Love Equation

Love equation

halola loha loha~~ hai hai, ketemu lagi sama author yang selalu setia nyebar FF ^^.. Kali ini author bawa si Leo vixx sama Hakyeon vixx… hohoho,
hayo istrinya Leo yang suka selingkuh sama Hakyeon wajib baca FF ini 😀 :D… enjoy this FF, I hope u like it readers^^ and dont forget your coment yeah~ i need it guys.. Dont be silent readers yah.. oke cekidot >>>>>

Author: Vivin

Title: Love Equation

Cast:   –    Leo

  • Shin Jiki
  • Hakyeon

Kubiarkan kau bahagia bersamanya..

Kubiarkan kau tersenyum bersamanya..

Kubiarkan kau menyakitiku saat bersamanya..

Kubiarkan diriku tersakiti ketika melihatmu memeluknya..

Lakukanlah sesukamu, lakukanlah sebisamu…

Kesakitan ini tidak akan membuatku meninggalkanmu..

Aku masih disini.. Aku masih bersamamu..

Cintaku tetap milikmu walau kau tidak memperdulikannya..

Seperti inilah aku menjalani cinta bersamamu..

Tersakiti dan terdiam menyaksikan pertujukanmu bersamanya..

Teruskanlah selama kau mapu…
Karena suatu saat nanti kesakitanku ini akan menamparmu dengan kenyataan..
Kenyataan bahwa aku sangat mencintaimu..

 

*****

            Desir angin lembut menemani udara siang hari yang menitik beratkan suhu Seoul berkisar di angka 20-21 derajat. Tiupan angin yang lembut serta cuaca cerah sangat bersahabat dan nyaman untuk para pejalan kaki tak terkecuali pejalan kaki di jalanan Hongdae. Dua orang namja berperawakan tinggi tampak menikmati waktu istirahatnya dengan berjalan santai di Hongdae. Keduanya berjalan beriringan, sesekali mereka tertawa lepas.

“Hyung, es krim itu menggoda. Ayo membelinya!” rengek Hyuk manja. Penjual es krim di seberang jalan menarik perhatian Hyuk. Ravi memperhatikannya sesaat.

“Baiklah” dia setuju dengan ajakan Hyuk. Es krimnya benar-benar menggoda.

“Dua rasa cokelat” Hyuk memamerkan senyum khas anak kecilnya pada sang penjual yang seorang wanita muda. Sang penjual mengangguk mengerti kemudian sibuk menyiapkan es krim pesanan Hyuk.

Sembari menunggu pesanannya Hyuk asik memainkan ponselnya sedangkan Ravi asik memperhatikan siapapun yang lalu lalang di hadapannya. Melihat beberapa orang yang berbeda menjadi refreshing otak dengan sendirinya. Sampai salah dua diantaranya menarik perhatiannya.

“Shin Jiki” lirih Ravi. Seorang wanita berambut panjang mengenakan blues putih dengan boots hitam. Tangannya mengandeng mesra seorang pria yang sangat diyakini Ravi bukan suaminya.

“Hyung, wae gerue?” tanya Hyuk melihat Ravi terdiam dan seakan memikirkan sesuatu.

“Hyuk, wanita tadi Jiki, istri Leo hyung. Apa kau melihatnya?” binar mata Ravi mencari kebenaran.

“Nugu? Odiya? Aku tidak melihatnya hyung. Ini es krimmu!” Hyuk menjilati es krimnya. Tidak peduli dengan raut muka Ravi yang bertanya-tanya. Ravi yakin penglihatannya tidak salah. Dia Jiki, istri Leo. Laki-laki yang digandengnya juga bukan Leo. “Kenapa mereka terlihat mesra, sangat mesra untuk ukuran keluarga ataupun sahabat. Atau jangan-jangan?” pertanyaan-pertanyaan dan praduga tersebut memenuhi pikiran Ravi. Ravi menggeleng- gelengkan kepalanya, membersihkan dari pikiran negatifnya.

*****

Hyung, sore tadi aku melihat Jiki di Hongdae…

Dia bersama seorang laki-laki yang tidak aku kenal..

Dia menggandengnya mesra…

Hyung apa hubungan kalian baik-baik saja?

 

Leo terdiam di depan Tv plasma miliknya saat membaca pesan Ravi. Desahan nafasnya terdengar jelas dirumahnya yang sepi. Sebuah buncahan emosi ditahannya. Tanganya meremas ujung kaosnya, melampiaskan emosinya disana. Pintu terbuka dan seorang yang Ravi bicarakan di pesannya datang. Wajahnya berseri ceria, senyumnya masih membekas. Tapi senyumnya hilang tatkala melihat Leo berdiri mematung menyambut kedatangannya.

“Kau darimana?” tanya Leo dingin. Ujung blues Jiki bergerak kekanan dan kekiri mengikuti gerakannya yang mulai berjalan ke arah Leo.

“Bukan urusanmu” jawab Jiki dingin. Sedetikpun dia tidak menoleh pada Leo, dilewatinya begitu saja.

“Kau bersama Hakyeon?” tanya Leo lagi. Dia mengikutinya dari belakang. Tapi Jiki tidak peduli, dia terus berjalan menuju kamarnya.

“Iya” jawabnya masih dengan nada yang dingin.

“Jiki-ya aku ingin bicara!” Leo mengambil tangan gadisnya. Menahan langkahnya yang selangkah lagi masuk ke dalam kamar. Suara Leo lembut tidak ada emosi disana.

“Lepaskan! Aku lelah!” Jiki menghempaskan tangan Leo kasar.

“Aku suamimu” sekali lagi Leo mengambil tangan Jiki. Memegangnya lebih erat. Suaranya masih lembut.

“Iya kau suamiku, terus apa maumu?” akhirnya Jiki membalikkan badannya. Menatap Leo sekarang. Menatapnya dengan penuh kebencian. Harus begitukah tatapan seorang istri yang dulu mencintai suaminya? Hanya dikarenakan seorang laki-laki yang baru dikenalnya, dia bersikap tidak sewajarnya.

“Besok aku ingin mengajakmu makan malam” Leo memintanya dengan penuh harap.

“Batalkan saja! Aku ada acara dengan Hakyeon. Sekarang lepaskan tanganmu!” Jiki merasa risih tatkala melihat tangan Leo memegang pergelangan tangannya kuat. Leo menurut dan membukanya. Jiki bernafas lega melihat tangan Leo terlepas.

“Kau lebih memilih Hakyeon, orang yang baru kau kenal daripada suamimu sendiri?” Bang! Sebuah letupan bom meledak di dada Jiki mendengar pertanyaan Leo. Sebuah pertanyaan yang tidak disangka bisa keluar dari mulut Leo yang selama ini diam. Tatapan maut Leo sekarang mengarah pada Jiki. Dulu, tatapan maut seperti itu adalah segalanya bagi Jiki. Tatapan mata itulah yang menaklukkannya. Sekarang? itu tidak berarti.

“Ne” Jiki menjawabnya dengan tenang. Hakyeon benar-benar sudah merebut segalanya. Sorot matanya kini sudah bisa melawan sorot mata Leo.

