April Mop (1/2)

11657425_830054477080203_1519310413_n

Saengil Chukka Hamnida, Saengil Chukka Hamnida, Sarang Hae Cha Hakyeon, Saengil Chukka Hamnida… wuuu~~ Saengil Chukkae Leader Cha Hakyeon.. Tambah sayang sama anak Vixx, tambah sayang sama starlight, tambah kompak, tambah sukses, sehat selalu dan tetap tersenyum^^..
Nah Nah, berhubung hari ini ultah leader Cha Hakyeon yang rempong tapi seksi ini, si author menghadiahkan si emak (N) sebuah FF, ya walaupun emak gak baca tapi setidaknya bisa jadi hiburan buat para Starlight.. Mian apabila ceritanya geje dan ngawur.. kekeke~~ Oke cekidot, jangan lupa  saran dan kritiknya ya, gomawooo….

Big Thanks buat Ravienne Artwork atas cover FFnya yang selalu kece, I love u all…
See and cekidot >>>>


Author : Vixme

Title    : April Mop Part 1

Genre  : Sad Romance

Cast     :

  • Cha Hakyeon
  • Han Hyo Soo

Aku dapat melihatnya jelas

Aku dapat menyentuhnya

Aku dapat memeluknya

Aku dapat menciumnya

Tapi dapatkah aku mencintainya?

Dia~~~

 

“Aku benci suara sirine ambulance, aku benci rumah sakit, aku benci bau obat, aku benci darah, aku benci semuanya” Hyo soo berkomat kamit sendiri seraya memejamkan mata. Sebuah ambulance melintas cepat, samar suara sirine menembus gendang pendengaran Hyo soo. Tangan Hyo soo bergerak cepat menutup telinganya “Cepatlah pergi, cepatlah!” Hyo soo menghentakkan kaki berulang ulang kali, berusaha menghilangkan rasa takut. Perlahan suara mengerikan itu semakin lirih terdengar dan akhirnya menghilang, Hyo soo bisa bernafas lega sekarang. “Huaaaaaa, yakkk” Hyo soo berteriak histeris ketika membuka mata malah mendapati seseorang berdiri tepat di hadapannya. Bahkan jarak wajah mereka sangat dekat, hanya 30cm. Hyo soo menjauhkan diri dengan mundur beberapa langkah, detak jantungnya meningkat dalam hitungan detik. Tangan Hyo soo meremas gatal ujung kaos yang ia kenakan, “Nuguseyo?” tanya Hyo soo memberanikan diri. Keringat dingin jatuh membasahi pelipis gadis berambut sebahu ini.

Dia seorang laki-laki dengan rambut hitam legam, rahang tirus dan tulang pipi bulat. Ia terlihat tampan walau dibalut dengan wajah pucat pasi. Badannya yang kurus mengenakan piyama rumah sakit. Laki-laki berkulit agak gelap ini tidak langsung menjawab pertanyaan Hyo soo melainkan menyinggungkan senyumnya terlebih dahulu. “Nuguseyo?” tanya Hyo soo sekali lagi, nada suaranya meninggi satu not. Dia masih tidak menjawab, melainkan kembali tersenyum lalu melangkah mendekati Hyo soo yang mengigil ketakutan “Apa dia hantu? Benarkah dia hantu?” bisik Hyo soo dalam hatinya. Laki-laki ini terus mendekat, tidak ada pilihan lain bagi Hyo soo selain ikut mundur walau jalan dibelakangnya sudah buntu. Habis sudah jalan Hyo soo, ia tersudut, tidak bisa melangkah mundur lagi. Laki-laki ini melebarkan senyum bahagia mendapati Hyo soo mati langkah. “Yak, apa maumu?” bentak Hyo soo ketakutan. Suara Hyo soo berhasil menghentikan langkahnya. Jika Hyo soo tidak segera ambil tindakan, maka jarak mereka akan semakin dekat, sangat dekat hingga Hyo soo dapat mencium bau obat yang menyelimuti badan laki-laki ini. Ah ia tidak putus asa, dia mulai berjalan kembali mendekati Hyo soo. Tiba-tiba dia mencodongkan badannya ke arah Hyo soo,membiarkan wajah mereka saling bertemu dengan intensif. Sontak Hyo soo gugup dan memilih memalingkan muka, menghindari tatapannya. Desah nafas laki-laki ini membelai pipi Hyo soo lembut, membuat libidonya menegang. Bau obat ikut menyela di tengah volume libido Hyo soo yang meningkat. “Aku benci bau obat” gerutu Hyo soo sendiri.

