3 Months (1/5)

10531208_888583794490487_1940201084_n

Author: Vivin
Judul: 3 Months part 1
Cast: – Jung Taekwon (Leo Vixx)
– Shin Jiki
– Kwon Nara
– Kang Dae sung

Ciiiiittttt, Jiki menghentikan sepedanya, nafasnya masih memburu. Tangannya mengepal kuat stang sepedanya. Bola matanya memutar ke kanan dan ke kiri. kemudian ia menggerutu sendiri sesekali memukul jidatnya.
“Aigooooo, sepertinya kita nyasar, aku tidak mau melanjutkan jalan ini bisa-bisa kita tersasar jauh” keluh Jiki.
“Ah jinjja?” seseorang di balik kemudi sepedanya menengok ke jalan yang mulai gelap, hanya beberapa lampu jalan remang remang dengan jarak perlampu hampir 2 meter, jalanan itu tampak sepi, lengang dan sedikit pengendara.
“Ah Otteo? Sepertinya kita harus putar jalan, tapi daerah ini sepertinya tidak ada putar jalan, arghhhh bagaimana ini??” tak hentinya Jiki mengeluh, tangannya semakin kuat memegang stang sepedanya, meluapkan kegelisahan dan kekecewaanya disana, terkadang ia mengacak acak rambutnya yang lurus, mulutnya terus mengoceh tak jelas, isinya semua keluhan dan gerutuan dia sendiri. Aigo, Jiki berhentilah, aku lelah mendengar ocehanmu, batin Nara. Bukan Jiki namanya kalau sedang mengoceh lupa akan segalanya, bahkan ketika Nara yang duduk dikursi penumpang mengisyaratkan sesuatu ia tetap sibuk mengoceh tidak jelas.
“Jiki, Jiki, lihat disana, itu, dia….” Nara menggumamkan sepatah dua patah kata seraya menarik narik kaos bergambar kelinci milik sahabatnya yang super duper cerewet itu.
Masa bodoh dengan Nara, Jiki tak peduli Nara menarik narik kaosnya, dia tetap mengoceh semaunya malah suaranya semakin keras sekarang. Merasa tidak diperdulikan, Nara menarik kaos itu lebih keras sampai Jiki merasa risih dibuatnya dan akhirnya menghentikan aktivitas kesukaannya itu.
“Aish, arasso Nara arasso, kau mulai takut di jalan gelap seperti ini, apa? Kau melihat hantu? Odiya odiya? Sudah hentikan jangan menarik kaosku seperti itu, kau tahu aku baru membelinya dengan harga diskon 50% dan itu harus berebut dengan ahjumma di pasar, sudah hentikan!” Jiki mengibaskan cengkraman tangan Nara, membelokkan sepedanya, kembali mengayuh sepedanya berlawanan arah, syukurnya jalanan itu sepi, jadi tak masalah baginya melewati jalan itu berlawanan arah. Kembali, ocehannya berkicau setelah berhenti sekitar 5 menit dan sedikitpun ia tidak menyinggung dan menanyakan apa yang dikatakan oleh Nara.


Jiki melempar kantong belanjaannya, membiarkan kantong-kantong plastik berwarna putih terhempas di atas kasurnya. Beberapa buah-buahan dan sayur ikut terhempas keluar dari kantong plastik tersebut.
“Syukur kita tidak kehilangan diskonnya, kalau tidak aish kita tidak bisa makan buah-buahan dan sayuran segar ini, aigo~~” Ji ki menyeringai bahagia melihat hasil belanjaan di supermarket dengan diskon besar-besaran yang sudah ia incar hampir 2 minggu lamanya.
“Ah iya” jawab Nara sekadarnya, hatinya masih sedikit kecewa setelah omongannya tadi tidak digubris.
“Baiklah sekarang waktunya memasak sayur-sayur segar ini, kau ingin aku memasuk sop apa Nara-ya? Malam ini kau boleh memesan makanan apapun, aku akan memasakkannya untukmu, kau mau apa?” Ji ki mengerlingkan mata nakalnya ke arah Na ra, tapi sahabatnya hanya diam, tertunduk.
“Kalau kau tidak mau aku masakkan, apa kau ingin sesuatu? Aku akan membelikannya untukmu, otte?”
