She Is My Doraemon Girl [Part 1]

cover she is my doraemon girl

Author : Yoyoy
Cast :
– Kang Daesung
– Kwon Nara (OC)
– The Others
Point Of View : Kang Daesung
Lenght : Part


Emmm, mungkin kalian sudah tahu bahwa aku sangat terobsesi pada Doraemon. Menurutku, Doraemon lucu. Kucing gendut, tidak memiliki telinga karena telinganya dimakan oleh tikus. Oleh karena itu, Doraemon sangat takut pada tikus. Mungkin Doraemon takut kehilangan kantung ajaibnya jika tikus ada di dekatnya. Emmm, molla. Mungkin nanti akan ku ajak Doraemon pergi ke psikiater untuk mengobati rasa takutnya yang berlebihan itu pada tikus.

Doraemon :
hei, sebaiknya urus saja dirimu sendiri. Kau lebih penakut dariku. Kau takut gelap, takut hantu, bahkan pada bingu TOP pun kau takut 😛

Aish, jika kau bukan kucing yang lucu, sudah ku cincang habis tubuhmu.

Ini adalah kisahku dan gadisku, gadis yang menurutku sangat mirip dengan Doraemon. Bukan bukan, bukan karena tubuhnya yang mirip Doraemon, tapi kebaikannya untuk membantuku mewujudkan cita-citaku. Dalam cerita ini, aku di umpamakan sebagai Nobita. Dan gadisku itu sebagai Doraemon. Mau tahu bagaimana kisahku ini? apakah berakhir bahagia atau sebaliknya? Emmmm, baca saja 🙂


I love you ima dake wa kanashii
Uta kikitaku nai yo
I love you nogare nogare
Tadori tsuita kono heya

Nanimo kamo yurusareta koi ja nai kara
Futari wa maru de
Sute neko mitai
Kono heya wa ochiba ni
Umoreta aki bako mitai
Dakara omae wa
Koneko no you na nakigoe de
Kishimu beddo no ue de
Yasashi sa wo mochi yori
Kitsuku karada dakishimeaeba
Sorekara mata futari wa me wo tojiru yo
Kanashii uta ni ai ga shirakete shimawanu you ni
I love you waka sugiru futari no ai ni wa
Furerarenu himitsu ga aru
I love you ima no kurashi no naka dewa
Tadoritsuke nai

Hitotsu ni kasanari ikite yuku koi wo
Yume mite kizutsuku dake no futari da yo
Nandomo aishiteru tte kiku omae wa
Kono ai nashi dewa ikite sae yuke nai to
Kishimu beddo no ue de
Yasashi sa wo mochi yori
Kitsuku karada dakishimeaeba
Sorekara mata futari wa me wo tojiru yo
Kanashii uta ni ai ga shirakete
Shimawanu you ni
Sorekara mata futari wa me wo tojiru yo
Kanashii uta ni ai ga shirakete
Shimawanu you ni


Setelah menyanyikan lagu itu, aku membungkukkan badanku di depan para penonton yang menghadiri konserku. Tepuk tangan dan teriakan-teriakan yang memanggil namaku pun semakin riuh terdengar. Aku tersenyum bangga karena konserku telah berjalan dengan sukses.

“Terima kasih karena kalian sudah datang pada hari terakhir konserku, terima kasih karena kalian sudah mendukungku, terima kasih banyak. Mungkin jika tidak ada dukungan kalian, tur konserku ini tidak akan berjalan dengan lancar. Sekali lagi ku ucapkan terima kasih.” Aku membungkuk sekali lagi.

Ketika aku ingin membalikkan badan, seorang gadis kecil maju ke depan menghampiri panggung sambil membawa seikat bunga dalam genggamannya. Ia menyodorkan seikat bunga itu padaku. Aku pun maju ke pinggir panggung untuk menghampirinya. Tapi tiba-tiba…..

BUK!!!!

“Aaooowwwww!!!! Pantatku!!!” aku memekik kesakitan sembari memegang bokongku yang nyeri. Aku terjatuh dari tempat tidur dengan posisi yang tidak menguntungkan. Ternyata yang tadi itu hanya mimpi.

“Huuffttttt!!” aku menghela nafas kecewa. Aku harus kembali ke dunia nyata setelah bersenang-senang di dunia mimpi.

Aku bangun dari posisi dudukku dan mulai meregangkan tubuh. Aku putar badanku ke kanan dan ke kiri hingga terdengar bunyi, “Kretek!” di punggungku. Aku berjalan menuju jendela, membuka gorden dan menggeser kaca jendela. Kembali ku renggangkan kedua tanganku sembari menghirup udara dalam-dalam.

“Huuupppppp, huuaaahhhhhhh!” udara musim semi yang segar mulai mengisi paru-paruku.

“Time to work, time to work, time to work.” Suara alarm Doraemonku sudah mulai terdengar. Ah, Doraemon yang baik. Ia sudah berbaik hati mengingatkanku untuk tidak terlambat bekerja. Tapi kenapa ia tidak pernah mengingatkanku untuk mencari jodoh? Apakah ia takut aku akan berpaling darinya? Aish, tentu saja tidak. Doraemon adalah cinta pertamaku, tidak mungkin ada yang dapat menggantikan posisinya.

