Options

150787_784257811659870_5451396172565696875_n

Saengil Chukkae Ken-ssi^^, ecie ecie semoga kariernya tambah sukses yee~~ Nah berhubung sekarang ultah Ken, maka author nyiapin FF spesial ultah Ken~~ Pensaran??? yuk dibaca!! cekidot!! eh jangan lupa kritik saran dan comentnya ye!! seperti biasa dont be a silent readers guys.. semoga suka!!!

Author : Vivin & Laxmi

Title    : Options

Genre  : Romance

Cast     :

  • Ken
  • Irene
  • Hongbin

Vinga adalah salah satu bar terbaik di Seoul yang terletak di daerah Apgujeong. Bar ini merupakan bar untuk para pecinta anggur, karena bar ini memiliki 800 jenis anggur yang disimpan digudang terpisah, lebih tepatnya diruang bawah tanah. Dekorasi bar terdiri dari dinding yang dilapisi oleh bebatuan sungai, tertata rapi dan disulap menjadi tebing cantik. Lampu temaram dipasang disetiap sudut bar serta alunan lagu mellow western mengalun lembut, membuat tempat ini sangat nyaman untuk dijadikan tempat bersantai. Tidak berbeda dengan bar pada umumnya, bar ini memiliki meja bar yang di-design untuk 10 orang. Dibalik meja bar tersusun dengan rapi gelas untuk meminum alkohol dari gelas stem cocktail, whiskey sour, old vision, red whine dan masih banyak lagi.

Mirae duduk santai di depan barthender seraya menggoyangkan anggur merah yang baru ia tuangkan di gelas red whinenya. Dia menunggu seseorang, sudah hampir setengah jam tapi seseorang yang ia tunggu belum muncul. Tangannya menopang dagunya yang tirus, sudah mulai bosan menunggu. Tepat ketika jarum kecil di jam Mirae menunjuk angka 10 seseorang mengenakan coat hitam muncul dari balik pintu dan Mirae tersenyum melihatnya. Dia datang, hati Mirae melonjak bahagia.

“Kau menungguku lama, mianhae” Ken. Begitulah nama laki-laki yang ditunggunya. Mirae sangat menyukainya sejak mereka pertama kali berkenalan di salah satu pameran otomotif. Pesona Ken yang penuh dengan keceriaan menyulap dunia Mirae yang mulanya dipenuhi dengan dunia bisnis berubah menjadi dunia yang penuh dengan bunga sakura yang bermekaran disetiap sudut jiwanya. Mirae, seorang wanita pengusaha muda yang minggu kemarin menjadi topik pembicaraan utama di majalah otomotif berkat bisnis penjualan mobilnya menembus pasar Amerika dalam hitungan bulan.

Gwaenchana” Mirae tersenyum riang.

Aigoo, kau manis sekali hari ini” dicubitnya pipi Mirae. Beberapa detik kemudian Ken tersenyum sekaligus mengerlingkan mata nakalnya pada Mirae. Satu kelemahan Mirae adalah senyum ceria milik Ken. Sepenat apapun Mirae dengan kesibukannya, ketika melihat senyum itu maka kepenatan itu sirna dalam hitungan permili detik.

“Kau mau mencoba anggur merah? Ini sangat enak” Mirae menyodorkan gelasnya. Ken menggelengkan kepalanya cepat.

Aniya. Ikutlah denganku! Aku tidak punya waktu banyak menemanimu! Kaja!” Ken menarik tangan Mirae buru-buru. Dia dikejar deadline.

Ken menyeret Mirae masuk ke dalam gudang penyimpanan anggur. Tidak ada pelayan atau pengawasan memang, semua pengunjung dan pembeli bebas mengunjungi gudang tersebut untuk memilih anggur yang mereka mau. Gudang ini disetting dengan pencahayaan minimalis. Hanya satu lampu temaram yang menyinari ruangan dengan luas 10 x 15 m. Ken melepas genggaman tangannya, menghempaskan Mirae kemudian.

Waeyo?” pikiran Mirae melanglang buana melihat tingkah Ken yang tidak biasa.

“Sebentar saja, ini tidak sakit” Ken mengerlingkan matanya.

“Ye?” perkataan Ken mengantarkan Mirae ke dalam pikiran nakalnya. Ken mendekat membuat Mirae semakin tersudut. Disembunyikan wajah cantiknya.

“Jangan gugup, aku akan melakukannya dengan cepat” Fine! Mirae dalam puncak nafsunya.

Tangan kiri Ken membelai lembut pipi Mirae sedangkan tangan kananya merogoh saku coatnya. Mirae terlalu sibuk dengan nafsunya sehingga ia tidak menyadari Ken mengambil benda untuk melancarkan aksinya. Benda tersebut sudah di tangan Ken. Wajah Mirae sudah memerah, Ken menghentikan elusan di pipi Mirae kemudian menghembuskan nafasnya tepat ditelinga Mirae. Mirae bergidik, bulu kuduknya berdiri maksimal.

