I Love You and Please Come Back

Author: Miss JiJi

Cast:

  • Kang dae sung

  • Kwon Na ra

  • Kim Youngmi


Tetes hujan perlahan membasahi hamparan bunga aster yang sengaja Youngmi tanam beberapa di halamannya. Warnanya yang putih bersih semakin memancar tatkala air hujan menghapuskan butir-butir debu yang menimbun menutupi kelopak-kelopak indahnya. Youngmi masih duduk manis, tangannya mendekap erat sebuah foto dalam pelukannya. Mata sipitnya mulai disesaki beberapa butir air matanya. Sekuat tenaga ia menahan butiran itu keluar dan membasahi kedua pipinya, bibir tipisnya menggigit sejenak. Sesak terasa dalam dadanya, kakinya masih tegak menopang badan rampingnya. Blues putih selutut sedikit demi sedikit tersapu hembusan angin begitu pula rambut hitam sebahu miliknya. Helaiannya mengikuti gerak angin meniupnya. Mata Youngmi lurus ke depan menatap gerbang tinggi berwarna hitam yang kini tertutup rapat. Sedikitpun gerbang itu tak bergerak karena tidak ada yang mendorongnya, membukanya, datang kerumah bergaya minimalis itu. Bibir Youngmi sedikit bergetar dan mengeluarkan sebuah nama.

“Dae sungie, odiya?” dibukanya perlahan pelukannya, sebuah fotonya dan Dae sung terukir manis sekali. Tertawa lepas tanpa beban. Butiran air mata itu tak tertahan dan jatuh perlahan. Sesak didadanya meningkat, semakin memuncak, ada dorongan untuk meluapkan segala kerinduhan, kegundahan dan kegelisahannya selama ini, tapi sosok itu, sosok yang ia rindukan tidak ada di hadapannya.

Setiap hari Youngmi hanya bisa berdiri didepan rumahnya, menatap kosong ke gerbang hitam itu, berharap Dae sung membukanya, berjalan kearahnya, tersenyum dan memeluknya. Tapi sudah hampir beberapa bulan ini ia tidak melihat sosok itu mendatanginya lagi. Tak ada tawa bahagia menghiasi rumah bercat putih miliknya. Hanya kesepian dan kesedirian Youngmi,  terus menunggu Dae sung kembali dan menemuinya suatu hari, entah kapan.


@Hongdae

Na ra bersungut sungut, nafasnya tersengal, berkali kali ia mendengus kesal, sesekali menengok jam yang melingkar manis ditangannya.

“Kau tidak akan selamat Dae sung, lihat saja! Aku sudah menunggu hampir 1 jam disini dan kau masih belum datang juga, aish” Na ra menendang kaleng botol ringan yang berserakan di hadapannya. Tak beberapa lama, sesosok bayangan tampak samar dibawah naungan lampu kota. Dari jarak puluhan meter saja Na ra sudah mengenali namja itu, Dae sung. Wajah tampannya semakin terlihat jelas saat jaraknya semakin dekat dengan Na ra. Badan tegapnya tertunduk, tangannya memegang lututnya, lelah setelah berlari cukup lama untuk menghampiri Na ra.

“Yaaakkk, Dae sungie kau pikir ini jam berapa? Kau membuatku menunggu seperti orang bodoh, Yaakkk” tak segan Na ra memukul bahunya, spontan Dae sung memekik kesakitan.

“Yaaakkk, tidak bisakah kau bersikap manis sedikitpun padaku? Kau pacarku atau tukang pukulku?” Dae sung melawan dengan ucapan.

“Apa? Tukang pukul? Yaakk Dae sungie kau ini benar-benar ya” pukulan Na ra semakin keras mengenai bahu, punggung, tangan Dae sung. Namja ini hanya memekik kesakitan, seperti biasa Na ra selalu memukulnya, membentaknya dan memarahinya setiap saat.