“Baiklah kalau itu pilihanmu” tak banyak yang dikatakan Leo untuk jawaban seorang istri yang memilih orang lain daripada suaminya sendiri. Bukankah itu sangat menyakitkan? Leo membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Jiki yang mematung seorang diri. Malam ini Leo kembali tidur di sofa dan tidak akan tidur di kamar. Sudah hampir 1 bulan Jiki mengusirnya keluar dari kamar. Dimana hatimu Shin Jiki? Suami yang kau kejar dulunya malah sekarang kau campakkan? Pesona Hakyeon sudah menutupi mata batinnya.

Leo kembali di depan ruang Tv. Duduk dan menyenderkan badannya di kursi sofa yang mereka beli setelah satu bulan pernikahannya dengan Jiki. Dari tempatnya duduk sekarang dia dapat melihat foto pernikahan mereka yang terpampang jelas di ruang tamu yang terletak bersebelahan dengan ruang Tv. Jiki tersenyum bahagia seraya memeluk Leo kuat. Dia terlihat cantik dengan gaun pengantin putih yang memiliki aksen permata didadanya. Senyumnya terukir sangat manis. Leo sangat menyukai senyumnya. Sekarang senyum manis itu tidak untuk Leo tapi untuk Hakyeon. 1 bulan yang lalu Leo mengenalkan Jiki pada rekan kerja barunya yaitu Hakyeon. Perkenalan singkat yang membawa malapetaka untuk pernikahan mereka. Pandangan Leo masih belum lepas dari foto pernikahan mereka. Tidak hanya Jiki yang tersenyum bahagia, Leopun ikut tersenyum bahagia. Perasaannya tatkala itu tidak bisa dilukiskan oleh apapun. Menemukan seorang pendamping hidup yang sangat mencintainya adalah anugerah terindah dalam hidupnya. Jiki yang mengenakan gaun pengantin putih dan Leo yang mengenakan taksedo hitam terlihat cocok bersama. Haruskan foto itu akan menjadi kenangan semata? Haruskah kenangan manis mereka berdua berakhir secepat ini? Leo mengacak rabutnya yang tidak gatal. Sakit di dadanya perlahan menggrogoti. Tangannya kembali meremas ujung sofa, membuang kemarahannya.

*****

Jam menunjukkan jam 9 malam dan Jiki masih belum beranjak dari depan komputer kantornya. Tinggal sedikit lagi maka pekerjaannya selesai. Ia memutuskan untuk lembur karena pekerjaannya yang tidak mungkin ia kerjakan esok hari. Kantor sudah sepi hanya beberapa office boy dan office girl yang lalu lalang membersihkan ruangan. Terpaksa karena tuntutan pekerjaan Jiki membatalkan janjinya dengan Hakyeon. Mungkin di lain hari dia bisa mengajak Hakyeon untuk mencari dress incarannya. Bagi Jiki Hakyeon adalah malaikat penolongnya. Saat bersama Hakyeon, Jiki merasa nyaman apalagi ketika memilih baju, tas, sepatu dan barang-barang lain yang di inginkan Jiki. Hakyeon bisa memberikan pendapat fashion yang membuat Jiki bisa menentukan barang kesukaannya dengan yakin dan percaya diri. Berbeda dengan Leo yang hanya diam bahkan cuek dengan pilihan Jiki. Tinggal Save dan pekerjaan Jiki selesai.

“Hoaaa, selesai juga” Jiki merenggangkan kedua tangannya kedepan dan ke atas kepalanya. Dia merasa otot-ototnya menegang sekarang. Dia butuh segera beristirahat. Kasur yang empuk akan menjadi pengobat paling utama.

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Tidak pernah Jiki pulang semalam ini. Kantornya juga terasa sangat sepi dan lengang. Rasa takut mulai datang menghantui Jiki. Dia paling takut dengan kegelapan dan sepinya malam. Nama Hakyeon terbersit pertama kali saat ketakutannya melanda. Ditekannya nomer Hakyeon, setelah menunggu ternyata tidak aktif. Nama Leo, suaminya sendiri malah terbersit kedua setelah orang baru tersebut, tapi Jiki enggan menghubunginya. Gengsinya terlalu tinggi untuk menghubungi Leo.

“Ottocke?” Jiki mengusir rasa takutnya dengan membereskan barang-barangnya. Sudahlah tidak ada pilihan lain selain memberanikan diri pulang seorang diri. Naik taksi menjadi pilihan bagi Jiki.

“Jiki-ssi, apa anda sudah selesai? Saya lupa memberitahu anda. Seorang menunggu anda di lobi. Dia sudah lama menunggu anda. Dia menunggu sejak jam 6 sore” salah satu office girl yang mengenakan seragam serba biru memberi tahu Jiki.

“Jinjja?” mata Jiki berbinar. Pasti itu Hakyeon, tebaknya.

“Ne. Dia tampan sekali. Apa dia suami anda?”

“Aniya” jawab Jiki malu-malu. Pertanyaan office girl ini terlalu vulgar membuat pipi Jiki menyemu merah.

Jiki tidak sabar bertemu dengan Hakyeon. Sekali lagi laki-laki ini memiliki nilai plus dibandingkan Leo. Senyumnya langsung terkembang ceria mengingat wajah Hakyeon. Ketakutannya hilang seketika. Langkahnya dipercepat, derap suara sepatunya terdengar jelas di lorong sepi yang menyambungkan ruangannya dengan lobi utama kantor ini. Dalam benak Jiki dia akan menghambur dalam pelukan Hakyeon kemudian mengajaknya makan ramen, pasti sangat menyenangkan menghabiskan malam bersamanya. Derap sepatu Jiki terhenti, dia sudah di lobi utama dan kenyataan pahit yang diterimanya. Bukan Hakyeon yang disana melainkan Leo. Senyum cerianya luntur. Leo mengenakan kaos putih dengan coat selutut warna hitam. Coat itu adalah pemberian pertama Jiki sebagai hadiah ulang tahun Leo. Bagi Jiki Leo terlihat sangat tampan tatkala mengenakannya, tapi sekarang Jiki tidak peduli ketampanan Leo saat mengenakannya.

“Kau sudah selesai?” Leo bangun dari duduknya mendapati istrinya berdiri tidak jauh darinya. Senyumnya yang dulu mahal Jiki dapatkan sekarang secara gratis Leo berikan padanya.

“Ada apa kau kesini?” bukannya menyambut Leo dengan hangat, Jiki malah menanyainya dingin. Risih dan kecewa dengan kedatangannya.

“Aku mengkhawatirkanmu karena sampai jam 6 kau belum pulang. Kau juga tidak mengangkat telfonku. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Ternyata kau lembur. Ayo kita pulang! Atau kau ingin makan terlebih dahulu?” Leo mengulurkan tangannya untuk dipegang Jiki. Biasanya Jiki akan mengambil uluran tangan tersebut dan menggandengnya. Sekarang semuanya berbeda. Jiki tidak memperdulikan uluran tangan tersebut. Berlalu tanpa sepatah kata. Leo tidak tinggal diam. “Ayo pulang bersama!” ajak Leo sekali lagi, dia mengikuti Jiki dari belakang punggungnya. Tetap Jiki tidak memperdulikannya. Tidak ada pilihan lain selain menarik tangannya.

“Lepaskan!” Jiki menarik tangannya tapi Leo menahannya. Mencengkramnya kuat.