“Jiki-ya, jadi tadi itu…….” Nara menghentikan suaranya, menelan ludahnya sejenak, wajahnya tertunduk.
“Oh, ada apa?” mata sipit Jiki memancarkan tanda tanya.
“Jadi, tadi ketika berhenti di jalan gelap itu, ada 2 orang pengendara sepeda lewat di seberang jalan, yang duduk di belakang memperhatikanmu sampai di ujung jalan, menatapmu tanpa mengedipkan mata sedikitpun, aku yakin pria itu menyukaimu, tatapan matanya sangat beda, mangkanya aku menarik narik kaosmu agar kau melihat ke seberang jalan, siapa tahu dia akan menghampirimu dan kalian berkenalan. Aigo dia sangat tampan sekali, wajahnya terlihat bersih dan bercahaya walaupun di bawah cahaya lampu jalan, dan setelah aku ingat-ingat sekarang mukanya mirip dengan salah satu member boy band yang sekarang lagi naik daun. You know, Dia mirip Leo Vixx, aigo Jiki-ya beruntung sekali dirimu, bodohnya kenapa kau hanya mengoceh dan bertindak bodoh?” Suara Nara sedikit tersengal, ada luapan emosi, kekecewaan disana.
“Ah jinjja?” Ji ki tertegun sejenak, pikirannya masih mencerna rentetan kata-kata Nara, mereview kejadian beberapa jam yang lalu dan akhirnya, BANG. Sebuah letupan emosional yang disebut menyesal, menelusup masuk dalam hati dan pikirannya. Berkali kali Ji ki menepuk jidatnya, sebagai pelampiasan rasa sesalnya, 22 tahun jomblo itu sangat menyakitkan baginya, tanpa ada satupun laki-laki yang tertarik padanya dan malam ini merupakan kejadian terlangka bin ajaib baginya, ada seorang namja tampan memperhatikan keberadaanya. Memperhatikan Jiki yang bodoh, aneh, kumus dan sudah dikutuk tidak akan disukai laki-laki manapun.
“Kau sich” tepukan dari Nara berkali kali menimpa bahu Ji ki. Membangunkannya dari hentakan emosioanalnya itu.
“Nara kau tidak bohong kan?” mata sipit penuh rasa sesal itu mengedip beberapa kali, mengharap Nara mengiyakan pertanyaannya.
“Buat apa aku bohong pada sahabatku sendiri, sudahlah relakan, mangkanya lain kali jangan terlalu fokus dengan ocehan gak pentingmu, kalau sudah seperti ini kau kehilangan kesempatan mendapatkan seorang namja kan? aigo” beberapa tepukan di bahunya diberikan Nara untuk menenangkan sahabatnya itu.
“Ah aku bodoh” Ji ki mengacak rambutnya. Mulutnya kembali manyun.
“Jakkaman, memangnya kau tahu Leo Vixx?”
“Aniya” Wanita berambut sebahu ini hanya bisa menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal itu. Ekspresinya kali ini membuat Nara ingin menimpukinya dengan bantal, wajahnya sungguh sangat menyebalkan.
“Aigo, Jakkaman” Nara mengambil laptopnya, memutarkan sebuah video yang berjudul Vixx, Eternity. Laki-laki yang bermain piano, dengan kemeja putih bergaris hitam di pundak, menatap tulus pada seorang wanita yang duduk disebelahnya. Ji ki hanya bisa terdiam, mengamati sekali, dua kali dan tiga kali. Sesekali dahinya mengerut.
“Oke stop, itu tadi Leo, eottoe?” Nara mengedipkan matanya.
“Emmm, I think biasa saja, sudahlah Nara tadi kan kau bilang hanya mirip, mungkin karena kau terlalu mengidolakanya, mangkanya semua laki-laki terlihat mirip sepertinya, sudahlah hentikan semua mimpi ini, sampai kapanpun tidak akan ada laki-laki yang menyukaiku. Oke ini cukup, sekarang waktunya kita masak, kalau tidak kita akan mati kelaparan” Jiki bangun dari duduknya, meninggalkan Nara sendiri dalam kamar.
“Jiki-ya, aku tidak mengidolakan Leo tapi N” gerutu Nara seorang diri.