“Selamat jalan Mirae” bisik Ken sebelum ia mengayunkan benda tajam yang ia genggam. Cukup sekali ayun, pisau yang Ken genggam tepat menghujam perut Mirae. Mirae memekik seketika. Darah segar Mirae menyembur mengotori tangan Ken serta coat yang dikenakannya. Mini dress yang Mirae kenakan ikut terkotori oleh darahnya sendiri yang mengucur deras. Dirasa Mirae sudah tidak berdaya, Ken menarik pisau yang menancap dalam tersebut dengan kasar, darahnya menempel di badan pisaunya. Senyum kemenangan terkembang dari bibir Ken. Mirae membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu tapi Ken tidak peduli. Dia terlalu sibuk memperhatikan pisaunya yang berlumuran darah. Wajah ceria nan polosnya berubah dalam sekejap menjadi malaikat kematian. Sorot matanya gelap, semburat wajahnya dipenuhi dengan ambisi kematian, desah nafasnya tidak lagi ringan melainkan berat dan auranya yang cerah berubah gelap, dingin dan menakutkan. Kabut hitam menaungi Ken saat ini.

“Keenn, kau…” samar Mirae mengecap beberapa kata. Tangannya menutupi lukanya. Tubuh ramping Mirae merengsek perlahan, tidak kuat bertahan.

“Tugasku selesai sampai disini” Ken mengeluarkan sapu tangan dari saku coatnya untuk membersihkan darah Mirae yang mengotori pisau, tangan serta coatnya. Kemudian memasukkan kembali pisau tersebut ke dalam saku coatnya. Matanya yang gelap menatap Mirae tajam. Dewi batin Mirae berteriak “Kau bukan Kenku, kau bukan dia. Wajah Kenku tidak menakutkan sepertimu, siapa kau?” semuanya tinggal pertanyaan di batin Mirae, tidak ada yang bisa menjawabnya. Ken yang dipujanya sekarang menjadi malaikat kematian yang menusuk ruas perutnya dengan kejam.

Ken berdiri tegak di hadapan Mirae yang tak berdaya. Sebelum ia keluar dari gudang tersebut dihampirinya Mirae yang sedang sekarat, nafasnya terengah-engah. Ken yakin dalam hitungan menit jika dia tidak ditolong maka ia segera meregang nyawa “Kau menyukai orang yang salah. Semoga kau bahagia di alam barumu, annyeong” masih sempat Ken mengelus rambut Mirae lembut. Senyum ceria seorang Ken yang disukai Mirae terukir di ambang kematiannya. Tapi senyum itu tidak terlihat menyenangkan tapi menakutkan. Mirae tidak dapat berbuat apapun, semua organ tubuhnya kaku, kepalanya pening dan dalam hitungan menit dia kehilangan kesadarannya. Hentak langkah Ken menggema di ruang bawah tanah, dia keluar dari tempat tersebut dengan wajah cerianya. Tidak akan ada yang mengira dia baru saja membunuh seorang wanita. Mission Clear! Ponsel Ken berdering, nama tuan Kwang terpampang. Ken sudah mengerti apa yang harus dilakukannya sekarang.

*****

            Tuan Kwang melemparkan amplop cokelat berisikan uang bayaran untuk Ken akan keberhasilan tugasnya membunuh si wanita pengusaha sukses, Mirae. Ken mengambil cepat amplopnya, menghitung lembaran uang didalamnya. Senyumnya terkembang mengetahui jumlah uang tersebut pas.

“Tidak kusangka kau bisa membunuhnya dengan sangat mudah dan cepat” puji tuan Kwang. Sekali lagi senyum Ken tersungging.

“Wajahku bisa menipu siapapun. Dibalik wajahku yang polos dan penuh keceriaan ini pasti tidak akan ada yang menyangka aku seorang pembunuh bayaran” tawa tuan Kwang menggelegar mendengar perkataan Ken. Dikalangan seprofesinya Ken memang dikenal sebagai pembunuh bayaran yang spektakuler dengan penipuan karakter wajahnya yang jauh dari kategori seorang pembunuh bayaran.

“Baiklah ini tugasmu selanjutnya!” amplop selanjutnya yang dilempar tuan Kwang berwarna putih. Perawakannya tidak sepenuh tadi, tipis. Kalau Ken boleh menebak isinya adalah foto target selanjutnya. “Jika kau berhasil membunuhnya, maka client kita si tuan Kim berani membayarmu 1 milyar won” mata Ken mendelik mendengar uang 1 milyar won untuknya. Raut wajahnya dipenuhi aura ketidak percayaan, benar-benar bayaran yang sangat bombastis. Uang 1 milyar won bisa membawanya menjadi seorang milyarder.

Jinjja? Dia tidak bercanda memberikan uang sebanyak itu?”

“Tentu saja dia serius, Ken. Tapi dia memberikan satu syarat untuk tugas ini, kau diberi batas waktu yaitu satu minggu. Jika kau tidak membunuhnya dalam jangka waktu tersebut maka nyawamu sebagai gantinya”

Mwo? Kenapa harus ada batas waktu? Selama ini aku selalu melakukan semauku” Ken mengernyitkan dahinya.

“Ini sudah perintah, Ken ingat 1 milyar won untukmu. Kau bisa menjadi milyarder. Pikirkan itu secara matang!”

Jamkkaman, aku penasaran dengan target 1 milyar wonku. Bisakah aku membuka amplopnya sekarang?”

“Silahkan! Mau kau buka sekarang, besok atau kapanpun itu adalah hakmu”

Rasa penasaran Ken mencuat. Nyawa siapakah yang harus ia tukarkan dengan uang 1 milyar won? Benar dugaan Ken, isi dari amplop putih tersebut hanya sebuah foto. Foto seorang gadis muda. Gadis berambut pirang, ulasan lip blam orange di bibir tipisnya, mengenakan hoodie biru muda dan celana jeans sepaha. Ken mengenal gadis ini, sangat mengenalnya. Dia adalah Irene, gadis yang sangat dicintainya. Irene adalah target selanjutnya, nyawa Irene bernilai 1 milyar won. Dunia Ken gelap sekarang.

