Memory

11037349_793282127424105_1185436019033379482_n

Tada.. Author Comeback bawa new FF^^.. kali ini bawa si Rapper keceh Vixx, si Ravi^^… Happy reading, Enjoy this Story.. Maaf kalau ceritanya kurang greget :(…So cekidot >>>>, saran dan comentnya yah jangan lupa~~ ^_^

*thanks for ravienne artwork buat covernya yang menyayat hatiiii T.T

Author : Vivin

Title    : Memory

Cast     :   –    Ravi

  • Kim Seolhyun

Seolhyun membuka perlahan matanya. Mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Membuyarkan beberapa kabut di matanya yang menghalangi pandangannya. Kabutnya mulai menghilang dan dia dapat melihat langit-langit kamar yang putih bersih. Suara seseorang berteriak, terdengar dari sampingnya. Suaranya samar tapi Seolhyun dapat mendengar namanya yang disebut. Seorang wanita berambut ikal datang kepadanya, memegangi tangannya dan menangis di hadapannya.

“Seolhyun akhirnya kau sadar” begitulah kata-kata yang diucapkannya. Seolhyun tidak menjawabnya, dia hanya menatapnya beberapa detik. Mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Mengumpulkan ingatannya yang tercerai berai dalam dunia alam bawah sadarnya.

“Dimana aku?” akhirnya Seolhyun bisa membuka suaranya. Penasaran dengan sekellilingnya yang tampak asing, tidak seperti kamarnya.

“Kau dirumah sakit Seolhyun” jawabnya tenang.

“Apa yang terjadi?”

“Istirahatlah, aku akan menceritakan setelah keadaanmu membaik!” janji wanita yang mengenakan kemeja merah ini. Seolhyun terkulai lemah di ranjangnya. Kepalanya terasa pusing dan badannya sangat sakit.

*****

Beberapa burung parkit bermain di ranting pohon maple yang sedang bersemi. Warna daunnya yang kecokelatan berpadu padan dengan rerumputan hijau menjadi objek refreshing mata yang alamiah. Seolhyun mengamati daunnya yang lemah tertiup angin, seakan menari kesana kemari. Beberapa diantaranya jatuh diantara rerumputan hijau dan mengotori halaman rumah sakit.

“Seolhyun-ah” sapa seseorang yang pertama kali Seolhyun lihat tatkala dia sadar. Ketika pertama kali melihatnya Seolhyun tidak dapat mengenalinya. Ye eun, dia adalah sahabat sekaligus keluarga bagi Seolhyun setelah sepeninggal orang tuanya. Dia membawa beberapa tangkai bunga aster. Meletakkannya di vas bunga yang terisi bunga aster lainnya yang sudah layu. Mengganti keberadaan bunga layu tersebut.

“Kau datang?” senyum lemah Seolhyun terukir. Keadaannya sudah membaik dibandingkan ketika pertama kali dia dibawa.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Keadaanku sudah membaik. Ye eun-ah sebenarnya apa yang terjadi?” Seolhyun tidak sabar mengetahui kejadian yang menimpanya.

“Em.. Jadi hari itu.. emm.. kau mengalami kecelakaan kecil setelah mengantarkanku berbelanja” jawan Ye eun enteng. Dia berhasil menyusun kata-kata walaupun suaranya terdengar gemetar.

“Benarkah? Aku tidak mengingatnya. Kecelakaan seperti apa itu?” memang tidak ada luka serius di tubuh Seolhyun. Perban melilit kepalanya serta beberapa goresan di pelipis dan kedua lengannya. Meyakinkan sekali dia mengalami kecelakaan kecil yang tidak membahayakan hidupnya.

“Aku juga tidak mengingat secara detail kejadiannya. Yang aku tahu kau jatuh di trotoar”

“Jinja?” Seolhyun mengerutkan dahinya. Memutar memorinya mengingat kecelakaan yang dikatakan Ye eun. Kosong di memori ingatannya.

“Sudahlah yang penting sekarang keadaanmu sudah membaik” Ye eun mengelus punggung Seolhyun, menenangkan sahabatnya dari rasa penasaran yang mengejarnya.

“Oh, apa Ravi tahu aku kecelakaan? Kenapa dia tidak menjengukku? Calon suami macam apa tidak perhatian pada calon istrinya?” Seolhyun bersungut sungut.

“Ravi? ah.. em.. molla” mendadak Ye eun salah tingkah. Bola matanya berputar berkali kali menghindari tatapan mata Seolhyun yang menyelidik.

“Mwoya? Gwaenchana?” Seolhyun merasa aneh dengan sikap sahabatnya yang berubah tatkala ia menyebut nama Ravi.

“Ah ne” jawabnya, masih dengan sikapnya yang salah tingkah.

“Kapan kita bisa keluar dari sini? Aku belum fiting gaun pengantin. Pernikahanku sebentar lagi dan masih banyak persiapan yang belum aku kerjakan” kecemasan menghantui Seolhyun mengingat pernikahannya tinggal hitungan minggu.

“Besok kau sudah boleh pulang”

“Jinjja?” senyum lemah kedua Seolhyun mengembang pasca dia tidak sadarkan diri.

*****

Hal yang paling dibenci Seolhyun ketika dirumah sakit adalah seorang diri di kamar. Dia tidak suka ruang VIP seperti ini. Dia lebih suka kamar bangsal yang menampung banyak pasien. Disana dia bisa bercengkrama dengan pasien lainnya. Kalau seperti ini tidak ada hiburan baginya selain Tv. Itupun Seolhyun tidak berminat untuk menontonnya. Jam masih menunjukkan jam 8 malam dan rumah sakit sudah terasa sepi. Sulit sekali rasanya menutup mata. Tidak sabar menunggu besok dan Seolhyun bisa keluar dari sini.

“Kau baik-baik saja?” sebuah suara bariton nan seksi terdengar. Menembus pendengaran Seolhyun.

“Ravi?” Seolhyun merindukan suara ini. Merindukan senyumnya dan merindukan calon suaminya. Lega sudah bisa melihatnya berdiri dengan gagah di pintu seraya membawa bunga mawar kesukaan Seolhyun. Diletakkan satu tangkai bunga itu di vas bunga bersama dengan bunga aster Ye eun. “Kau dari mana saja? Aku merindukanmu” tidak turun dari kasurnya. Seolhyun memilih untuk bangun dari tidurnya dan duduk di kasurnya. Seolhyun memeluk Ravi dengan posisi duduk. Ravi memasrahkan tubuhnya dipeluk Seolhyun erat, sangat erat.

