3 Months (2/5)

10531208_888583794490487_1940201084_n

Author: Vivin

Judul: 3 Months part 2

Cast:   –    Jung Taekwon (Leo Vixx)

  •    Shin Jiki

  •   Cha Hakyeon

Annyeong Haseyo, dipart pertama author belum sempet cuap-cuap, nah di part 2 ini author mau cuap-cuap bentaran doang.. hehehe,. terima kasih yang sudah baca part pertama dan komentar-komentarnya, semoga di part 2 ini kalian masih mau baca, hehe.. jangan lupa ya tinggalin jejak setelah baca, karena kritik, saran dan komentar kalian sangat berarti banget buat author.. sekali lagi author sangat berterima kasih buat kalian yang sudah meluangkan waktu buat baca.. oke, capcus.. Happy Reading~~


“Nuguseyo?” tanya Jiki terbata bata. Ocehannya yang biasanya keluar deras seperti air terjun, kini terhenti. Mata sipitnya berbinar melihat laki-laki di hadapannya, diam menatapnya lekat. Sejenak Jiki merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, ada yang salah dengan dandanannya, sepatu kets, kaos, cardigan dan rambut yang dikucir, bukankah itu dandanan standart seorang Jiki, tak bisa ia berdandan lebih dari itu.

“Naneun Jung Taekwon” yah begitulah namanya, pemilik nama yang membuat Jiki terdiam malam itu, pemilik nama yang entah tahu dari mana nama Jiki, wanita paling hina dan menyedihkan.


Antara rasa kecewa, lega, malu bercampur aduk menjadi satu. Name tag Jiki jatuh dan Taekwon yang menemukannya. Bukan sengaja menyerempet, tapi Taekwon memang tidak sengaja menyentuhkan stag sepedanya ke tubuh Jiki. Padahal Jiki sudah sangat percaya diri dan membayangkan kalau namja ini adalah secret admirernya yang sengaja mengejarnya dan akan mengajaknya berkenalan. Semburat rasa malu dan kecewa menghiasi tiap lekuk wajahnya. Kini, ia hanya bisa terdiam dengan muka tertunduk dan tangan yang menggenggam name tag berukuran 5 X 1 cm itu.

“Gomawo” ucap Jiki sungkan, dengan badan yang sedikit dibungkukkan, yeoja ini mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah, malu. Laki-laki itu tidak berbicara banyak hanya seulas senyum untuk membalas ucapan terima kasih tersebut, kemudian dia kembali membalikkan badannya, bersiap mengayuh sepedanya kembali.

“Ah Jakkaman” gerak namja itu terhenti, ya Jiki menghentikannya. Suaranya tergerak untuk mengatakan kata-kata itu, hatinya tergelitik untuk berlama lama dengan namja ini.


Keduanya duduk terdiam di sebuah taman kecil yang terletak tidak jauh dari halte bis tempat biasa Jiki menunggu bisnya. Taman itu hanya berukuran sekitar 30 x 10 meter, tidak luas memang, hanya ada dua tempat duduk dan dua permainan anak-anak, selebihnya hanya ada beberapa bunga yang tidak terlalu urus keberadaannya. Keduanya terdiam terpaku, yang satu menata lurus kedepan dengan posisi duduk yang tegak, sedangkan yang satunya tertunduk lemas dengan wajah yang tertelungkup, pandangannya adalah tanah yang ditapaknya. Sudah sekitar 15 menit berlalu dan masih terasa hening, tidak terdengar suara apapun dari keduanya. Jiki sibuk dengan rasa sedih yang menyelubungi perasaanya ditambah dengan rasa malu dan sungkan karena sudah mengajak orang yang baru pertama kali ditemuinya duduk bersamanya saat ini. Sedangkan namja disebelahnya diam terpaku, tak mengeluarkan suara sedikitpun, bahkan dia juga tidak menggeser dan mengubah posisi duduknya, tetep diam dengan tubuh tegak. “Aigo, dia ini patung atau manusia” gumam Jiki.