“Irene?” suara Ken tertahan di tenggorokannya. Sudah tak selantang Ken yang biasanya ketika berbicara. Tangannya gemetar memegang amplopnya.

“1 milyar won Ken, ingat itu. Hidupmu akan berubah! Pikirkan baik-baik!” bos Ken ini menyulut rokoknya, mencari kenikmatan duniawi dari seputung rokok. Dia tidak peduli dengan kekalutan Ken.

“1 milyar won? Aku harus membunuh kekasihku sendiri untuk uang 1 milyar won?” Ken meremas amplopnya. Amarahnya tak tertahan.

“Semua pilihan ada di tanganmu” ujar tuan Kwang seraya menghisap rokoknya. Benar! Ken harus memilih antara uang 1 milyar won atau Irene. Wajah Irene yang sudah satu minggu tidak ditemuinya bermain di pikiran Ken, membayanginya.

*****

            Botol bir ketiga dan Ken masih berusaha minum botol selanjutnya. Dia mabuk berat, wajahnya sekarang sudah merah, alunan musik club semakin membawanya jauh dari alam sadar. Pikirannya terus memutar kata-kata “Hanya orang bodoh yang menukarkan nyawa kekasihnya demi uang 1 milyar won, Irene atau 1 milyar won?”.

“Sampai kapan kau akan minum?” Hongbin memegangi tangan Ken, mencegahnya menuangkan bir selanjutnya.

“Hongbin-ah kau tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini? Kau harus membunuh orang yang sangat kau cintai. Kau harus menukarkan nyawa kekasihmu dengan 1 milyar won” Ken membanting gelas birnya. Birnya berceceran mengotori lantai club, pecahan kaca berhamburan. Beberapa orang disekitar Ken meliriknya sesaat, menganggap perbuatan Ken bukan sesuatu yang menghebohkan.

“Lakukan saja!” suruh Hongbin datar. Pandangannya lurus kedepan, matanya kosong.

Mwoya?”

“Iya lakukan saja!”

“Kau gila?” Ken mendelikkan matanya. Emosinya tak tertahankan, Hongbin datang bukan meredakan amarahnya, malah membuat keadaan semakin memanas.

“Ken, lakukan saja atau kau yang mati! Sekarang permasalahannya bukan ada di uang 1 milyar won tapi nyawamu sendiri. Ingat Tuan Kwang sudah meletakkan alat pendeteksi dijantung kita. Jika kita tidak melakukan tugas, maka tuan Kwang bisa meledakkan alat itu kapanpun dia mau, nyawamu taruhannya. Inilah resiko seorang pembunuh bayaran”

“Lebih baik aku yang mati daripada aku harus membunuh Irene. Hongbin-ah kau tidak tahu betapa aku sangat mencintai Irene” Ken meraih kerah Hongbin, mengangkatnya.

“Bagaimana jika tuan Kwang meledakkan alat itu di depan Irene? Irene bisa gila melihatmu mati di depannya” Hongbin menghempas Ken, melepaskan cengkraman tangannya.

Mwo?”

“Lakukan saja!”

Aniya

“Ken, lakukanlah!” Hongbin terus mendesak.

“Aniya” Ken terus menggelengkan kepalanya.

“Lakukanlah demi dirimu sendiri!” Ken terdiam, tidak menanggapi perkataan Hongbin lagi. Berpikir sesaat.

“Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi setelah aku membunuh Irene, aku akan bunuh diri”

“Kau gila”

“Tugas ini yang membuatku gila” Ken meneguk birnya lagi, meneguknya langsung dari botol bir keempat. Sebuah keputusan sudah ditetapkan. Volume musik club semakin berdentum keras, mengantarkan Ken ke dalam halusinasi dirinya dan Irene. Bergandeng tangan di saat terakhir, tersenyum di saat nafas mulai tersengal dan memejamkan mata bersama. Meranguni dunia kematian bersama.

*****

            Irene sibuk menata rambut pirangnya kemudian mengulas lip blam di bibir tipisnya. Mempautkan bibirnya beberapa kali, mengecek ulasan lip blamnya. Irene terlihat cantik dengan kemeja putih yang dipadupadankan dengan rok mini biru muda. Kakinya dibalut sepatu boots hitam, pemberian Ken. Tidak terhitung berapa kali dia berkaca dan meneliti penampilannya. Ujung roknya ditarik untuk merapikan lipatan, parfum disemprotkan ke bagian leher dan tangannya. Selesai! Irene melirik jam tangan yang bertaburan batu swaroshky pemberian Ken bulan lalu. Pukul 16.00 tepat, bel rumah Irene berbunyi menandakan Ken sudah datang. Seketika Irene merasakan jantungnya berdegup tak normal. Padahal ini bukan pertama kalinya ia bertemu dengan Ken tapi perasaan seperti ini selalu datang tatkala bertemu dengannya. Setelah mengambil tas, Irene keluar dengan penuh percaya diri. Pemuda berhidung mancung ini langsung mendekap Irene yang keluar dari balik pintu. Mendekapnya sangat erat sambil mengeluskan hidungnya di rambut pirang Irene.

Mwoya? Ken kenapa seperti ini, ada apa?” tanya Irene kebingungan. Tangannya tidak bergerak untuk memeluk Ken.

