang akan menemui Hyo soo. Takdir Tuhan akan mempertemukan mereka di tempat yang tak terduga dan dengan cara yang tidak direncanakan.

*****

Hyo soo tersentak kaget. Dia membuka mata dengan keringat dingin yang bercucuran. Bibirnya sedikit terbuka, membuang karbondioksida yang berlebihan diproduksi oleh paru-paru. Sekarang dia mampu mengingat perkataan Hakyeon dan siapa Hakyeon sebenarnya. Mungkinkah ini takdir Tuhan yang tertuliskan untuk mereka?

“Jadi itu kau…..” Hyo soo tertunduk lesu hingga teriakan seorang suster mengagetkannya. Dia memanggil salah satu suster jaga yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat Hyo soo duduk.

“Hae jung-ah cepat carikan pasokan sample darah A, dokter Hakyeon sedang kritis, palli!” kedua suster ini larut dalam kepanikannya. Sang suster jagapun segera beralih keruang penyimpanan darah sedangkan suster yang tadi berteriak berlari ke arah utara. Kosong sudah kekuatan Hyo soo mendengar keadaan Hakyeon kritis. Bayangan Hakyeon kembali bermain dalam pikirannya. Hyo soo tak bisa tinggal diam begini, diputuskan ia mengikuti arah suster berlari. Ia harap suster tersebut berlari ke kamar Hakyeon. Entah darimana Hyo soo mendapatkan kekuatan untuk berlari, mungkin kalung pemberian Hakyeon yang memberikannya. Tidak peduli setelah berlari Hyo soo pingsan karena kekurangan cairan, yang terpenting bertemu dengan HAKYEON, dia yang Hyo soo pikirkan.

Benar sang suster berhenti di ruang nomer 321. Hyo soo tidak dapat mengikuti sang suster masuk ke dalam tapi ia berhasil mengintip ke dalam ruangan tersebut. Samar di dalam sana Hakyeon tergeletak lemah dengan tabung oksigen di wajahnya. Alat pendeteksi jantung berbunyi nyaring tapi denyut lemah. Selama mengenal Hakyeon Hyo soo memang tidak pernah tahu ia menderita kanker otak. Pintu tertutup rapat, Hyo soo tidak bisa disana untuk memegangi tangan Hakyeon seperti yang ia lakukan pada Hyo soo. Tinggal Hyo soo seorang diri di luar dengan jiwa yang tak menentu. Belum beberapa saat pintu tertutup sebuah teriakan terdengar memanggil Hakyeon. Jiwa Hyo soo tersentak kembali, apa yang terjadi di dalam? Hyo soo menggedor gedor pintunya, sang dokter keluar terlebih dahulu disusul kemudian sang suster. Mereka memasang wajah lesu, apa yang sebenarnya terjadi? Hyo soo menerobos masuk dan mendapati salah satu suster menutupkan selimut ke wajah Hakyeon. Hakyeon meninggal? Tidak mungkin.

Seorang wanita paruh baya menangis histeris. Memeluk tubuh Hakyeon erat, mengguncang badan Hakyeon keras. Beberapa orang di samping wanita ini memeganginya agar menjauh dari Hakyeon. Hyo soo terdiam di tempatnya, memandang Hakyeon dengan tatapan kosong, tidak ada air mata mengalir.

“Kenapa kalian menangis? Hakyeon hanya menipu kita? Hari ini april mop, apa kalian tidak tahu itu. Aku sudah berkali kali di tipunya. Jangan percaya padanya! Sebentar lagi dia akan bangun dan tersenyum pada kita” perkataan Hyo soo membuat tangis sang wanita terhenti, semua yang ada di ruangan itu menatap aneh pada Hyo soo. “Apa anda ibu Hakyeon?” Hyo soo melangkahkah terseok seok.

Nuguseyo?” tanya wanita paruh baya ini.