“Maaf aku terlambat menjengukmu” Ravi membalas pelukannya dan mengelus rambut hitam pekat Seolhyun.

“Temani aku malam ini. Aku ingin kau menemaniku malam ini” Seolhyun menggesek gesekkan kepalanya manja di dada Ravi yang bidang. Mencari kehangatan dan kenyamanan disana.

“Iya istriku” Ravipun mengeratkan pelukannya. Memberikan kehangatan yang Seolhyun cari.

Seolhyun tersenyum. Ia membuka pelukannya, masih tidak rela jauh dari Ravi rupanya. Dia memeluknya lagi. Ravi tersenyum mendapati Seolhyun kembali di pelukannya.

“Ayo sayang, waktunya tidur!” bujuk Ravi. Seolhyun menggesekkan kepalanya lagi. Ternyata dia enggan jauh dari Ravi.

Ravi duduk di samping Seolhyun, menggenggam tangannya terkadang mencium punggung tangannya. Seolhyun sudah tenang sekarang. Dia bisa tidur dengan nyaman. Mengarungi dunia mimpinya bersama Ravi. Di dalam dunia mimpinya terlihat jelas Ravi mengenakan taksedo hitam dan Seolhyun mengenakan gaun pengantin dengan ekor gaun yang menguntai indah di lantai gereja. Lonceng gereja berdenting nyaring dan waktunya mengucapkan janji sehidup semati. Sang pastur sudah siap dengan pernyataannya. Siap menyatukan keduanya dalam janji pernikahan yang sakral. Saat pastur mengucap frasa kata pertama yaitu “saudara Kim seolhyun apakah” sebuah ledakan terdengar dari pintu gereja yang tertutup rapat. Asap pekat datang, menutupi pandangan Seolhyun. Dia tidak bisa melihat Ravi sekarang. Asap menghilang dan dia seorang diri. Bahkan sang pastur yang siap menyumpah keduanya menghilang. Seolhyun ketakutan dan kebingungan mendapati dirinya seorang diri di tengah gereja yang sepi dan mencengkam.

“Raviii” teriaknya. Tidak ada jawaban. Hening. Brakk! Pintu gereja tertutup secara tiba-tiba dan menyentak Seolhyun keluar dari mimpinya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tangannya meremas ujung kasur. Dilihat disampingnya Ravi sudah tidak ada. Dialihkan pandangannya ke sisi lain, ada Ye eun disofa sedang tertidur pulas.

“Ravi odiya?” dia turun dari ranjangnya. Berlari keluar tapi tidak ada Ravi disana. Ye eun yang mendengar derap langkah terbangun dan mendapati Seolhyun berdiri di pintu. Raut wajahnya kebingungan.

“Seolhyun apa yang terjadi?” tanya Ye eun. Tangannya mengucek matanya.

“Ravi, aku mencari Ravi. Apa kau melihatnya pergi? Kemana dia pergi?” Seolhyun tidak memfokuskan pandangannya pada Ye eun. Sibuk menebar pandangan di semua sisi kamarnya.

“Ravi?” Ye eun tertegun. Tenggorokannya mengering menyebut namanya.

“Ne. Semalam dia menemaniku”

“Kau yakin Ravi datang kesini?” tanya Ye eun meyakinkan. Wajahnya tegang.

“Tentu saja. Aku melihatnya dengan jelas. Dia menjagaku semalaman” Seolhyun meyakinkan Ye eun akan perkataan dan ingatannya.

“Seolhyun-ah, aku pikir kau bermimpi. Tidak ada Ravi sama sekali. Aku yang menjagamu semalaman” bantah Ye eun.

“Aku yakin dia pulang sebelum kau datang. Dasar! Aku akan membunuhnya setelah bertemu nanti” Seolhyun mempouthkan bibirnya. Mendengus kesal karena ditinggal Ravi.

*****

Ada beberapa sisi kamar Seolhyun yang berubah. Ye eun yang mengubahnya dan membersihkannya. Selama Seolhyun di rumah sakit dia membersihkan rumah seorang diri. Satu yang tidak berubah dari kamar Seolhyun adalah fotonya dengan Ravi yang terpampang manis di meja hiasnya. Keduanya tersenyum di depan kamera. Seolhyun mengambil foto tersebut, mengusap kacanya lalu mencium foto Ravi.

“Hei, aku sangat merindukanmu” bisiknya. Padahal baru semalam dia bertemu dan sekarang dia sangat merindukannya.

Angin bertiup sangat kerasnya sampai membuka jendela kamar Seolhyun. Rambut Seolhyunpun tertiup hembusan angin tersebut. Beberapa helai diantaranya menutupi wajah cantiknya. Seolhyun menghampiri jendelanya, hendak menutupnya karena anginnya benar-benar mengganggu kemesraannya dengan foto Ravi. Semuanya tinggal keinginan untuk menutup jendela, karena kenyataannya diluar sana Seolhyun melihat Ravi berdiri memandanginya. Seketika angin yang berhembus keras berhenti berhembus. Seakan dikendalikan oleh sesuatu kekuatan magic. Bahagia menyeruak dalam diri Seolhyun melihat pangerannya. Pangerannya berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam saku celananya. Hari ini dia mengenakan setelan kemeja putih dengan kancing atasnya terbuka. Rambutnya basah dengan gel rambut dan bibirnya terlihat merah, sangat seksi dan menggoda Seolhyun.

“Keluarlah!” teriak Ravi dari luar. Seolhyun mengangguk mengerti. Secepat mungkin dia melangkah keluar dari kamarnya, melewati dapur dan langkahnya terhenti oleh Ye eun yang menangkap tangannya.

“Hei hei, mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?” tanya Ye eun menyelidik.

“Menemui Ravi di depan” binar bahagia terpancar dari wajah Seolhyun yang masih pucat.

“Ravi?” alis Ye eun mengerut menyebutkan namanya. Ketakutan mengrogoti dirinya.

“Wae?”

“Tidak ada Ravi Seolhyun-ah! Masuk saja ke kamarmu!” Ye eun mendorong bahu Seolhyun untuk menuruti perkataannya. Nada suaranya meninggi dari alto menjadi falsetto.