Aniya, aku hanya merindukanmu” Ken membuka pelukannya. Mencium hangat pipi Irene. “Kau siap untuk hari ini, chagiya?” Ken mencubit gemas pipi Irene yang menyemu merah. Anggukannya cepat menandakan dia mengiyakan pertanyaan Ken.

“Kita akan kemana?” tanya Irene manja.

“Kemanapun yang kau mau”

“Aku ingin makan, kaja!”

“Baiklah!”

Satu mangkok ramen dengan taburan udang dan jamur di atasnya, menu kesukaan Irene. Ia tertawa kegirangan sebelum mulai mencapit mienya. Mulutnya berdesis ketika kecapan kuah dan mie terapit oleh bibirnya.

“Kau menyukainya?” Irene menjawab pertanyaan Ken dengan anggukan kepala. Kuah ramen menempel di lipatan bibir bawahnya. Ingin rasanya Ken menghapusnya dengan kecupan manis.

Irene menghabiskan ramennya dalam hitungan menit. Tidak bersisa sedikitpun, mangkoknya bersih.

“Sudah? Sekarang kau ingin kemana?” tawar Ken.

“Em, sepertinya aku ingin makan permen gula, kaja!”

“Baiklah!”

Irene menggandeng mesra Ken. Sesekali ia menidurkan kepalanya di pundak Ken. Sore yang indah dengan pelupuk langit bercorak jingga. Desir angin membelai rambut keduanya. Membubuhkan kata cinta di sela dedaunan yang berguguran diterpa angin.

“Irene mulai besok luangkan waktumu bersamaku” Ken menghentikan langkahnya, menghadap pada Irene.

Wae?”

Aniya, aku hanya ingin bersamamu setiap hari”

“Tapi apa tidak menganggu pekerjaanmu?” Irene yang polos, yang dia ketahui Ken adalah seorang pekerja kantoran. Dia tidak mengetahui bahwa kekasihnya adalah seorang pembunuh bayaran, dan target selanjutnya adalah dia sendiri. Matanya membulat.

Gwaenchana” Ken mengacak rambut Irene, gemas. Kerlingan mata Ken selalu menjadi ciri khas menggoda Irene disusul bibir tebalnya mengecup di udara. Irene terkekeh.

“Baiklah, aku sangat senang akhirnya bisa bersamamu setiap hari, ah my Ken-i” Irene tertawa kegirangan. Tangannya bertepuk riuh rendah seorang diri. Tawa Ken mengiringi tawa Irene, kebahagian datang melingkupi keduanya. Kebahagiaan yang terus dibina sebelum semuanya berakhir.

****

            Malam yang indah dengan taburan bintang di langit yang kelam. Kerlap kerlip lampu di kota nampak seperti lukisan bintang di langit bawah. Menakjubkan, sebuah pemandangan dengan sejuta euphoria yang tercipta. Ken adalah salah satu orang yang menikmati spektakulernya pemandangan di langit atas yang kelam dan langit bawah yang penuh kebisingan. Ia berdiri mematung di balkon apartementnya. Mata dan otaknya bersinkronisasi pada dua pilihan, Irene atau tugasnya yang bernilai 1 milyar won. Keputusan yang ia ucapkan di hadapan Hongbin perihal bunuh diri kembali mengusik batinnya. Bagaimana mungkin dia mengakhiri hidupnya dan Irene demi uang 1 milyar won. Gila, tugas ini membuat Ken gila. Serba salah, apapun yang menjadi pilihan Ken berakhir dengan kesalahan mutlak. Penyesalan telah mengenal dan mencintai Irene terkadang datang merasuki hatinya. Andai saja dia tidak pernah mengenal wanita manja itu, pasti sekarang dia tidak dilanda kekalutan yang menguras seluruh waktu dan pikirannya. Tanpa pikir panjang dia bisa menembak Irene kapanpun dan dimanapun dia mau.

Ken menyunggingkan senyum kecut mengingat pekerjaaan yang ia jalani ternyata menyeretnya pada pilihan yang mematikan seluruh saraf pemikirannya. Selain itu, Alat yang ada di jantungnya merupakan salah satu penentu mati dan hidupnya selama ini. Pilihan hidup Ken sekarang berada di antara dua jurang yang curam. Entah jurang mana yang akan ia pilih untuk dilompati.

“Aku membenci semua ini. Irene aku mohon jangan membenciku” sirna sudah keceriaan Ken. Makhluk yang selalu tertawa bahagia di setiap waktunya sekarang menundukkan kepala, menutupi wajahnya yang memerah menahan tangis. “Kalaupun kita harus mati bersama, aku harap kita bisa saling mencintai di kehidupan selanjutnya tanpa ada yang memisahkan kita” Ken berbisik sendiri.

*****

Sebuah ironi sederhana yang memilukan adalah menentukan pilihan waktu kematian yang tepat untuk orang yang dicintai. Dia yang akan Ken bunuh bersender di bahunya. Memejamkan matanya, merasakan debur ombak laut yang menyanyikan lagu pengiring tidur untuknya. Angin dijadikan selimut penghangat dan bahu kekasihnya dijadikan bantal. Kata-kata Irene yang ia ucapkan sebelum memejamkan kelopak matanya membayangi Ken sekarang.