“Sudah hentikan Na ra” Dae sung sedikit berteriak, tapi Na ra tak menghentikan pukulannya, tangan Dae sung segera meraih tangan kecil itu, meraih kedua-keduanya. Badan tegapnya yang membungkuk akibat pukulan Dae sung seketika bangkit, menghadap Na ra, mata kecilnya menatapnya intensif.

“Sudah hentikan, aku kesakitan, apa seperti ini caramu membuktikan sayangmu padaku?” Dae sung mendekatkan wajahnya perlahan ke Na ra. Wajah Na ra sedikit terdorong ke belakang, menghindar.

“Jawab aku Na ra, kenapa kau selalu berteriak padaku? Kenapa kau selalu marah padaku? apa kau tidak mencintaiku?” sekali lagi Dae sung merapatkan jarak antara mereka, Na ra melengos, mengalihkan pandangannya dari Dae sung.

“Kalau kau tidak menjawab aku akan menciummu sekarang” Grab, Dae sung mengalihkan genggaman tangannya ke pinggang Na ra, menariknya agar lebih dekat, wajah mereka semakin mendekat, bahkan Na ra bisa merasakan deru nafas hangat Dae sung menyeka pori-pori wajahnya, badannya memanas. Bibirnya bergetar, matanya terpejam seketika ketika mendengar Dae sung mengucap kata “menciummu”, hatinya bergemuruh. Bagi Dae sung menatap Na ra dari dekat menaikkan emosi dan rasa kagumnya akan wanita ini. Seorang wanita tomboy yang berhasil merebut hatinya.  Tingkahnya yang tidak biasa dan berbeda dengan wanita lain membuat Dae sung bertekuk lutut di hadapannya. Senyum tipisnya terukir menatap ekpresi Na ra saat ini. Hatinya bergemuruh dahsyat saat berhasil merengkuh tubuh gadisnya dalam pelukannya. Cukup lama ia membiarkan Na ra dalam keadaan seperti ini sampai akhirnya ia meniupkan sebuah hembusan angin di daerah telinga Na ra membuatnya bergidik. Matanya yang terpejam terbuka perlahan.

“Jangan takut Na ra aku tidak akan menyakitimu” Na ra hanya bisa terdiam, terhipnotis oleh tatapan mata sayu Dae sung. Walau dia kasar, tomboy tapi hanya Dae sung yang bisa membuatnya bertekuk lutut dan mengiyakan sebuah kata cinta setelah lama ia menjalani asamnya percintaan.

“Aku membencimu karena sudah membuatku diam dan tak berdaya seperti ini, kau akan mati Dae sung, lihat saja” dalam keadaan tak beradayapun dia masih bisa mengancam Dae sung, dasar gadis gila, tapi itu yang Dae sung suka, selalu gemas dan geram akan sikap Na ra.

“Kita lihat siapa yang akan menang” Dae sung tersenyum, mencubit hidungnya lalu membuka pelukannya perlahan. Saat pelukan hangat Dae sung terbuka secepat mungkin ia menginjak kakinya.

“Awwww” pekik Dae sung, wajahnya meringis. Kakinya terangkat kesakitan.

“Itu bayaran yang harus kau bayar” Na ra mencibir.

“Kau, kau ini” Na ra hanya tersenyum menang, sedetik kemudian ia berlari ke arah Dae sung memeluknya erat, penuh sayang. Yeoja ini memang aneh dan gila ketika bersama Dae sung.

“Mianhae” bisik Na ra sambil mempererat pelukannya, Dae sung tersenyum dan membalas pelukan itu.

“Kau gila Na ra tapi aku menyayangimu” dari dalam pelukan Na ra terkekeh. Jiwanya memuncak bahagia sudah mendapatkan Dae sung.


@itaewon

Youngmi duduk manis di ruang tamu miliknya. Dae sung yang mengatur semua dekorasi rumahnya, rumah idamannya. Di setiap pojok ruangan itu terpajang foto meraka berdua. Bukankah rumah ini akan menjadi rumah mereka berdua kelaknya? Sudah banyak rencana yang mereka rancang untuk masa depan mereka berdua. Namun belum sempat mereka merealisasikan semuanya Dae sung tak kunjung kembali. Pergi meninggalkannya, meninggalkannya ke Seoul dan tak kembali.