“Hei yak” Seolhyun berontak. “Ye eun ada apa denganmu? Sepertinya kau tidak suka aku bertemu dengan Ravi? Wajahmu menjadi tegang ketika aku menyebut nama Ravi? Kau tidak menyimpan rahasia kan?” Seolhyun mulai curiga.

“Aniya” Ye eun menjauhkan dirinya dari Seolhyun. Wajahnya ditekuk menghindari kontak mata dengan Seolhyun.

“Aneh” Seolhyun pergi dan tidak memperdulikan Ye eun. Tidak sabar bertemu dengan pangerannya.

Sesampainya di luar Seolhyun segera menghambur lagi di pelukan Ravi. Pelukan erat dan penuh kerinduan seperti saat dirumah sakit. Ye eun hanya bisa memperhatikan semuanya dari jendela yang sesekali tirainya tersibak angin. Sakit! Menyelinap masuk dalam dirinya.

*****

Hangatnya sore menemani Seolhyun dan Ye eun mengunjungi butik gaun pengantin. Dua orang pelayan langsung menyapa hangat Seolhyun dan Ye eun di pintu masuk. Pemiliknya nona Hye rin sangat mengenal betul dua orang sahabat ini karena dia pernah bekerja sama dengan keduanya untuk pengadaan fashion show di perusahaan Ye eun.

“Seolhyun-ah, Ye eun-ah senang melihat kalian kembali kesini. Ada yang bisa kami bantu? Apakah Ye eun akan mencari gaun pengantin?” selalu ramah, begitulah nona Hye rin.

“Ye eun sepertinya masih belum berminat mencari pendamping. Tentu saja kami datang kesini untuk fiting gaun pengantinku. Mana gaun yang aku pesan?” Seolhyun terlihat sangat bersemangat untuk fiting baju pengantinnya kali ini.

“Ye?” nona Hye rin tertegun mendengar perkataan Seolhyun. Wajah ramah Hye rin mengkerut dan menjadi datar. Seketika semua orang di butik ini terdiam. Beberapa diantaranya berbisik satu dengan yang lainnya.

“Wae? Apa ada yang salah?”

“Nona Seolhyun bukankah…” Nona Hye rin hendak menjelaskan tapi Ye eun menyerobot perkataan nona Hye rin.

“Nona Hye rin bukankah kemaren kau mengatakan padaku bahwa gaun yang Seolhyun pesan ternyata ada yang membela. Hari ini sepertinya kita harus mencari gaun yang baru” mata Ye eun berulang kali memberikan isyarat pada nona Hye rin untuk mengiyakan perkataanya.

“Ye?” kedua kalinya nona Hye rin mengerutkan dahinya. Tidak mengerti dengan situasi yang diterimanya.

“Oh bisakah kita bisa melihat koleksi terbaru anda?” dengan paksa Ye eun menarik tangan Seolhyun. Menggiringnya mendekati lemari gaun pengantin yang terletak di pojok ruangan. Nona Hye rin masih tidak bisa mengerti dengan situasinya sekarang. Dia pikir ada yang salah dengan kejadian tadi, atau memang dia yang tidak bisa mencerna perkataan Seolhyun dan Ye eun.

Beberapa deret gaun pengantin sudah dicoba Seolhyun. Pilihannya jatuh pada gaun pengantin yang memiliki tipe sama dengan gaun pengantin yang Ye eun katakan sudah dibeli orang lain. Perbedaanya hanya terletak pada hiasan di bagian pinggangnya. Gaun ini tidak memiliki hiasana mutiara dan manik seperti gaun pengantin yang diinginkan tempo lalu. Seolhyun pikir ini adalah gaun pengganti yang disukainya. Walaupun ada rasa kecewa yang mendalam karena gaun pengantin yang dipesannya malah dijual pada orang lain.

“Nona Hye rin kenapa anda tidak menghias butik anda? Bukankah lusa adalah hari valentine?” tanya Seolhyun santai seraya membuka gaunnya.

“Maaf nona Seolhyun. Sekarang sudah bulan maret”

“Mwo? Bukankah sekarang masih bulan Februari? Apa aku….” Seolhyun memutar matanya, mencari kalender. Dia tidak menemukannya.

“Aigoo, ini gaun yang cantik Seolhyun-ah. Kau terlihat cantik sekali” sekali lagi Ye eun menyerobot kata-kata. Mengalihkan perhatian Seolhyun. Ada sesuatu yang berusaha ia sembunyikan.

“Ah ne?” Seolhyun menyeringai aneh pada Ye eun.

*****

Gaun sudah ditangan, Seolhyun sudah bisa bernafas lega. Waktunya untuk pulang dan beristirahat. Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran.

“Ye eun-ah sepertinya nona Hye rin salah melihat tanggal. Tidak mungkin sekarang bulan maret. Pernikahanku kan tanggal 24 februari. Mana mungkin aku belum melaksanakan pernikahan tapi sudah bulan maret, ya kan?” alis Seolhyun berkedut. Otaknya berpikir keras.

“Sudahlah jangan terlalu dipikir!”

“Tapi aku merasa ada yang ganjil. Ye eun-ah sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku?”

“Seolhyun-ah sudah berapa kali aku katakan padamu. Tidak terjadi apa-apa”

“Kau berbohong”

“Aniya”

“Antarkan aku kerumah Ravi sekarang!” paksa Seolhyun.

“Ravi lagi Ravi lagi” kedua kalinya Ye eun menaikkan nada suaranya setelah mendengar Seolhyun menyebut nama Ravi. Ekspresi wajah Ye eun tidak lemah lembut lagi melainkan semburat emosi dan marah memenuhi tiap syaraf di wajahnya.

“Ye eun dia calon suamiku, apa yang terjadi denganmu? Kenapa dengan suaramu? Kenapa dengan ekpresimu sekarang? Kau tidak suka dengan Ravi? Apa maksudmu?” Seolhyun menjauhkan dirinya dari Ye eun.

“Seolhyun-ah maksudku bukan seperti itu”

“Aku pergi!!”

Seolhyun tidak peduli seberapa keras Ye eun meneriakinya. Dia membenci Ye eun, dia muak mendengar suara dan melihat ekpresinya tiap kali menyebut nama Ravi. Sahabatnya itu sudah menyakitinya. Seolhyun terus berlari menjauh dari tempat parkir. Menghentikan taksi dan melaju bersamanya. Ye eun menarik nafas panjang, melegakan beberapa ketegangan didadanya serta saraf-saraf di wajahnya. Tatapannya nanar melihat kepergian Seolhyun.