My Ken-i besok aku ingin mengunjungi menara jam. Banyak yang mengatakan, pasangan yang mengunjungi tempat tersebut, setelahnya cepat atau lambat mereka akan segera menikah” Irene mengerjapkan matanya manja. Ken hanya mengangguk, mengiyakan semua permintaan Irene. Tidak mungkin dia menolak semua permintaan Irene di saat-saat terakhir mereka hidup dan menghembuskan nafas. Menikah? Satu kata itu membunuh semua saraf Ken. Bagaimana mungkin Irene bisa berbicara tentang pernikahan, mengingat kematian dan harga nyawanya ada di tangan Ken. Semuanya akan segera berakhir Irene.

Irene tidak sepenuhnya tertidur pulas, dia hanya menutup matanya sejenak. Menutup penglihatannya dari dunia yang tanpa dia sadari akan ia tinggalkan. Tangan mungilnya menggenggam erat tangan Ken. Dia merasakan kehangatan dan kenyamanan melakukannya. Tangan yang penuh kehangatan itu longgar karena sang pemilik menggeser tempat duduknya, Irene tidak ingin kehilangan kehangatannya, maka diraihnya tangan itu lagi agar tidak jauh dari dekapan tangannya.

“Aku tidak pergi. tenanglah!” Ken mengerti, Irene menggesekkan kepalanya di bahu Ken. Menempatkan pada posisi senyaman mungkin, tangannya juga kembali mendekap tangan Ken erat.

*****

Lakukan pilihan terberat itu!

Sambut saja kematian dari cinta dan hidup kalian!

Bersikaplah seperti Romeo dan Juliet yang rela menghabiskan hidup mereka atas nama cinta!

Cinta kalian tidak akan mati di dunia fana!

Hanya saja menjadi kenangan pahit di atas kematian seharga 1 milyar won!

 

Racun arsenic adalah cara terampuh membunuh seseorang dalam waktu kurang dari 1 jam. Kerjanya sangat cepat yaitu dengan memecah pembuluh darah dan membunuh kinerja syaraf. Ken yakin menggunakannya untuk mengakhiri hidupnya dan Irene. Pisau dan pistol hanya akan mengotori tangannya dengan darah Irene.

“Irene ini tidak akan sakit, aku akan merasakannya juga, kau jangan khawatir” Ken memasukkan botol vial yang terisi racun arsenic ke dalam saku coatnya. Dia siap menemui Irene dan bunuh diri bersama. Hari ini merupakan hari ketujuh misinya berjalan, hari terakhir untuk tugas membunuh Irene. Ken harus melewati hari ini. Dia sudah mengucapkan selamat tinggal pada dunia, matahari, bumi, dan langit. Siap bertemu di kehidupan yang abadi bersama Irene.

*****

Dari kejauhan Ken bisa melihat Irene memunggunginya. Rambut pirangnya terbawa angin yang membelai helai demi helai. Berat melangkah mendekatinya, tapi Ken harus menyelesaikan semuanya untuk satu tujuan yaitu keabadian sejati.

“Irene” sapa Ken dari kejauhan. Dia berlari kegirangan ke arah kekasihnya. Memberikan jurus winknya kemudian tertawa ceria. Kau pintar sekali berakting Ken.

My Ken-i” sapa Irene. Kebahagian semu menyapa mereka.

Are you ready?”

Ne” Irene mengangguk cepat.

Irene menggandeng mesra Ken, menyeretnya ke dalam menara jam. Tidak ramai pengunjung, hanya beberapa orang saja. Tangga pertama mereka lewati dengan suka cita. Ken masih sempat menggoda Irene dengan jurus wink dan segala candaan yang selalu menjadi obat penghibur bagi Irene. Tangga ketiga, langkah Irene terhenti.

Wae? Kenapa berhenti? Bukankah masih empat tangga lagi untuk mencapai puncak menara ini?” Ken bertanya-tanya. Matanya berputar-putar lucu.

“Kita tidak akan kepuncak menara” anting berbentuk bintang yang Irene kenakan bergoyang mengikuti gelengan kepalanya. Matanya menyoroti Ken lemah. “Irene ada apa denganmu?” batin Ken bergejolak.

“Ikutlah denganku!” Irene menyeret Ken mengekor di belakangnya. Tidak jauh dari tangga ketiga terdapat sebuah ruang yang terselip di balik tumpukan tangga naik. Sekilas Irene tersenyum sebelum menarik Ken lagi. Mereka masuk dan keduanya mendapati sebuah ruangan tak berpenghuni. Beberapa tumpukan kayu tidak layak pakai serta meja-meja penuh debu bertumpukan disana sini. Penerangan juga sangat minim, remang. Ken meyakini ruang ini adalah gudang.

“Kenapa kita ke tempat ini?” Ken menengok ke kanan dan kiri. Nothing special here!

“Lihatlah!” Irene menunjuk pada jendela ruangan tersebut. Ken mendatanginya, mencari apa yang ingin Irene tunjukan.

Dari jendela tersebut Ken mendapati pemandangan yang sama ia dapati dari atas balkon apartementnya. Kerlap kerlip lampu kota, suara bising, lalu apa yang ingin Irene tunjukkan? Ini sama dengan semua panorama biasa yang menjadi penghibur Ken sehari-hari.