“Taekwon-ssi bolehkah aku meminjam pundakmu?” tiba-tiba Jiki mengeluarkan suara dan melemparkan sebuah pertanyaan yang amat sangat tidak sopan dan ia tahu pertanyaan itu benar-benar menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang yeoja, hello mereka baru saja bertemu dan Jiki mengajakknya untuk duduk berdua dan sekarang ia meminta meminjam pundaknya. Hanya wanita yang tidak tahu malu dan tidak tahu sopan santun yang akan melakukan itu. Tentunya namja ini tak menjawab pertanyaan bodoh itu, cukup dengan sebuah lirikan tajam nan dingin yang diarahkannya tepat di kedua mata Jiki. Mata elangnya menusuk, memberi perwakilan atas suaranya kalau dia menolak meminjamkan bahunya. Persetan Jiki tak peduli dengan lirikan tajam itu, dijatuhkannya kepala Jiki pada pundak namja itu dan ia menangis sejadinya. Tumpah sudah semua genangan air mata yang ia tahan, sebuah buncahan emosi yang ia rasakan tiap hari dan ia juga tidak tahu kenapa dia harus menangis tersedu sedu seperti ini di depan laki-laki yang baru ia temui malam ini. Karena Jiki sudah menjatuhkan kepalanya dan menangis seperti ini, tak ada pilihan lain lagi bagi Taekwon selain diam dan membiarkannya menangis sampai menghentikan tangisnya.

“Mianhae, jeongmal mianhae” isak Jiki di tengah tangisnya yang mulai mereda. Kepalanya yang tersender akhirnya bangkit. Sruutt, sruuttt suara lendir terdengar jelas memecah heningnya malam itu. Tangan kecilnya merogoh tas mencari tissue tapi apa daya dia lupa kalau tissuenya habis dan belum sempat ia membeli yang baru.

“Pakailah ini” akhirnya sebuah suara keluar dari mulut namja bernama Taekwon dan tangannya menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna biru, namun pandangannya tetap tertuju kedepan, sedikitpun tidak menengok kearah Jiki.” Aigo laki-laki ini dingin sekali tapi kenapa suaranya halus, seharusnya kan suaranya berat melihat postur tubuhnya yang maskulin. Benar-benar diluar dugaan” batin Ji ki. Dalam keadaan sedih seperti ini dia masih sempat memikirkan hal yang tidak penting.

“Gomawo” seru Jiki sekilas, sebelum ia membuang lendir tersebut tepat di depan Taekwon. Srrroottttttttttt, dikeluarkannya dengan keras lendir yang sudah bersarang maksimal di setiap rongga hidungnya.

“Mianhae” ucap Jiki santai walau rasa malunya kini sudah meningkat menjadi 2 kali lipat.

“Kenapa kau harus menangis setiap malam di halte?” sebuah suara halus diiringi pertanyaan keluar dari mulut Taekwon. Pertanyaan itu langsung menekan batin Jiki yang terdalam, ia hanya diam tertegun, seketika kerongkongannya kering, kepalanya pening dan dipenuhi beribu pertanyaan, matanya berkaca kaca, tangannya meremas ujung bajunya, “bagaimana ia tahu kalau aku sering menangis di halte, siapa laki-laki ini sebenarnya?” Mulut Jiki tertutup rapat, matanya kini memandang intensif wajah laki-laki ini. Setiap lekuk wajah namja itu diperhatikannya, tapi laki-laki ini tidak peduli Jiki memperhatikannya, dia terus menatap lurus kedepan, tak sedikitpun melirik keberadaan Jiki saat ini yang sudah ia koyak dengan pertanyaan yang mematikan.

“Nuguseyo? Siapa kau sebenarnya?” suara Jiki terdengar bergetar.