“Seolhyun-ah mianhae” bisiknya lemah. Sungguh dia prihatin dengan keadaan Seolhyun.

*****

Pintu rumah Ravi terkunci rapat. Berulang kali Seolhyun mengetuk pintu tapi Ravi tidak membukanya. Sepertinya dia tidak ada dirumah. Pupus sudah keinginan Seolhyun menumpahkan kerinduannya. Dia tertunduk lesu dan lemas.

“Kau mencariku?” suara bariton itu lagi. Seolhyun mendongakkan kepalanya dan mendapati Ravi bersender di pintu gerbangnya. Tangannya mendekap rapat di dadanya. Selalu bergaya dingin dan keren. Seolhyun sangat menyukainya. Rambutnya yang pirang blonde bergoyang tertiup angin sore yang mesra. Mata nakalnya berkedip nakal pada Seolhyun. Sebuah senyum mengiringi kedipan matanya. Seolhyun tidak mungkin menolak digoda seperti itu. Gadis manja Ravi ini segera berlari kearahnya. Menghambur dalam pelukannya. Memeluknya hangat dan melepas kerinduannya.

“Aku merindukanmu” ucap Seolhyun dari balik pelukannya.

“Aku juga merindukanmu istriku” balas Ravi seraya mengelus lembut rambut Seolhyun kemudian mencium ubunnya.

“Mwoya? Aku belum resmi menjadi istrimu” Seolhyun mencubit nakal perut Ravi. Dia tidak memekik tapi membalas perbuatan Seolhyun dengan memeluknya lebih erat. Bukan merasa risih dengan sikap Ravi tapi Seolhyun malah tertawa kegirangan.

Seolhyun menggandeng mesra tangan Ravi, mengikutinya berjalan masuk ke rumahnya. Tidak ada yang berubah dengan rumah Ravi. Semuanya sama seperti terakhir kali Seolhyun mengunjunginya. Langkah Ravi terhenti di ruang tamu.

“Waeyo?” tanya Seolhyun aneh.

“Duduklah!” Ravi menarik tangan Seolhyun duduk di sofanya yang ditutupi beberapa debu disana. Ravi tidak biasanya membiarkan sofanya berdebu.

“Wae?” mata manja Seolhyun berbinar. Ravi tersenyum melihatnya. Diputarnya duduk Seolhyun menghdapnya. Dipegangnya kedua sisi pipi Seolhyun. Kedua mata mereka bertemu dan Seolhyun menemukan kesedihan di mata Ravi.

“Seolhyun-ah jaga dirimu baik-baik! Jangan terus merindukanku jika aku tidak di sisimu! Jadilah wanita yang mandiri! Jadilah Seolhyunku yang selalu tersenyum ceria!” Ravi melepas tangannya, mengelus rambut Seolhyun lembut. Tatapan matanya penuh arti kesedihan.

“Mwoya? Mengapa berkata seperti kau akan pergi? Aku tidak menyukainya” mata Seolhyun berair, kesedihan menyeruak begitu cepat di hatinya mendengar kata-kata Ravi.

“Gwaenchana. Berjanjilah tidak menangis! Arasso?” dipegangnya lagi kedua pipi Seolhyun. Menariknya perlahan mendekat padanya. Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Seolhyun. Lama dan Seolhyun menitikkan air matanya.

“Andwae, jangan pergi!” Seolhyun yang manja. Dipeluknya Ravi kuat. Dia menangis disana.

“Cengeng! Sudah kubilang jangan menangis!” dibalasnya pelukan Seolhyun dengan erat pula. Bahu Seolhyun terus bergetar. Suara tangisnya samar terdengar dari balik pelukan Ravi. Tak banyak yang Ravi lakukan selain menenangkannya, mengelus rambut dan punggungnya lembut.

Tangisan Seolhyun sudah terhenti. Matanya sudah tertutup rapat. Tangannya digenggam hangat oleh Ravi. Dia tertidur pulas di pangkuan Ravi. Tangan Ravi yang lain mengelus rambutnya lembut. Menenangkannya dari emosi kesedihan. Seolhyun sudah masuk kembali ke dunia mimpinya bersama Ravi. Sangat jauh dari alam sadarnya. Seolhyun tidak seorang diri seperti di mimpi sebelumnya. Dia dapat melihat Ravi berada di sampingnya. Berdiri tegak seraya memegang tangannya erat. Berulang kali Seolhyun memanggilnya tapi dia tidak menggubrisnya. Ia terus berjalan menyeret Seolhyun ke sebuah pintu yang dipenuhi dengan cahaya putih. Sebelum mereka sampai di pintu itu penglihatan Seolhyun berganti. Gelap, tidak terlihat apapun hanya sebuah teriakan yang terdengar. Teriakan itu adalah suaranya sendiri. Dia meneriaki nama Ravi kemudian terdengar sebuah ledakan. Seolhyun kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Syukurlah kegelapan itu mulai sirna dan Seolhyun dapat melihat Ravi berdiri seorang diri di pintu yang dipenuhi dengan cahaya putih tersebut. Tubuhnya penuh darah. Seolhyun ingin menghampirinya tapi seseorang menahannya. Kuat sekali. Sekuat tenaga Seolhyun berontak dari kungkungan orang yang menahannya tapi tidak berhasil. Dia hanya bisa menangis sekarang. Seolhyun tersentak dari mimpinya. Keringat dingin kembali mengalir di pelipisnya. Orang pertama yang dicarinya adalah Ravi. Seolhyun bernafas lega melihat Ravi ada di sebelahnya. Dia tersenyum manis sekali melihat Seolhyun membuka matanya.

“Kau sudah bangun?” sapanya lembut.

“Ravi-ya” Seolhyun bangun dari tidurnya kemudian memeluk Ravi erat. Dia menangis lagi sekarang.

“Jangan menangis lagi! Aku disini!” bisik Ravi lembut. Suara beratnya menggetarkan Seolhyun.

“Aku bermimpi buruk tentangmu” suara Seolhyun memburu. Tangisnya pecah lagi.

“Aku baik-baik saja!” ditariknya Seolhyun dari pelukan Ravi. Pria ini menghapus air mata Seolhyun dengan ibu jarinya kemudian mencium kedua pipi gadisnya. “Seolhyun-ah aku baik-baik saja. Sudah malam. Lebih baik kau pulang sekarang! Ye eun pasti mengkhawatirkanmu” tak henti hentinya Ravi mengelus rambut Seolhyun.

