She Is My Doraemon Girl [Part 2]

cover she is my doraemon girl

Author : Sevi Yoyoy
Cast :
– Kang Daesung BIGBANG
– Kwon Nara (OC)
– The Others
Point Of View : Kang Daesung
Lenght : Part


“Tidak!” sahut Nara langsung dan segera pergi tanpa pamit padaku. Aku kembali menghela nafas. Jiyong hyung menghampiriku, “kami pulang dulu. Salam untuk ibu dan kakakmu juga ayahmu. Semoga ayahmu cepat sembuh.” Aku mengangguk berterima kasih pada Jiyong hyung. Jiyong hyung pun berbalik dan segera menyusul adiknya yang sudah tak terlihat.


Aku tak bisa tidur mengingat sikap Nara tadi padaku. Gadis itu benar-benar membuatku merasa serba salah. Aku menolaknya untuk menemaniku di rumah sakit karena aku tidak mau dia jatuh sakit.

Aku memikirkan banyak hal jika ia harus menemaniku di sini. Dia harus tidur dimana? Di sofa? Aku tidak mungkin tega membiarkan Nara tidur di sofa. Bagaimana masalah jatah makannya? Bukan masalah jika aku harus mengeluarkan uang demi memberinya makan. Yang menjadi masalah adalah ia hanya akan memakan-makanan tertentu di malam hari.

Aku tidak tahu menu apa saja yang ia makan setiap malamnya. Yang tahu hal itu hanya sang ibu dan pembantunya saja. Bahkan Jiyong hyung pun tidak tahu.

Ketika aku sibuk memikirkan bagaimana nasibku besok di tangan Nara, ponselku berbunyi. Nara mengirimiku sebuah pesan singkat.

Nae Yeoja

2014/03/25

01.26 AM

Oppa, mian atas sikapku yang keras kepala tadi. Aku sudah bersikap seperti anak kecil. Mianhae 😦 

 

To : Nae Yeoja

2014/03/25

01.30 AM

Gwaenchana Nara-ya 🙂 Hei, kenapa kau belum tidur?

 

Nae Yeoja

2014/03.25

01.32 AM

Aku tidak bisa tidur oppa. Aku merasa bersalah padamu karena sikapku tadi 😦 

 

To : Nae Yeoja

2014/03/25

01.36 AM

Haha 😀 gwaenchana. Aku tahu kau mencemaskan keadaan ayahku dan berusaha ingin menghiburku. Tapi aku juga sangat mencemaskanmu jika kau tetap berada di sini 🙂 

 

Nae Yeoja

2014/03/25

01.38 AM

Mencemaskanku? Untuk apa?

 

To : Nae Yeoja

2014/03/25

01.42 AM

Aniya (Tidak apa-apa). Kau tidurlah, ini sudah sangat larut. Besok kau bisa bangun kesiangan jika sekarang tidak tidur 🙂

 

Nae Yeoja

2014/03/25

02.00 AM

Hmmm, baiklah oppa. Aku tidur dulu. Kau juga harus tidur sekarang.

 

To : Nae Yeoja

2014/03/25

02.02 AM

Ne, aku juga akan tidur sekarang. Jaljayo (Selamat tidur) Nara-ya 🙂

 

Nae Yeoja

2014/03/25

02.05 AM

Ne, jaljayo oppa 🙂 naeil tto mannaja (sampai bertemu besok) 😉

Keadaanku membaik setelah menerima pesan darinya. Mungkin aku bisa tidur dengan nyenyak dan dapat bermimpi indah sekarang. Emmm, masalah penamaan di ponselku itu. tolong rahasiakan dari Nara. Aku hanya berharap, dari hal sepele seperti itu bisa menjadi kenyataan nantinya. Hehe, aku hanya bisa berdoa.


Gawat! Hampir setengah sembilan. Aku terlambat menjemput Nara. Oh Tuhan, apa yang akan ia lakukan padaku kali ini? apakah dia akan memutilasi ku? Kalau begitu, impianku untuk menjadikannya pendamping hidupku tidak akan terwujud.

Dari pada aku memikirkan hal yang tidak-tidak, lebih baik aku memacu mobilku ini agar segera sampai dirumahnya. Semoga saja jalanan kota Seoul hari ini tidak sepadat biasanya.