“Kau cantik sekali” bisiknya lembut. Hyo soo memberanikan diri meliriknya diam-diam. Laki-laki yang Hyo soo tidak ketahui identitasnya ini menarik badannya tegak “Apa kau takut padaku? Aku bukan hantu” kata-katanya membuat Hyo soo tertarik untuk memberanikan diri lebih jauh menatapnya. Laki-laki ini menarik senyum di bibirnya yang pucat. Tak dapat dipungkiri senyumnya menarik.

Nuguseyo?” tanya Hyo soo malu-malu.

“Hakyeon-ah, Cha Hakyeon. Kau, Han Hyo soo? Sudah lama aku menunggu. Maukah kau menikah denganku?” Pertanyaan gila. Hyo soo membelalakkan mata, mengerjap beberapa kali, tercengang dan tidak percaya dengan perkataan yang dilontarkan laki-laki ini.

“Hakyeon-ah? Kau gila?” sinis Hyo soo. Bagaimana bisa laki-laki ini mengajak Hyo soo menikah? Padahal mereka belum mengenal satu sama lain, bertemupun baru sekarang. Hyo soo rasa pria ini salah satu pasien rumah sakit jiwa.

“Aku memang gila karenamu, setiap hari aku memperhatikanmu, kau tahu aku sangat mencintaimu. Maukah kau menjadi istriku?” matanya berkaca-kaca, Hyo soo tak percaya ia bisa mengatakan sederet kata-kata rayuan tadi. Hakyeon kembali mendekat, tidak ingin kecolongan lagi Hyo soo membuat benteng pertahanan dengan menyilangkan kedua tangan tepat di hadapannya.

“Jangan mendekat!” cegah Hyo soo. Tiada guna, Hakyeon tidak akan berhenti sampai disini. Dia kembali mecondongkan badannya, meniupkan nafas di daerah rahang hingga telinga Hyo soo. Bulu kuduk Hyo soo berdiri, bibirnya tiba-tiba terasa gatal disertai dengan badannya yang menegang. Yeoja ini mengumpat dalam hati “Damn! Apa ini? Kenapa aku diam seperti ini?” benteng pertahanan tadi runtuh dalam hitungan persekon detik. Hakyeon berhasil mengantarkan Hyo soo dalam dunia nafsunya. Tidak ada yang bisa Hyo soo lakukan, badannya kaku dalam lingkup desahan nafas Hakyeon. Jari jemarinya dipaksa bergerak tapi hanya berhasil sebatas meremas ujung kaos yang ia pakai.

“Sekali lagi aku mengatakan aku mencintaimu dan……..” Hakyeon berhenti sejenak seraya menarik nafasnya berat kemudian membisikkan lagi kata-kata……..

“Ah mwoya?” Hyo soo terhentak dari tidurnya. Hakyeon mengguncang badannya keras. Untuk kesekian kalinya Hyo soo tertidur di bawah pohon maple besar yang berdiri kokoh beribu-ribu tahun. Suasana pohon yang rindang disertai hembusan angin sepoi-sepoi berhasil mengantarkan Hyo soo dalam kenikmatan tidur siang.

“Dasar pemalas” gerutu Hakyeon. Dia menyodorkan beberapa kertas yang diminta Hyo soo. Kertas itu berupa file pribadi milik dokter Kim. Hyo soo minta pertolongan Hakyeon untuk mengambilkannya.

“Kau?” rona pipi Hyo soo memerah melihat Hakyeon berdiri di hadapannya. Kejadian memalukan di mimpinya memutar runtut tanpa terlupakan satu adeganpun.

Wae?” tanya Hakyeon aneh.

Aniyo, gomawo” ucap Hyo soo malu-malu. Disembunyikan wajahnya yang memerah, tak ingin Hakyeon mengetahuinya. Hyo soo kehilangan ketenangan dirinya, dia menjadi salah tingkah. Bahkan ketika merapikan rambutnya yang acak-acakan tangannya terlihat sedikit gemetar.

Geundae, tadi aku mendengar kau mengigau namaku, kau bermimpi tentangku?” Hakyeon mengerlingkan mata nakal.

“Ah aniyo” Hyo soo memutar mata, menjauh dari pandangan Hakyeon. Lidahnya terasa kelu untuk berbohong.