“Han Hyo soo, saya Han Hyo soo. Apa anda melihat kalung ini? Semalam Hakyeon memberikannya, kalung yang cantik bukan? Hakyeon-ah, dia tidak mungkin meninggal. Dia hanya menipu kita” Hyo soo menegaskan kata-katanya sembari menyeringai menakutkan. Dibukanya penutup wajah Hakyeon. Dokter itu sudah menutup mata dengan tenang. Raut wajahnya bersih dengan sedikit senyum tersungging. Tidak ada hembusan nafas lagi. “Hakyeon-ah aku datang, ayo bangun, aku tidak suka leluconmu, Bangunlah! Ini tidak lucu” hening, Hyo soo bersungut sungut Hakyeon tidak menggubrisnya. Hyo soo sadarlah Hakyeon sudah tiada. Bukannya sadar dan menerima kenyataan, Hyo soo malah tertawa keras “Bodoh! Kenapa kau tidak menjawab Hakyeon-ah! Bangunlah! Aku mohon! Kau tidak boleh seperti ini! Ini tidak adil” Hyo soo berteriak sekencang-kencangnya. Tidak perduli mereka yang ada dalam ruangan ini menatap Hyo soo gila.

“Hentikan, Hakyeon sudah pergi, sadarlah!” seorang gadis dengan wajah keibuan membentak Hyo soo.

Aniyo, dia tidak boleh pergi, aniyo, dia masih mempunyai janji untuk menikahiku, aniyo, aniyo” kenyataan pahit yang harus Hyo soo telan habis ternyata membuatnya hilang kendali. Masih dengan langkah seoknya dia melangkah mundur, menjauhi Hakyeon. Kaki jenjang yang biasa mengenakan sepatu kets ini tak sanggup lagi menopang tubuh yang sudah rapuh akibat diterpa shock berkelanjutan. Hyo soo jatuh terduduk, tersungkur di dekat ranjang. “Pantas malam itu kau tidak kedinginan karena kau roh, seonggok roh yang datang menepati janjinya pada pasien koma yang ia sukai. Hakyeon bodoh! Lebih baik kau tidak pernah datang padaku, lebih baik tidak kau ikuti takdir Tuhan kalau kau hanya akan pergi seperti ini. Padahal di hati kecilku berharap kau yang memenangkan perjanjian bodoh ini dan menikahiku, bodoh! Hakyeon bodoh!” tidak ada gunanya bagi Hyo soo menangis, Hakyeon tidak akan kembali. Tapi sesak didadanya terlalu sakit jika tidak diuraikan sebagian dalam tetesan air mata. Pelupuk mata itu akhirnya basah dengan aliran air mata yang menetes dengan deras. “Kalau tahu kau akan pergi, akan kubiarkan kau menang sejak awal, agar kau segera menikahiku, kau mendengarnya Hakyeon-ah?” deru tangis Hyo soo pecah.

“Ne, aku mendengarnya” bisik Hakyeon yang berdiri di samping Hyo soo. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengelus rambut yeoja yang disayangnya. Sedetik kemudian dia mencium pipi Hyo soo dan mengantarkan gadis ini pada tatapan yang gelap. Badan Hyo soo ambruk, ia pingsan dan tak sadarkan diri.

Jika waktu mengizinkanku memutar waktu…

Maka aku akan memilih untuk mengaitkan kelingking kita berdua dalam janji pertemuan abadi nan kekal..

The End

Iklan

6 pemikiran pada “April Mop (2/2)

  1. KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA EOOONNIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
    hakyeon…. ANDWEEEEEEEEEEEEE AAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH 😥
    wae?wae?WAE? hiks hakyeon hiks hiks 😥

    april mop yg tragis 😦
    nglihat orang koma n kritis tu bikin hati sesek , ngingetin q ma ibu dulu. 😥
    hakyeon, sekali lagi mengingatkan q ma kisah ku (cieh kisahku lagi. mian eoni -_- ) hakyeon sama ma ibu q dulu. koma, kritis, n akhirnya meninggal. hari paling menyedihkan buat q. 😥

    ada apa ini? ada apa dengan ff ini? wae?? 😥

    tapi keren eon ff e. ff eonni tu selalu bikin q ngrasa gimanaaaaaaaa gt, yg kaktus lah, yg ini juga. okay q makin ngefans eonni. >.<

  2. Eonni pasti selalu bagus buat FF nya ^^ aku suka~~~~
    Keren ^^ waktu hakyeon meninggal, jadi keinget mantan *ciahhhh…
    Apalah aku ini 😂😂😂

    flashback 😄😄😄😂😂😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s