Sepuluh menit kemudian aku hampir sampai dirumah Nara. Aku melihat gadis itu sudah berdiri didepan gerbang rumahnya. Dengan kaki yang ia hentak-hentakkan ke tanah. Ku rasa ia kesal. Tamatlah riwayatku.

Sekarang aku sudah berada dihadapannya. “Nara-ya!” panggilku dari dalam mobil saat kaca mobil ku turunkan. Gadis itu menatapku dengan tatapan membunuh. Sedetik kemudian ia membuang mukanya dan berjalan menjauh dari mobilku. Oh Tuhan, dia marah padaku.

Aku mengejar Nara yang berjalan cepat dengan mobilku. “Nara-ya.” Panggilku lembut. Namun gadis itu tetap mengacuhkan ku. Ku hentikan mobilku dihalte bus dan segera menghampiri Nara yang tengah duduk dihalte tersebut.

“Neujeoseo mianhaeyo (maaf aku terlambat), Doraemon tidak membangunkan ku pagi ini. Padahal aku sudah memintanya untuk membangunkan ku lebih awal dari biasanya.” Jelasku dengan sedikit candaan. Namun Nara masih mengacuhkanku.

“Aku sudah kehilangan Doraemon karena menduakannya, dan sepertinya aku akan kehilangan teman yang sudah ku anggap adik ini.” aku beranjak dengan kepala tertunduk berpura-pura sedih.

Ketika aku membuka pintu mobil, Nara memanggilku. “Oppa.” Aku pun menoleh ke arahnya. Kulihat ia berjalan ke arahku dengan seulas senyum tipis yang terhias di wajahnya.

“Mianhae. Bisa kita berangkat kerja sekarang? Ku rasa kita sudah hampir terlambat.” Nara tersenyum dan dengan cueknya segera masuk ke mobilku. Aku pun ikut tersenyum melihat perubahan cepatnya itu dan masuk ke dalam mobil. Aku lega aktingku bisa membuatnya berubah dalam sekejap. Aku mulai memacu mobil ku menuju restoran.


Sudah lima belas menit kami hanya terdiam tanpa sedikitpun pembicaraan. Ku lirik Nara. Ia tampak sedang melihat keluar jendela dengan bertopang dagu. Apakah ia masih kesal dengan ku? Mollayo.

Aku membiarkannya seperti itu hingga, “Oppa, bagaimana keadaan ayahmu?” Nara membuka pembicaraan menghilangkan kecanggungan yang mendera kami.

Aku menoleh sebentar ke arah Nara dan kembali fokus pada jalanan. “Ayahku sudah sadar tadi malam tak lama sejak kau pergi. Kata dokter, dua hari lagi ayah sudah boleh pulang. Hanya saja, ayah dilarang untuk bekerja keras beberapa hari ini dan diperintahkan untuk bed rest hingga ia kembali ke rumah sakit untuk diperiksa kembali.”

Nara mengangguk mengerti, “Ah, geuraeyo (begitu). Lalu, Bora eonni bagaimana? Apakah oppa sudah berbaikan dengannya?” Aku tersenyum dan mengangguk pelan sebagai jawabannya.

“Yaa oppaaa!! Aku benci keadaan seperti ini. Tak bisakah kita seperti kemarin lagi?” seru Nara mengagetkanku. Ternyata tak hanya aku yang merindukan saat-saat bertengkar dan bercanda. Tapi dia juga.

“Tentu saja bisa, kenapa tidak?” tanggapku yakin. “Bagus kalau begitu, sekarang pacu mobil oppa secepat yang oppa bisa!” apa yeoja ini sedang bermain-main denganku? Ck, gadis ini seperti haus akan tantangan. Sepertinya sesekali aku akan membawanya pergi mendaki gunung.

“Yaa, apa kau ingin aku di tangkap polisi?” gadis itu hanya tertawa. Ya Tuhan, sarapan apa dia pagi ini? kenapa ia mempunyai ide gila seperti itu?

“Sudahlah oppa, pacu saja mobilmu. Jika tidak, biar aku yang menyetir dan akan ku tunjukkan padamu bagaimana cara mengendarai mobil yang baik dan benar.” Ucap Nara dengan senyuman evil-nya. Perasaanku tidak enak.


“Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!”

“Nara-ya, pelan-pelan! Kau ingin membunuh kita berdua, eoh?”