“Tidak mungkin laki-laki setampan itu menyukaiku” gumam Jiki seraya melangkah pergi dari hadapan Nara.


Sepanjang hari Jiki mengingat kata-kata Nara sesekali mengingat wajah Leo yang baru pertama kali ia lihat di layar laptop Nara. Ingatannya buram, tak jelas dalam ingatannya muka si Leo yang ia katakan biasa saja di depan Nara tapi dalam batinnya Leo itu tampan dan cool. Dasar Jiki bodoh, mana bisa ia mengingat wajah seseorang yang hanya sekilas dan sekali ia lihat, IQnya kan jongkok, ingatanpun sangat rendah.
“Jiki-ya, seharian ini kau melamun saja” min young menepuk bahu Ji ki, menyadarkannya.
“Hah, iya min young mian” suara Jiki terbata-bata.
Bekerja menjadi seorang pelayan di sebuah café seperti ini bukanlah hal yang mudah bagi Jiki. Lingkungan kerja yang serba keras dengan partner kerja yang memiliki pemikiran dangkal, tukang gosip dan persaingan kerja yang licik. Sudah lama Jiki ingin berhenti dari tempat kerja ini, tapi karena sulitnya mendapatkan pekerjaan dan ia membutuhkan uang lebih, jadi ia berusaha bertahan dalam diam dan senyum cerianya.
“Heh Jiki-ya, kenapa kau?” Seo un melirik tajam pada Jiki. Wanita ini musuh berat Jiki. Ah tidak, Jiki yang musuh beratnya, Jiki tak pernah menganggap Seo un musuhnya, wanita ini tidak suka jika ada seseorang yang mendapat perhatian lebih dari bosnya, dan Jiki mendapatkan itu, jadilah tiap hari dia mencari masalah.
“Bukan apa-apa Seo un-a, aku hanya memikirkan sesuatu”
“Apa? Laki-laki yang memperhatikanmu semalam? Iya? Yang katanya mirip Leo Vixx itu? Iya?” Mata Seo un mulai mendelik.
“Yaakkkkk, bagaimana kau bisa tahu?” Jiki memutar badannya yang awalnya membelakangi Seo un. Senyum kemenangan tersungging tipis di bibir Seo un.
“Mangkanya gak usah apa-apa update status di dunia sosmed, apa kau tidak malu mengungkap semua kebusukanmu di dunia sosmed. Semua statusmu tentang kegalauan laki-laki yang kau sukai tapi dia tidak bisa menyukaimu, kau tahu betapa hinanya kau ketika aku membaca semua itu. 22 tahun jomblo tanpa ada laki-laki yang menyukaimu, sungguh menyedihkan. Siapa sih laki-laki yang mau wanita sepertimu, dekil, bodoh, pikun dan satu lagi miskin. Bahkan laki-laki paling jelek seduniapun masih mikir 1000 kali untuk menyukaimu, dan sekarang statusmu tentang laki-laki itu membuat kau bertambah hina dan menyedihkan, paling-paling laki-laki itu menatapmu hanya karena takjub ada gadis sejelek ini dan semenyedihkan ini di dunia, aigo sungguh malang nasibmu” sederetan kata-kata yang menyakitkan kan dari Seo un, tapi itu sudah biasa bagi Ji ki, menerima hinaan tiap hinaan dan cercaan dari wanita ini. sedikitpun air mata tak keluar dari pelupuk matanya.
“Semua kata-katamu benar Seo un-a, semua kata-kata yang kau ucapkan dari awal kata sampai akhir kata, terima kasih sudah menyadarkanku dari mimpiku” mata Jiki berkaca-kaca, sesungguhnya kakinya bergetar, tangannya mengepal ngepal menahan tangis yang membuncah. Sekedar berpura-pura kuat saja di depan Seo un agar kata-kata wanita menyedikan tidak keluar lagi dari mulutnya. Tubunya yang gemetar itu berbalik, menjauh dari hadapan mata yang menatap sinis padanya.