“Kalau kau membutuhkan pundakku untuk menangis, aku siap menemanimu, seperti saat ini dan ditempat ini” kata namja ini menimpali perkataan sebelumnya. Perkataan yang membuat hati Jiki semakin jatuh, hancur, bingung dan bertanya-tanya “siapa kau sebenarnya? Jangan buat aku seperti ini? aku masih polos”


Ketika aku melihat air mata itu jatuh

Rasanya aku ingin menarikmu dalam pelukanku

Mengusap air matamu dan menenangkan jiwamu

Tapi aku hanya diam dan memperhatikanmu

Jauh jauh jauh, dan kau tidak perlu mengetahuinya

 

Malam ini Jiki pulang kerja lebih cepat dari biasanya, sejak kejadian malam itu dia jadi takut pulang sendirian, biasanya sepulang kerja dia masih membantu Min young membersihkan restoran, tapi kini ia memilih pulang lebih terdahulu, karena itu akan berbarengan dengan jadwal pulang pegawai restoran China, restoran yang terletak tepat disebelahnya. Sampai detik ini pertanyaan dan pernyataan Taekwon masih terngiang di otaknya. Jangan-jangan selama ini dia diikuti oleh seseorang yang akan menyakitinya, dan Taekwon orangnya. “Aigo” Jiki bergidik. Malam ini adalah malam ketiga sejak kejadian itu terjadi. Seharusnya Jiki bangga ada seorang laki-laki yang tampan yang mengatakan sederatan kata-kata yang manis seperti itu, tapi permasalahannya Jiki tidak mengenal laki-laki itu, malam itu baru pertama kali mereka bertemu dan itupun terjadi karena dia menemukan name tag Jiki yang terjatuh. Apalagi ketika Jiki mengingat tatapan matanya yang sangat tajam, dan sikapnya yang sangat dingin, oh my god semua itu membuat Jiki merinding dan ketakutan.

“Tuhan lindungi aku” bisik Jiki.

Akhirnya bis yang ditunggunya datang, didalamnya sudah penuh dengan penumpang hanya tertinggal satu bangku kosong tepat dibelakang supir, bangku yang berisi dua penumpang tersebut sudah terisi oleh satu penumpang yaitu seorang pria memakai baju serba hitam, kemeja hitam, celana jeans hitam, dan wajahnya tertutup topi hitam yang ia tarik menutupi setengah dari wajahnya, duduknya sedikit disenderkan pada badan bis. Memandangnya saja membuat Jiki takut dan merinding. Jangan-jangan itu Taekwon, gumam Jiki. Gemuruh keras menabuh jantungnya, tangannya menggenggam erat tiang bis, sekuat tenaga ia berdiam diri, ia memilih berdiri daripada duduk disebelah namja yang mencurigakan baginya, ia takut sesuatu yang menakutkan akan terjadi kembali.

“Nak, silahkan duduk, disebelahmu ada tempat duduk” suruh supir dengan tegas karena melihat Jiki yang tidak duduk padahal ada bangku kosong didekatnya.

“Gweanchana, saya berdiri saja pak” jawab Jiki dengan suara yang sedikit gemetar.

“Duduk saja” pinta seorang penumpang yang duduk dibangku belakang.

“Aish kau mengganggu saja, sudah duduk saja” teriak seseorang penumpang yang lain.

“Apa susahnya duduk sih?” suara supir kembali terdengar. Jikipun tersudut, semua mata yang ada di bis kini menatapnya tajam. Hei, ini hanya pilihan berdiri atau duduk, kenapa kalian yang terganggu dan banyak komentar, yang menjalaninya juga aku, gumam Jiki kesal.

“Kau ambeien?” celetuk seseorang, seketika semuanya tertawa mendengar celetukan itu. Wajah Jiki sekitika memerah, malu dibuatnya, wajahnya tertunduk.

“Aniya” jawab Jiki lemah.

“Sudah duduk saja” laki-laki berpakaian serba hitam itu mengeluarkan suaranya, dan tunggu dulu itu tidak seperti suara halus milik Taekwon. Tumben Jiki bisa mengingat dengan jelas, biasanya dengan IQnya yang rendah itu, semuanya akan terasa samar dan lola. Diputarnya pandangannya, lehernya berputar 90 derajat membantu matanya menangkap bayangan dan raut wajah namja yang duduk di bangku itu. Ketika mata mereka bertemu~~
“Oh, Jiki-yaaaaa” mata sipitnya membulat, ekspresinya terkejut menangkap raut wajah Jiki dalam penglihatannya.