“Aniya! Aku ingin tidur disini! Aku tidak ingin pulang” Seolhyun menggelengkan kepalanya cepat.

“Hei, dengarkan aku! Pulanglah! Besok pagi sekali datanglah ke gereja! Aku akan menunggumu disana! Pakailah gaun pengantinmu!” Ravi mengucapkan permintaan yang aneh.

“Mwo? Apa yang akan kita lakukan disana? Pernikahan kita masih 2 minggu lagi” tangis Seolhyun berhenti seketika.

“Semua mimpimu akan terjawab disana! Arasso? Sekarang pulanglah!”

“Apa yang kau katakan? Aku tidak ingin pulang. Aku ingin disini!” rengek Seolhyun manja.

“Sayang pulanglah! Aku mohon” pinta Ravi memohon.

“Arasso. Apa kau tidak ingin mengantarku pulang?” Seolhyun mengalah.

“Ada yang harus aku kerjakan. Pulanglah sebelum terlalu malam. Besok pagi kita akan bertemu di gereja, arasso?” Seolhyun mengangguk mengerti. Anggukannya lemah. Ravi mencium keningnya sekali lagi. Seolhyun menghambur di pelukan Ravi sebelum dia beranjak pergi.

*****

Selama perjalanan pulang Seolhyun terdiam. Dia memikirkan perkataan Ravi dan semua mimpinya selama ini. Dia yakin ada sesuatu yang membuat keduanya saling berkesinambungan tapi Seolhyun tidak menemukan jawabannya. Semakin Seolhyun mencari jawabannya semakin dia terperosok jauh di kesakitan. Taksi yang dikendarainya berhenti. Di depan terjadi kecelakaan. Seolhyun turun dari taksinya, melihat keadaan sekitar. Sebuah mobil menabrak pembatas jalan sehingga membuatnya terbalik. Entah apa yang merasuki Seolhyun secara tiba-tiba kepalanya sakit. Matanya tertutup menahan sakit kepalanya. Tubuhya ambruk. Samar-samar dia dapat mendengar sebuah suara.

“Nonaa, nona” begitulah suara yang dapat Seolhyun dengar dari alam bawah sadarnya.

Di dalam alam bawah sadarnya Seolhyun melihat seorang wanita terkulai lemah, terperosok di jurang. Dia tidak dapat melihat wajahnya. Semuanya tampak samar. Kemudian sebuah ledakan terdengar. Suara ledakan yang sama seperti yang terdengar di mimpinya. Berselang beberapa detik setelah suara ledakan, asap hitam pekat membumbung tinggi. Asap tersebut menutup jarak pandangnya. Butiran asap menghilang dan di depan Seolhyun sekarang berdiri sebuah gereja bergaya klasik Eropa. Lonceng gereja berdenting keras dan para burung gerejapun berterbangan. Seolhyun berjalan perlahan kedalam gereja tersebut. Memasukinya dengan perasaan yang tidak menentu. Jelas Seolhyun dapat melihat pasangan sedang melaksanakan sumpah pernikahan. Samar, dia tidak dapat mengenali siapa mereka.

“Mwoya? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku ada disini? Mengapa aku melihat mereka?” semua pertanyaan itu bermunculan bertubi tubi dipikiran Seolhyun.

****

Seolhyun mengerjapkan matanya beberapa kali, dia sudah sadar dari pingsannya. Dia di kamarnya sekarang. Tidak berada di gereja seperti di alam bawah sadarnya. Entah bagaimana caranya dia bisa berpindah ke kamarnya. Masih segar dalam ingatannya pasca melihat kecelakaan tersebut dia jatuh pingsan kemudian masuk ke dalam alam bawah sadar yang memperlihatkan kejadian dan tempat yang tidak ia ketahui asal muasalnya dan siapa mereka. Seolhyun bangun dari posisi tidurnya. Kepalanya masih pening, tubuhnya merasa kesakitan dibagian kaki dan bahu. Disampingnya Ye eun tertidur pulas. Sepertinya dia menjaga Seolhyun lagi. Seolhyun tidak peduli. Dia memaksa bangun.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kejadian aneh itu menghantuiku? Gereja, ledakan, pintu, kegelapan, pernikahan? Ada apa denganku?” Seolhyun memperhatikan dirinya di kaca. Tidak ada yang berubah. Dia masih Seolhyun yang dulu. Tapi dia yakin ada yang sudah terjadi dan itu mengubah hidupnya.

Hari ini Seolhyun harus menemui Ravi di gereja. Diambilnya gaun pengantin di dalam tas cokelat yang dibawanya kemarin, dikenakannya. Rambutnya dibiarkan terurai, tidak ada ulasan make up. Seolhyun malas untuk membubuhkan di wajah polosnya. Kakinya dibiarkan bertelanjang kaki. Tidak ada sandal ataupun sepatu yang membalut kaki indahnya.

“Seolhyun-ah, apa yang kau lakukan?” tegur Ye eun yang sudah bangun dari tidurnya. Kaget menemukan seolhyun mengenakan gaun pengantinnya dan bersiap pergi.

“Ye eun-ah aku akan mencari jawaban tentang diriku sendiri” hari ini Seolhyun bertekad harus menemukan jawabannya hari ini.

“Beristirahatlah! Tidak ada yang terjadi Seolhyun” Ye eun menghampiri sahabatnya, mengelus bahunya.

“Bohong! Aku tahu kau menyimpan sebuah rahasia. Kau menjadi aneh sejak aku pulang dari rumah sakit. Ravi juga berubah menjadi aneh! Dia mengatakan kata-kata seakan dia akan pergi, dan aku selalu dibayang-bayangi dengan kejadian aneh. Suara ledakan, gereja, kegelapan, teriakan, pernikahan. Apa arti semua itu? Semuanya bisa membuatku gila”

“Oh, em.. Seolhyun-ah lebih baik kau berisitarahat! Sepertinya kau kelelahan. Kajja! Aku akan membuatkan sarapan untukmu!” Ye eun langsung gugup mendengar perkatan Seolhyun.