My Ken-i dulu ketika aku kecil, aku selalu menikmati pemandangan malam kota Seoul dari tempat ini. Kau pasti bertanya kenapa harus gudang kotor ini? Di puncak menara terlalu banyak pasang mata dan pembicaraan, jadi aku tidak bisa merasakan indahnya kota Seoul dengan tenang dan damai. Disini aku menemukan apa yang aku cari, aku bisa menikmati keindahan malam kota Seoul dengan tenang dan damai” Irene menghentikan suaranya. Dia menarik nafasnya panjang, tatapannya menatap lurus pada luar jendela. Ken disampingnya, mengikuti posisinya menatap keluar jendela. Irene meneruskan kata-katanya “Sejak kecil aku selalu mengidamkan hidup yang sangat bahagia, sebahagia para putri kerajaan. Tapi aku tidak pernah mendapatkannya. Aku hidup seorang diri di dunia yang kejam sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Berkatmu akhirnya aku mendapatkan kehidupan yang aku idamkan selama ini” Irene menghentikan kata-katanya lagi, memutar hadapnya, menatap Ken sayu. Ken mengikuti gerakannya, menatap Irene dengan perasaan yang tak menentu. Irene meraih tangan Ken, mengenggamnya kuat “Kau tahu harapan lain dari seorang Irene kecil adalah dapat membawa orang yang sangat dia sayangi ke tempat ini, menghabiskan keindahan ini bersama-sama, dan malam ini akhirnya dia bisa berdiri dengan orang yang sangat disayanginya, yaitu kau. My Ken-i terima kasih sudah memberi warna terindah dalam hidupku, terima kasih atas semua pemberianmu, terima kasih sudah menyayangi dan melindungiku. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri semua” Irene menarik tangannya, Ken merasa hampa.

“Irene, kau? Apa yang?” Ken tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Irene yang ceria tiba-tiba berubah kelam. Sorot matanya yang bersinar memudar.

Irene merogoh tas hitam miliknya. Mengambil sebuah kotak cokelat dari dalamnya, membukanya dan memperlihatkan isinya pada Ken. Mata Ken terbelalak melihat isinya. Sebuah pistol dan pisau terletak bersisian.

Mwoya? Apa ini? Apa maksudmu?” Ken tergagap sendiri. Jantungnya berhenti berdetak melihat dua benda tersebut.

My Ken-i aku sudah tahu semua. Malam itu waktu di club saat kau berbicara dengan Hongbin, aku sudah mendengar semua. Kenku ternyata seorang pembunuh bayaran, bodoh! Aku tidak pernah menyadarinya” Irene tersenyum kecut lalu meneruskan kata-katanya “Jadi, selesaikan tugasmu sekarang!” Irene menyodorkan kotaknya. Ken melengos, membelakangi Irene

Aniya

“Ken aku mohon lakukanlah! Aku akan sangat sedih jika kau menolak permintaanku”

“Irene tolonglah jangan memaksaku. Aku sudah menyiapkan racun arsenic untuk kita berdua. Kau tidak akan mati seorang diri, aku juga akan mengikutimu” Ken membalikkan badannya, memegangi lengan Irene kuat.

Andwae Ken! Aku tidak ingin kau mati sia-sia karenaku” Irene menggelengkan kepalanya kuat. Dia tidak menangis, Irene yang kuat.

“Lalu aku akan rela dan tega melihatmu mati di tanganku sendiri? Irene tolong mengertilah!”

“Ken segera pilih dua benda ini untuk membunuhku” pinta Irene sekali lagi.

Aniya, aku tidak akan memilihnya”

“Jika kau mencintaiku, maka lakukan semua ini dan akhiri semuanya. Aku akan sangat bahagia jika kau mau melakukannya”

“Irene tolonglah”

“Ken segera lakukan atau hubungan kita berakhir disini dan aku akan segera bunuh diri dengan pistol atau pisau ini!”

“Irene jangan gila! Aku tidak ingin melukaimu, aku tidak ingin mengorbankanmu! Kita akan pergi bersama!”

Andwae! Biarkan aku yang pergi dan kau berbahagialah!”

“1 milyar won tidak bisa membayar kebahagianku Irene, kebahagianku adalah dirimu”

“Ken lakukan segera atau aku akan membunuh diriku sendiri”

“Irene aku mohon!”

“Ken jika kau mencintaiku, lakukanlah segera! Jika kau sampai bunuh diri setelah kematianku, maka di kehidupan selanjutnya aku tidak ingin bertemu denganmu lagi! Lakukanlah!” Irene menyodorkan lagi kotaknya.

“Irene, dengarkan aku!”

“Cukup Ken, aku akan menembak diriku sendiri” tanpa rasa canggung Irene mengambil pistolnya, mengokangnya, kemudian ditodongkan di kepalanya sendiri. Pisau dan kotaknya dibiarkan jatuh.

“IRENE” Ken berteriak sebisanya. Irene benar-benar nekat. Mulut pistol ada di pelipisnya, Jari telunjuknya memutar, mengikat pematuk. Sekali tarik maka timah panas akan menembus kepala Irene.

“Kau atau aku yang melakukannya. Ken jika kau mencintaiku maka tariklah pelatuk pistol ini demi aku” Air mata yang ditahan Irene sekarang jatuh. Dia menangis ditengah todongan pistolnya sendiri.

“Irene letakkan pistolnya! Itu sangat berbahaya!” Ken berusaha menenangkan Irene, mendekatinya perlahan tapi Irene menghindar. Dia melangkah mundur.

“Diam di tempatmu atau aku menarik pelatuknya!”

“Irene tolong jangan bawa aku ke dalam dunia pemaksaan seperti ini! Hanya laki-laki gila yang membunuh kekasihnya sendiri”

“Maka jadilah kekasih gila itu sekarang!”

“Irene, kau”

“Bunuh aku atau aku bunuh diri” Bentak Irene, dia terus mendesak.