“Nugu…yaa?” agak terbata memang Jiki mengeluarkan suara, karena ini kedua kalinya ia bertemu dengan orang yang tidak ia kenal dan mereka memanggil namanya dengan tepat. Satunya dengan mukanya yang dingin dan kali ini dengan mukanya yang dipasang ekspresi terkejut. Tuhan siapa lagi dia? Gumam Jiki.


Jang hyuk oppa menyeruput cappuccinonya perlahan, mulutnya sedikit berdesis merasakan hangatnya cappuccino tersebut. Wajah bodoh Jiki masih saja terdiam dan memperhatikan dengan lekat wajah namja yang duduk tepat didepannya, memutar semua memori masa lalunya, semua kenangannya saat dia masih sekolah dulu, perlahan dia dapat mengingat namja yang duduk didepannya ini. Seseorang kakak kelas saat dia sekolah, seseorang yang sering membantunya saat Jiki membutuhkan bantuan.

“Bagaimana keadaanmu Jiki-ya, lama tidak bertemu?” tanya Jang hyuk oppa ramah. Dia memang selalu ramah pada siapapun dan selalu tersenyum manis.

“Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja, wah oppa kau terlihat lebih keren sekarang, dari penampilanmu ini sepertinya kau bekerja menjadi seorang agent kepolisian” Jiki coba menebak.

“Tidak, aku sekarang menjadi seorang manager artis, keren kan oppamu ini” Jang Hyuk oppa menepuk nepuk dadanya bangga.

“Ah jinjja? Wah kau keren sekali oppa, tapi kenapa harus mengenakan baju serba hitam begini? Sok misterius” Jiki mencibir.

“Bukan begitu, aku takut dikejar oleh sasaeng fans”

“Kan bukan oppa artisnya?”

“Aish, walau begitu banyak dari mereka yang mengejar dan mengikuti, berharap mereka bisa bertemu Hakyeon”

“Hakyeon? Oh jadi dia artisnya?”

“Yes, apa kau tidak tahu?”

“Aniya, dia siapa?”

“Apa kau tahu Vixx? Hakyeon Vixx? N Vixx?” oppa menegakkan duduknya yang awalnya bersender manis.

“Aniya, dia siapa oppa?” tanya Jiki polos.

“Kau ini terlalu lugu, tidak pernah nonton TV? Tidak pernah mendengarkan radio? Atau tidak pernah buka internet?”

“Aku tidak sempat untuk itu oppa, aku terlalu sibuk bekerja” wajah Jiki tertunduk lemas mengingat dirinya memang harus bekerja super keras untuk membiayai biaya kehidupannya. Tapi tiba-tiba terbersit sebuah ingatan melintas di pikiran Jiki. Dia teringat sebuah nama, sebuah wajah yang samar dan sebuah alunan lagu.

Vixx-Eternity

Laki-laki yang bermain piano, dengan kemeja putih bergaris hitam di pundak, menatap tulus pada seorang wanita yang duduk disebelahnya.

Nara: “Setelah aku ingat-ingat sekarang mukanya mirip dengan salah satu member boy band yang sekarang lagi naik daun. You know, Dia mirip Leo Vixx, aigo Jiki-ya“

“Oppa, apa kau kenal dengan Leo?” Jiki terhenyak, memandang penuh harap pada Jang hyuk.

“Tentu saja, dia kan member Vixx” jawabnya tenang.

“Oppa apa aku bisa bertemu dengannya?” bahasa badan Jiki serentak tak santai. Hormonnya naik sekitika.

“Hei, kau menyukainya? Katanya kau tidak tahu Vixx?”