Aku berjalan menuju lemari pakaian yang terbuat dari kayu di pojok kamarku. Kubuka lemari itu dan ku ambil t-shirt dan jeans, lalu ku bawa menuju kamar mandi yang berada di luar kamarku.

“Kau ingin sarapan apa, Daesung-ah?” tanya ibuku saat aku keluar dari kamar.

“Emmm, aku ingin Gaeran Toast-U saja, eomma. Karena aku ingin bersantai-santai dulu sebelum berangkat kerja.” Dengan cekatan ibuku menyiapkan sarapan yang ku minta sedangkan aku sibuk membersihkan diri sebelum berangkat kerja.

Sekedar info untuk kalian, Gaeran Toast-U adalah sandwich panggang ala Korea. Isinya sama seperti sandwich dari Amerika, hanya saja di tambah dengan kubis dan sedikit gula sebagai penyedap rasa. Gaeran Toast-U sebenarnya cocok untuk orang yang sedang terburu-buru berangkat kerja, sekolah, dan lain-lain sebagainya karena sarapan ini sangat mudah dibuat.

Karena udara musim dingin masih terasa, aku tidak berani berlama-lama menyentuh air. Lima menit kemudian, aku sudah selesai dengan kegiatanku di kamar mandi. Untuk orang yang tidak mandi seperti ku, terlebih lagi aku ini adalah seorang namja, waktu lima menit di dalam kamar mandi sudah termasuk lama walau hanya sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Emmmm, sepertinya aku harus lebih mempercepat gerakanku.

Sepuluh menit kemudian aku sudah siap dengan pakaian kerjaku yang aku simpan di tas ranselku, berhubung aku ini hanya seorang pegawai di restoran, aku hanya memakai kaus hitam polos lengan pendek yang melekat pas di tubuhku, celana jeans hitam, sepatu skets, dan tak lupa memakai sabuk yang hanya sekedar hiasan di pinggangku saja.

Ternyata di meja makan semua anggota keluargaku sudah berkumpul untuk sarapan bersama. Oh, kemana Bora nuna? Apakah ia sudah berangkat kerja? Atau malah belum pulang kerja?

“Eomma, nuna eodiya (kakak kemana/kemana kakak) ?” tanyaku pada ibu sembari mengambil sepotong Gaeran Toast-U yang sudah di siapkan ibu di atas meja makan.

“Dia sudah berangkat pagi-pagi sekali, katanya ada tugas yang harus ia kerjakan sebelum atasannya datang.” Jelas ayahku. Sepertinya tadi aku bertanya pada ibu, lalu kenapa ayah yang menjawab pertanyaanku? Aku hanya ber-oh ria menanggapinya karena mulutku sedang penuh dengan sandwich. Sedangkan ayah, masih belum menyentuh sarapannya karena sibuk membaca berita dari koran pagi ini.

Aku terlahir dari keluarga yang bercukupan. Profesi ayahku sebagai arsitektur, dan kini sedang menangani sebuah proyek di kawasan Cheondamdong. Kakak ku sebagai tentara yang bertugas di Itaewon. Sedangkan ibuku hanya ibu rumah tangga cantik nan sabar yang melayani anak-anak beserta suaminya.

Aku tidak memiliki kendaraan untuk hari-hariku. Bukannya tidak memiliki, hanya saja aku lebih suka menaiki kendaraan umum seperti bus ataupun kereta jika harus kemana-mana.

Kembali ke meja makan, aku hanya membutuhkan dua potong sandwich untuk mengenyangkanku, setidaknya aku sudah membohongi cacing-cacing yang ada dalam perutku dengan memakan dua potong sandwich itu.

Mungkin mereka akan berpikir, “wah, Kang Daesung sedang memakan sandwich buatan ibu. Ini pasti akan mengenyangkan kita sampai nanti sore. Apakah Daesung akan banyak melahap sandwich itu?” kata cacing 1 penasaran. “Mudah-mudahan ia akan menelan banyak sandwich untuk memberi makan kita.” Timpal cacing 2. Ya, setidaknya itulah perkiraanku.

Aku sudah selesai dengan sarapanku, dan kini aku harus berangkat kerja. Aku sedang tidak ingin terburu-buru untuk sampai di sana. Sudah lama aku tidak seperti ini, terakhir kali aku seperti ini kalau tidak salah lima bulan yang lalu. Selanjutnya, aku selalu terburu-buru datang ke restoran. Bahkan tak jarang aku datang terlambat.

Tapi selama aku terlambat, tidak pernah ada yang berani menegurku. Mungkin mereka memandangku sebagai keponakan dari pemilik restoran. Padahal sudah ku katakan pada mereka agar tidak bersikap seperti itu padaku. Tegur aku jika aku salah, tapi tidak ada yang berani. Ya sudah.

Oh tidak tidak, ada satu orang yang berani menegur kesalahanku itu, dia bukan manajer, terlebih lagi direktur. Dia hanya seorang gadis biasa yang lebih muda dariku, dan ia pun baru satu tahun bekerja di sana. Ya, hanya dia lah yang berani menegurku.