“Ya Tuhan, selamatkan kami berdua!”

“Nara, awas mobil yang ada di depanmu itu! Waaa!!”

“Yaaa, jangan melihatku seperti itu, perhatikan saja jalanan yang ada di depan!!”

“Ya Tuhan, ya Tuhan! Kwon Nara, hati-hati!”

“Doraemon, selamatkan akuuu!!!!!”

“Waaa!! Eomma!! Eomma!!”


Kaki ku bergetar saat turun dari mobil. Tubuhku lemas. Jantungku benar-benar akan melompat keluar sekarang. Aku jatuh terduduk di pelataran parkir restoran dengan wajah pucat.

Nara menghampiriku dengan sedikit berlari, “Oppa, gwaenchana?” ia menyentuh bahuku. Aku terdiam, aku menatapnya dengan tatapan lemas. “Apa kita masih hidup? Atau kita sudah berada di surga?” tanyaku polos dan mencoba mencerna apa yang sudah terjadi.

“Hahaha, kita ini masih hidup oppa, dan kita masih ada di bumi.” Terdengar suara tawa Nara dan ia pun mencoba menyadarkanku dengan mencubit lenganku keras-keras.

“Ouch!” aku merintih kesakitan sembari memegang lengan yang tadi Nara cubit. Aku baru tersadar karena cubitan Nara. Aku berdiri dan memeriksa tubuhku. Apakah tubuhku masih lengkap? Tidak kekurangan satu pun kan?

Aku melihat gadis yang berada di depanku masih berjongkok sambil tertawa kecil melihatku yang seperti orang bodoh. “Yaa, Kwon Nara!! kau benar-benar ingin membunuhku, eoh?” sengitku ketika gadis itu berdiri. Nara tersenyum kecil melihat tingkahku, kemudian mengelus rambutku dengan lembut.  “Oppa, mianhae.” katanya meminta maaf dengan ekspresi wajah yang di imut-imutkan. Oh, baiklah. Itu sangat imut dan aku menyukainya.

Setelah membuatku terbuai dengan senyum dan belaian lembutnya, gadis itu berdiri dan meninggalkanku yang masih seperti orang bodoh akibat perbuatannya. Ku kira ia benar-benar akan membawa mobil dengan baik namun cepat. Tapi dugaanku salah. Gadis itu membawa mobilku seperti orang gila.

Ckck, jika saja aku tidak jatuh cinta dengannya, maka sudah ku keluarkan ia dari mobilku, dan ku tinggalkan ia di tengah jalan. Aku mendesah nafas pelan, “Kwon Nara, kau gadis yang manis. Tapi perilaku mu tak semanis penampilanmu. Dan itu membuatku tertantang untuk mendapatkanmu.”


“Daesung-ssi!” panggil manajerku saat aku baru keluar dari ruang ganti. “Ne, manajer Kim.” Sahut ku saat sang manajer menghampiriku.

“Kudengar ayahmu masuk rumah sakit, bagaimana keadaannya?” tanya manajer Kim menyelidiki.

“Sudah lebih baik. Ia hanya mendapat luka ringan saja. Lusa sudah bisa pulang.” Jelasku singkat. “Semoga ayahmu segera pulih.” Ucapnya. “Ne, gomapseumnida manajer Kim.”

Ia mengangguk tersenyum dan kembali ke ruang kerjanya. “Oia Daesung-ssi, nanti siang presdir akan datang kemari dan ingin bertemu denganmu.” Seru manajer Kim saat akan memasuki ruangannya.

“Bertemu denganku? Ada apa?” ia tersenyum misterius. “Temui saja presdir nanti siang, maka kau akan tahu apa yang akan beliau sampaikan padamu.” Setelah berkata seperti itu, manajer Kim masuk ke ruang kerjanya.

Paman ingin menemuiku? Ada apa? Apakah aku telah berbuat kesalahan? Tapi, ketika melihat gelagat manajer Kim, sepertinya ada kabar bahagia untukku. Emmm, semoga saja.

“Daesung oppa!!!!” teriak Nara tepat di telingaku. Aku tersentak kaget akibat perbuatannya barusan. Telinga ku berdengung keras. Jantungku kembali terpompa untuk yang kesekian kalinya dalam waktu 2 jam terakhir.