“AISHHHH” Ken berteriak sekerasnya. Hati dan pikirannya sudah membatu. Irene semakin memberi pilihan yang sulit.

“Ken waktumu memilih tidak lama, jika kau mencintaiku maka bunuh aku sekarang!” Irene menggerakkan jarinya, siap menarik pelatuk. Tidak ada pilihan lain! KEN LAKUKAN!

“Baiklah!” Ken menarik nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya mantap, mendekati Irene, auranya sekarang dikerubungi awan hitam. Pistol yang Irene genggam direbut oleh Ken dan diputar alihkan menjadi Ken yang menodong Irene, tepat di dahinya. Mata Ken merah, sorot matanya tajam, wajahnya dipenuhi dengan keringat yang keluar akibat menahan emosinya. Irene memandangnya lemah, pasrah.

“Ini yang kau mau?” desah nafas Ken memburu. Irene yakin sekarang jantungnya sudah berdetak tidak normal. Irene dapat melihat lengan Ken bergetar samar, Ken ketakutan.

“Mundurlah! Tarik pelatuknya dari jauh agar kau tidak terkena cipratan darahku, menjauhlah! Tutuplah matamu ketika menembakku, aku yakin kau penembak jitu. Kau pasti tidak tega melihat detik-detik kematianku”

“Baiklah” Ken menurut, dia mundur sekitar tujuh langkah. Ken menodongkan lagi pistolnya. Irene tersenyum cantik, pasrah, tidak ada beban, dia siap mati.

“Ken, aku sangat mencintaimu. Di kehidupan selanjutnya aku akan menunggumu! Aku akan bahagia disana karena aku mati di tangan orang yang sangat aku cintai dan dia mencintaiku, lakukanlah aku siap!” pundak Irene bergetar. Dia menahan tangis dan sesak di dadanya. Pelupuk matanya tertutup perlahan.

“Aku juga mencintaimu, tunggu aku di kehidupan selanjutnya! Aku berjanji akan segera menyusulmu!” Ken meredam emosinya. Tangannya bergetar hebat, tidak pernah dia gugup seperti ini ketika membunuh seseorang. Masalahnya yang dia bunuh adalah orang yang paling berarti dalam hidupnya. Ken menutup matanya, merasakan Irene di hadapannya, tersenyum sangat cantik di hadapannya. “Irene maafkan aku, aku sangat mencintaimu” Ken yakin, ditariknya pelatuk tersebut, ditariknya perlahan. Kesakitan akan segera menjemput Irene, Ken dapat membayangkan Irene-nya meregang nyawa. Air mata Ken jatuh mengiringi tarikan pelatuknya. Suara ledakan terdengar kemudian.

“IRENE” Ken berteriak keras ketika suara pistol menggema di ruang tersebut.

Irene pasti bersimbah darah, dia akan sekarat, Ken yakin akan melihat Irene seperti itu. Dibukanya matanya perlahan tapi apa yang dilihatnya sekarang? Irene masih berdiri tegak, tersenyum sangat manis di hadapannya, sekitar tiga langkah lebih dekat dari jarak dia menembak. Disekitarnya berserakan kertas-kertas nilon berwarna warni. Apa yang terjadi?

“Irene kau” Ken terdiam tak percaya. Matanya membeku, Irene tersenyum renyah.

Saengil chukkae” ucap Irene santai, matanya mengerling nakal. Ditangannya sekarang sepotong kue kecil dengan lilin kecil di atasnya. Ken masih mematung tak percaya, tubuhnya membeku. Apa ini mimpi?

“Ken, Ken Ken” Irene menggoyang-goyangkan badan Ken yang mematung dan tersihir.

“Irene apa aku bermimpi? Dimana mayatmu?” keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Hish, tiup dulu lilinnya!” suruh Irene manja.

“Ada apa ini?” tanya Ken kebingungan.

“Ken pabo, sekarang hari ulang tahunmu, kau melupakan hari ulang tahunmu sendiri? Cepat tiup lilinnya!” Irene mempouthkan bibirnya, bersikap manja dan menggemaskan. Ken tidak menggubrisnya. Dia sibuk mengatur kesadaran diri dengan semua yang terjadi di hadapannya.

“Tapi tadi, bunuh, kau, itu,” Ken tergagap sendiri. Dia masih menggenggam erat pistolnya.

“Ehmm” Irene berdehem. Dua orang yang Ken kenal lainnya masuk dari pintu masuk, mereka adalah Hongbin dan tuan Kwang. Keduanya langsung menyanyikan lagu “Saengil Chukkae” untuk Ken. Ken ternganga dengan keadaan yang terjadi. Jiwanya masih belum genap seutuhnya.

“Jadi semua ini?” jantung Ken seakan jatuh akibat kelegaan. Pistol yang ia tembakkan ternyata sebuah confetti yang disulap menjadi sebuah pistol.

“Irene, good job! Aktingmu sangat bagus!” Hongbin bertepuk tangan bangga.

“Aigoo, Irene kita bisa menjadi artis terkenal. Dia sangat pintar berakting sampai Ken percaya, Ken-ssi saengil chukkae” tuan Kwang tertawa lebar. Mission Complete! Ken berhasil dijebak dan dikelabui di hari ulang tahunnya.