“Pulang sekarang denganku! Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu” keselamatan Jiki lebih penting dan segalanya bagi Leo. Malam ini kalau sampai terjadi sesuatu pada Jiki akibat Leo mengizinkannya pulang seorang diri maka Leo akan menghukum dirinya sendiri seberat-beratnya.

*****

Di dalam mobil sampai dalam rumah Jiki masih terdiam. Leo juga tidak membuka pembicaraan sedikitpun.

“Jiki-ya, Jiki” panggil Leo saat Jiki keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ia berjalan dengan emosi yang tertahan di raut wajahnya. Leo kembali menghentikan langkahnya dengan menarik tangannya.

“Bisa tidak kau tidak seenaknya menarik tanganku?” sebegitu risihkah Jiki ketika Leo memegang tangannya. Ingat Jiki dulu kau membutuhkan sentuhannya.

“Jiki-ya sebenarnya apa yang terjadi? Katakan padaku. Ini bukan Jiki-ku yang dulu” Leo membuka genggaman tangannya. Dia berdiri tempat di samping Jiki. Sebenarnya Leo sangat ingin memeluknya. Dia merindukan tubuh kecil itu bermanja ria dalam pelukannya. Jiki melengos angkuh, seperti lelah dengan desakan pertanyaan Leo.

“Aku ingin bersama Hakyeon. Bisakah kau mengizinkanku?” Jiki melontarkan pertanyaan yang tidak pantas diucapkan di depan suami yang sangat mencintainya. Detak jantng dan nafas Leo berhenti dalam tiga detik mendengarkan istri yang dicintainya mengatakan pertanyaan tak layak ucap tersebut. Jiki membalikkan badannya yang sudah melengos angkuh. Matanya bertemu dengan mata tajam Leo yang menatapnya sayu. Selama hampir 1 tahun mereka menikah baru kali ini Jiki melihat mata Leo sayu. Selama ini mata itu penuh dengan ambisi yang menuntut Jiki. “Bisakah kau mengizinkanku?” Jiki menanyakan lagi kemauannya. Jiki apakah dia tidak bisa melihat mata Leo sekarang menahan emosi, kecewa dan kesedihan secara bersamaan? Istri yang dicintainya meminta bersama dengan laki-laki lain. Dimana akal sehatnya?

“Jiki-ya masih ingatkah bagaimana saat kau pertama kali mencintaiku? Masih ingatkah saat kau mengutarakan cintamu padaku? Masih ingatkah kau saat mengucapkan janji sehidup semati denganku? Apakah semua itu sudah hilang dalam ingatanmu?” dengan jelas Jiki dapat mendengar suara Leo yang lembut terdengar serak. Tangannya mengepal sempurna. Pundaknya sedikit bergetar.

“Aku hanya butuh jawaban iya atau tidak darimu bukan sederet pertanyaan itu” egois dan tidak berperasaan! Itu kata yang menggambarkan Jiki sekarang.

“Baiklah kalau itu yang kau butuhkan. Besok setelah kita makan siang aku akan menjawabnya”

“Aku akan mengingat janjimu” Jiki membalikkan badannya dengan penuh keegoisan dan keangkuhan. Meninggalkan Leo yang masih menatapnya dengan perasaan teriris. Tidak tahu apa yang dilakukan Hakyeon hingga membuat Jiki berubah dan melupakan semua kenangan mereka bersama.

“Kau akan menyesal Shin Jiki. Sampai kapanpun aku adalah suamimu dan tidak ada siapapun bisa mengambilmu dariku” Leo membalikkan badannya lemah. Sekarang dia merasa sudah kehilangan kekuatannya.

*****

Dua mangkok jajamyeon terhidang di hadapan Leo dan Jiki tapi keduanya tidak menyentuhnya sama sekali. Keduanya masih terdiam dalam kebungkaman. Leo sibuk memandangi Jiki dalam diamnya. Jiki tidak peduli pandangan intensif tersebut. Dia memalingkan mukanya ke arah pandangan lain.

“Jiki-ya apa kau sudah menungguku lama?” seorang datang secara tiba-tiba dari belakang Leo. Leo amat sangat mengenalnya, Hakyeon. Tapi dia tidak mengundang Hakyeon. Senyum Jiki tersungging cerah melihatnya.

“Aniya. Gomawo sudah menerima ajakanku untuk makan siang bersama. Habis ini kita jadi kan mencari gaun yang aku cari? Aku butuh pendapatmu Hakyeon-ah” Jiki bangun dari duduknya. Menggenggam tangan Hakyeon manja. Dia merengek layaknya anak kecil yang minta dibelikan sebuah lollipop. Leo membencinya! Damn!

“Tentu saja. Annyeong Leo-ssi” sapa Hakyeon ramah. Terlalu ramah untuk seorang rekan kerja yang sudah merebut istrinya secara terang-terangan.

“Annyeong” Leo masih bersedia menjawabnya walau sakitnya sudah tersebar di seluruh penjuru hatinya. Terjawab sudah mengapa Hakyeon ada disini, Jiki yang mengajaknya.

Hakyeon duduk diantara mereka. Mata Jiki langsung tertuju seratus persen padanya, melupakan suaminya sendiri yang duduk di hadapannya. Sikap dingin yang ditunjukkan Jiki sedari tadi berubah 180 derajat dihadapan Hakyeon. Sisi dinginnya berganti menjadi sisi anak-anak. Mereka berdua asik berbincang dan melupakan semua yang ada di sekitarnya. Seakan dunia hanya milik mereka berdua. Tak banyak yang bisa Leo lakukan, hanya diam dan memperhatikan mereka serta menyimak pembicaraan mereka yang tidak Leo pahami sedikitpun. Semakin lama mengamati, Leo bisa memahami sisi menarik Hakyeon bagi Jiki. Dia memiliki segalanya yang Leo tidak miliki. Segalanya yang Jiki dibutuhkan dan tidak didapatkannya dari Leo.

“Sepertinya kita akan terlambat kalau tidak segera berangkat. Kajja!” Jiki bangun dari duduknya dan menarik Hakyeon pergi. Melupakan Leo yang duduk di hadapannya sedang menatapnya tajam. Jiki lihatlah suamimu kesakitan melihat tingkahmu yang terang-terangan sedang selingkuh dengan laki-laki lain.

Kesakitan Leo belum berakhir sampai disitu saja. Selama perjalanan menuju butik yang berjarak sekitar 500 meter dari restoran tempat mereka berada, istri Leo ini tidak bisa lepas dari Hakyeon. Malah suaminya sendiri dibiarkan berjalan seorang diri di belakangnya, mengekorinya. Kenyataan selanjutnya yang menampar Leo adalah tangan keduanya berpegangan mesra, bahkan sesekali Jiki menidurkan kepalanya di bahu Hakyeon. Tepat di depan suaminya sendiri dia bermesraan dengan laki-laki lain. Jiki seakan menutup mata akan kehadiran Leo dan menganggapnya tidak ada. Hakyeonpun mengikuti permainan Jiki, ikut tidak memperdulikan Leo.