“Aku hanya penasaran oppa, temanku ada yang sangat menyukainya, sampai semua orang dia katakana mirip dengan Leo” Jiki mulai berkelak, padahal dia yang penasaran dengan sosok Leo yang sebenarnya.

“Ah, anak itu memang mempunyai aura yang sangat kuat, pantas banyak yang menyukainya.. Bisa saja aku mempertemukanmu dengannya, tapi besok aku harus ke Busan selama 2 minggu, aku ada acara keluarga disana, emmm tapi Jiki-ya apa kau benar-benar ingin bertemu dengan Leo?”

“Sepertinya begitu oppa” jawab Jiki sedikit ragu, dia takut oppanya tahu bahwa dia sangat ingin bertemu dengan Leo.

“Bagaimana kalau kau menggantikanku selama 2 minggu? 2 minggu ini jadwal Vixx sangat sibuk, aku tidak bisa leluasa menemani Hakyeon, jadi kau bisa menggantikanku menemaninya, dan tentunya kau akan sangat leluasa bertemu dengan Leo” Oppa Jang hyuk mengerling nakal.

“Apa? Menggantikan oppa? Tapi aku tidak bisa menjadi manager artis oppa, aku tidak bisa mengatur jadwal mereka”

“Aish, aku yang akan tetap mengatur jadwalnya, kau hanya menemani, menemani, mengerti menemani? Anggap saja kau asisten manager, jadi hanya membantu Hakyeon menyiapkan performnya dan memantau semua persiapan untuk perform, arasso?”

“Jinjja oppa hanya begitu saja?”

“Ne, nanti kau bisa tanya padaku apa yang akan kau kerjakan, Hakyeon orang yang baik dan ramah, dia pasti akan membantumu”

“Jinjja? Jeongmal? Oppa gomawo” sebuah senyum tersungging indah, bayang-bayang Leo memang masih samar, tapi Jiki sudah bisa membayangkan pekerjaan barunya itu. Sebuah pekerjaan yang menyenangkan dan tidak membutuhkan tetesan air matanya lagi.


Dalam keadaan gugup memang tangan terasa dingin, degup jantung tidak normal, keringat dingin bermunculan dan semua gerak tubuh terasa kaku. Melihat Vixx dari dekat pasti menjadi impian semua fans Vixx dan menjadi asisten manager itu bukanlah pekerjaan yang mudah untuk didapatkan. Habislah gelap terbitlah terang, itu yang Jiki rasakan. Hentikan sudah semua ketakutannya tentang Taekwon, dia akan bertemu dengan Leo yang dikatakan Nara mirip dengan laki-laki malam itu. Entah dimana laki-laki itu berada, Jiki sudah melupakannya, apalagi kata wanita itu laki-laki itu sedang mengejar cinta lain, pupus sudah harapan Jiki mendapatkannya. Dari lorong gedung dia sudah dapat mendengar alunan lagu Eternity, sepertinya mereka sedang latihan dance, Jang Hyuk oppa bilang mereka sedang sibuk promo single terbaru, jadi mereka sangat sibuk. Jiki berdiri tegak didepan pintu berwarna abu-abu. Seluruh badannya kini sudah menegang, penasaran dengan apa yang ada di balik pintu.

Ckreekkkk, pintu terbuka dan dunia baru terhampar. 5 namja tampan sedang berpeluh keringat duduk santai dilantai, sepertinya mereka kelelahan. OMG, demi apapun mereka terlihat sangat tampan bahkan dua kali, ah tidak 3 kali lebih tampan dari video yang pernah Jiki lihat.

“Hyunggg” teiak seseorang yang berwajah manis, sangat manis.

“Ah Hakyeon” teriak Jang hyuk oppa menimpali.

Oh itu yang namanya Hakyeon, yang nantinya akan aku temani, kenapa manis sekali? Beruntung sekali diriku bisa bersamanya selama 2 minggu, Jiki terkkeh dalam hatinya.

“Ah Hakyeon, ini Shin Jiki, dia yang akan menggantikan Hyung menemanimu kesana kemari, dia masih baru, jadi hyung harap kau bisa membantunya, perlakukan dia dengan baik, arasso?” Oppa menepuk bahunya berkali kali.