Jinjja? Padahal aku berharap kau memimpikanku” dasar Hakyeon, tiada hari tanpa menggoda Hyo soo. Persis sama seperti yang dilakukannya dalam mimpi Hyo soo, Hakyeon merendahkan badan, mendekatkan wajahnya dengan Hyo soo. Manik mata keduanya bertemu, nafas Hyo soo berhenti berhembus beberapa detik akibat terlalu konsentrasi dengan sorot mata Hakyeon. Hyo soo tidak pernah sadar Hakyeon memiliki sorot mata yang tajam. “Hyo soo-ah” desah Hakyeon. Hal kedua yang Hyo soo tidak sadari adalah suara Hakyeon. Baru sekarang suaranya terdengar seksi ketika mendesahkan namanya. Hyo soo tidak peduli dengan bau obat yang menyela di antara mereka. Jari jemari Hyo soo berpegang kuat pada bangku putih yang tertata rapi di taman belakang rumah sakit. Rentetan kejadian dalam mimpinya terulang kembali. Dan lagi-lagi Hyo soo terdiam terpaku tanpa dapat menggerakkan badan. “Hyo soo-ah, kau…..” Hakyeon mendesah lagi membuat pegangan tangan Hyo soo menguat. Hakyeon memajukan wajahya kembali sehingga hidungnya membentur hidung Hyo soo. Yeoja ini terhentak tapi tidak berpaling, hanya menundukkan sorot matanya, berganti memandang rerumputan hijau yang di injak Hakyeon. Godaan Hakyeon tidak berhenti disitu, dia kembali mendekatkan wajahnya dengan Hyo soo, menangkup dagunya kemudian menariknya menghadap Hakyeon kembali untuk menyatukan sorot mata mereka. Di sisi inilah Hyo soo bagaikan mayat hidup yang merelakan diri dan pasrah dijamah oleh Hakyeon. Perlahan Hakyeon melirik kebawah hidung Hyo soo yaitu bibirnya yang merekah. Hakyeon harus bergerak pelan jika ingin menyentuhnya. Bak pungguk merindukan sang bulan, Hyo soo mengerti keinginan Hakyeon yang terbersit secara tersirat dari ekpresinya. Hyo soo menutup mata, bersiap untuk merasakan kecupan manis Hakyeon.

“Hei yak, kenapa kau menutup mata? APRIL MOP” bentak Hakyeon keras. Hyo soo tersadar. Dia mendorong Hakyeon keras menjauh darinya. Seketika pipinya semakin memerah akibat malu. Hakyeon tertawa keras, menang telak sudah berhasil memperdaya Hyo soo.

“Aigoo, lihatlah pipimu yang merah, kau pasti tertipu. Kau pikir aku mau menciummu, gadis bodoh. Yes, skor kita sama 2-2” Hakyeon memamerkan jarinya yang membentuk huruf V. Hyo soo mengerucutkan bibir, tidak suka dengan cara Hakyeon menggodanya.

“Kau pikir lucu?” Hyo soo marah.

“Aku tidak peduli, perjanjian tetap perjanjian. Waktumu tinggal 2 hari lagi, jika kau tidak berhasil memperdayaku maka kau harus siap menikah denganku” Hakyeon mencibir, mengulurkan lidah kemudian membalikkan badan, melambaikan tangan dari kejauhan seraya memamerkan senyum kemenangannya. Hyo soo mendengus kesal, tidak terima dia sudah berhasil ditipu Hakyeon.

“Ini gara-gara mimpi itu, aishh” geram Hyo soo.

“Hyo soo-ah datanglah besok malam di bawah pohon maple, aku ingin memberimu sesuatu” teriak Hakyeon dari kejauhan. Hyo soo melengos tidak peduli.

Aniyo, ish laki-laki gila” teriak Hyo soo tegas. “Hyo-soo pabo-ya” runtuk Hyo soo.

*****

Hyo soo membanting kertas yang diberikan Hakyeon tadi. Yeoja bertubuh mungil ini membuang badannya di sofa. Dia masih kesal dengan sikap Hakyeon. Tidak pernah dia sekesal ini, mungkin gara-gara hatinya yang menderu keras dan berharap Hakyeon benar-benar menciumnya bukan memperdayanya akibat perjanjian bodoh yang mereka lakukan beberapa minggu yang lalu. Kala itu mereka bertemu pertama kali di belakang rumah sakit, disaat Hyo soo menangis tersedu sedu. Hakyeon yang kala itu tidak sengaja mendengar tangisan Hyo soo segera menghampirinya.