Satu persatu Youngmi menatapi foto mereka berdua, dadanya semakin sakit. Sudah banyak kesakitan yang ia rasakan tapi Dae sung tak kunjung datang menemuinya, apa dia sudah melupakannya dan menemukan yang baru? Seketika Youngmi menangis tatkala pertanyaan itu kembali memenuhi pikirannya.

“Dae sungkku pasti kembali, aku yakin dia pasti menemuiku, dia pasti merindukanku, pasti, aku yakin” Youngmi mengangguk anggukkan kepalanya, meyakinkan dirinya sendiri. Tangan mungilnya meremas ujung blues putihnya, menahan tangisnya agar berhenti.

“Aku mohon Dae sung dengarkan aku, kembalilah, aku membutuhkanmu, aku mohon, kembalilah” Youngmi sudah merindukan tawa, suara dan pelukan Dae sung. Sesekali ia memejamkan matanya merasakan Dae sung di hadapannya. Piano pemberian Dae sung masih tertata rapi. Tak sedikitpun tersentuh, butiran debu mulai menutupi pesona indahnya. Dulu, setiap hari Dae sung memainkannya dan menyanyikan lagu kesukaan Youngmi.


*Flashback

“Wah, piano yang sangat cantik, gomawo changiya” cup, Youngmi mencium lembut pipi namjanya, bahagia dengan kado yang ia terima.

“Sekarang kalau kau bosan kau bisa memainkannya dan bernyanyi sesukamu” Dae sung mengelus manja rambut yeojanya.

“Dae sung aku bosan, hibur aku, mainkan piano itu” Pinta Youngmi manja, tangan mungilnya menggandeng Dae sung.

“Kau selalu manja Youngmi, aku tidak bisa bermain piano” Dae sung mengelak.

“Geotjimal” Youngmi menggembungkan kedua pipinya. Dae sung tidak bisa membiarkan Youngmi seperti ini, gadis ini memang manja sangat manja, semua permintaannya harus segera dipenuhi.

“Baiklah”

Dae sung membuka penutupnya, tersenyum sejenak ke arah Youngmi. Jari jemari Dae sung secara fasih memainkan tuts tuts piano menimbulkan suara dentingan piano yang sangat indah, menentramkan hati. Youngmi duduk manis di samping Dae sung, gadis manja ini lalu menyenderkan kepalanya di bahu Dae sung, membiarkan tubuhnya rileks. Sejenak ia memejamkan matanya dan merasakan damainya permainan piano Dae sung.

*end


Youngmi membuka matanya dan mendapati dirinya seorang diri tanpa Dae sung di sampingnya.

“Sesungguhnya aku ingin kau ada disini, memainkan piano itu lagi, menghiburku, aku bosan Dae sung, aku sendirian, odiya?” bisik Youngmi, wajahnya tertekuk lemas.


@Seoul

Na ra meringis kesakitan, ia baru jatuh dari tangga. Kakinya terkilir dan sedikit memar di lututnya. Dae sung mengoleskan obat merah perlahan dan memijat sedikit kakinya dengan minyak. Tumben kali ini Na ra tak banyak berontak, diam tak berkutik.

“Na ra kenapa kau tidak memukulku atau memarahiku?” Dae sung menggodanya. Tapi dia diam, hanya tangannya meremas kaos Dae sung.

“Sakit, kakiku sakit Dae sungie” hanya itu kata-kata yang keluar dari bibirnya. Dae sung tertegun, tidak pernah Na ra menimpali godaanya dengan kata-kata manja seperti itu biasanya dia akan mengancam bahkan menggertak Dae sung.

“Aku ingin menangis menahan sakitnya” Na ra kembali berkata-kata, Dae sung menghentikan pijatannya, bangun dari duduknya, menatap wajah Na ra. Wajahnya memerah, benar ia menahan tangis.