Oh Tuhan, gadis ini benar-benar. Apakah ia tidak bisa sekali saja bertingkah manis kepadaku? Ckck, lihat wajah polosnya. Ia seperti tidak merasa bersalah karena sudah membuatku jantungan.

Nara hanya tertawa melihat ku terkejut. Ckck, benar-benar gadis yang aneh. “Kenapa oppa melamun di sini? Ayo kerja!” ia menarik tanganku menyusuri tangga menuju restoran yang tepat berada satu lantai di atas ruang karyawan.

“Oia, oppa sudah tahu kalau YG Entertainment sedang membuka audisi?” aku mengangkat alis mendengar pertanyaannya. “Audisi?”

Nara mengangguk dengan semangat, “Ne, audisi. Oppa harus mengikuti audisi itu untuk menggapai keinginan oppa yang selama ini oppa pendam.” Kata Nara.

Audisi ya? Apakah aku harus mengikuti audisi itu? aku memang sangat ingin menjadi penyanyi, tapi aku merasa tak percaya diri.

“Oppa harus percaya diri untuk mengikuti audisi itu agar lolos dan menjalani masa-masa pelatihan di sana.” Sahut Nara seolah mengetahui isi hatiku. “Emm, aku terlalu malu, Nara-ya.”

“Tapi bakat oppa itu harus di realisasikan dan di beritahukan kepada orang banyak. Oppa tidak boleh egois menyembunyikan bakat oppa sendirian. Aku tidak mau tahu, oppa harus mengikuti audisi itu!” paksa Nara sambil memajukan mulut dan menyilangkan tangannya. Itu lucu ketika melihat yeojatomboy sedang merajuk.

“Baiklah baiklah, aku akan mengikuti audisi itu. Tanggal berapa audisi itu akan di mulai?” tanyaku mencari informasi dari Nara. Dengan semangat gadis itu menjelaskan waktu dan tempat audisi.

“Aku akan menemani oppa ke sana. Aku penasaran dengan reaksi para juri ketika melihat oppa bernyanyi. Pasti mereka akan tertegun sama seperti pertama kali aku mendengar suara emas oppa itu. Aahh, aku sudah bisa membayangkan keberhasilan oppa.” Nara berandai-andai.

“Hei, jangan berkhayal terlalu tinggi, aku tidak mungkin seberuntung itu. Sainganku pasti akan banyak dan berat mengetahui YG Entertainment adalah salah satu dari tiga perusahaan raksasa.” Gumamku pesimis.

“Aish oppa, belum apa-apa saja sudah pesimis seperti ini. Kau harus yakin pada dirimu sendiri bahwa kau akan lolos dan menjadi artis profesional di bawah naungan YG Entertainment. Arasseo?” Nara memberiku semangat.

“Ne, arasseo Nara-ssi.” Seruku sambil tersenyum dengan mendekati wajahku ke wajahnya dan memegang ubun-ubun kepalanya dengan lembut. Dia tersenyum manis di hadapanku. Oh Tuhan, aku benar-benar sudah tak sabar ingin membuatnya menjadi pendamping hidupku.

Doraemon :

Hei, Kang Daesung! Kau sudah melupakanku, eoh? Tega sekali kau 😦


Ternyata benar perkataan manajer Kim, pamanku datang kemari dengan pakaian yang terlihat santai dengan kemeja lengan pendek berwarna biru dongker dan celana bahan yang terlihat nyaman. Tubuhnya juga terlihat sangat proporsional. Oh, aku sangat mengidamkan bentuk tubuh seperti itu. Berbadan tinggi, memiliki otot yang tidak terlalu menonjol.

“Presdir.” Aku membungkukkan tubuh ku di hadapannya tanda hormatku karena ia adalah presdir sekaligus pamanku. Ia menyambutku dengan tepukan pelan dibahu. “Apa kabar, Daesung-ah?” tanya pamanku.

“Kabarku baik, presdir. Terima kasih. Bagaimana dengan keadaan presdir sendiri?” aku mencoba bersikap sopan saat masih berada didepan pegawai-pegawai restoran yang lain. Namun tatapan pamanku itu sangat mencurigakan. Bagaimana ya cara menjelaskannya. Tatapan matanya itu seperti berkata, “cih, kenapa kau bersikap sopan padaku seperti ini? lihat saja nanti, akan ku balasa perlakuanmu padaku.” Yah, kurang lebih seperti itu perkiraan ku.