“Aish, yaaakkkk hanya itu yang bisa kau katakan, yaakkk kembali kau gadis tidak laku, yaaakkkk” Seo un berteriak teriak dari dalam dapur, tapi Jiki tidak menggubrisnya, ia tetap melangkah keluar dari tempat itu, menahan buncahan air matanya. Bibirnya di gigit sesekali, menekan titik sarafnya agar air matanya ikut tertahan.


Duduk sendirian di halte bis merupakan salah satu perjalanan pulang bagi seorang Jiki. Pikirannya kali ini menerawang jauh. “Segitu menyedihkah aku?” pertanyaan itu yang memenuhi benaknya, dadanya sudah berdenyut denyut dari tadi, tangannya sudah bermandi keringat dingin, kakinya tak henti-hentinya gemetar, ya dia ingin menangis menangis sejadinya.
“Menangislah nak, menangislah selama itu membuatmu lega” ucap seseorang wanita paruh baya yang duduk tidak jauh darinya, hanya beda 2 kursi. Wajah wanita itu terlihat bijaksana, penuh dengan kehangatan, tatapan matanya sangat tulus dan berbinar.
“Ne” suara samar Jiki, sesaat diiringi tetes demi tetes air matanya yang akhirnya deras dan membasahi pipinya. Finally keluar juga setelah air mata itu ia tahan beberapa jam.
“Kenapa? Kenapa begitu sakit?” isak Jiki. Tangannya meremas ujung bajunya, sakit terasa di dadanya.
“Seandainya, kau menoleh saat laki-laki itu menatapmu, maka dia akan membalikkan sepedanya, mengajakmu berkenalan, meminta nomer hpmu dan semua akun sosmedmu, setelah itu 3 bulan kemudian dia akan melamarmu” suara parau wanita paruh baya itu terdengar di tengah isak tangis Jiki. Seketika Jiki tertegun, ada saraf yang memerintahkannya untuk bangkit dari tundukan kepalanya dan menatap wajah wanita itu. Wajah itu bukan wajah peramal yang suka berdandan serba hitam ataupun memakai baju ala timur tengah dan memegang bola kaca, dia hanya wanita biasa dengan baju yang sederhana dan menenteng keranjang belanjaan penuh dengan sayuran.
“Ah, mian, maksud anda?” Jiki tidak mengerti dengan perkataan ibu tadi.
“Andai saja, sayangnya kau tidak menoleh, jadi nasibmu akan seperti ini, menjadi wanita yang hina dan menyedihkan seperti kata temenmu Seo un, laki-laki itu sekarang sedang dalam perjalanan menuju wanita yang lain, sayang sekali. Aura positif laki-laki itu akan meningkat jika bersamamu, sayang sekali. Hidup rumah tangga kalian akan dipenuhi dengan kebahagian, sayang sekali” wanita itu menatap lekat wajah Jiki yang dekil dan kumus, senyum hangatnya tertulis indah. Sederatan kata-kata ibu tadi masih belum bisa Jiki cerna dalam otaknya, maklum dengan IQ rendah semuanya terasa lambat ia cerna. Hanya saja ekspresi mukanya yang dipenuhi dengan tanda tanya tidak bisa dibohongi.
“Berdoalah agar Tuhan menguatkanmu dengan takdir ini” itu kata-kata terakhir yang wanita itu ucapkan sebelum akhirnya ia bangun dari duduknya, masuk kedalam bis dan menghilang. Sementara itu Jiki masih belum bisa mengerti apa yang terjadi.
Memori ingatannya kembali berputar, menyeruak ke dalam otaknya dan menabrak saraf-sarafnya, kata-kata “andai saja” dariwanita paruh baya tadi menyakiti hatinya lagi, ya benar andai saja Jiki tidak bodoh dan dia menoleh pada laki-laki itu, pasti 3 bulan kemudian dia bisa bangga menggandeng calon suaminya dan predikat wanita tidak laku akan hilang darinya. Kepala Jiki kembali tertunduk, ia menangis sejadinya.
“Jangan menangis lagi!” uluran tangan seseorang dengan sapu tangan di tangannya. Jiki tersentak dan seketika ia berharap laki-laki itu adalah laki-laki menatapnya malam itu, dan ternyata….
“Jiki-ya kau selalu saja menangis tiap pulang kerja, pasti mereka menjahatimu lagi” seseorang laki-laki bertopi hitam dengan eyes smile dan suara yang sempurna, dia Dae sung pacar sahabatnya, Kwon Nara.