Aku beranjak dari kursi dan mengambil tas ranselku yang tadi ku letakkan di sofa ruang keluarga. Aku pun berpamitan pada ayahku yang masih sibuk dengan koran paginya, dan ibuku yang sudah berada di dapur untuk mencuci piring.

Aku berjalan ke pintu rumah, mengganti sandal rumah dengan sepatu yang tadi aku keluarkan dari kamar. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku belum berpamitan pada Doraemon. Dengan cepat aku kembali melesat menuju kamarku. Ayah yang melihatku kembali, bertanya dengan sedikit berteriak, “Daesung-ah. Ada apa kau kembali lagi?” Aku tidak menanggapinya dan mendatangi boneka besar Doraemon setinggi satu meter yang sedang duduk tersenyum di pojok tempat tidur.

“Yaaa, Dora-ya. Aku berangkat kerja dulu ne, tolong jaga rumah dan jaga eomma. Kau juga perlu menjaga appawa nuna (ayah dan kakak), dimanapun mereka berada. walaupun mereka berdua tidak akan ada di rumah seharian ini. oke.” Perintah ku pada Dora dengan mengedipkan sebelah mataku sambil membelai kepala bundarnya itu. Dora hanya diam dengan senyuman yang selalu melekat di wajahnya.

Setelah berpamitan dengan Dora, aku pun kembali melesat menuju pintu rumah, lalu memakai sepatu. Sebelum aku membuka pintu, aku kembali pamit pada ke dua orang tua yang sangat ku sayangi itu dan segera pergi menuju restoran.


“Hey, Daesung oppa, tumben sekali.” Suara riang itu terdengar di telingaku saat aku mulai memasuki restoran dengan tanda “Close” di ambang pintu. Gadis itu, gadis yang selalu membuat hari-hariku berwarna. Gadis manis yang selalu membuatku semangat berangkat kerja karena kehadirannya di restoran ini, walau aku sering terlambat. Gadis yang, ahhh, tak dapat ku definisikan bagaimana perasaanku ketika bertemu dengannya.

Aku tersenyum saat melihatnya sudah berada di hadapanku. Tiba-tiba tangan kanannya menyentuh dahiku, “oppa, kau sakit?” tanyanya dengan mata yang dibulatkan sempurna.

Aku melihat tangannya yang masih tertempel di dahiku, lalu ku alihkan pandanganku ke arahnya, tepat ke matanya. “hahaha, sakit apa? Aku hanya sedang ingin datang cepat. Apa tidak boleh?”

Ia menarik tangannya dari dahiku, “emmm, tentu boleh. Bahkan lebih bagus, karena sekarang oppa harus membantuku merapikan meja-meja itu sebelum yang lainnya datang.” Dengan sigap gadis itu menarikku dan membawaku ke ruang ganti yang berada satu lantai di bawah tanah.

“Sekarang, cepat ganti pakaianmu, lalu bantu aku! Oke?” ia mendorongku masuk ke dalam ruang ganti, dan pergi meninggalkanku begitu saja. Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkahnya itu.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengganti pakaian ku dengan seragam. Kini aku sudah berada di lantai satu dan membantu gadis itu menyiapkan restoran. Kali ini tidak hanya aku dan gadis itu saja, tapi pegawai restoran yang lainnya sudah datang.

Ketika aku sedang mengelap meja yang berada di luar restoran, gadis itu menghampiriku. “Daesung oppa, kau tahu tidak?” tanyanya saat sudah berada di sampingku. Aku pun menegakkan tubuhku dan menghadap ke arahnya.

“Tahu apa?” tanya ku polos. “Kau terlihat seperti Doraemon.” Jawabnya cuek seraya meninggalkanku menuju meja yang berada di sebelahku. Aku hanya terbengong-bengong dengan pernyataannya. Apa maksudnya berkata seperti itu? Terlihat seperti Doraemon apanya? Bagian mana yang terlihat seperti Doraemon?

“Coba lihat pipimu itu.” Aku memegang pipiku. Ada apa dengan pipiku? “sudah mulai tembam. Badanmu juga sudah mulai menggemuk, terlebih lagi jika oppa memakai celemek seperti itu, oppa benar-benar sangat mirip dengan Doraemon.”

Aku mulai sibuk memperhatikan penampilanku di jendela besar restoran. Apa benar yang ia katakan? Apa aku sudah mulai gemuk? Aku sibuk bertanya-tanya dalam hati, sedangkan gadis itu malah sibuk membersihkan meja. Ku lihat gadis itu seperti sedang menahan tawa. Jangan-jangan dia…

“Yaaa!! Kwon Nara!! Kau sedang mengerjaiku ya?” seketika gadis itu melesat memasuki restoran dengan tawa yang meledak. Aish, jinjja. Aku sudah di kerjai olehnya.

Aku memang sangat terobsesi pada Doraemon, tapi aku tidak mau berbentuk seperti Doraemon yang gemuk, bulat, dan pendek seperti itu. Itu membuat para gadis menjauh dariku. Lagi pula, saat ini aku sedang berusaha diet agar mendapatkan tubuh yang proporsional.