“Aniya. Aku akan menemui Ravi. Aku ingin mengetahui apa yang terjadi padaku sebenarnya” tidak dipedulikan Ye eun yang berteriak memanggil namanya. Seolhyun terus berlari keluar rumahnya. Berlari terus tanpa peduli semua orang menatapnya. Satu dipikirannya, Ravi. Kaki telanjangnya menapaki jalanan trotoar yang masih basah dengan embun. Angin pagi yang segar membelai pori-pori wajahnya. Beberapa helai rambutnya berterbangan mengikuti gerakan larinya. “Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa aku merasa terlibat dengan semua kejadian itu? Apa aku melupakan ingatanku?” Seolhyun bertanya tanya sendiri.

****

Seolhyun berdiri tegak di pintu gereja yang terbuka lebar. Sepi menyapanya. Tidak ada siapapun disini. Beberapa suara burung parkit terdengar bernyanyi di luar sana. Sebuah perasaan menyelinap dan menghentakkan seberkas ingatan Seolhyun. “Mengapa gereja ini tidak asing bagiku? Ornamen-ornamennya yang bergaya klasik Eropa terlihat sama” gumam Seolhyun. Selesai dengan amatan ornamen gerejanya Seolhyun memasuki gereja tersebut. Menapaki karpet merah yang dipasang membelah bangku jemaah. Di depannya sekarang altar pernikahan, tempat pasangan mengucap janji pernikahan. Tidak ada Ravi disini, Seolhyun seorang diri. Nafasnya masih memburu setelah aktivitas larinya. Keringat membasahi seluruh badannya.

“Ravi-ya, Ravi odiya?” panggil Seolhyun lemah. Dia sudah tidak punya kekuatan penuh seperti kemarin. Kekuatannya sudah banyak berkurang.

“Kau datang” dia menjawab. Seolhyun mencarinya. Ravi berdiri tegak di pintu gereja. Dia sangat tampan dengan taksedo hitamnya. Rambut pirang blondenya berkilau diterpa sinar matahari pagi. Derap langkahnya yang ditimbulkan oleh hentakan sepatunya menggema, mengelilingi seluruh gereja. Seolhyun menatapnya takjup. Mempelai pria datang kepadanya dengan sangat gagah dan penuh wibawa.

“Ravi-ya” desah seolhyun ketika Ravi sudah dihadapannya. Menyesal dia tidak mengulas make up terlebih dahulu. Dia merasa sangat jelek sekarang berhadapan dengan Ravi yang sangat tampan dan mempesona.

“Kau siap?” tanya Ravi penuh aura kharismatik. Suara beratnya yang seksi meningkatkan libido Seolhyun. Diraihnya tangan Seolhyun. Digenggamnya lembut.

“Jankkaman. Kenapa aku merasa kita pernah ada di posisi ini?” sekilas ingatan mengusik Seolhyun kembali. Seolhyun mengerucutkan konsentrasi pada ingatannya yang terbatas. Samar di ingatannya mereka berdua berhadapan, Ravi menggenggam tangan Seolhyun, Ravi mengenakan taksedo hitam dan gelap kembali menyelimuti ingatan Seolhyun. Diedarkan pandangannya ke sekitarnya. Dia yakin dia pernah berada di posisi ini dengan Ravi, tapi apa? Seolhyun tidak dapat mengingatnya dengan jelas. “Ravi-ya apa kita pernah ada di tempat ini sebelumnya?” Seolhyun berusaha mengorek ingatannya. Ravi tersenyum penuh rahasia. Tidak menjawab pertanyaan Seolhyun secara pasti.

“Seolhyun-ah lihat aku!” Ravi menarik wajah Seolhyun yang sibuk tertekuk, berkonsentrasi mengingat. Direngkuhnya wajah Seolhyun. “Kau tahu ini kedua kalinya aku melihatmu sangat cantik mengenakan gaun pengantin” kembali Ravi tersenyum penuh misteri.

“Kedua kali?” Seolhyun mengerutkan dahinya. Matanya bertemu dengan Ravi. Seolhyun terdiam. Tatapan mata Ravi perlahan membawanya ke dalam dunianya yang begitu dingin. “Ravi-ya tahukah kau, sepertinya aku melupakan ingatanku setelah aku kecelakaan. Akhir-akhir ini aku sering dihantui dengan mimpi-mimpi yang aneh dan aku merasa aku memiliki hubungan dengan semua mimpi itu” Seolhyun menatap Ravi memohon jawaban untuk semua mimpinya. Ravi tersenyum misteri.

“Seolhyun-ah bukan kau yang kecelakaan, tapi kita yang kecelakaan” perkataan Ravi yang tenang menghanyutkan Seolhyun dalam kejutan jiwa.

“Mwo?” Seolhyun terkejut mendengar kata “kita”. Tak ada penjelasan lebih lanjut dari Ravi. Dieratkan lagi genggaman tangan Ravi pada Seolhyun.

“Seolhyun-ah maukah kau menjadi istriku dalam kehidupan susah atapun senang. Menerimaku dengan segala kekuranganku dan mencintaiku sampai ajal menjemput?” Ravi menunggu jawaban Seolhyun.

“Ravi-ya mengapa kau berkata seperti itu? Kenapa aku merasa kau pernah menanyakan janji pernikahan padaku sebelumnya? Ravi-ya ottocke? Apa yang terjadi?” Seolhyun histeris. Semburat ingatan datang menghujam otak Seolhyun. Dia merasa kepalanya dihimpit oleh kesakitan.

“Hei hei hei, Seoulhyun-ah~ jangan pernah berbicara hal lain selama kau belum menjawab janji pernikahan denganku” Ravi menghentak hentakkan tangan Seolhyun. Memintanya focus pada Ravi seorang.

“Mwo? Geundae”

“Seolhyun-ah maukah kau menjadi istriku dalam kehidupan susah atapun senang. Menerimaku dengan segala kekuranganku dan mencintaiku sampai ajal menjemput?” Ravi mengulang pertanyaannya lagi. Tangannya menggengam erat tangan Seolhyun, lebih erat dari sebelumnya. Seolhyun terdiam. Sakit di kepalanya hilang.

“Ne. Aku Kim Seolhyun, bersumpah akan menjadi istrimu yang setia menemanimu di kala susah ataupun senang. Mencintai segala kekuranganmu dan mencintaimu sampai ajal menjemput. Ravi-ya, maukah kau menjadi suamiku dalam kehidupan susah atapun senang. Menerima segala kekuranganku dan mencintaiku sampai ajal menjemput?”