“Dae sungie~” Ji ki mengambil sapu tangan itu dan menghapus air matanya, ada semburat kecewa melihat Dae sung berdiri di hadapannya, kenapa bukan laki-laki yang Nara panggil Leo Vixx itu.
“Apa kau bertemu Nara hari ini? aku tidak bisa menghubunginya seharian ini”
“Oh, setahuku dia sibuk di rumahnya”
“Baiklah, Jiki aku pergi dulu menemuinya” sekelebat datang dan kini Dae sung ikut pergi meninggalkan Jiki seorang diri. Nara gadis yang beruntung mendapatkan Dae sung yang sangat perhatian dan setia. Tanpa perlu menunggu 22 tahun Dae sung datang mengerjar Nara, ah andai itu terjadi pada gadis yang sekarang sedang menangis di halte ini.
Jiki menghela nafas panjang, tatapan matanya berputar dari lantai halte ke langit gelap yang penuh bintang.
“Apa jangan-jangan jodohku alien seperti dominjun? Terus aku adalah cheon song yi yang akan diselematkannya dari semua nenek-nenek sihir café itu” sejenak Jiki membayangkan hal tersebut, pikiran seperti ini terjadi karena gadis ini terlalu banyak menonton film drama dan sering mengkhayal. “Aish Jiki pabbo”


2 minggu berlalu dan Jiki berusaha melupakan laki-laki itu dan kata-kata “andai saja”, sudahlah ia anggap semuanya hanya mimpi dan khayalannya. Kini ia kembali menjalani aktivitasnya bekerja, bekerja dan bekerja. Seperti pada malam-malam biasanya, waktunya jam pulang kerja. Sendirian di halte dan malam ini dia harus menggantikan pekerjaan temannya mengantar barang pesanan pelanggan. Lima menit kemudian, tiga puluh menit kemudian, 1 jam kemudian suasana hening, Jiki sudah terbiasa dengan suasana ini, tapi malam ini terasa berbeda, ya berbeda dari biasanya, bis yang ia tunggu tak kunjung tiba.
“Aigo, ini bis-bis pada demo atau gimana sih? Sudah 1 jam aku menunggu kok belum dateng juga? Aissh” mulut Jiki menggerutu. Mata sipitnya melirik kardus berbungkus kertas coklat yang diletakkannya tepat di sbelah tempat duduknya.
“Aish, aku juga belum mengantar barang ini” Jiki menghela nafas panjangnya, pertanda ia lelah.
Tanpa banyak berpikir ia memilih untuk berjalan kaki saja ketempat alamat yang dituju. Ketimbang ia menunggu seperti orang bodoh di halte. Belum lama ia berjalan sebuah sepeda menyerempetnya, sehingga membuatnya hampir terjatuh, bukan Jiki namanya kalau dia tidak heboh, mengumpat dan mengoceh tak henti-hentinya.
“Yaakkk, nappeun seuki kau kira ini jalan nenekmu” pengendara sepeda itu menghentikan sepedanya dan menoleh pada Jiki.
“Jiki-ya~” kata itu yang keluar dari mulut si pengendara sepeda itu, pipinya yang tembeb semakin mengembang ketika sebuah senyum dikembangkannya. Bagaikan waktu yang dihentikan oleh dominjun, begitu pula waktu disekitar Jiki, berhenti tanpa alasan yang pasti ketika melihat senyum itu.
“Nuguseyo?” tanya Jiki terbata bata. Ocehannya yang biasanya keluar deras seperti air terjun, kini terhenti. Mata sipitnya berbinar melihat laki-laki di hadapannya, diam menatapnya lekat. Sejenak Jiki merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, ada yang salah dengan dandanannya, sepatu kets, kaos, cardigan dan rambut yang dikucir, bukankah itu dandanan standart seorang Jiki, tak bisa ia berdandan lebih dari itu.
“Naneun Jung Taekwon” yah begitulah namanya, pemilik nama yang membuat Jiki terdiam malam itu, pemilik nama yang entah tahu dari mana nama Jiki, wanita paling hina dan menyedihkan.


To be continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s