Gadis itu bernama Kwon Nara. Gadis yang bergolongan darah sama denganku, berzodiak sama denganku. Gadis riang berwajah oval, mempunyai gigi gingsul di kanan dan kirinya, mata bulat, rambut panjang yang selalu ia ikat buntut kuda, mempunyai kulit kuning langsat, dan tomboy. Emmm, bukan seperti orang Korea pada umumnya karena ia masih memiliki darah Indonesia dari pihak ayahnya.

Dia tiga tahun lebih muda dariku. Tapi dia lebih dewasa dibandingkanku walau terkadang sifat jahil dan manjanya keluar. Aku suka saat ia mulai bersikap manis kepadaku. Itu membuatku seperti, emmmm, bagaimana menjelaskannya ya? Entahlah, mungkin kalian bisa membantuku menjelaskannya.

Dia sering memberiku nasihat-nasihat yang bersifat membangun, menghiburku di saat aku sedang tertimpa masalah, selalu ada saat suka maupun duka. Awalnya gadis itu agak tertutup dengan pegawai-pegawai yang lain. Kupikir, mungkin karena dia masih baru bekerja disini sehingga ia bersikap seperti itu.

Aku mencoba mendekati gadis itu. Cukup sulit memang, tapi aku berhasil dekat dengannya setelah perjuanganku merubah gadis itu selama tiga bulan. Entah kenapa, selama masa-masa itu perasaan aneh dalam diriku muncul. Perasaan aneh yang ketika berdekatan dengan Nara selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Seolah seperti ingin meloncat keluar dari tubuhku.

Sama seperti saat ini, ketika ia sanggup mengerjaiku. Berdekatan dengannya saja sudah cukup membuat jantungku hampir berhenti berdenyut, di tambah lagi dengan candaannya yang mengatakan bahwa aku sudah bertambah gemuk. Itu benar-benar akan membuat jantungku berhenti berdetak.

Aku menarik nafas lega mengetahui Nara hanya mengerjaiku saja. Tiba-tiba dia melongokkan kepalanya di pintu masuk restoran, “Hey, oppa. Bagaimana jika aku tidak mengerjaimu? Bagaimana jika yang aku katakan tadi itu adalah sebuah kenyataan?” tanyanya seolah mengetahui isi pikiranku barusan.

“Aish, jinjja.” Gerutuku sambil bersiap mengejar Nara. Dengan cepat Nara masuk ke dalam restoran menghindar dari kejaranku. Dia berteriak-teriak meminta pertolongan pada pegawai-pegawai restoran yang hanya tertawa kecil melihat kelakuan kami berdua.


Sudah waktunya makan siang, tapi aku sedang tidak ingin memakan jatah makan siangku di restoran ini. aku sudah mengganti seragamku dengan pakaian biasa. Aku melihat ke seluruh ruangan dimana para pegawai restoran sedang menyantap makan siang mereka. Aku tidak melihat keberadaan Nara. Dimana gadis itu?

“Kau mencariku, oppa?” tiba-tiba Nara sudah berada di sebelahku. Dia sukses membuatku terkejut dan membuat jantungku kembali berolah raga karena ulahnya. Gadis ini benar-benar aneh, dia itu seperti mempunyai indra ke enam dimana ia bisa membaca pikiranku.

Ku alihkan pandanganku pada sebuah kotak yang ada dalam genggamannya. “Apa ini?” tanyaku sembari menunjuk kotak tersebut. “Ini kotak makan, oppa.” Jawabnya polos. Aku memutar mataku, tentu saja aku tahu itu kotak makan, yang aku maksud adalah isi dari kotak makan itu.

Nara terkekek, “hehe, ini nasi rendang. Oppa tahu rendang? Makanan khas Indonesia yang sudah terkenal di penjuru dunia.” Jelasnya. Rendang? Terkenal? Bahkan aku belum pernah mendengar nama makanan itu sama sekali.

“Enak tidak?” Nara mengangguk pelan sebagai jawabannya, “oppa mau mencobanya? Ini masakanku sendiri, jika tidak enak, tolong di maklumi saja, oke.” Ia pun membawaku menuju taman yang berada tak jauh dari restoran.

Kami berdua duduk di sebuah meja piknik yang terbuat dari kayu yang berada di taman ini. Aku duduk bersebelahan dengannya. Ketika ia membuka kotak bekalnya itu, harum wangi terpancar keluar dari dalam.

“Uwwaaaa, kelihatannya enak.” Mataku berbinar saat melihat isi kotak bekal tersebut. Daging, aku suka daging. Ternyata rendang itu terbuat dari daging.

“Cobalah.” Nara menyodorkan kotak makan siangnya padaku, aku menatapnya dengan tatapan bertanya. “Aku yakin oppa sudah penasaran dengan rasanya ketika menghirup wangi dari masakan ini. Jadi ku persilahkan oppa untuk mencicipinya terlebih dahulu.”

“Kau yakin?” Nara hanya mengangguk dan memberikanku sebuah sendok dan sebuah garpu. Aku menerima sendok dan garpu itu, dan mulai mencoba makanan yang katanya sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia, makanan asal Indonesia bernama rendang.