“Ken mianhae, aku berbohong padamu tentang alat tersebut. Alat di jantung kita hanya sebagai alat pendeteksi tempat kita berada, semua perkataanku hanya rekaan belaka untuk mendramatisir rencana pembunuhan Irene, seharusnya kau menyadari kegunaan alat tersebut. Aigoo, sepertinya masalah Irene benar-benar membuatmu hilang kesadaran. Ah masalah clientmu, si tuan Kim sebenarnya tidak pernah ada, dia hanya bagian dari skenario penjebakan yang dirancang khusus oleh kekasihmu, Irene. Berterima kasihlah kepadanya sudah membuat skenario penjebakan yang sangat dramatis ini” Hongbin menyenggol Irene yang masih memangku kue tart di tangannya. Irene tertawa lepas rencananya berhasil.

“Nah, sekarang tiup lilinnya! Saengil chukkae my Ken-i! Sarang hae” Irene menyodorkan kue tartnya lagi, Ken melengos, dirinya terbakar amarah. Mereka bertiga memang sukses membuat Ken masuk ke dalam skenario pembunuhan Irene, tapi satu hal yang mereka lupakan yaitu perasaan Ken, lebih tepatnya perasaan Ken yang hancur dan tercabik-cabik sendiri.

“Pergi! Aku tidak suka cara kalian seperti ini! Kalian kira ini lucu, menggunakan nyawa Irene sebagai bahan lelucon. Kau tahu Irene bagaimana hancurnya perasaanku harus membunuhmu? Bagaimana aku bisa membunuh orang yang sangat aku cintai? Bagaimana mungkin aku melakukannya? Andai ada pilihan lain yaitu membunuh diriku sendiri sebagai penebus nyawamu maka aku akan melakukannya” Ken marah, matanya dibakar emosi. Seharusnya Irene menyadari betul leluconnya keterlaluan.

Arasseo. Aku merancang semua ini untuk memberikan surprise di hari ulang tahunmu dan aku juga ingin tahu satu hal yaitu cintamu, seberapa besar kau mencintaiku selama ini, dan sekarang aku tahu kalau kau sangat mencintaiku”

“Tapi tidak seperti ini caranya” Ken menjauh pergi. Irene memberikan kuenya pada Hongbin, mengejar Ken yang melangkah keluar dari ruangan tersebut.

“Ken dengarkan aku!” Irene mengejarnya, ia berhasil menangkap lengan Ken, menghentikan langkahnya.

“Kau marah? Hukum aku untuk membalas semua amarahmu” Irene memohon, Ken memutar badannya, memperhatikan Irene seduktif.

“Irene jangan lakukan ini padaku, aku benar-benar bisa gila melakukannya! Bahkan aku melupakan hari ulang tahunku sendiri karena pilihan gila tersebut. Kau tahu aku sangat mencintaimu” Ken balik menggenggam tangan Irene, kuat sekali.

Arasseo arasseo mianhae” Irene mengangguk-ngangguk sebelum dia menjijitkan kakinya, mencium kening Ken lama. “Aku mengerti Kenku, aku amat sangat mengerti dan sangat tahu bahwa kau sangat mencintaiku. Di hari ulang tahunmu ini kau sudah berhasil memiliki Irene seutuhnya, saengil chukkae my Ken-i, mianhae sudah membuat perasaanmu hancur, sekali lagi saengil chukkae my Ken-i” senyum cantik Irene tersungging di bibir tipisnya.

Gomawo Ireneku” akhirnya senyum ceria Ken kembali tersungging, Irene lega melihatnya. Finally! Semuanya berakhir dengan manis.

                        Kematian memang bukan lelucon

                        Kematian adalah uji paham tentang presepsi cinta

                        Jika pada hari ini kematian menjemput salah satu dari kita

                        Maka tentukanlah pilihanmu tentang cinta dan kematian.

                        Tapi yakinilah cinta akan menyelamatkan kita

                        Jadi hentikan kisah selanjutnya dari Romeo dan Juliet

                        Dan mulailah suatu kehidupan cinta yang dimulai dengan 2 pilihan yaitu..

                        Uji Kematian…

                        Dan

                        Ucapan Saengil Chukkae My Ken-i..

 

                                                                                    Love forever, Irene.

Iklan

18 pemikiran pada “Options

  1. Hemmmm… gak habis pikir sama author satu ini ^^
    Intinya, semua FF yang dia bikin…. jadi bikin aku mikir gak jelas kemana2…

    Go go go !! Fighting author-deul !!!! ♥♥

  2. Njirrrrrrrrr !!!!! Apa ini,, serius bacanya pas ken mau nembak irene tuhhh berasa panas dingin,,, waksssss tegaa ihhh
    Dan ga nyangka,,,
    Author plissss GILA kerennnnn,

    Dan iini anti-mainstream bgt ,
    Huaaaaaaaaaaaa
    G bisa komen lagi,,,cman bisa bilag daebbak,,,ini FF kerennn seriusssssss *_*

  3. Ya ampun,, pdahal udah mewek aja-_- tau2nya bingung sendiri pas part Ken buka mata + kertas2 nilon berjatuhan. Swear kgk ketebak bgt ff, surprised bgt^^ baguuus! Aku suka bgt (y) (y) Saengil Chukhahae Ken, dan Fighting buat Kak Vinie :*

  4. EONNIIIIIIIIII IGE MWOYAAAA?????

    ah capek ah teriak terus tiap coment ff eonni.

    tapi mau gimana lagi, ff eonni tu… AAAAAAAAAAAAAA MENYEBALKAN! aku dah deg2an tadi eh ternyata -_-
    tapi untung happy ending 😀 , kalau gak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s