Butik yang didatangi mereka adalah sebuah butik ternama dengan beberapa gaun impor berbagai style. Dulu Jiki pernah mengajak Leo mengunjungi butik ini tapi Leo menolaknya dengan alasan dia sibuk. Di dalam butik Jiki asik memilih gaun dengan Hakyeon. Berkali kali dia memamerkan gaun yang sudah dipakainya pada Hakyeon. Setelahnya Hakyeon akan menggelengkan kepalanya pertanda tidak cocok. Sesekali juga Hakyeon menyarankan beberapa gaun untuk dicoba Jiki. Benar-benar pasangan yang sangat manis sekali. Manisnya sampai menusuk pada seorang suami yang terdiam memperhatikan istrinya bersama orang lain, lebih tepatnya rekan kerjanya sendiri. Sakitnya bertubi tubi menyerang dan tidak bisa dibayangkan sakitnya. Leo yang malang, dia masih bertahan berdiri walaupun jiwanya sudah terkoyak sekarang. Leo memang tidak bisa seperti Hakyeon yang bisa memilihkan gaun yang cocok untuk Jiki. Dia hanya bisa diam dan cuek ketika Jiki menanyai pendapatnya.

“Alasanku tidak bisa memilihkan gaun untukmu karena bagiku dengan baju atau gaun apapun yang kau kenakan, kau pasti akan terlihat cantik. Di mata seorang Leo kau selalu cantik dan pantas mengenakan apapun” bisik Leo dalam hatinya. Leo menghela nafasnya panjang. Mengatur emosinya yang naik turun sekarang.

Pilihan Jiki jatuh pada gaun merah selutut yang memiliki potogan simetris pada ujung gaunnya. Gaun yang sangat cantik dan elegan, harus diakui Hakyeon pintar memilih gaun.

“Hakyeon-ah gomawo” Jiki tersenyum senang.

“Ne” Hakyeon mengelus rambut Jiki. Leo di depannya tidak dapat berbuat apa-apa. Menahan semua sakit yang dirasakannya dalam satu lubuk hati terdalamnya. Leo menggeram tertahan, ingin sekali tangan Hakyeon dijauhkan dari Jiki.

“Baiklah aku masuk” Jiki masuk ke dalam mobil dan tinggal Leo dan Hakyeon diluar mobil. Hakyeon mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan tapi Leo tidak menanggapinya. Hakyeon terseyum pahit kemudian menarik tangannya kembali. Tidak berhenti disitu, dia mendekati Leo dan membisikkan sesuatu.

“Leo-ssi, siapkan surat ceraimu segera atau kau akan menyesal nantinya. Jaga dirimu baik-baik!” Hakyeon menepuk pundak Leo dua kali sebelum dia meninggalkannya.

“Surat cerai? Kau tidak akan mendapatkannya” jawab Leo setelah Hakyeon menghilang.

*****

Sudah malam saat keduanya menuju rumah. Keheningan menyelimuti keduanya, walau jalanan Seoul sedang ramai tapi mereka berdua tidak merasakan kebisingan sedikitpun. Leo masih konsentrasi penuh menyetir sampai Jiki merengek dengan pertanyaan tidak masuk akalnya.

“Apa jawabanmu tentang permintaanku?” Jiki membuka suara, menghilangkan keheningan. Leo diam. “Hari ini kau bisa melihat aku bahagia dengan Hakyeon. Apa jawabanmu?” Jiki melontarkan pertanyaannya lagi. Leo masih bertahan, diam. Jiki geram. “Leo, jawab pertanyaanku! Apa kau tuli?” Jiki membentak Leo yang tak membuka suaranya untuk memberikan jawaban.

Tak ada jawaban memang dari Leo. Dia menjawabnya dengan caranya sendiri. Diinjaknya pedal gas sehingga mobil semakin melaju cepat, selanjutnya Leo memasukkan gigi ketiga, menginjak pedal gas lagi dan mobil ini semakin melaju cepat. Melaju cepat di tengah ramainya jalanan Seoul. Sedikit lengah maka mobil mereka akan bersenggolan dengan mobil lain dan bisa menyebabkan mereka kecelakaan. Leo tidak peduli hal itu. Matanya sudah dibutakan dengan sakit yang dipendamnya.

“Leo, kau gila?” Jiki berteriak ketakutan. Tangannya berpegangan kuat pada jok mobil. Leo tidak peduli. Kecepatan bertahan di 120 km/jam. “Leo berhenti kataku. Leo berhenti!” Jiki terus berteriak ketakutan melihat Leo menyetir seperti orang kesetanan. Leo tidak menghiraukan teriakan Jiki. Dia terus melaju, hingga di disebuah tikungan dia membanting kiri setirnya dengan keras dan Brukk! Mobilnya menambrak pembantas jalan. “Kyaaaaa” Jiki berteriak keras. Dentumannya terdengar sangat jelas. Tapi keduanya tidak terluka karena Leo menginjak pedal rem kuat, membuat kampas remnya menahan putaran roda mobil kuat. “Kau gila” Jiki sudah tidak nyaman duduk di jok mobilnya. Dibukanya seat belt yang membelenggunya lalu keluar dari mobil, membanting pintu mobil keras.

“Jiki-ya” Leo mengejarnya. Memanggilnya untuk kembali. “Jiki-ya, Jiki-ya” Panggil Leo berulang ulang tapi Jiki tidak menghiraukannya. Dia menghentikan taksi.

“Aisshhh” Leo mengacak rambutnya. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan emosi yang bercampur kesakitannya. Dia juga tidak tahu akan menghabiskan malam ini dengan kesendirian dan kesakitannya.

*****

Pagi sekali Leo sudah bangun, sibuk memasak omelet di dapur. Omelet adalah makanan kesukaan Jiki, jika ditambah dengan susu cokelat maka jadilah sarapan kesukaan Jiki. Leo ingin menyiapkan sarapan tersebut sebagai penebus rasa bersalahnya akibat kejadian semalam. Sebuah omelet hangat dengan siraman saos ala Leo dan susu cokelat hangat siap diberikan. Leo mengetuk pintu kamarnya sendiri, tidak ada jawaban, mungkin Jiki masih tidur. Sekali lagi dia mengetuknya dan pintu terbuka. Dibaliknya Jiki sudah cantik dan wangi. Rambut lurus ikalnya dibiarkan terurai, rok hitam selutut dengan blues putih serta sepatu flat putih menjadi fashion stylishnya hari ini. Wajahnya yang semalam kusut sekarang telihat lebih segar apalagi ulasan lip blam pinknya membuat bibirnya terlihat seksi. Leo membuyarkan lamunannya tentang Jiki dan menyodorkan sarapan pagi untuknya.

“Makanlah sebelum kau pergi!” Leo menarik garis senyum di bibirnya. Bukan menyentuh dan mencoba makanannya tapi Jiki menepis nampan yang disodorkan Leo. Suara pecahan kaca terdengar berselang beberapa detik setelah Jiki menepis nampannya. Omelet serta susu cokelatnya tercecer di lantai.

“Makan sendiri! Aku tidak ingin makan makanan buatanmu!” Jiki melengos, menjejakkan kakinya keluar kamar, meninggalkan Leo. Derap kakinya terdengar jelas menggambarkan keangkuhannya.

“Kau akan pergi kemana?” Leo tidak tinggal diam. Dia masih mengejar Jiki, ingin menahan kepergiannya. Tangannya sudah berhasil menggapai tangan Jiki. Secepat mungkin Jiki menepisnya.

“Jauhkan tanganmu! Jangan menyentuhku dan bukan urusanmu aku akan pergi kemana?” Leo menurut. Dibiarkannya Jiki pergi. Entah kejadian apa lagi yang akan terjadi selanjutnya.