“Aku sudah menjadi suamimu Seolhyun-ah” jawaban yang mengejutkan Seolhyun, tapi tidak ada waktu baginya untuk bertanya karena Ravi sudah menghipnotisnya dengan pesona Ravi yang kuat. Ravimerengkuh pinggang Seolhyun. Merengkuhnya ke dalam dekapannya sebelum akhirnya dia mencium bibir Seolhyun lembut. Seolhyun menutup matanya dan memegangi jas Ravi dengan kuat, menerima ciuman Ravi dan memori ingatannya yang terhapus perlahan terbuka, terkuak dan Seolhyun dapat melihat semuanya.

*****

24 Februari

Lonceng gereja berdenting sangat keras. Beberapa burung parkit ikut bernyanyi menyambut Seolhyun yang berjalan sangat anggun diantara para tetamu yang takjub menatapnya. Ravi sudah menunggunya di altar pernikahan. Mengenakan taksedo hitam dengan dasi kupu-kupu terikat manis di leher kemejanya. Ravi membelai punggung tangan Seolhyun sesaat setelah wali memberikan tangan Seolhyun padanya. Keduanya tersenyum simpul tatkala berhadapan dan mengucap janji sehidup semati. Keduanya tersenyum bahagia tatkala pastur mengikat mereka dalam ikatan suci sebagai suami istri. Sinar cahaya matahari, kicau burung serta desiran angin lembut menyambut mereka tatkala berjalan beriringan ke luar gereja. Jangan ditanya seberapa bahagia mereka saat ini. Pipi seolhyun menyemu merah saat Ravi mulai menciumnya di tengah para tamu yang bersorak sorai akan kebahagian mereka.

Sebuah mobil lamborgini silver menunggu mereka. Mereka harus segera berangkat ke pulau jeju untuk melanjutkan moment pengantin baru, yaitu bulan madu. Ravi membukakan pintu untuk Seolhyun sebelum akhirnya dia ikut masuk, duduk dibelakang setir kemudi. Suara mesin berderu keras meninggalkan jejak bahagia mereka di gereja bergaya klasik Eropa yang menjadi saksi terikatnya pernikahan mereka. Jalanan Seoul bersahabat saat ini, tidak seramai biasanya. Ravi menaikkan kecepatannya. Merasakan deru mesin Lamborgini yang baik di kelasnya. Masuk gigi tiga dengan kecepatan 100 km/jam Ravi memutar setirnya masuk ke jalanan bergelombang. Batas maksimal kecepatan untuk jalan bergelombang adalah 80km/jam. Sementara itu Ravi tidak menurunkan kecepatannya tetap bertahan di 100km/jam. Tawa bahagia keduanya masih mengisi mobil mewah ini. Sesekali Ravi juga mengecup mesra punggung tangan Seolhyun. Menebar cintnya yang meluap luap hari ini.

“RAVIIII” Seolhyun beteriak histeris tatkala disebuah tikungan sebuah truk datang, keluar dari jalurnya dan menabrak mobil lamborgini yang ditumpangi Seolhyun dan Ravi dari arah depan. Mobil mewah berwarna silver tersebut oleng, terbalik dan jatuh ke jurang. Seolhyun terlempar terlebih dahulu ke rerumputan. Samar Seolhyun melihat mobil yang membawa dirinya dan Ravi jatuh terperosok ke dalam jurang yang lebih dalam. Sesaat kemudian meledak, mengeluarkan kobaran api dan asap hitam yang membumbung tinggi.

“Raa…Viiii” bisik Seolhyun lemah. Suaranya tidak bisa dikeluarkan maksimal. Tubuhnya kesakitan dan kepalanya sangat sakit akibat benturan yang dashyat dengan batu dan lempengan mobil. “Raviii” Seolhyun mengulurkan tangannya, berharap Ravi meraih tangannya dan keluar dari ledakan mobil tersebut. Tubuh lemahnya dipaksakan bergerak dari tempatnya meringkuk. Dia ingin menghampiri Ravi dan melihat keadaanya. Apa daya tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Gaun pengantinnya yang putih sudah ternoda oleh bercak darahnya sendiri. “Raviii, aku disini” bisik Seolhyun sekali lagi. Matanya sudah berair, dia merasa kesedihan yang teramat dalam. Suaminya ada dalam mobil tersebut dan meledak bersamanya. Air mata Seolhyun tidak bisa membuat Ravi kembali. Matanya semakin buran sampai akhirnya terpejam dan Seolhyun tidak sadarkan diri.

Beberapa saat kemudian putaran memori ingatan Seolhyun berhenti. Penglihatan tentang memori ingatannya yang terhapus bergantikan dengan ruang hampa. Seolhyun seorang diri. Suara derap langkah terdengar menggema, sosok Ravi datang mengisi kehampaan tempat ini. Dia terlihat sangat tampan dengan taksedo hitamnya.

“Ravi-ya” segera mungkin Seolhyun ingin menghambur padanya tapi langkahnya tertahan.

“Seolhyun-ah, dunia kita sudah berbeda. Kau tidak bisa memelukku lagi! Mungkin cukup sampai disini waktu yang aku dapatkan untuk berpamitan denganmu untuk terakhir kalinya! Hiduplah berbahagia! Jangan bersedih dan jangan menangis sesudah ini! Aku akan menjagamu dari sini! Setidaknya aku lega bisa mengucap janji pernikahan kita sekali lagi sebelum aku pergi untuk selamanya. Aku ingin mengingatkanmu bahwa aku adalah suamimu dan kita pernah mengucap janji sehidup semati. Melihatmu sehat setelah kecelakaan itu membuatku tenang untuk pergi sekarang! Jaga dirimu baik-baik. Jadilah Seolhyun yang mandiri. Seolhyun yang selalu tersenyum ceria. Cintaku akan selalu bersamamu, arasso! Annyeong!” Ravi melambaikan tangannya kemudian membalikkan badannya, menghilang dibalutan kabut putih. Seolhyun tak dapat berkata-kata, airmatanya yang berbicara sekarang. Tubuhnya ambruk tidak kuat menahan sakit yang menghujam semua badannya. Bibirnya kelu untuk mengucap sederet kata-kata membalas salam perpisahan Ravi.