“Hei kenapa kau menangis sekencang ini? Apa keluargamu ada yang meninggal?” tanya Hakyeon halus. Hyo soo mengangkat wajahnya dari lipatan lutut yang ia tekuk untuk menutupi aliran air matanya.

“Bukan urusanmu” jawab Hyo soo cuek.

“Jika itu bukan urusanku, maka mulai sekarang akan menjadi urusanku”

Mwo?” Hyo soo membelalakkan mata mendengar perkataan Hakyeon. Dahinya mengernyit tidak mengerti.

Sebuah paper mengenai profil seorang dokter specialist saraf di rumah sakit Daehanjong harus Hyo soo kerjakan dalam 1 bulan sebagai syarat lulus dari mata kuliah anatomi manusia. Sudah kali ketiga dia tidak lulus, tahun ini adalah kali keempatnya dia mengambil mata kuliah ini, dia tidak boleh gagal lagi atau dia akan di DO dari kampus. Hyo soo membenci mata kuliah itu, karena mata kuliah ini menuntutnya untuk melakukan praktek kerja di rumah sakit. Beruntungnya sang dosen berbaik hati mengganti praktek kerja itu dengan paper profil tersebut. Tapi walau demikian, tetap saja paper ini menuntut Hyo soo harus kerumah sakit menemui dokter itu.

“Aish” geram Hyo soo kesal. Ia tidak suka dengan rumah sakit atau apapun yang ada sangkut pautnya dengan rumah sakit seperti ambulance dan obat. Rasa tidak sukanya bermula dari traumatik kecil yang ia dapatkan akibat kecelakaan hebat yang menimpanya. Sebuah truk menabrak mobil yang ia kemudikan. Syukur, keberuntungan masih bersamanya. Hyo soo selamat walau dia harus kritis dan koma selama 3 bulan.

Dengan tangan gemetar Hyo soo menyodorkan map bening hijau beserta beberapa file di dalamnya pada Hakyeon. Pria ini membukanya, membaca secara seksama, mengangguk anggukkan kepala seakan mengerti maksud dari tugas tersebut.

“Baiklah, ini sangat mudah bagiku. Dokter specialist saraf yang kau cari adalah dokter Kim, dia dokter yang merawatku” Hakyeon mengembalikan map tersebut pada Hyo soo. Tangan kirinya masuk ke dalam saku piyama rumah sakit yang ia kenakan.

Ne? jinjja? Jadi kau bisa membantuku kan?” Hyo soo bahagia sekarang. Dia bangun dari lipatan kaki jongkoknya, melonjak kegeringan

“Kenapa kau tidak masuk sendiri saja kerumah sakit untuk bertemu dengan dokter Kim?”

Aniyo, aku takut rumah sakit” jawab Hyo soo memelas.

“Ah Jinjja? wah kau gadis yang aneh”

Jebal! Bantu aku juseyo! Aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa, kalau aku gagal mengerjakan paper ini aku bisa dikeluarkan dari kampus, aku mohon, jeball!” Hyo soo menangkup telapak tangannya, memohon pada Hakyeon. Tak lekas dijawab pertanyaan Hyo soo, Hakyeon masih meneliti lekuk wajahnya. Ada beberapa hal yang harus ia yakini untuk menjawab permintaan Hyo soo.

Arasso, aku bisa membantumu, tapi……” Hakyeon menghentikan perkatannya,berganti dengan tatapan aneh yang ia lemparkan pada Hyo soo.

Ye?

“Kau harus membayar informasi yang aku berikan sebesar 500.000 won” Hakyeon tersenyum misterius.

Mwo? Kau gila” umpat Hyo soo kasar.

“Kalau kau tidak bisa, gwaenchana” tidak perlu banyak bicara Hakyeon langsung membalikkan badan dan pergi meninggalkan Hyo soo sendiri.

“Apa katanya? 500.000 won? Dia kira dia siapa? Laki-laki gila? Kau mau memerasku? Hei yakk” Hyo soo mendengus sebal. Bogem mentahnya melayang di udara, berpura pura seolah berani memukul laki-laki tadi. “Ottocke?” Hyo soo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan rupanya.