“Apa sangat sakit Na ra?” Dae sung cemas, Na ra mengangguk perlahan, bibir bawahnya tergigit sempurna.

“Aku akan membawamu kerumah sakit” sigap Dae sung menggendong Na ra masuk dalam mobilnya, secepat kilat membawanya kerumah sakit, ia tidak ingin sesuatu terjadi lebih jauh dan membuat Na ranya semakin menderita.

“Mianhae Dae sungie, aku tidak menuruti kata-katamu, akhirnya aku jatuh dari tangga” Na ra tertunduk merasa bersalah, Omo Dae sung lihatlah yeojamu yang biasanya kasar padamu kini merengek manja padamu.

“Gweanchana, yang penting sekarang kakimu segera diobati” Dae sung menggenggam tangan dingin Na ra. Mencoba menenangkannya.

Bukan luka yang parah, tapi ada beberapa otot yang terpilin tak sewajarnya sehingga membuat Na ra kesakitan bukan main. Syukur saja bukan retak atau patah tulang. Begitu penjelasan dokter membuat keduanya lega.

“Kakiku sakit aku tidak bisa berjalan Dae sungie” Na ra merengek manja, raut wajahnya semakin menggemaskan saat ini, jarang Dae sung bisa melihat wajah polosnya merengek di hadapannya.

“Baiklah aku akan menggendongmu, kau suka kan aku menggendongmu?” Dae sung mengerlingkan mata nakalnya, Na ra terkekeh, pipinya memanas.

Dae sung membopongnya ke dalam mobil, meletakkan perlahannya, tak ingin  ia menyakiti Na ra. Sesampainya diapartement Na ra menyandera Dae sung, tak mengizinkannya pulang.

“Iya aku tidak akan pulang, aku akan bersamamu, aku janji akan bersamamu selamanya” Dae sung terkekeh mendengar perkataannya begitu pula dengan Na ra.

Na ra terduduk di sofa miliknya, masih meringis menahan sakit di kakinya. Dae sung sedang memasak di dapur sana, Na ra yang memintanya. Sebuah benda menarik perhatian Na ra. Dompet Dae sung tergeletak begitu saja di atas meja, iseng Na ra membukanya, penasaran fotonya terpampang di dompet pacarnya. Deg, bukan fotonya yang Dae sung pasang tapi foto orang lain. Na ra terdiam seketika. Pikirannya mendadak gelap, pandangannya kosong. “siapa wanita ini” benaknya terpenuhi pertanyaan itu.

“Jreng jreng, omelet buatan Dae sung dengan penuh kasih sayang sudah siap” Na ra tak berkutik, ia tetap diam dengan tatapan matanya yang kosong. Dae sung ikut terdiam mendapati sikap dingin Na ra. Dalam hitungan detik sikap manja Na ra berubah dingin.

“Kau bisa pergi sekarang” hanya itu kata-kata yang keluar dari Na ra.

“Na ra ada apa? Apa kau kesakitan lagi?” dada Dae sung seketika meledak mendengar perkataan Na ra.

“Mulai sekarang aku tidak ingin melihatmu disini, hubungan kita selesai”

“Na ra sepertinya kau mulai demam, ayo ke kamarmu, kau harus istirahat” perlahan Dae sung mendekati Na ra, hendak menenangkannya. Mungkin kepalanya pusing, mangkanya omongannya sedikit ngawur.

“Pergi, apa kau tuli?” Na ra membentak, Dae sung terkejap.

“Na ra apa yang terjadi?” suara Dae sung terdengar gemetar, ia ketakutan saat ini.

“Dae sung bodoh, pergi kataku” mata Na ra yang sedari tadi menghindar dari tatapan Dae sung kini mau menatapnya tapi penuh dengan aura kebencian. Dae sung tak habis pikir apa yang merasuki Na ra sampai berubah seperti ini. Tak butuh lama bagi Dae sung, ekor matanya menemukan dompetnya terbuka, pasti Na ra melihat foto Youngmi.