*****

Jiki duduk santai di taman kota, mengatur emosi dan pikirannya tentang Leo. Kicau burung dan bau udara pagi menjadi penyejuk pikiran serta membawa ketentraman jiwanya. Dari bangku tempat ia duduk Jiki dapat melihat beberapa orang sedang menikmati pagi yang cerah. Beberapa diantaranya menggandeng pasangannya. Salah satu yang menarik perhatian Jiki adalah seorang wanita muda yang sedang merengek minta dibelikan cola. Pasangannya tidak mengizinkan karena dia sedang hamil, Jiki dapat melihat perut buncitnya. Si yeoja terus merengek, menarik kaos pasangannya berulang-ulang kali dan menghentak hentak kakinya ke tanah. Pasangannya tetap cuek memainkan ponselnya dan tidak menggubris si wanita. Keadaan mereka sama persis seperti Jiki dan Leo. Jiki dapat mengingat betul pandangan kaku dan sikap dingin Leo ketika dia meminta cola. Leo selalu melarangnya meminum cola di pagi hari karena dapat merusak lambungnya.

“Mwoya? Kenapa aku memikirkan dia? Ish” Jiki menggeleng gelengkan kepalanya, membersihkan sisa-sisa pemikiran Leo. Kejadian sebelum dia pergi membayangi.

“Kau menunggu lama? Mianhae” Hakyeon datang membuyarkan bayangan Leo. Di tangannya sekarang ada dua cup cola dingin, disodorkan salah satunya pada Jiki. “Minumlah! Kau pasti haus” tawar Hakyeon ramah. Baru saja bayangan Leo terhapus, ternyata sekarang hadir lagi akibat tawaran cola dari Hakyeon.

“Aku belum haus. Letakkan saja!” Jiki melengos.

Ponselnya berdering lagi dan nama Leo terpampang disana. Sudah berulang kali Leo menelfon dan berpuluh-puluh pesan dikirimnya tapi Jiki tidak membalas ataupun mengangkat telfon dari Leo. Keinginannya hari ini adalah terbebas dari Leo. Semuanya tinggal keinginan karena pada kenyataan, kenangan mereka berdua datang menganggu.

“Hei angkat telfonmu!” Hakyeon menyenggol Jiki. Jiki menyeringai enggan, dia malas mendengar suara Leo. Mendengar suaranya bisa menambah ingatan tentang kenangan mereka.

“Bukan telfon penting” Jiki melengos, mengacuhkan ponselnya yang terus berdering. Berusaha sekuat mungkin tidak memperdulikan Leo yang seorang diri di rumah, menunggu kabar dari Jiki.

“Oh Jiki-ya, aku membelikan omelet untukmu. Bukankah kau sangat menyukai omelet?” Hakyeon mengeluarkan omelet yang dibungkus plastik bening, memberikannya pada Jiki. Dewi batin Jiki meruntuk sendiri, “Ada apa dengan hari ini? Apa kalian berniat untuk menyinggung kenanganku dan Leo?” perbuatan kasarnya pada Leo tadi pagi kembali memutar di ingatan Jiki.

“Aniya, aku tidak lapar” Jiki melengos berulang kali. Menahan kenangan manisnya yang mulai menguasai dirinya. Omelet yang Hakyeon tawarkan berbeda dengan omelet buatan Leo. Hangat dalam ingatannya, Leo selalu menghias omeletnya dengan olesan saos khas Leo, Jiki sangat menyukainya. Sekali lagi dewi batin Jiki meruntuk “Aku masih ingat kata-kata pujian untuk omeletmu, tidak akan ada omelet sebagus dan seenak buatan Leo. Leo-ya, apa kau masih mengingat kata-kata itu? Kenapa aku merasa bersalah?”

“Gwaenchana?” Hakyeon khawatir dengan sikap Jiki yang tiba-tiba berubah suram.

“Bisakah kita segera pergi dari tempat ini?” pinta Jiki masih dari lengosan kepalanya. Hakyeon tidak tahu dia menahan sesuatu, air mata.

*****

Sudah bola ke-50 masuk ke dalam ring basket tapi telfonnya tidak berdering, tidak ada tanda-tanda Jiki membalas telfon atau pesannya. Leo menyenderkan badannya yang dipenuhi keringat di besi tralis pembatas lapangan basket pribadinya.

“Jiki-ya odiya? Jangan membuatku khawatir karena tidak tahu kau dimana? Apa kau sedang bersama Hakyeon? Pulanglah!” begitulah sederet kata-kata yang mengisi pikiran Leo.

Matahari sudah naik dari peraduannya, cahayanya mulai menyengat. Leo bangun dari duduknya, meninggalkan bola basket yang memantul akibat lemparan terakhirnya ke ring basket gagal. Foto pernikahan mereka kembali menyambut Leo ketika memasuki rumahnya. Jiwanya terpanggil untuk berdiri dan memandang kebahagiaan mereka yang terbingkai indah di dalam sana. Simfoni cinta yang penuh liku, pelik dan sulit mereka jalani untuk mengabadikan foto yang menyematkan nama cinta di atas kehidupan mereka. Suara pintu terbuka dan Jiki ada di baliknya, akhirnya dia pulang. Lega melihatnya kembali dengan sehat dan baik-baik saja.

“Kau sudah pulang?” tanya Leo manis. Jiki tidak langsung menjawab, dia terdiam memandangi Leo penuh arti. Bola matanya berbinar meminta penjelasan dan pemberontakan.

“Apa yang kau lakukan disini?” Jiki balik bertanya.

“Hanya melihat foto pernikahan kita” suara Leo masih lembut walau Jiki terus menerus mengasarinya. Tidak disangka seharian tidak bertemu dan tidak mendengar suaranya ternyata membuat Jiki memikirkannya. Sebenarnya tanpa sepengetahuan Leo, dari luar jendela Jiki dapat melihatnya sedang memandangi foto pernikahan mereka, terdiam penuh hikmat. Tatapan matanya yang tulus membuat hati Jiki semakin terenyuh. Senyaman apapun Jiki bersama Hakyeon dia harus ingat statusnya sebagai istri Leo. Statusnya itu yang tidak dapat dipungkiri, mengikat dan menghukumnya seperti saat ini.

“Apa kau ingin makan sesuatu?” Leo tahu istrinya sangat lelah dan lapar setelah seharian berada di luar. Wajahnya nampak letih, Leo cemas. Dia bergerak mendekati Jiki, namun Jiki tetap tidak menggubrisnya. Jiki melengos, memalingkan mukanya dan meninggalkan Leo. Beberapa menit kemudian Leo dapat mendengar pintu kamar dibanting keras.

Jiki mengunci kamarnya rapat. Badannya yang lelah bersender di pintu kemudian merengsek jatuh. Ada apa dengannya hari ini dia tidak tahu. Hukuman batin sepertinya datang menghampirinya. Kenangan dirinya dengan Leo yang tidak sengaja terbuka ternyata membuatnya menikmati rasa sesal dan sakit secara bersamaan. Wajah tulus dan penuh harap Leo ketika melihat foto pernikahan mereka membuncah dalam pikiran Jiki. Bahkan wajah polos yang Jiki sakiti itu masih bisa tersenyum dan berkata-kata penuh perhatian pada wanita yang telah menyakitinya. Sekarang, semua serpihan luka yang Jiki sebar pada Leo malah balik menyerang Jiki, menghujamnya dalam satu tangkupan mematikan. Air mata yang Jiki tahan sejak tadi pagi akhirnya jatuh satu persatu.