Tidak ada pilihan lain, Hyo soo harus lulus dari mata kuliah ini. Praktek kerja atau paper profil tersebut. Praktek kerja mengharuskannya setiap hari kerumah sakit selama 6 bulan, Hyo soo tidak mau melakukannya. Dia bisa pingsan dan menggigil ketakutan jika memaksa melaksanakannya. Kembali dia mendatangi pohon maple tempat ia bertemu dengan laki-laki yang kemarin menawarinya bantuan seharga 500.000 won. Benar dugaan Hyo soo, dia melihat laki-laki itu di bawah pohon maple yang lain sedang duduk menyindiri. Kesan pertama dan kedua Hyo soo melihatnya masih sama, seseorang dengan tubuh rungkih, muka pucat dan nafas berbau obat tapi memiliki senyum yang menawan. Hyo soo tidak mengerti apa yang membuat dia tertarik pada laki-laki penyakitan sepertinya.

“Permisi, kau benar-benar akan membantuku jika aku memberimu 500.000 won?” Di sana Hyo soo memelas, Hakyeon tersentak dari lamunannya mendengar suara seorang gadis di belakangnya. Wajah tirus Hakyeon menoleh. Hyo soo dapat melihat wajah pucat itu berselimut kebingungan, tersirat jelas di wajahnya.

“Nona, apa kau benar-benar bisa memberiku uang 500.000 won?” Hakyeon menaikkan alisnya sebelah. Meragukan Hyo soo.

“Jika aku tidak bisa memberimu uang 500.000 won, maukah kau menukar dengan sebuah perjanjian?”

“Perjanjian?”

“Ne, aku membayar jasamu membantuku dengan sebuah perjanjian”

“Perjanjian apa yang kau mau? Apa itu perjanjian yang menguntungkanku?” Hakyeon mulai tertarik dengan tawaran Hyo soo.

“Ah itu, em….” Hyo soo terdiam sejenak, memutar mata ke kanan dan ke kiri, mencari ide secepat kilat, dipaksa otaknya bekerja keras. “Bagaimana dengan perjanjian april mop?” meluncur begitu saja dari mulut Hyo soo. Dia tidak tahu penawaran yang ia tawarkan dapat menggiringnya ke hal-hal yang tidak di inginkan.

“Perjanjian april mop?” Hakyeon mengernyitkan dahi.

“Ye, aku sering melakukannya dengan temanku. Siapa yang bisa memperdaya lawan dengan tipuan april mop lebih banyak dalam waktu satu bulan maka dia pemenangnya, ottocke?

“Hah? Aneh sekali? Perjanjian april mop? Aku baru pertama kali mendengarnya? Lagipula sekarang belum bulan april, sekarang bulan maret, bisakah kau mengganti dengan perjanjian yang lebih wajar?”

“Aku tidak peduli. Hanya itu yang keluar dari otakku, jika kau menang kau bisa minta apa saja dariku, tapi jika aku yang menang aku tidak akan meminta apapun darimu, ottocke?” Hyo soo menarik nafas panjang.

“Wow, kau sangat pemberani. Kau yakin memberiku tawaran ini? Apa ini akan menguntungkanku?”

“Pikirkanlah hal yang menguntungkan dariku” jawab Hyo soo angkuh.

“Sebenarnya ini perjanjian yang bodoh, tapi aku tertarik untuk melakukannya. Karena aku yakin aku akan menang. So, jika aku menang, aku ingin kau….kau menikah denganku” dengan gamblang Hakyeon memberi permintaan gila.

Mwo?” Hyo soo membelalakkan matanya, tidak menyangka Hakyeon mengatakan permintaan yang begitu sulit. Air liur Hyo soo seketika tertahan di tenggorokan.

“Kau gila? Bahkan aku belum tahu namamu dan belum mengenalmu lebih dari 24 jam, seenaknya kau memintaku menikah. Siapa kau?”

“Ini hanya perjanjian kan? Kenapa kau begitu takut? Kau yakin kalah?”

Aniyo

“Ya atau tidak?” Hakyeon mengulurkan tangannya, meminta persertujuan Hyo soo. Hyo soo melengos sejenak, pilihan yang sulit tapi dia harus menjawab sekarang juga, setidaknya untuk paper dan kuliahnya.

“Baiklah” Hyo soo menerima uluran tangan Hakyeon, menjabat tangannya keras. Hakyeon tersenyum bahagia, berbeda dengan Hyo soo yang menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya.