“Na ra aku bisa menjelaskannya, dengarkan aku, aku mohon” Dae sung terduduk di hadapan Na ra, memohon.

“Pergi, aku tidak ingin melihatmu lagi, ternyata kau sama saja dengan laki-laki yang selama ini mendekatiku, pergi sebelum aku membunuhmu sekarang, pergi” sedikitpun Dae sung tak berutik dari posisinya walaupun Na ra memukulnya, ia tetap diam, sampai akhirnya Na ra menghentikan pukulannya, ia menangis disana, menangis sejadi jadinya.

“Kau jahat Dae sung, kenapa kau buat aku seperti ini? seumur hidupku aku tidak penah menyanyangi seorang pria seperti ini? kenapa kau menghancurkan semuanya? Kenapa? Kenapa?” Na ra tertunduk, dadanya sesak, air matanya mengalir deras.

“Maaf Na ra bukan maksudku untuk menyakitimu” perlahan Dae sung mendekati Na ra hendak merengkuhnya dalam pelukannya.

“Pergi, aku tidak membutuhkan laki-laki sepertimu, jangan pernah menyentuhku lagi, aku membencimu” Dae sung tahu dan yakin, sekarang Na ra sangat terpukul walaupun dia tidak tahu sebenarnya apa yang telah terjadi. Dae sung tak menyerah ia tetap mendekati Na ra walau Na ra membentaknya dan memukulnya, Dae sung tak peduli itu, ia hanya ingin memeluk Na ra dan membuktikannya kalau dia hanya mencintai Na ra, bukan wanita di foto itu.

“Itu hanya foto Na ra, yang aku cintai hanya dirimu” Dae sung berbisik mesra di telinga Na ra tapi yeoja ini tak bisa menerimanya dengan mudah, ia masih memberontak dalam pelukan hangat itu. Dae sung tak tinggal diam, ia mempererat pelukannya tak memberikan ruang bagi Na ra untuk memberontak membiarkannya merasakan bahwa Dae sung miliknya seutuhnya.

“Lepas Dae sung, lepas, aku mohon, aku membencimu” suara Na ra melemah, pemberontakkannya melonggar, sampai akhirnya ia terdiam dan menangis sejadi jadinya dalam pelukan itu, Dae sung mengelus rambutnya lembut.

“Aku akan menjelaskannya, semuanya” Dae sung kembali berbisik, tapi Na ra tak menjawab ia tetap terisak dalam tangisnya.


@Itaewon

Pagi ini mendung menutupi Itaewon, tapi sedikitpun tak mengendorkan semangat Youngmi untuk tetap berdiri di depan rumahnya menanti Dae sung. Tak akan ada habisnya baginya menunggu pria idamannya itu. Akhirnya hari ini penantiannya terhenti, setelah cukup lama ia merindukannya, sekarang sosok itu nampak dari kejauhan. Membuka gerbang hitam itu perlahan, walaupun dari kejauhan tapi Youngmi sangat mengenalinya dengan jelas. Setitik demi setitik air matanya membasahi pipinya, sungguh hatinya sangat bahagia bisa melihatnya kembali, dadanya memuncak kebahagiaan.

“Dae sung kau kembali” bisiknya, tangannya gemetar, badannya berguncang. Hari ini semua kerinduan Youngmi terbayar.

Lama tak melihat sosok itu, wajahnya seakan bersinar, bahkan saat angin membelai rambut pirangnya membuat pesonanya semakin menguat, “Dae sungku” hela Youngmi dalam nafasnya.

Gagah, selalu gagah. Begitulah Dae sung, ia tak pernah berubah. Ia turun dari mobilnya, menatap lurus ke depan. Youngmi masih berdiri tegak di depan pintu, masih tak percaya dengan penglihatannya, tapi kebahagiannya hancur berantakan saat seseorang wanita ikut turun dengan Dae sung dari dalam mobil. Gadis yang bergaya tomboy itu, mendekati Dae sung, tersenyum dan menggandeng tangannya manja. Sakit, Youngmi sakit teramat sakit melihatnya. selama ini ia dengan setianya menunggu Dae sung tapi ternyata setelah ia kembali, ia menggandeng wanita lain tepat di depan matanya, mana hati nuranimu Dae sung?