“Mwoya? Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menangis?” Jiki menyudutkan sikunya, mendekatkan di wajahnya. Wajah cantiknya ditelungkupkan di kedua sikunya. Terdengar beberapa menit kemudian suara Leo mengetuk pintu, memanggil namanya. Mendengar suaranya menjadikan batin Jiki semakin berkecamuk dalam rasa bersalah dan kesakitan “Ada apa denganku? Jiki hentikan tangismu! Kau lebih bahagia bersama Hakyeon kan? Kenapa kau menyesalinya sekarang? Kau sudah bosan dengannya kan?” hati Jiki memunculkan sendiri pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu ia jawab seorang diri. Suara Leo sudah tidak ada dan Jiki bangun dari duduknya. Tidak untuk membuka pintu tapi untuk membereskan beberapa barangnya. Dia harus pergi dari tempat ini! begitulah janji yang ia sepakati dengan Hakyeon. Pergi dari rumah kemudian tinggal bersama Hakyeon. Jiki mengambil koper yang ia selipkan di antara lemari pakaiannya. Digesernya koper tersebut, saat Jiki menggesernya sebuah kotak cokelat ikut keluar dari balik himpitan lemari. Jiki menyudutkan pandangannya pada kotak tersebut. Terdapat beberapa kata-kata di atasnya.

Kopi adalah penawar terbaik untuk Leo saat ini. Dia duduk di ruang tamu, memandangi foto pernikahannya seraya menyeruput kopi latte kesukaannya. Setidaknya beban pikiran tentang Jiki berkurang 1%. Baru dua teguk ia meminum kopinya tiba-tiba Jiki datang dan melemparkan sebuah kotak cokelat yang terbuka. Isi dalam kotak tersebut berhamburan.

“Apa ini? Kim se hyoung? Bukankah dia wanita yang menyukaimu? Wanita yang mengejarmu hampir 10 tahun? Kau tidak malu mengirimkan ini pada wanita lain? Dimana harga dirimu? Aku masih istrimu Leo? Apa maumu?” cerca Jiki seenak hati, menumpahkan kesakitannya. Leo meraih kotak cokelat tersebut, diatasnya memang tertuliskan nama dan alamat Kim se hyoung. Leo sadar betul akan mengirimkan barang yaitu gaun padanya. Tapi karena Jiki lebih dahulu mengusirnya keluar kamar, dia lupa untuk mengirimkannya.

“Jiki dengarkan aku!” Leo menenangkan Jiki. Dipegangnya pundak Jiki, Jiki berontak.

“Lepaskan! Aku membencimu!” Jiki menangis sekarang. Leo sangat jelas melihat Jiki menangis di depannya, dia menangis akibat cemburu.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini? aku bisa menjelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang kau pikirkan”

“Aku tidak mau bicara lagi! Kita selesai malam ini. Secepatnya aku akan mengirimkan surat cerai! Lepaskan!” Jiki berontak dari cengkraman Leo tapi Leo menahannya. Jiki tidak peduli, dia terus berontak dan akhirnya Leo membuka cengkaraman tangannya, Jiki terlepas. Nafas Jiki memburu, diburu oleh emosinya sendiri. Tak ada lagi kata-kata yang diucapkannya, Jiki langsung berlari keluar rumahnya.

“Jiki-ya, Jiki. Hei yak, kembali kataku!” Leo membentak Jiki. Sudah terlambat, Jiki sudah membuka gerbang rumah mereka. Keluar dengan emosi yang menggebu. Kakinya yang bertelanjang bertemu dengan panasnya trotoar.

Leo jatuh terduduk di sofanya. Kepalanya pening, dipegangnya kuat. Kembali ia mengacak rambutnya, membunuh emosi yang membakar ubun-ubunnya. Gelas yang berisi kopi lattenya dibanting keras ke lantai. Bunyi pecahan kaca memenuhi rumahnya.

“Ish..” desis Leo marah.

*****

Jiki duduk di halte bis, dia menangis sejadi-jadinya. Semua orang yang lewat disana memadangnya dengan pandangan aneh, jijik, iba, kasihan dan berbagai pandangan yang tidak dapat terdefinisi. Jiki tidak memperdulikan pandangan mereka, yang Jiki pedulikan hanya rasa sakitnya. Hukuman batin menyiksanya kejam. Mengetahui Leo masih berhubungan dengan wanita tersebut memberikan kesakitan berlipat-lipat ganda. Seharusnya Jiki berkaca pada dirinya sendiri tentang kesakitan yang dia rasa tidak sebanding dengan kesakitan yang dirasakan Leo. Prilakunya selama ini lebih kejam dan menyakitkan bagi Leo. Leo tidak mengejarnya, itu adalah kenyataan pahit yang harus diterima Jiki. Tangisnya terus pecah dan menjadi teman matahari hingga tertidur di peraduannya. Malam datang dan Jiki masih menangis di halte. Desis angin sekarang menjadi teman tangisnya. Air matanya masih belum habis dan belum bisa membayar rasa sakitnya sekarang. Di sela tangis pilunya tentang Leo, Hakyeon kembali masuk dan mengingatkan keinginan mereka untuk tinggal bersama. Tanpa pikir panjang Jiki memutuskan untuk mengakhirinya malam ini dan memulai semuanya dengan Hakyeon.

Langkah kaki telanjang Jiki terhenti di sebuah rumah minimalis bergaya western. Baginya sekarang tidak ada lagi tempat pelarian kecuali Hakyeon. Jiki mengerutkan kakinya yang dingin, hampir 5 jam lebih dia tidak mengenakan alas kaki dan dia mulai merasakan kedinginan. Pagarnya terbuka dan Jiki masuk ke dalamnya tanpa ragu, menekan belnya dengan yakin. Tangisnya masih tersisa, sesenggukannya ada sesekali. Pintu terbuka, tapi bukan Hakyeon yang membuka melainkan seorang wanita muda dengan perut yang membuncit.

“Annyeong haseyo, nuguseyo?” sapa wanita ini ramah. Wajahnya sangat cantik, putih bersih dan berseri. Wajah cantiknya memperhatikan Jiki dari atas kepala sampai kakinya yang tak beralaskan kaki.

“Jiki imnida, nuguseyo? Apakah Hakyeon ada di dalam?” tanya Jiki aneh. Baru kali ini dia melihat wanita ini.

“Oh, Youngmi imnida. Saya istri Hakyeon” jawabnya dengan tenang. Suara anak kecil menyahuti dari dalam rumah tersebut.

“Eomma nuguseyo? Appa sudah kembali membeli ayam?” seorang anak laki-laki mirip Hakyeon datang. Umurnya sekitar 1 tahun. Jiki mati di tempatnya. Dia tidak bisa berkomentar apapun. Terlalu terkejut dengan kenyataan di hadapannya.

“Jankkaman, apa anda benar istri Hakyeon? Saya tidak pernah melihat anda sebelumnya?” Jiki masih belum terima. Dia berharap wanita ini sedang bercanda.