“Aku Cha hakyeon”

“Aku Han Hyo soo”

*****

Hyo soo mengacak rambutnya berkali kali. Dia menghentakkan tangan ke kasur dan menendangkan kakinya pada bantal dan guling di sekitarnya. Dia kesal dengan dirinya sendiri. Hyo soo bodoh, mengapa dengan mudahnya dia membuat perjanjian bodoh itu.

“Bagaimana kalau Hakyeon yang menang? Aku tidak mau menikah dengan orang penyakitan sepertinya, ah ottocke? Kau bodoh Hyo soo mengapa meminta bantuan pada pria gila dan mesum sepertinya, aish jinjja? Kenapa juga aku menawarkan perjanjian bodoh seperti itu? Aish” Hyo soo membuang bantal ke arah meja rias. Nafasnya tersengal akibat tersulut oleh emosinya sendiri. “Aku harus mencari cara dan trik agar bisa memenangkan perjanjian bodoh ini, ayo berpikir Hyo soo, berpikir!” Hyo soo membenamkan kepalanya di bawah bantal, berusaha mencari ide di bawah balik bantal. “Tidak akan aku biarkan Hakyeon menang” bukan ide yang datang tapi ingatan tentang mimpinya dan tipuan Hakyeon tadi. Hyo soo histeris sekali lagi, dadanya ikut histeris dengan detak jantung yang tak normal “Ahhhhhhh” gerutu Hyo soo. Tubuhnya merengsek bangun, pelan dia berjalan terhuyung ke kaca, mengamati dirinya yang berantakan. “Hakyeon-ah kenapa kau lakukan itu? Yak? Ah ne, aku memang berharap kau menciumku, apa itu salah? Ah Hyo soo bodoh kenapa kau tidak mengaku saja kau menyukai Hakyeon, hei yak” Hyo soo mengguncang badannya, menampar pipinya sendiri dengan keras, membangunkan dari pikiran hitam. “Andwae Hyo soo, kau tidak boleh menyukai laki-laki penyakitan itu, andwae, jeongmal andwaeeee” tidak henti-hentinya Hyo soo mengacak rambut, mengguncang diri sendiri serta menampar pipinya. “Argghhhh” lengkingan teriakan Hyo soo terdengar hingga pintu utama ruang tamu.

*****

Keesokan malamnya Hyo soo kembali datang ke bawah pohon maple tempat mereka biasa bertemu. Dia menepati permintaan Hakyeon tempo hari untuk bertemu malam ini. Kedatangan Hyo soo malam ini bukan karena dia tertarik dengan pemberian Hakyeon, seperti yang sudah Hakyeon janjikan, melainkan untuk melancarkan aksi mengalahkan Hakyeon. Rencana sudah diatur serapi mungkin, Hyo soo yakin dia bisa mencuri skor malam ini.

“Hakyeon-ah kenapa kau tidak menggunakan jaket atau coat? Kau tidak kedinginan? Apa suster memperbolehkanmu keluar dalam keadaan cuaca dingin seperti ini? Jinjja gwaenchana?” Hyo soo tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya melihat wajah Hakyeon yang tampak semakin pucat, kelopak bibirnya juga terlihat kering. “Hakyeon-ah” tangan Hakyeon sangat dingin tatkala Hyo soo menyentuhnya. Hyo soo tidak peduli bau obat yang menyeruak menembus indra penciumannya, perhatian Hyo soo teralihkan sepenuhnya pada keadaaan fisik Hakyeon “Kau sangat dingin Hakyeon-ah, gwaenchana?” sigap Hyo soo membuka jaketnya hendak dikenakan pada Hakyeon tapi ia menolak.

“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir” ucapnya tenang. Hyo soo tahu Hakyeon tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dia tidak bakat berbohong, raut wajahnya berkata lain. Belum lama ia berbohong, mendadak tubuh Hakyeon yang berdiri tegak merengsek lemah, duduk berlutut di hadapan Hyo soo seraya memegangi pelipisnya. Dia pusing.

“Hakyeon-ah” pekik Hyo soo histeris. Hyo soo beranjak dari tempatnya, secepat mungkin ikut berlutut sejajar dengan Hakyeon. “Hakyeon-ah, gwaenchana?” nafas Hyo soo memburu, Hakyeon tidak menjawab, dia menunduk menahan sakit. “Hakyeon-ah, gwaenchana?” sekali lagi Hyo soo mengulang pertanyaanya. Kepanikan menguasai pikiran Hyo soo. “Hakyeon-ah apa sakit sekali? Lebih baik kau masuk ke kamarmu!” Tangan Hyo soo berkedut ketakutan memegangi bahu Hakyeon.