Dengan mantap mereka melangkah tanpa beban ke arah Youngmi, tersenyum bahagia. Mereka tidak menyadari ada rasa sakit teramat dalam di hati Youngmi. Tak kuat menerima semua ini, Youngmi jatuh terduduk, menangis disana. Tapi apa yang Dae sung lakukan? Sedikitpun ia tidak menoleh pada Youngmi yang menangis disana, ia terus berjalan mantap, membuka pintu rumah itu.

“Dae sung kenapa seperti ini? Sakit, ini jawaban dan balasanmu atas semua penantianku?” tangis Youngmi semakin pecah tapi sedikitpun Dae sung iba, ia tak menoleh, ia terus berjalan lurus ke depan.


Rumah ini penuh dengan debu. Saat memasukinya, Na ra mengeratkan tangannya, merapatkan dirinya pada Dae sung.

“Gweanchana, aku ada disini” Dae sung tersenyum menenangkan hati Na ra.

Beberapa langkah Na ra memasuki rumah itu, matanya terbelalak mendapati foto Dae sung berada di seluruh pojokan dan wanita yang ada dalam dompet Dae sung berada di sampingnya.

“Apa ini? Apa maksud dari semua ini? Apa yang ingin kau tunjukkan padaku Dae sungie?” Na ra bertanya tanya,  ia membalikkan badannya menghadap Dae sung. Youngmi yang sedari tadi menangis kini kembali berdiri di balik Na ra menatap Dae sung dengan mata nanar, Dae sung tersenyum ke arahnya.

“Youngmi, apa kabar? Lama aku tidak melihatmu, kau masih cantik seperti dulu” Na ra mengerutkan dahinya mendengar Dae sung menyebut nama Youngmi.

“Youngmi, nugu?” tanya Na ra.

“Youngmi adalah tunanganku” kali ini dada Na ra terasa lebih sakit mendengar kata-kata tunanganku, jadi selama ini dia berpacaran dengan tunangan orang, tangan Na ra perlahan mulai mengepal, geram, bersiap meninju Dae sung.

“5 tahun aku berpacaran dengannya sampai akhirnya aku memutuskan untuk melamarnya, Youngmiku yang cantik, manja, kekanak kanakan, hanya dia yang menjadi penghiburku, dia sangat suka saat aku membawakannya buanga aster itu adalah bunga kesukaanya, blues putih pemberianku selalu cantik tatkala ia memakainya, rambutnya yang hitam legam sangat indah saat terurai dan senyumnya tetap manis, sangat manis bagiku” Dae sung terus mengoceh, matanya menatap tajam ke arah Youngmi. Gadis itu tak kuat mendengar semua kata-kata Dae sung membuatnya memutar kenangannya saat bersama Dae sung, sudah banyak kenangan yang mereka lalui, satupun Youngmi tak melupakan semua kenangan itu, air matanya kini kembali mengalir, begitupun juga dengan Na ra, bukan karena terharu mendengar cerita Dae sung, tapi karena ia sakit mendengarnya.

“Terus maksudmu menceritakan semua ini untuk apa? Membawakanku ke tempat terpencil seperti ini untuk apa? Aku membencimu Dae sung, ternyata aku salah sudah mempercayaimu lagi” Na ra melengos dan berlari pergi dari hadapan Dae sung. Youngmi menatap kepergian Na ra dengan muka polos, ia tak peduli gadis itu menangis. Dae sung tak mengejar Na ra, ia diam, menatap Youngmi di hadapannya.