Aku memejamkan mataku ketika daging itu menyentuh lidahku. Rasanya manis di padu dengan rasa pedas. Dagingnya juga terasa empuk, tidak sulit di kunyah. Ternyata tak hanya wanginya saja yang terasa enak, tapi rasanya benar-benar lezat.

Ku lirik Nara yang tersenyum puas di sebelahku sambil bertopang dagu. “Bagaimana, oppa?” tanyanya menunggu tanggapan dariku tentang masakan buatannya.

“Masitta (enak)!” seruku dengan mulut yang masih penuh dengan masakan buatannya. Ini benar-benar enak. Aku suka. “Manhi deuseyo (makanlah yang banyak).” Timpal Nara.

Aku menoleh ke arahnya, “yaa! Tadi kau hanya menyuruhku untuk mencicipi, bukan memakannya!” omelku. Namun Nara hanya tersenyum menanggapi omelanku itu.

“Aku memang sengaja membuatkan ini untuk oppa.” Ucapnya ringan. “Lalu, apa kau sudah makan?” Nara menggeleng, “Tentu saja belum. Tapi melihat oppa memakan makananku dengan lahap, walau hanya sekedar mencicipi, sudah cukup bagiku untuk mengenyangkan perutku.”

“Apa-apaan kau ini? aku tidak mau kau jatuh sakit, cepat makan sekarang!” perintahku padanya. Nara tetap tidak mau. Aku ambil satu sendok penuh makanan yang ada di depanku ini, dan ku sogokkan padanya. Nara menutup mulut dengan kedua tangannya.

“Cepat makan! Jika tidak, aku tidak mau berteman dengan mu lagi!” ancamku. Namun Nara tetap bersih kukuh untuk tidak memakan satu suapan pun ke dalam mulutnya.

Aish, jeongmal. Gadis ini benar-benar. Sulit sekali menyuruhnya makan. Pantas saja tubuhnya kurus seperti itu. “Ada satu syarat agar aku memakan itu.” seru Nara tiba-tiba.

Aku menautkan alisku heran, “syarat? Syarat apa?” Nara mengeluarkan jurus senyuman mematikannya padaku. Senyuman itu sungguh membuatku ngeri. Tapi aku menyukainya sekalipun ia benar-benar membunuhku dengan senyumannya itu.

“Oppa harus bernyanyi sekarang!” perintahya. “Mwo?” aku mencoba meyakinkan pendengaranku tentang permintaannya yang konyol itu.

“Oppa harus bernyanyi sekarang!” Nara mengulangi perkataannya dengan pelan namun tegas. Apa aku tidak salah dengar? Untuk apa ia menyuruhku bernyanyi?

“Aku pernah mendengar oppa bernyanyi saat menyiram tanaman yang berada di atap restoran. Suaramu itu sangat indah oppa. Sepertinya kau salah jika berprofesi sebagai pelayan restoran, seharusnya kau menjadi penyanyi di restoran atau kafe atau mungkin menjadi penyanyi profesional.” Jelasnya panjang lebar.

“Jeongmal? Apakah suara ku itu bisa mendamaikan hatimu?” tanyaku polos. Nara mendengus mendengar ucapanku barusan. Tapi aku hanya terkekek melihatnya seperti itu.

“Palli, oppa. Kau mau bernyanyi atau tidak? Jika tidak, akan ku ambil makanan ku itu dan aku juga tidak mau lagi berteman denganmu.” Ancamnya. Ancamannya itu sanggup membuatku takut. Bukan takut karena makanan enak itu di tarik kembali oleh si pemilik. Tapi takut pada ancamannya yang tidak ingin berteman lagi padaku.

Jujur saja, aku lebih takut kehilangan Nara dari pada kehilangan Doraemon.

Doraemon :
Heeyyyyy!!!! Bukankah kau bilang kau tidak akan berpaling dariku? Benar-benar penghianat kau, Kang Daesung!!!

“Baiklah, baiklah. Aku akan bernyanyi untukmu.” Aku mengalah. “Nyanyikan lagu trot ya oppa.” Pintanya. Lagu trot? Uwa, nasib baik aku bisa menyanyikan aliran musik itu. aku menarik nafas lega.

Aku berdiri dari posisi duduk ku dan menarik nafas dalam-dalam, lalu ku hembuskan lagi dengan perlahan. Dan akupun mulai bernyanyi.

Nalbwa nalbwa Nara nalbwa nalbwa Nara Nalbwa nalbwa chigeum tangjannalbwayo
Nalbwa nalbwa Nara nalbwa nalbwa Nara Nalbwa nalbwa nalbwayo

Look At Me, Gwisoon. Gwisoonnya ku ganti jadi Nara. hehe.

Ku nyanyikan lagu itu dengan gerakan-gerakan yang lucu. Dan itu sanggup membuat gadis yang sedang duduk itu tertawa terbahak-bahak. Aku yang melihatnya tertawa seperti itu pun merasa puas.