“Ne. Saya tinggal di Jepang. Kami selalu mengunjungi Hakyeon setiap 1 tahun sekali. Dia memang sedang bertugas di Korea sekarang” senyum wanita ini lembut, tidak ada dosa terberkas disana. Kesakitan Jiki berlipat-lipat dirasanya. Sakit ditipu dan sakit dikhianti, karma memang kejam. Bibir Jiki terasa kelu dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata pembelaan. Tidak mungkin dia mengungkapkan status dirinya bersama Hakyeon.

“Baiklah saya pergi”

“Nonaa, lebih baik anda masuk dulu. Hangatkan diri anda, sepertinya anda…” Youngmi menghentikan perkataannya karena Jiki sudah berlari dan menghilang.

*****

Jiki seorang diri sekarang, dia berjalan seorang diri dengan kondisi yang kacau. Kembali semua orang memperhatikannya, banyak diantara mereka berbisik satu dengan yang lain, menatap Jiki seduktif bahkan banyak dari mereka yang menertawakan Jiki. Sepertinya semua pelecehan sosial ini pantas diterima Jiki. Malam semakin larut dan dia semakin kedinginan. Dewi batinnya menjerit, mencari keberadaan Leo. Tidak ada Leo, dia tidak mencari dan mengejar Jiki. Jiki membutuhkan Leo sekarang, membutuhkannya untuk menyelamatkan Jiki dari kedinginan, haruskah Jiki mati kedinginan sekarang? Perutnya juga tidak bisa diajak kompromi, meraung-raung minta di isi. Seharian ini tidak ada makanan yang masuk mengisi perut Jiki. Langkah kaki telanjangnya sekarang terhenti tidak jauh dari halte bis tempat ia menangis seharian. Dia bisa melihat seseorang duduk sendirian disana, menenteng beberapa bungkus ayam. Hakyeon, batin Jiki berteriak. Amarah Jiki bergejolak melihatnya terdiam tanpa merasa bersalah sudah menipu Jiki, maka dihampiri Hakyeon yang seorang diri sedang menunggu bis.

“Jiki, kau?” Hakyeon kaget melihat keadaan Jiki. Plak! Jiki menampar Hakyeon keras. Hakyeon meraba pipinya yang memerah. “Apa yang terjadi? Kenapa kau menamparku?”

“Kau busuk Hakyeon-ah, kau sangat menjijikkan”

“Jiki-ya? Apa yang terjadi?” Hakyeon menghentikan kata-katanya, berpikir cepat dan dia mengerti apa yang terjadi. “Jiki-ya apa kau ke rumah? Aku bisa menjelaskan semuanya..” Hakyeon mencoba meraih tangan Jiki. Tiada guna, Jiki melangkah mundur menjauhinya.

“Pergi, pergi! aku membencimu, Pergi!” Jiki menjerit di ujung perkataannya karena Hakyeon berhasil memegang tangannya.

“Jiki tolong dengarkan aku! Aku akan segera menceraikannya” Hakyeon masih berusaha menjelaskan.

“Menceraikannya? Dimana otakmu? Dia sedang hamil anakmu” Jiki beteriak keras. Emosinya sudah tidak terkendali. Tangannya ditarik kuat, terlepas.

“Jiki, dengarkan aku!” Hakyeon mengejar Jiki yang mulai berjalan menjauh. Jiki sudah tidak peduli apapun yang dikatakan Hakyeon. Dia adalah pembohong besar. Wajah dan nama Leo sekarang mengisi penyesalan dan pikiran Jiki. Tubuh Jiki yang lemas jatuh di jalan trotoar. Tidak ada yang menolongnya, semua orang yang melihatnya menatapnya dengan pandangan aneh.

“Leo, kau dimana?” bisik Jiki dari tengah tangisnya.

*****

Entah berapa kali Leo mendribel bola basketnya. Entah berapa kali pula dia memasukkannya pada ring basket, dia tidak peduli. Satu yang mengisi pikirannya, Jiki. Dimana dia sekarang? berkali-kali Leo menelfonnya tapi dia tidak menjawabnya. Jelas Jiki tidak akan menjawabnya, ponselnya di kamar dan silent mode. Leo membuang bola basketnya, bolanya menimpa besi tralis. Rambutnya yang basah dengan keringat diacak tak beraturan. Hatinya sudah tidak bisa diajak kompromi. Dia sangat yakin Jiki dalam keadaan tidak baik. Ponselnya dicek kembali dan hasilnya nothing.

“Haish, Jiki odiya?” Leo membuang ponselnya. Direbahkan badannya yang berkeringat di lapangan basket miliknya. Nafasnya memburu. Dalam keadaan seperti ini dia ingin sekali menelfon Hakyeon, ingin menanyakan keberadaan Jiki tapi nuraninya menolak keras. Wajah marah Jiki membayanginya. “Kenapa kau begitu cemburu Jiki-ya? Bukankah kau lebih memilih Hakyeon? Sebenarnya kau masih mencintaiku kan?” batin Leo menerka sendiri. Menyesal dia tidak mengejar Jiki dari awal, pasti sekarang dia sudah jauh.

Jiki duduk tertelungkup di jalan kecil yang gelap. Tangisnya meraung raung, tidak ada yang memperdulikannya. Baru saja dia tertawa bahagia dan sekarang dia menangis seperti orang gila. Malam sudah menjelma menjadi momok yang paling menakutkan. Dia benci malam yang mencekam dan sepi.

“Leo-ya, aku takut” akhirnya dewi batinnya membutuhkan nama itu lagi. Hakyeon yang dipilihnya ternyata busuk. Jiki bangun dari posisinya, angin malam berhembus sangat dingin. Dia mengigil kedinginan. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Sudah banyak toko yang tutup, jalanan juga semakin sepi. Jiki benar-benar kesepian dan kedinginan. “Leo-ya, odiya? Aku takut” Jiki mengigil ketakutan.

 

Jika kau ketakutan di kegelapan, genggamlah cincin pernikahan kita..

Pejamkan matamu, rasakan jiwaku bersamamu…

Dan kau akan tenang sekarang…

Kata penenang Leo terngiang di benak Jiki, dia harus mencobanya. Cincin pernikahannya yang Leo sematkan setahun lalu digenggamnya erat. Tangannya yang dingin menangkup satu sama lain. Matanya dibiarkan terpejam, merasakan jiwa Leo bersamanya. Entah ini sebuah kata jimat atau mind set dari perkataan Leo, Jiki menemukan ketenangan dari ketakutannya. Bahkan dia sangat jelas melihat Leo berdiri di depannya, tersenyum padanya. Senyum yang Jiki sia-siakan saat bersama Hakyeon. Bukan itu saja yang Jiki lihat tapi semua kenangannya bersama Leo.

“Leo-ya berikan aku colanya” rengek Jiki.

“Andwae, ini akan merusakan pencernaanmu” jawab Leo cuek.

 

“Oppa-ya maukah kau menjadi suamiku?”

“Hei, kau tidak tahu malu melamar namja terlebih dahulu?”

“Aniya, yang terpenting oppa menjadi suamiku”

“Gadis gila”

 

“Tada, omelet untuk istriku cinta”

“Waa, cantik sekali. Kau menghias omeletnya dengan olesan saos yang sangat cantik. Tidak akan ada omelet sebagus dan seenak buatan Leo”

“Makanlah jika kau menyukainya”

 

“Kau darimana?”