“Dugaanku benar, kau masih menungguku, kau masih menyimpan semua kenangan kita di rumah ini” Youngmi tersenyum mendengar kata-kata Dae sung, ia tak bisa berkata-kata membalas semua pernyataan tersebut, hanya diam dan menikmati setiap lekuk paras Dae sung, laki-laki yang teramat ia sukai dan sayangi.

“Aku sangat menyayangimu Youngmi, 5 tahun bersamamu membuatku memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku, tapi sejak kejadian itu aku sadar kita tak bisa bersama, terlalu besar perbedaan itu, kita tidak mungkin bersama lagi, percayalah kau akan bahagia dengan duniamu, bukan dengan duniaku” Dae sung tersenyum tipis, namun Youngmi menatap getir.


Na ra menangis sejadi jadinya, ia menghentikan langkahnya dan mengeluarkan semua amarahnya, dipukulnya pohon yang ada dihadapannya, ia berteriak sekuat kuatnya, ia yakin tidak akan ada orang yang mendengar teriakkannya, tempat ini sepi penduduk.

“Lihat kan? bahkan ketika aku menangis dan sakit karena ucapanmu kau tidak mengejarku Dae sung? Apa yang ada dalam pikiranmu? Setelah kau datang ke tempat tunanganmu kau mencampakkanku? Tuhan kenapa aku dipertemukan dengan laki-laki sejahat dia?” Na ra tetap menangis sejadi jadinya. Dia benar-benar merasa telah dicurangi mentah-mentah oleh Dae sung. Tanpa terasa hujan datang dan membasahi seluruh badannya.

“Apa dia akan kembali? Apa aku harus menunggunya? Aku tidak tahu arah pulang” batin Na ra, kepalanya menoleh ke sekitar, tak ada mobil, sepeda, tak ada kebisingan sedikitpun, sepi, damai.

“Apa aku harus menunggu Dae sung untuk mengantarku pulang? Aish, aku seperti wanita lemah” Na ra sudah melangkahkan kakinya untuk pergi tapi seketika ia hentikan.

“DAE SUNG KEMBALILAH, AKU TAKUT” seketika Na ra berteriak ketakutan. Ia tersungkur ketakutan.

Di tengah hujan ini Na ra masih menunggunya, menunggu dengan tatapan tertunduk dengan mata yang sembab. Sudah hampir 2 jam ia menunggu, badannya pun sudah dipenuhi dengan tetesan air hujan yang menghujamnya. sebuah payungpun tak melindungi tubuhnya yang mulai mengigil. Bibirnya membiru, tangannya menggempal berusaha menghilangkan kedinginan, namun namja itu belum menemuinya, tidak tampak sedikitpun.

“Kau memilihnya dae sung.ie~~” Na ra tersenyum pahit.

ia bangkit dari duduknya dengan perasaan yang pahit, dilapnya air mata yang setetes demi setetes membasahi pipinya, dadanya sesak dan ingin meledak.

“Mianhae” sebuah suara berat menghentikan niatnya melangkahkan kakinya dan kini sebuah payung menghalang tetesan hujan menghujam tubuh mungil itu. Na ra menoleh perlahan, seseorang dengan tubuh tegap dan bermata sipit menatap ke arahmu.

“Mianhae, sudah membuatmu menunggu lama sampai kau basah kuyup begini” ucapnya kemudian tersenyum ke arah Na ra yang kini sudah mulai tak bisa membendung air matanya.

“Mianhae, sekarang aku sudah ada di depanmu kan? Aku menepati janjiku untuk bersamamu kan?’” ucapnya sekali lagi sambil perlahan mendekati Na ra, memegang pipinya, mengelusnya perlahan dan Na ra kembali menendang kakinya.

“Yaaaakkk, ngapain kau dekat-dekat denganku? pergi sana, temui gadismu, temui tunanganmu itu” Na ra melengos.

“Na ra aku belum meneruskan kata-kataku saat aku ada di dalam rumah itu, kau langsung pergi dan meninggalkanku”

“Memangnya kau mau mengatakan apa lagi?” Na ra ketus, ia melengos.