Nara bertepuk tangan dengan keras, “Wah oppa, kau benar-benar berbakat. Oppa bisa hiphop? Bisa nyanyikan satu lagu hiphop untukku?” pintanya lagi. Aku yang sedikit terengah-engah pun melongokkan wajah tak percaya. “Yaa!! Kwon Nara, aku harus bernyanyi berapa lagu hanya untuk membuatmu makan, eoh?” sengitku.

Gadis yang berada di hadapanku itu hanya menampilkan sederet gigi rapihnya, “Hehe, sekali lagi saja oppa. Setelah itu, akan ku turuti kemauanmu untuk memakan bekal makan siang itu bersamamu, eottae?” tawarnya.

Hmmm, tawaran yang menarik. “Baiklah, akan ku nyanyikan satu lagu bergenre hiphop hanya untukmu.”

jonhwahantongimyon dallyoga 1988-0818
mannan nuguna allyobwa nan yonyega ilgeubsagon
nan dareunikka keuge nanikka mwomanhaetdahamyon nanrinanikka
yuhaengeulmandeunikka da bakkunikka geunikka ishillyogi odigamnikka

get back igon jangnananya young & rich that’s naran marya
so im fast so what is okay nugun jangnanhanya? na jangnananya

One Of A Kind, G-Dragon

Aku menyanyikan lagu itu dengan gaya hiphop. Ketika selesai menyanyikannya, tepuk tangan riuh pun terdengar dari gadis yang sedari tadi memperhatikanku bernyanyi.

“Uwaa, daebak daebak.” Tepuk tangan Nara makin keras. Aku kembali duduk di sebelahnya.

“Baiklah, Kwon Nara. Sekarang, makan makan siangmu ini!” perintahku setelah meneguk sebotol air putih yang tadi ku beli sebelum sampai di taman ini. “Ne, tapi oppa juga ikut makan bersama denganku.” Pintanya lagi. Ya Tuhan, gadis ini banyak sekali permintaannya.

“Baiklah, baiklah. Apapun yang kau inginkan, aku usahakan untuk mengabulkannya.” Ucapku lembut sembari menyentuh ubun-ubun kepala Nara dan tersenyum padanya.

“Gomawo oppa.” Balas Nara ramah memberikan senyumannya yang tak kalah manis dengan senyuman yang kuberikan padanya.


Sudah waktunya pulang kerja. Ah, sepertinya aku akan kembali berpisah dengan gadis impianku walau hanya kurang dari dua belas jam saja. Aku sudah kembali dengan pakaianku yang tadi pagi ku pakai untuk berangkat kerja.

Hmmmm, kemana lagi perginya gadis kecil itu? Mataku kembali menelusuri seisi restoran, namun aku tak dapat melihat sosoknya. “Hey, kau melihat Nara?” tanya ku pada pegawai yang bekerja pada shift selanjutnya.

“Tadi kulihat dia pergi ke atap.” Pegawai itu memberikan informasi sesuai apa yang ia lihat. Setelah aku berterima kasih padanya, aku pun menyusul Nara ke atap. Tapi tidak ada siapa-siapa di sini. Apakah pegawai itu benar-benar melihat Nara ke sini?

Aku melangkahkan kaki ku ke tepi gedung, melihat keindahan kota Seoul dari gedung bertingkat tiga ini. Restoran ini terletak di atas bukit sehingga dapat melihat pemandangan kota Seoul dari atas sini.

Aku melihat cahaya kota Seoul yang di timbulkan dari gedung-gedung pencakar langit. Tiba-tiba sebuah sosok muncul tepat di sebelahku. Aku menoleh cepat ke arahnya dengan mata yang agak membulat.

Ketika kulihat siapa sebenarnya sosok itu, aku pun tersenyum lega. Ternyata Kwon Nara. Gadis itu sungguh memiliki banyak kejutan. Aku akan cepat terkena serangan jantung jika berada di dekatnya terus menerus. Tapi aku menyukainya.

Gadis itu nampak tersenyum melihat pemandangan kota Seoul yang berada di hadapannya. “Oppa belum pulang?” tanyanya tanpa menoleh ke arahku. Aku terperangah akan keindahan yang Tuhan ciptakan. Keindahan yang tepat berada di hadapanku. Bukan keindahan kota Seoul yang ku maksud. Tetapi keindahan seorang gadis periang, polos, nan tomboy ini lah yang membuatku terkagum-kagum.

Kwon Nara, gadis ini benar-benar membuatku akan bermimpi indah setiap malamnya. Nara memang tidak cantik, namun ia gadis manis. Gadis ini tak pernah membuatku merasa bosan untuk menatapnya terus menerus. Aku seperti terkena panah yang ditujukan Cupit, si malaikat pembawa panah cinta, padaku. Aku jatuh cinta pada Kwon Nara.

Mengetahui aku tidak merespon pertanyaannya, gadis itu pun akhirnya menoleh ke arahku. “Oppa!” panggilnya. Panggilannya mampu membuatku tersadar. “Eoh, ne?”

“Kenapa oppa belum pulang?” tanyanya sekali lagi. “Oh, aku ingin mengajakmu pulang bersama.” Ajakku.