“Annyeong haseyo, jeonen Jiki imnida” perlahan Jiki membungkukkan badannya.

“Annyeong haseyo, jeonen Hakyeon imnida, tapi panggil saja aku N” kini giliran N yang membungkukkan badannya.

“Oh Jiki-ya apa kau sudah tahu member Vixx yang lain?” tanya N ramah diselingi senyumnya yang manis. Jiki hanya menggelengkan kepalanya.

“Baiklah, ini Ken, Hyuk, Ravi dan Hongbin. Oh ya satu lagi Leo, dia sepertinya terlambat hari ini”

Padahal kan yang aku tunggu si Leo, kenapa dia malah terlambat, batin Jiki. Belum lama ia berkutat dengan rasa kecewanya karena tidak berhasil bertemu dengan Leo, suara pintu terbuka, seseorang berdiri tegap dibaliknya. Mengenakan celana hitam, kaos putih dengan cardigan biru tua, sebuah topi menutupi kilau rambut blondenya. Jiki terhenyak, kakinya terseret mundur satu langkah.

“Taekwon” lirihnya.

Taekwon ikut menghentikan langkahnya melihat gadis yang sudah tidak sopan meminjam pundaknya berdiri dihadapannya, berada ditengah teman-temannya.

“Oh Leo ssi, finally kau datang juga, palli palli, kita punya keluarga baru sekarang” suara N kembali terdengar, berseru lantang, padahal keduanya mengalami sok batin.

“L…eee…ooo?” tanya Jiki segan.

“Iya dia Leo” jawan Ravi dengan suara baritonnya.

“Bukannya dia Taekwon?” tanya Jiki kembali, pancaran matanya memantulkan suatu jawaban bahwa yang berdiri disana bukan Taekwon, bukan orang yang dia takuti selama beberapa hari yang lalu.

“Aigo, iya dia Taekwon, Jung Taekwon, nama asli dari Leo” jawab N kemudian. Kaki     Jiki kembali terseret dua langkah, kini ia berdiri di belakang N, mencari perlindungan, hatinya ketakutan sekaligus tidak percaya. Sekuat mungkin ia mencoba memutar memorinya, mengingat semuanya, video itu serta pertemuan mereka malam itu. Bagaikan jet yang melesat cepat, Jiki mampu mengingat wajah Leo di video yang ditunjukkan Nara, iya Itu Leo. Laki-laki yang bermain piano, dengan kemeja putih bergaris hitam di pundak, menatap tulus pada seorang wanita yang duduk disebelahnya. Wajah samar itu akhirnya terlihat jelas, dan sekarang Jiki menyadari betapa bodohnya dia, wajah Taekwon yang membuatnya ketakutan memang sama, iya sama dan tidak ada satupun yang beda, Taekwon dan Leo adalah satu orang, itu kenyataannya. Nafas Jiki memburu, ada sesuatu yang mendesak saraf matanya untuk mengeluarkan tetes bening.

“Mianhae, aku harus pergi” seru Jiki kemudian, dia tidak sanggup berdiri lagi dengan kaki yang bergetar begini, tangannya mengepal, dingin.

“Jiki-ssi” sapa Leo lemah, dengan jelas Jiki dapat mendengar suaranya, suara halus yang aneh bagi Jiki, tapi terdengar lembut ketika memasuki gendang telinga.

“Kenapa kau harus menangis setiap malam di halte?”

“Kalau kau membutuhkan pundakku untuk menangis, aku siap menemanimu, seperti saat ini dan ditempat ini”

Seketika kata-kata itu kembali terngiang dan terbersit dengan cepat saat Jiki kembali mendengar suara itu. “Leo? Taekwon? Kenapa harus begini? Kenapa?” Jiki hanya bisa terdiam dan memikirkan bagaimana caranya agar segera pergi dari tempat itu dan menyingkirkan sosok Leo dari hadapannya.
****

To be continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s