“Youngmi, tunanganku itu meninggal  1 tahun yang lalu”

Deg, dada Na ra terhujam berjuta juta pisau. Seakan berhenti berdetak. Berat saat ia menolehkan pandangannya ke arah Dae sung. Ia ta percaya dengan kata-kata Dae sung.

“Iya, dia meninggal akibat kecelakaan. Rumah itu memang aku belikan untuknya sebagai rumah impian kita, tapi takdir berkata lain, Tuhan menggambilnya terlebih dahulu dan tidak mengizinkan kita bersatu, hari ini tepat 1 tahun dia meninggalkan dunia ini. Memang salahku meninggalkannya tanpa kata pamit. Aku meninggalkan kota ini 2 bulan setelah kepergian Youngmi. Aku datang ke Seoul untuk melupakan Youngmi dan menata hidup baru, walau awalnya sulit bagiku tapi akhirnya aku bisa bangkit dari keterpurukanaku. Dulu aku rajin sekali mengunjunginya walau sekedar membersihkan fotonya, tapi sejak kesibukan di Seoul menyita waktuku perlahan aku jarang bahkan tidak pernah mengunjunginya, aku yakin dia menungguku, dan dugaanku benar” Dae sung tertunduk, Na ra tak dapat berkata-kata ia shock.

“Aku sudah menjelaskan semuanya pada Youngmi, dunia kita sudah berbeda, tidak seharusnya dia tidak mengikhlaskanku dengan orang lain”

“Dae sungie, aku ingin kembali kerumah itu”

“Apa?” Dae sung tertegun.


Na ra semakin terdiam melihat foto Youngmi terikat pita hitam ada di kamarnya. Wajahnya memang cantik, sangat cantik, pantas Dae sung sangat menyukainya.

“Youngmi, maafkan aku sudah mengambil Dae sungmu tanpa pamit padamu, aku berjanji aku tidak akan menyakitinya, aku janji tidak akan memukulnya lagi, aku juga janji tidak akan memarahinya dan bersikap kasar padanya, aku akan menyayanginya, walau aku tahu dan yakin kasih sayangku tidak akan melebihi kasih sayangmu pada Dae sung, sekarang apa kau mengizinkan Dae sung bersamaku? Aku sangat menyayanginya walau terkadang dia membuatku kesal, tapi hanya dia yang bisa membuat hidupku paling berwarna”

“Youngmi sudah mengizinkanmu sayang, dia akan sangat bahagia jika aku bahagia disini bersamamu” Dae sung memeluk Na ra hangat, memeluknya dari belakang. Na ra menggenggam lingkaran tangan Dae sung, merasakan hangat rasa menembus pertanan tubuhnya.


Na ra masih berdiri tak bergegas masuk ke dalam mobil. Seakan akan dia nyaman berada di rumah ini walaupun awalnya dia takut. Seketika aura lembut Youngmi merasukinya.

“Na ra ayo kita segera pulang” Dae sung membuyarkan lamunan Na ra.

Perlahan mobil Dae sung meninggalkan rumah idamannya dulu, Youngmi memperhatikan mereka semakin jauh dan menghilang.

“Setidaknya aku masih melihatmu berdiri tegak, tersenyum dan bahagia walaupun bukan bersamaku, memang seharusnya aku merelakanmu untuknya Dae sungie, seharusnya aku sadar kita tak mungkin bersama, berbahagialah dengannya, sampai kapanpun aku akan tetap disini, berharap kau mengunjungi rumah idaman kita dan membersihkan fotoku” Youngmi tersenyum simpul.

“Dae sungie ganti foto di dompetmu dengan fotoku, paliwa” bentak Na ra.

“Aku tidak punya fotomu yang bagus, semua fotomu jelek, mangkanya aku memajang foto Youngmi” Dae sung mencibir.

“Yaaak, kau mau hidupmu tidak selamat Dae sung”

“Aku akan lebih membuatmu tidak selamat Na ra”

“Yaaakkk, Dae sungiee”


END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s