Seolhyun membuka matanya. Melihat kenyataan dihadapannya. Kosong hampa. Bahkan laki-laki yang menciumnya sekarang sudah tidak ada. Pergi untuk selamanya. Seolhyun ambruk, jatuh terduduk. Menangis sekeras-kerasnya. Berulang kali dia memukul dadanya yang terasa sangat sakit. Semua ingatannya yang terhapus sekarang dapat diingatnya dengan jelas. Benturan di kepalanya ternyata membawanya melupakan memorinya tentang kecelakaan yang menimpanya dengan Ravi dan membawa Ravi menjauh darinya. Sekarang dia mengerti mengapa di malam itu Ye eun tidak melihat Ravi serta Ye eun sangat marah ketika Seolhyun memaksa bertemu dengan Ravi karena Ravi sudah tiada. Seolhyun hanya bertemu dengan arwah Ravi yang ingin berpamitan dengannya. Hanya Seolhyun yang dapat melihatnya. Pantas nona Hye rin merasa aneh ketika Seolhyun fiting gaun pengantin untuk kedua kalinya. Karena gaun pengantinnya sudah dia kenakan di hari pernikahannya sekaligus menjadi hari terakhirnya dengan Ravi. Seolhyun juga menganggap sekarang masih bulan februari padahal sudah bulan maret, semuanya disebabkan oleh hapusan ingatan memorinya. Selain itu Ravi memanggilnya dengan panggilan istriku, karena memang mereka sudah menjadi suami istri. Seolhyun masih belum bangun dari duduknya. Tangisnya terus menggema di gereja. Tidak tahu berapa lama dia akan terus menangisi kepergian Ravi. Kecamuk kesedihan berlipat ganda menimpanya.

Ye eun terdiam di luar gereja. Memperhatikan Seolhyun yang terus menangis tanpa berani mendekat. Alasan utama Ye eun tidak menceritakan kejadian ini dan menutupi segalanya adalah tidak ingin melihat Seolhyun jatuh di lubang kesedihan. Ye eun takut kesedihan Seolhyun membawanya semakin terpuruk dan melukai kesehatan jiwanya. Hapusan ingatan Seolhyun pasca kecelakaan merupakan akibat benturan keras di kepalanya. Benturan tersebut melukai selaput otaknya, sehingga kinerja saraf terganggu dan tidak dapat menimbulkan ingatannya. Ye eun masih ingat hari dimana Seoulhyun berkata ingin menemui Ravi diluar rumah mereka, kenyataan yang dilihat Ye eun adalah Seolhyun berdiri seorang diri. Berbicara seorang diri dan memeluk udara. Tidak ada Ravi di depannya. Ya Ravi hanya hidup di mata Seolhyun, tidak dimata orang lain. Ditangan Ye eun sekarang ada dua pasang cincin yang merupakan cincin pernikahan Ravi dan Seolhyun. Ye eun mendapatkannya dari polisi yang mengevakuasi keduanya setelah kecelakaan. Digenggamnya cincin tersebut seraya terus memperhatikan Seolhyun yang terus menangis. Ye eunpun merasakan sakit melihat sahabatnya terjatuh dalam kesedihan kehilangan Ravi.

*****

Seolhyun mendatangi tempat penyimpanan abu Ravi. Masih mengenakan gaun pengantinnya yang sudah tak serapi disaat pertama kali memakainya. Rambutnya sudah acak-acakan. Matanya bengkak dan kakinya juga masih telanjang. Seolhyun tidak peduli semua pasang mata menatapnya aneh dan membicarakannya. Kondisinya saat ini memang tidak pantas. Dia seperti pengantin yang dianiaya, kucel dan berantakan. Langkah kaki telanjang Seolhyun berhenti di sebuah foto yang terikat pita hitam. Seorang dengan rambut pirang blonde tersenyum disana. Senyumnya menancamkan sakit yang bertubi tubi.

“Ravi, kau disana?” Seolhyun meraba kaca penutup abu Ravi. Tangannya gemetar kemudian diikuti pundaknya yang gemetar hebat. Tangisnya kembali pecah. “Kalau waktu mengizinkan, aku ingin menyusulmu sekarang. Aku tidak ingin hidup sendiri. Kita berjanji bersama selamanya. Bagaimana kau meninggalkan istrimu sendiri? Kau mendengar itu Ravi-ya? Suamiku kau mendengarku? Suamiku, aku sangat mencintaimu. Duniaku adalah suamiku. Tanpamu duniaku berakhir. Kembalilah suamiku! Aku menunggumu!” Seolhyun menggedor gedor kacanya, tidak akan ada gunanya. Ravi tidak mungkin hidup kembali. Jiwanya sudah tenang disana. “Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku?” Seolhyun terjatuh lagi. Kakinya tidak kuat menopang badannya berdiri. Pandangannya gelap dan dia jatuh, kehilangan kesadaran.

Aku membutuhkan memori untuk mengingat semua takdir kita…

Memori tentangmu..

Memori janji pernikahan kita…

Memori tentang takdir yang memisahkan kita..

Memori tentang cinta kita..

Semua memori itu akan bersemayam indah…

            Bahkan ketika ajal memisahkan kita…

Semua memori itu akan menjadi bagian dari cinta kita…

 

Suamiku aku membutuhkanmu..

Membutuhkanmu menyempurnakan hidupku..

Membutuhkanmu melanjutkan takdirku..

Jikalau kau memang ditakdirkan menjadi pendamping hidupku..

Mengapa Tuhan mengambilmu begitu cepat..

Mengapa takdir mempermainkanku?

Haruskah aku mengucapkan, Suamiku selamat tinggal…

Izinkan aku hidup dengan caraku…

Caraku untuk segera menyusulmu…

Seolhyun, Memory

Iklan

11 pemikiran pada “Memory

  1. Huaaaaahh nyesek bacanyaaaaaaaaa!! >.o< Aku aja sampe nangis bacanya. Ksian Seolhyun ditnggal Ravi! *jitakRavi /plakk* apalagi pas Seolhyun dtng ke tmpt pnympanan abu Ravi, doh nyeseeekkk :" Next bikin ff Hyuk, tpi sma OC ya?? *ih bawel lu!* Kgk ding, saya candaaa 😀 FIGHTING ye thor, maaf SKSD :'3

    • hahaha… gwaenchana.. aku malah seneng di SKSD, kan jadi biar deket^^… gomawo sudah baca dan suka, alhamdulillah sukses bikin nangis anak orang lagi XD… hyuk yah? kemaren aku sudah bikin FFnya Hyuk sich.. titlenya The end 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s