“Bukan urusanmu”

“apa kau bersama Hakyeon?”

“Ne”

 

“Aku ingin bersama Hakyeon. Bisakah kau mengizinkanku?”

“Kau lebih memilihnya ketimbang suamimu sendiri?

 

Semua kejadian itu berputar di memori Jiki, memberikan flashback kejadian yang membuat Jiki tercengang dan menyadari bahwa semua yang dilewatinya dengan Hakyeon tidak sebanding dengan Leo. Dia dulu mati-matian mengejar Leo dan sekarang mencampakkannya begitu saja, malah lebih memilih laki-laki yang ternyata sudah beristiri. Jiki membuka matanya, air matanya mendesak keluar, tidak dipedulikannya air matanya yang mengucur deras. Diberanikan dia melangkah seorang diri. Pulang! Dia harus segera bertemu dengan Leo, meminta maaf atas semua yang dilakukannya. Jiki tidak membawa uang sepeserpun, dia harus pulang berjalan kaki, seorang diri, menerjang dinginnya malam dan melawan ketakutannya sendiri. Lakukanlah Shin Jiki demi menebus rasa bersalahmu pada suamimu!

Jam 1 malam ketika dia sampai dirumahnya. Pintu rumahnya terbuka lebar, Jiki masuk dengan perasaan yang tidak menentu. Wajahnya ditekuk berlipat lipat, menyimpan malu dan rasa bersalah yang sangat besar terhadap Leo. Dari semua sisi rumah yang Jiki cari tidak ada sosok Leo. Jiki merengsek ke belakang rumahnya, lapangan basket. Ternyata dia menemukan Leo sedang duduk termenung.

“Leo-ya” panggil Jiki lembut. Leo mendengar suara lembut itu segara mendongakkan kepalanya dan didapati olehnya istrinya yang lusuh sedang berdiri disana.

“Jiki-ya, kau?” sudah tidak perlu banyak bicara lagi, Jiki berlari dan menghambur dalam pelukan Leo. Hangat tubuh Leo menjalar di tubuhnya. Dia menangis sesenggukan disana.

“Mianhae” ucapnya dari balik pelukan Leo.

“Gwaenchana” didekapnya Jiki erat, dielusnya ranmbutnya yang kusut. Tangis Jiki semakin pecah, mengisi lapangan basket.

Setelah sudah dirasa cukup menumpahkan semuanya, Jiki membuka pelukannya. Kepalanya masih tertunduk. Dia sangat malu untuk melihat Leo sekarang.

“Leo-ya, jeongmal mianhae. Aku sangat bersalah padamu. Maafkan istrimu yang sudah menyakitimu! Aku akan menerima semua hukuman darimu. Aku siap!” Jiki menangkat kedua tangannya. Menyatukan pergelangan tangannya dan diulurkan pada Leo, menunggu Leo memberikannya hukuman. Leo menurunkan pergelangan tangan itu, menggelengkan kepalanya yang diselingi dengan senyum kelegaan.

“Aniya. Melihatmu kembali di sisiku adalah penebus kesalahan terbesarmu. Berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi! Tetaplah disisiku!” Leo mengelus ubun istrinya. Kemudian mengelus pipinya yang basah dengan air mata.

“Jinjja? Gomawo” sekali lagi Jiki menghambur di pelukan Leo. Nyaman sekali merasakan hangatnya pelukannya dengan penuh rasa cinta.

“Apa kau tahu hari ini adalah hari yang special bagi kita?” Jiki keluar dari kungkungan Leo, memperhatikannya, mencari jawaban dari pertanyaan Leo. Jiki lembut menggelengkan kepalanya. “Hari ini adalah hari dimana kau melamarku, apa kau ingat?” disentuhnya hidung Jiki, Leo gemas melihatnya. Jiki ternganga dengan pernyataan Leo, dia masih ingat hari itu.

“Kau…” Jiki tak kuasa menahan tangisnya lagi. Laki-laki yang Jiki sakiti ternyata mengingat betul hari itu. Padahal Jiki sendiri sudah melupakannya.

“Oh satu lagi, sebenarnya gaun yang ada di kotak cokelat itu untukmu. Aku mengirimkan pada se hyong untuk meminta pendapatnya cocok apa tidak untukmu? Karena aku tidak memiliki selera yang bagus seperti Hakyeon dalam memilih gaun yang cocok untukmu. Lagipula bagiku, gaun apapun yang kau mengenakan pasti cocok untukmu dan kau terlihat cantik” Leo menyembunyikan wajahnya. Pipinya menyemu merah, malu. Pipi Jikipun ikut menyemu merah, ternyata kecemburuannya tidak terbukti.

“Kau” Jiki menjijitkan kakinya. Mencium pipi Leo sekilas. Leo mendongakkan kepalanya, menyentuh pipinya. “Gomawo, jeongmal gomawo suamiku” ucap Jiki senang, sekarang Jiki bisa mengembangkan senyumnya. Tangisnya lenyap, Leo mengangguk cepat, kemudian memeluk Jiki lebih erat dari sebelumnya.

Sudah kukatakan padamu..

Aku akan bertahan di sisimu..

Waktunya sudah tiba dan kau kembali..

Tetaplah seperti ini dan jangan menoleh ke belakang..

Tataplah lurus ke depan karena disana ada aku..

Cinta yang dulu kau kejar, kau buang dan kau pungut lagi

Tak masalah bagiku..

Hasil penantian cinta itu membawamu bersamaku..

Ya, bersamaku selamanya~

This is my love equation…

Waiting you and.. Loving you, my wife

                                                                        Leo, Love equation 

Iklan

20 pemikiran pada “Love Equation

  1. ngenessssssssssssssssssssssssssss
    kenapa sih,,kenapaaa aku ikutan nangissssssssssss

    tegaaaaa
    ada bebrapa kata2 menyuntuh td??????????

    aishhh jinjaaaaa
    apalgi yg pegang cicncin pernikahan td waksss

  2. Nah loh, FF nya unni makin keren nih.

    Tuh kan jadi gimana gitu.
    Oke bang Leo !! Aku gak akan selingkuh lagi. Janji !!
    Haahahaha…

    Keren unn !!

  3. EONNIIIIIIIIIIIIIIIIIII HUAAAAAAAAAAAAAAAAA 😥
    KENAPA LEO GITU?!KENAPA?! APPO! 😥
    okay eonni berhasil bikin mataku berkaca2 baca ni. aaaaah dadaku sakit mikir perasaan leo. tp baguslah happy ending :’)
    leo oppa mianhae. walau aku gak seligkuh dengan N tapi aku selingkuh ma Ken. mianhae. miaaaan hiks 😥
    aaaaaaaa eonni kenapa bikin ff kayak gini?? serasa ditusuk aku baca ni.
    daebak eonni

  4. Nyeseeeeeeeeeeeeeeekkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!>< Huaaaaa, nangis!!!! TT^TT

    Ini nih ya, sesuai banget sama Leo di kehidupan nyata! Walaupun diem mulu+cuek dri luar, diam-diam dia perhatian+penyabar 😀 HIKS, sedih klo jadi Leo~ Bener2 DAEBAKSAGEON dah ffnya (y) (y)

    Ayo Kak, bikin ff lgi~ trserah kapan aja 😀 *ploook /ya iyalah terserah authornya-_-* FIGTHING aja deh kak^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s