“Sepertinya aku tidak bisa, oppa ku akan menjemputku sebentar lagi. Atau oppa ingin pulang bersama ku?” ia berbalik menawariku tumpangan. Aku menggeleng dan tersenyum, “tidak, mungkin lain kali.” Tolakku dengan halus.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Telpon dari ibuku. “Yeoboseyo eomma … mwo?? … baiklah baiklah, aku akan segera kesana.” Aku menutup telponku dengan cepat lalu memasukkan kembali ke kantong celanaku.

Nara yang menyadari perubahan raut wajahku pun akhirnya bertanya, “ada apa oppa?” ia menatapku dengan tatapan cemas.

“Ayahku masuk rumah sakit setelah mengalami kecelakaan kerja di proyek. Aku harus segera pergi, Nara-ya. Kau cepat lah pulang. Ini sudah malam.” Aku pergi meninggalkan Nara yang masih terpaku di tempatnya dengan tergesa-gesa.

“Oppa!” panggilnya sekali lagi tepat sebelum aku membuka pintu. Gadis itu menghampiriku. “Aku antar. Aku akan bicara pada oppaku untuk mengantarmu ke rumah sakit.” Ia menawarkan diri.

Aku tersenyum dan menyentuh kepalanya, “Tidak perlu Nara-ya.” Aku kembali menolak tawarannya dengan halus. “Jika oppa tidak mau ku antar, maka aku tidak akan pulang.” Ancamnya.

Aku menghela nafas. Aku kembali teringat dengan perkataanku tadi siang. “Apapun yang Nara inginkan, akan ku usahakan untuk mengabulkannya.” Maka aku pun menerima tawarannya. Gadis itu kembali menyunggingkan senyuman manisnya padaku.

Untuk beberapa saat, aku lupa dengan keadaan ayahku yang kritis di rumah sakit akibat senyuman mematikannya itu, mematikan untukku tentu saja. Jika saja ponsel Nara tak berbunyi, maka aku akan terus berada di dunia khayalku.

Nara menerima sebuah pesan dari seseorang, “oppa ku sudah sampai. Ayo oppa, sebaiknya kita bergegas.” Nara menarik tanganku dan menyeretku menuruni tangga dengan cepat.

Setelah kami berada di dalam mobil milik kakak Nara, Nara pun mulai menjelaskan apa yang terjadi. Sang kakak mengangguk patuh pada apa yang Nara katakan. Kami pun melaju ke rumah sakit dimana ayahku sedang di rawat.


Setibanya di rumah sakit, aku segera berlari mencari keberadaan ibuku. Nara dan kakaknya, Jiyong, mengikuti langkahku. Aku sedang tak ingin berdebat dengan kedua kakak beradik itu hanya karena mereka berdua ingin mengetahui keadaan ayahku.

Aku sudah cukup mengenal keduanya yang mempunyai sifat tak mau dibantah dan harus dipenuhi segala apa yang diinginkannya. Namun begitu, keduanya sangatlah baik. Nara dan Jiyong tak segan membantu orang-orang yang berada di sekelilingnya walaupun tak mengenali siapa orang yang telah mereka bantu itu.

Aku mengedarkan pandanganku ke beberapa titik di rumah sakit. Mataku menemukan ibu dan kakakku yang sedang terduduk di depan ruang ICU. Aku dan kedua kakak beradik itu menghampiri kakak dan ibuku.

“Eomma, nuna, bagaimana keadaan appa?” sergapku ketika berada di hadapan mereka. Aku berjongkok di hadapan ibu yang sedang menangis. Aku menyeka air mata itu dengan ibu jariku. “Appa masih di periksa oleh dokter, kita harus menunggu beberapa saat lagi.” Jelas kakakku.

“Eomma, pasti appa akan baik-baik saja. Aku sudah memerintahkan Doraemon untuk menjaga ayah.” Candaku mencoba menghibur ibu. Alih-alih ingin membuat ibuku tersenyum, aku mendapat pukulan keras di kepalaku. “Aish nuna, appayo (sakit).” Aku mengusap kepalaku yang barusan dipukul oleh Bora nuna.

“Kau ini, tidak bisakah berhenti bercanda?” omel kakak ku kesal. “Aku hanya ingin membuat ibu tersenyum! Apa aku salah?” aku melawan perkataan kakak ku. “Jika kau ingin membuat eomma tersenyum, bukan seperti itu caranya.” Kakak ku mulai meninggikan nada suaranya.

“Lalu apa yang harus ku lakukan untuk menghibur eomma? Menari-nari seperti orang gila? Seperti itu kah? Geureom (kalau begitu), nuna saja yang melakukan!” aku melawan tak kalah sengit.

Bora nuna mulai beranjak dari duduknya. Tangannya sudah mengepal sempurna, bersiap meninjuku kapan saja yang ia mau. Aku pun tak mau kalah, aku juga mengepalkan tanganku dan bersiap melawan Bora nuna.

Nara memegang lenganku ketika perdebatan kami hampir saja menjadi perkelahian, “oppa, sudahlah. Ingat keadaan ayahmu saat ini.” ucap Nara dengan nada halus. Jika Nara tak menghentikanku, mungkin aku akan adu jotos dengan kakak ku sekarang ini.