Aniyo” Hakyeon menahan Hyo soo.

“Tapi kau?”

“Aku baik-baik saja”

“Bohong”

Hakyeon kembali tidak menjawab. Dia memejamkan mata erat seperti sedang mengontrol kesakitannya, menarik nafas panjang seakan mengatur keluar masuk udara dalam paru-parunya. Terus begitu berulang-ulang sampai 5 menit . Hyo soo tidak tega melihat Hakyeon seperti ini. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain terus memperhatikan Hakyeon. Usaha Hakyeon nampaknya berhasil, dia membuka mata perlahan lalu memaksa tersenyum ke arah Hyo soo. Benarkah dia sudah membaik? Tentu saja tidak. Kedutan saraf di otak kecil masih ada, keseimbangan Hakyeon terganggu, bukan hal gampang bagi Hakyeon untuk menyatukan konsentrasi kembali. Hakyeon tahu Hyo soo sangat khawatir padanya, oleh karena itu sekuat tenaga Hakyeon mengukir senyum walau dia tidak yakin aktingnya meyakinkan.

“Lihat aku baik-baik saja! Uhuk!” Hakyeon terbatuk di tengah kepura-puraannya.

“Lebih baik kau istirahat Hakyeon-ah

“Aku baik-baik saja, aku hanya ingin memberikanmu ini” Hakyeon merogoh saku celana piyamanya. Mengambil barang yang ia persiapkan untuk Hyo soo. Sebuah barang yang sangat berarti bagi Hakyeon.

To be Continued.

Iklan

14 pemikiran pada “April Mop (1/2)

  1. Halahh,,,,, sad kan ujung2nya,,,,, kalo tak pikir nanti si hakyeon mati dehh -_-
    Hemehhhhhhh kalo gini kann bisaa baca dirumah wkwkwkwkkw hahahahahahah

  2. HUAAAAAAAAAAAAAA EONNIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII INI FF HUAAAAAAAAAAAAAA
    tuh kan tuh kan bikin q triak2 gaje lagi. ih eonni sih 😦

    btw, kenapa tbc pas gt?kenapa?wae?WAEEEEE? bikin q penasaran seperempat mati! huaaaa Oppaaaaaaaa 😥

    nb: ni cerita bner2 ngingetin q ma kisah ku (cieeeh kisah ku). kisah perjanjian ma seseorang dengan dapetin skor terbanyak biar menang. bedanya disini N minta menikah ma si cewe, klo q, dia minta first kiss q, andweeeee!! aaaaaaaargh bibir yg dah kujaga sepenuh hati. tidaaaaaaaaaak!!!

    okay, good job eon. lanjutannya jangan lama2 ya. q dah penasaran tingkat akut ma endingnya. moga happy ending.

  3. aku sih pertamanya juga gimanaaaa gitu eon. q awalnya juga gak mau,tapi karna permintaan q juga gak masuk akal, berat juga buat dia jadi akhirnya sama2 setuju. toh aku juga jarang kalah.

    tapi kayaknya dia terlalu semangat tanding ma aku. ntah karna dia tau tu first kiss ku ntah karna takut ma permintaan ku. dan akhirnya aku kalah hiks 😥

  4. hehehehe stres kan eon? q mikir tu ja stres sendiri.
    iya eonni, moga ntar pas hari perjanjiannya dia mau ngubah tu. diganti yg lain. q bakal usaha biar diganti.

  5. lagi seneng2 sma temen, pas lagi diem2an iseng2 baca ff yg katannya buat ultah N. kupikir happy ending~ secara ultah N gitu.. harusnya panjang umur.. ehh ini malah dibikin meninggal.. huuuuu T^T saya nangis kejer di kampus, untung lagi gak puasa.. penggambaran suasanannya real bgt.. connect bgt sama imajinasi ku, eonnie jjang~~

    • akhirnya saeng baca juga, hihihi..
      sebenrnya salah yah, update FF beginian di ultah N.. wakakaka..
      cup cup, jangan nangis lagi ya saeng *ini eon kasih permen..
      btw makasih udah baca dan coment yah^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s