“Kabarku juga baik. Terima kasih. Oh iya, dimana manajer Kim?” mata presdir mengedarkan pandangannya ke seluruh restoran mencari sosok manajer Kim. “Dia ada diruangannya, apakah paman kemari tidak memberi tahukan kedatangan paman pada manajer Kim?”

Pamanku menggelengkan kepalanya, “Ani, aku sengaja datang tak memberitahunya. Baiklah, aku keruangannya dulu. Selamat bekerja, Daesung-ah.” Pamanku mengerlingkan sebelah matanya sebelum berbalik dan menghilang dari pandanganku. Hish, ada apa dengannya hari ini? kenapa tingkah lakunya mencurigakan sekali.

“Pelayan!” seorang pelanggan restoran memanggilku. ah, sebaiknya aku kembali bekerja. Restoran sudah mulai ramai dengan para pengunjung karena ini sudah memasuki jam istirahat kantor. Sepertinya hari ini akan sangat sibuk. Baru setengah jam aku melayani para pelanggan, manajer Kim memanggilku untuk masuk ke ruangannya. Apakah paman belum pulang?

PLETAK!!

Aku mendapatkan sebuah jitakan keras dikepalaku saat aku memasuki ruangan manajer Kim. Ternyata pamanku yang melakukannya. Aish, jinjja. “Yaa!! Apa yang samchon (paman, dari pihak ayah) lakukan padaku, eoh?” tanyaku sengit dengan apa yang baru saja pamanku lakukan padaku.

Pusing yang diakibatkan oleh pukulan keras pamanku belum hilang, ia sudah melingkarkan tangan kanannya dileherku dengan kuat sehingga aku kesulitan bernafas. Sedangkan tangan kirinya sibuk menguyel-uyel kepalaku. Aku mencoba melepaskan diri dari serangan pamanku, namun apa daya, pamanku terlalu kuat.

Oh, kalian tahu apa yang manajer Kim lakukan? Ia hanya tertawa melihat tingkah konyol presdir terhadap keponakannya. Aish, jeongmal. “Baiklah baiklah, aku minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Tolong lepaskan aku dari siksaanmu, samchon.” Rengek ku pada paman.

Bukannya dilepaskan, lingkaran tangan dileher ku malah semakin erat menjeratku. “Benar kau tak kan seperti itu lagi?” tanya pamanku memastikan perkataanku tadi. “Ne, ne. Aku tidak akan melakukan itu lagi.”

Aku terkena siksaan seperti ini karena kelakuanku saat menyambut paman tadi. Pamanku, Kang Jaehyuk, dan aku sangat dekat dengannya. Bahkan kedekatan kami itu seperti kakak dan adik. Kedekatan kami ini hanya diketahui oleh para manajer yang bekerja diperusahaan pamanku, termasuk manajer Kim. Maka dari itu, manajer Kim hanya tertawa melihat kejadian ini.

“Sebenarnya, apa yang paman lakukan disini? Apakah datang ke restoran ini hanya untuk menyiksaku seperti tadi, eoh?” seruku pada paman sambil mengusap kepala dan leherku yang sakit akibat siksaan yang ia berikan padaku.

“Tentu saja tidak. Untuk apa aku membuang-buang waktuku hanya untuk menyiksamu? Ada satu hal yang akan ku sampaikan padamu. Dengarkan baik-baik, oke.”

Namun pamanku tidak melanjutkan perkataannya. Ia terdiam, seperti memikirkan sesuatu yanng ia lupakan. “Ah, manajer Kim.” Seru pamanku tiba-tiba sambil mengcungkan jari telunjuk sebelah kanan ke udara. Dengan sigap manajer Kim menjawab panggilan pamanku, “Ne, presdir.”

Pandangan pamanku nampak menerawang, seperti mencoba mengingat sesuatu, “Beberapa waktu yang lalu, kau bilang padaku kalau keponakanku yang menyebalkan ini sedang dekat dengan seorang yeoja. Dan kebetulan sekali, yeoja itu adalah pegawai di restoran ini. Benar begitu, manajer Kim?”

“Benar, presdir.” Jawab manajer Kim singkat. “Ah, kalau begitu sayang sekali. Sepertinya mereka harus dipisahkan.

~ TBC ~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s