Ada baiknya aku segera pergi dari tempat ini sebelum aku semakin kesal dengan sikap kakak ku itu. Ketika aku akan beranjak pergi, dokter yang menangani ayahku keluar dari ruang ICU.

Seketika ibu bangkit dari duduknya dan segera menghampiri dokter yang baru saja keluar. “Kalian keluarga dari Tuan Kang?” tanya si dokter sembari mengalungkan stetoskop di lehernya.

“Ya, kami keluarganya.” Jawab kami bertiga, aku, Bora nuna, dan ibu, dengan kompak. “Tuan Kang baik-baik saja. Untunglah balok kayu yang menimpanya itu tidak menghantam bagian yang vital. Tuan Kang hanya mengalami gegar otak ringan dan luka-lukanya sudah dibalut.” Jelas dokter.

“Apa kami boleh melihatnya?” tanya ibu cemas. “Silahkan, tapi tuan Kang belum sadarkan diri. Biarkan saja tuan Kang beristirahat sebentar.” Sang dokter tersenyum lalu meninggalkan kami. Aku dan Bora nuna menyusul ibu ke dalam ruangan dimana ayahku di rawat.

Aku melihat ayah sedang terbaring dengan tangan kiri yang terbebat rapat dan kepala diperban. Aku berdiri diam di tepi ranjang, tidak mau membangunkan ayah yang sedang tertidur pulas.

Kelihatannya ayah baik-baik saja. Napasnya teratur dan tidak ada luka mengerikan di wajah dan tubuhnya. Ketika aku sibuk memperhatikan ayah, aku baru sadar akan sesuatu. Nara dan Jiyong.

Aku menoleh dan mencari keberadaan kakak beradik itu. Mereka tidak ada di sini, dimana mereka? Aku menghampiri ibu dan pamit keluar sebentar untuk mencari Nara dan Jiyong. Ibu mengangguk dengan terus menatap ayah tanpa menoleh ke arahku.

Aku pun keluar ruangan. Aku mendapati Jiyong dan Nara sedang berbicara di depan ruang rawat ayahku. Mereka berdua menoleh ke arahku serempak dan menghampiriku. “Bagaimana keadaan ahjussi?” tanya Nara dengan nada cemas.

“Seperti yang dokter bilang tadi, appa tidak apa-apa. Saat ini ia sedang tertidur, mungkin akibat pengaruh obat-obatan yang dokter berikan.” Mereka berdua mengangguk bersamaan.

“Kalian pulanglah, ini sudah hampir larut.” suruhku. Nara menggeleng tegas, “tidak, aku akan tetap disini menemani oppa. Aku sudah berbicara dengan Jiyong oppa, dan sudah menelpon appa. Aku di izinkan untuk tetap di sini bersama oppa.” Jelas Nara panjang lebar masih dengan raut wajahnya yang cemas.

Sebenarnya, ayah siapa yang mengalami kecelakaan? Ayahku atau ayahnya? Mengapa dia yang menunjukkan raut kecemasan? Hmmmm, itulah salah satu alasan kenapa aku sangat mengagumi gadis ini. Perhatiannya yang sangat berlebihan. Jiwa sosialnya sangat tinggi.

Aku menggeleng dan memegang ke dua bahu Nara, “tidak Nara-ya. Kau harus pulang. Kita masih akan bertemu besok di restoran. Kau tidak perlu mencemaskan ayahku, karena di sini sudah ada aku dan Bora nuna yang menjaganya.” Jelasku secara bijak.

Nara tetap menggelengkan kepalanya, “aniya, aku akan tetap disini!” serunya. Aku menghela nafas. Dengan sabar aku menasihatinya, “tolong turuti kemauanku kali ini saja. Kau harus pulang bersama kakakmu. Walau ayahmu sudah mengijinkanmu untuk menemaniku di sini, tapi aku tidak bisa mengijinkannya. Oke? Pulanglah Nara-ya.”

“Aku akan tetap disini!” ucap Nara perlahan namun tegas. “Begini saja, besok aku akan menjemputmu. Eottae?” aku mencoba memberikannya tawaran. Nara terlihat seperti berpikir, sedetik kemudian, “Baiklah, jemput aku pukul setengah sembilan pagi. Harus tepat waktu. Tidak boleh telat, dan juga tidak boleh terlalu cepat.” Katanya menerima tawaranku.

Jiyong hyung hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Mungkin ia bingung, kenapa adiknya selalu bersikeras dengan apa yang ia minta. Punya adik seperti Nara sepertinya harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi.

“Baiklah, akan kujemput tepat pukul setengah sembilan pagi. Ada lagi?”

“Tidak!” sahut Nara langsung dan segera pergi tanpa pamit padaku. Aku kembali menghela nafas. Jiyong hyung menghampiriku, “kami pulang dulu. Salam untuk keluargamu. Semoga ayahmu cepat sembuh.” Aku mengangguk berterima kasih pada Jiyong hyung. Jiyong hyung pun berbalik dan segera menyusul adiknya yang sudah tak terlihat.

=== TBC ===

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s